
"Ai."
"Ai, kamu mau ke mana?"
"Ai, dengarkan Uda dulu."
Edzar mengejar Safa yang nekat menuruni jalanan terjal berbatu. Dia ingin marah saat beberapa kali wanita itu tersandung atau terpeleset. Namun dia sadar saat ini bukan ranahnya untuk memberangi.
Ditambah hujan yang kian mengguyur deras permukaan tanah. Menambah licin pijakan yang mereka lintasi. Tak pelak guntur juga bergemuruh di atas langit. Membelah cakrawala dengan kegaduhannya yang bertubi.
Edzar berusaha meraih lengan Safa, berniat menahan kalau-kalau wanita itu terjatuh lagi. Namun Safa tak membiarkan itu terjadi. Dia lebih memilih kakinya terluka ketimbang harus berpegangan pada Edzar.
Safa tak peduli kendati roknya telah sobek di beberapa bagian. Betisnya kotor oleh percikan tanah yang berhamburan. Tumitnya berdarah karena acap kali terkena batuan tajam. Jemari kakinya lecet akibat terlanggar. Safa tak memakai alas kaki. Sandalnya putus seolah melengkapi kesialan.
Dan semua itu masih tak mampu meredakan kekecewaan yang melingkupi hatinya.
Sakit. Itu yang dia rasakan saat ini. Luka di tubuhnya tak sebanding dengan hatinya yang menganga.
Air hujan tak mampu mendinginkan kepala. Panas. Dada serta otaknya bergejolak. Hingga dia harus dengan gemetar menahan nafas yang sesak.
Kenyataan yang membuatnya jatuh ke lubang terdalam. Fakta yang menghancurkan angannya tentang Edzar. Lelaki yang ia pikir sempurna, ternyata menyimpan sesuatu sebesar ini darinya.
Kenapa? Kenapa Safa terlambat menyadari? Padahal sedari awal dia tahu Edzar sosok yang dilingkupi misteri.
Perasaan membuatnya larut hingga lupa arah. Bunda pernah bilang kita tidak boleh terlalu mencintai seseorang. Namun yang Bunda tidak tahu, sekecil apapun, secuil cinta tetap mampu menghadirkan luka.
"Ai, tolong dengarkan Uda. Kita bicarakan ini baik-baik."
"Ayo ke mobil. Nanti kamu sakit hujan-hujanan begini." Edzar terus berseru di antara guruhnya suara hujan.
Dia menahan sikut Safa yang terhuyung hampir terjerembab. Meski Edzar sadar Safa akan semakin tergugu setiap kali ia sentuh. Seperti sekarang, Safa melepas paksa cekalannya. Mendongak memperlihatkan wajahnya yang sembab, bahkan air hujan tak mampu menyamarkan tangisnya.
Edzar tertegun. Jantungnya seolah direnggut melihat sorot kebencian itu.
"Ai ..."
"Sekarang aku tahu kenapa hatiku selalu meragu."
"Karena suamiku sendiri seorang penipu."
Edzar menggeleng pelan. "Enggak, Sayang. Uda gak maksud seperti itu."
__ADS_1
"Lalu seperti apa?" tanya Safa sengit. "Seperti halnya kamu yang terus menyembunyikan ini dariku? Kalau bukan Ibu yang bilang, mungkin selamanya aku tidak akan tahu kamu sudah punya anak dari wanita lain."
"Ai, Demi Allah Uda gak maksud bohongin kamu. Uda hanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahu kamu masalah ini."
"Waktu yang tepat? Apa kebersamaan kita selama ini masih belum cukup menghadirkan waktu yang kamu bilang tepat itu?"
"Ai ..."
"Aku menyesal ..."
"Menerima lamaranmu."
Tenggorokan Edzar serasa tersendat, mendengar pernyataan Safa barusan.
"Ai, ini hanya soal anak 'kan? Kenyataannya kamu satu-satunya istri Uda sekarang."
"Hanya?"
"Mudah sekali kamu bilang. Asal kamu tahu, aku tidak sebaik hati itu bisa menerima anak orang lain, termasuk anak kamu."
"Ai!"
"Ai, Uda tahu kamu sedang emosi. Perkataanmu tidak sejalan dengan hati."
"Uda mohon, ayo kembali. Kita bicarakan dengan kepala dingin." Edzar berusaha tetap tenang meski di dalam sana ketakutan bergemuruh mengalahkan hujan.
Dan semua itu diperparah oleh gelengan Safa. Wanita itu berbalik, melanjutkan kembali langkahnya menuruni batuan terjal.
Spontan Edzar mengikuti, namun perkataan Safa berikutnya membuat kakinya seketika terpaku.
"Jangan mengikutiku. Atau kamu talak aku sekarang juga."
Hal itu berhasil memakunya. Edzar hanya bisa pasrah menatap punggung kecil istrinya yang perlahan menjauh.
Mungkin dia bisa saja memaksa Safa. Menggendongnya kembali ke gubuk dan menguncinya agar tidak pergi ke manapun. Tapi hal itu hanya akan menambah kebencian Safa terhadapnya. Terlebih dia tidak mau melakukan kekerasan.
Cukup hatinya yang Edzar sakiti, dia tak kuasa melihat luka lain yang lebih nyata. Safa perlu waktu. Mungkin nanti Edzar bisa bicarakan lagi setelah keadaannya cukup mendingin.
Edzar menatap ke bawah. Sepertinya Safa sudah sampai di jalan raya. Gegas dia kembali ke mobil, berniat menyusul Safa yang ia pikir belum jauh dari sana. Namun ia salah. Safa tidak ada di manapun.
Kemana istrinya? Kenapa bisa cepat sekali menghilang?
__ADS_1
Edzar turun dengan gusar. Dia berlari menghampiri beberapa warung di pinggir jalan. Bertanya dengan satu persatu orang di sana, berbekal foto yang sempat dia ambil sebelum mereka berangkat tadi.
Dan dari sebagian saksi, Edzar mendapat informasi bahwa Safa pulang naik ojek yang kebetulan sedang mangkal di salah satu warung itu.
Yang membuat hati Edzar serasa teriris, penjabaran mereka terhadap penampilan Safa yang berantakan dan penuh luka. Mereka juga sempat menawarkan untuk lapor polisi karena mengira Safa mendapat pelecehan.
Jantung Edzar seakan dihantam godam. Betapa kejamnya ia sebagai suami.
"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi." Edzar buru-buru memasuki mobil. Melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju villa keluarga Halim.
Mulanya dia mengira Safa akan pulang ke villa keluarganya selepas mereka bertengkar. Nyatanya ia salah. Safa juga tak ada di sana.
Lantas, ke mana istrinya pergi? Atau terjadi sesuatu di perjalanan?
Sontak saja hati Edzar kian dilanda keresahan. Jantungnya bertalu oleh rasa cemas. Jika Safa tak pulang ke sini, lalu ke mana?
Edzar hanya mendapati Tuan dan Nyonya Halim yang melempar tatapan bingung. Dia tak kuasa menahan tangis. Ia tersedu, bersujud meminta maaf pada mertuanya karena merasa gagal menjaga Safa.
Hatinya turut memaki, kenapa tadi dia tidak paksa saja Safa untuk pulang bersama. Kalau sudah begini, Edzar bahkan tak punya muka untuk sekedar menatap dua pasang mata yang menuntut penjelasan itu.
Edzar tak punya pilihan selain menceritakan semuanya. Dia benar-benar kalut sekarang. Safa tak kenal siapapun di Bandung. Juga tak biasa bepergian sendiri di tempat asing.
"Lebih baik Nak Edzar tenang dulu. Mungkin Safa sedang mampir di suatu tempat. Dia biasa kelaparan kalau hujan-hujanan."
Edzar menggeleng merespon ucapan Tuan Halim. Bagaimana dia bisa tenang kalau dia saja tidak tahu keadaan istrinya dengan pasti.
"Cepat atau lambat semua ini akan terjadi jika kamu terus menyembunyikan kebenaran itu."
"Bukankah sudah saya bilang sedari awal? Bicarakan. Menunda mengurai benang kusut hanya akan membuatnya semakin semrawut."
"Buktinya, sekarang kalian bersitegang. Safa menolak mendengar penjelasan. Karena apa? Karena dia terlanjur kecewa. Merasa dibohongi. Dibodohi. Merasa kodratnya sebagai istri diremehkan."
"Coba kalau Nak Edzar bilang sejak awal. Mungkin Safa tidak akan salah faham. Apalagi dia tahunya dari mulut orang. Safa pasti berpikir kamu tidak bisa dipercaya."
"Padahal saya sudah beri Nak Edzar kesempatan untuk membicarakannya secara langsung. Karena saya ingin Safa mendengar persis dari mulut suaminya. Bukan saya maupun istri saya."
Edzar semakin tergugu. Menyesali semua keputusan dan sifat pengecutnya yang tidak berani mengungkap kekurangannya. Nyatanya mau dulu atau sekarang, ketakutannya tetap terjadi. Safa tak bisa menerimanya.
Berkali-kali dia mendial nomor sang istri namun tetap tak ada jawaban. Sementara hujan di luar sana tak kunjung reda. Sama seperti hatinya yang diguyur kecemasan.
'Tuhan, tolong lindungi istriku di manapun dia berada,' batinnya.
__ADS_1