
"Safa...."
"Safa...."
Safa berkedip membuka matanya. Ia menyipit berusaha menerima cahaya yang berbondong-bondong menyelinap dari kelopaknya. Safa merintih lirih saat denyutan itu terasa di kepala. Tangannya terangkat berniat memijat kening yang terasa pening.
"Safa..." panggil seseorang sekali lagi.
Mata Safa terbuka sempurna, dan pandangan pertama yang ia lihat adalah Nyonya Halim yang tengah menatapnya dengan tatapan khawatir.
Wanita itu mengulas senyum melihatnya terbangun. Wajahnya terlihat pucat dan sembab.
Bukan mimpi, batin Safa.
"Bunda...." lirih Safa.
"Iya, ini Bunda."
Mata Nyonya Halim sedikit berair. Meski begitu ia tetap mempertahankan senyum di bibirnya meski terlihat pedih. Tangannya terangkat mengusap kepala Safa. Betapa ia berusaha untuk tetap tegar di hadapan putrinya.
"Bagaimana perasaanmu? Masih pusing?"
Safa mengangguk lemah. Nyonya Halim mengambil gelas di atas nakas, lalu membantu Safa untuk mengangkat sedikit punggungnya. Kemudian mengarahkan gelas itu pada mulut Safa untuk segera diminum. Safa meneguknya hingga tersisa setengah. Jika dalam keadaan normal, Safa akan menghabiskan lebih dari satu gelas saat bangun tidur. Nyonya Halim tahu itu, namun ia tak bisa memaksa.
Safa kembali berbaring dibantu bundanya. Nyonya Halim menaikkan selimut hingga sebatas dada.
"Sakit..." rengek Safa memegangi kepala. Kontan Nyonya Halim mengarahkan tangannya memijat kening Safa. Dengan telaten merapikan rambutnya yang berantakan.
Mata Safa terpejam erat, keningnya berkerut dalam merasakan denyutan nyeri yang membuatnya tak nyaman. Nyonya Halim menatap sendu putrinya. Mata yang selalu menatap nyalang itu kini berubah meredup. Pijatannya beralih menjadi usapan, hal itu membuat Safa mengeluarkan lirihan protes pertanda tak terima.
"Bangun dulu sebentar. Lihat siapa yang datang."
Walau berat, Safa membuka mata menatap bundanya. Tatapannya bergeser mengikuti arah pandang Sang Bunda yang mengarah ke depan.
Sejenak Safa terdiam melihat seseorang berdiri di samping ranjang, mata dan senyumnya terulas lembut ke arahnya. Safa berkedip pelan, "Om Baskoro?" bisiknya memastikan. Barangkali matanya terganggu akibat semalam.
Semalam....
Safa tercenung saat sekelabat ingatan menghampiri kepala. Safa tak menangis, namun matanya meredup tak bersemangat. Lantas Baskoro mendekat, memeluknya dari samping menggantikan Sang Bunda yang menggeser posisinya.
Spontan tangan Safa melingkari pinggang yang terbalut jas mahal itu. Membuat Baskoro refleks mengulas senyum. Pria itu mengusap kepalanya dengan lembut, menyalurkan rasa sayang yang membuat Safa merasa tenang.
__ADS_1
Safa tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Sedih, marah, kecewa, semuanya membaur membuat Safa bingung yang mana yang paling dominan. Yang Safa tahu hatinya resah dan takut.
"Maaf karena Om baru datang sekarang."
"Om di sini. Om ada di samping kamu. Kamu jangan khawatir, Little Girl."
"Abang...." lirih Safa menyuarakan pikirannya.
Satu kata, namun cukup menjelaskan apa yang ada di kepala.
Baskoro menghela nafas dengan mata tak lepas dari Safa. Tubuh gadis itu terasa panas. Raut Baskoro meredup melihat Safa yang lemas tak bertenaga. Keceriannya hilang dalam semalam. Saat mendengar berita itu Baskoro langsung terbang dari perjalanan dinasnya menuju kemari.
Jelas Tuan dan Nyonya Halim terkejut menerima kedatangannya. Mereka sudah lama tak berjumpa. Sebelumnya memang ada niat berkunjung namun belum sempat. Tapi sekarang ia rela membatalkan seluruh jadwal dan menemui mereka. Sahabat yang beberapa tahun ini tak ia temui.
"Apa kabar?" tanyanya saat pertama kali menginjak kaki di rumah ini. Rumah yang dulu sering ia kunjungi.
Tuan Halim diam enggan menjawab. Hal itu membuat Baskoro mengulum bibirnya gugup. Kedatangannya terlalu tiba-tiba, mereka pasti butuh waktu untuk mencerna.
"Apa harus ada kejadian seperti ini dulu untuk membuatmu mau menampakkan diri?"
"Bang—"
"Safa beberapa kali menanyakanmu."
"Berbulan-bulan dia murung setelah kepergianmu. Setiap harinya ia selalu bertanya hal yang sama. Di mana Om Pororo?"
Tak ayal kata terakhir itu membuatnya terkekeh pelan. Kepalanya menggeleng mengingat panggilan menggelikan Safa padanya waktu kecil. Dan ia rindu hal itu.
Baskoro mendongak dengan tatapan redup, "Di mana dia?"
Dan di sinilah ia sekarang. Bersandar di kepala ranjang sambil memeluk gadis kecilnya yang ia rindukan.
Lamunannya buyar saat Safa kembali merintih, Baskoro mengarahkan tangannya memijat kening Safa dengan telaten.
"Syuut.... Tidurlah. Jangan pikirkan abangmu. Om janji akan berusaha yang terbaik untuk Dava. Dia juga sama berartinya denganmu. Om dan Ayah kamu akan cari pengacara handal untuk mendampinginya. Kamu jangan khawatir."
"Kamu cukup diam dan jaga kesehatan. Om sedih lihat kamu seperti ini. Dan pastinya Dava juga sedih jika mendengar adiknya sakit."
................
Hari beranjak siang. Safa masih setia terbaring di atas ranjang. Safa bahkan belum mandi karena tak tahan dengan sakit kepala jika ia bangkit sedetik saja.
__ADS_1
Syukurlah bundanya mengerti. Wanita itu sempat membilasnya menggunakan lap dan membantu Safa berganti pakaian. Safa berbaring miring menatap jendela. Pikirannya berkecamuk memikirkan Dava. Safa sempat dengar abangnya itu akan ditahan selama kurang lebih dua puluh hari untuk penyelidikan. Baru setelah itu akan ada sidang yang menentukan bersalah atau tidak.
Safa tidak menguping banyak, tapi setidaknya dia tahu di mana tempat abangnya ditahan.
Di tempat lain, Edzar termenung di kursi kerjanya. Pikirannya bercabang dan tak fokus. Jiwa dan raganya seolah terpisah di dua tempat yang berbeda. Edzar penasaran dengan keadaan Safa saat ini. Meski sudah mendengarnya dari Bik Inem yang sempat ia mintai nomor telpon, tetap Edzar merasa kurang puas jika belum melihatnya secara langsung.
Semalam gadis itu tiba-tiba pingsan, tepat saat mobil yang membawa Dava pergi meninggalkan rumah. Mereka sempat berpandangan. Dan entah kenapa ada sedikit rasa bersalah yang menghinggapi hatinya. Mungkin, karena secara tak langsung Edzar yang menyebabkan Dava tertangkap?
Edzar sudah menyadari ini sejak lama. Dava ada sedikit hubungan dengan Santoso Ilyas yang diincarnya. Tapi ia memilih bungkam meski bisa dibilang mereka bukan lagi orang asing. Pertalian besan sebentar lagi terjalin. Dan Edzar harap hal ini tidak berdampak buruk pada hubungan mereka.
Meski Edzar senang karena Santoso Ilyas sudah tertangkap, tapi hatinya tidak lega sama sekali. Hal ini akan berdampak besar bagi keluarga Safa. Perusahaan, lingkungan sosial dan lain sebagainya. Yang paling Edzar khawatirkan tentu Safa yang berjiwa naif dan lugu. Akankah dia mampu bila menghadapi hujatan orang-orang? Terlebih Safa itu selebgram, pengikutnya banyak. Berita abangnya yang ditangkap KPK jelas menggiring berbagai opini publik.
Belum lagi kini hubungan mereka yang semakin berjarak. Edzar semakin sulit untuk mendekat. Apalagi di saat seperti ini. Jelas Safa sedang sukar diakrabi. Lebih tepatnya Edzar yang tidak pandai mendekati orang, terutama dalam hal pribadi berupa asmara.
Edzar tahu dirinya payah, dan itu cukup membuatnya frustasi.
Drrtt.... Drrtt....
"Halo," sapa Edzar mengangkat telponnya.
"Pak, kenapa tidak bilang istrinya Bernadin anda tempatkan di rumah Duta Besar?"
Edzar menghela nafas mengusap wajahnya yang terlihat lelah, "Apa itu penting sekarang?"
Doni menyahut semangat, "Penting. Karena saya jadi bertanya-tanya seluas apa relasi anda hingga bisa menyentuh pejabat tinggi di negara orang?"
"Ck, Dubes masih Warga Negara Indonesia."
"Tetap saja. Tidak semua orang bisa bertemu jika tidak ada kepentingan."
"Apa menurutmu melindungi nyawa orang tidak penting?"
"Bukan seperti itu. Hanya saja saya tidak menyangka anda berhubungan baik dengan Duta Besar di Jerman."
"Itu urusan saya. Kamu hanya perlu menerima kabar dari sana dan memberitahu pada saya atau Bernadin. Cukup. Seperti itu saja."
Tut.
Edzar langsung menutup telponnya, tanpa tahu di seberang sana Doni tengah menggerutu kesal.
Selain dingin dan ketus, Edzar juga kerap tak sopan pada bawahan, terutama dirinya.
__ADS_1
"Haah... Lihatlah orang ini, dia cerdas tapi minim etiket. Ck ck ck, meski begitu semua orang suka padanya." Doni mendumel sembari menyimpan ponselnya di atas meja.