
Safa berhasil masuk ke gedung perusahaan setelah sebelumnya memberitahu satpam bahwa dia akan datang. Syukurlah satpam itu tak bertanya-tanya lebih jauh, mungkin pria itu berpikir hak Safa mau ngapain. Perusahaan, perusahaan ayahnya. Haha.
Safa lekas menaiki lift menuju ruangannya. Berjalan santai di lorong yang sepi tanpa satupun manusia. Iyalah, ini hari libur. Orang gila mana yang mau main ke tempat kerja.
Kecuali Safa sepertinya, itupun karena sesuatu yang mendesak. Safa membuka kunci ruangannya, kemudian masuk dan bergegas mendekati meja kerja yang menjadi tujuannya.
Nafasnya terhela lega ketika obat yang dia cari masih aman di sana. Cepat-cepat Safa mengambil dan memasukkannya ke dalam tas. Lalu keluar dan mengunci lagi ruangannya.
Safa bersyukur sebelum ini ayah dan bundanya tak menaruh curiga, padahal Safa berbohong dengan mengatakan ada janji dengan Kamila. Safa merasa bersalah, sih. Tapi dia tidak siap kalau mengatakan yang sebenarnya.
Prang!!!
Terlonjak, langkah Safa seketika berhenti mendengar suara itu. Benarkah tidak ada orang lain di sini? Benarkah Safa hanya sendirian? Lalu, itu suara apa?
Safa menoleh kanan kiri, tatapannya berhenti pada sebuah ruangan yang kemarin ia masuki tanpa izin. Apa Pak Anjas ada sini juga? Untuk apa?
Dengan rasa penasaran yang tinggi Safa mendekat, menempelkan telinga di permukaan pintu. Hening. Safa tak dapat mendengar apapun. Apa dia hanya salah dengar? Tapi tidak mungkin, suara pecahannya sejelas itu.
Dengan tekat yang kuat Safa putuskan untuk membuka pintunya, tak peduli nanti Pak Anjas atau siapapun di sana akan terkejut dengan kedatangannya.
Safa mengangkat tangan bersiap menekan kenop. Dalam hati berdoa semoga yang di dalam benar Pak Anjas, bukan hantu yang muncul di siang bolong.
Klek.
Krieet...
Pintu kayu itu terbuka pelan. Safa meloloskan tubuhnya ke dalam saat tak melihat siapapun. Sial, apa benar hantu?
"Pak Anjas?" panggil Safa hati-hati.
Langkahnya ia bawa semakin dalam. Suasana begitu sepi seakan yang ia dengar barusan hanya mimpi.
Eh.
Safa mengernyit. Tidak, ini bukan mimpi. Sesuatu memang telah pecah. Dan serpihan kacanya hampir Safa injak, kalau saja dia tak cepat menyadari.
Safa menemukan serpihan lain, lantas dia mengikuti jejak pecahan itu yang membawanya ke balik meja.
"Siapa yang pecahin-" Kalimatnya tertahan di ujung lidah.
Tubuh Safa mematung melihat apa yang dia temukan di belakang meja kerja.
"P-pak Anjas...?"
Safa tidak salah lihat. Pria setengah baya yang terkapar di bawah sana memang Pak Anjas. Tunggu, apa yang terjadi. Kenapa Pak Anjas bisa ada di sini. Tidak, lebih tepatnya kenapa pria itu berdarah?
Safa membekap mulutnya syok. Sontak kakinya mendekat berniat melihat keadaan Pa Anjas yang mengenaskan.
"Pak, Pak bangun, Pak." Safa menepuk pelan lengan Pak Anjas.
__ADS_1
Mata tua itu mengerjap pelan, kemudian terbuka dan melihat Safa yang sudah berjongkok di hadapannya.
Pak Anjas berbisik, "No-nona...." Nafasnya terdengar berat, dan itu membuat Safa panik.
Apa yang harus dia lakukan. Membawanya ke rumah sakit? Kalau begitu Safa butuh bantuan orang karena dia tak bisa memapah apalagi menggendong. Tubuh Pak Anjas pasti berat.
"Pak Anjas kenapa bisa begini? Kita harus segera ke rumah sakit. Benar, luka Bapak harus segera diobati. Sebentar, saya cari orang untuk bantu Bapak." Safa menyerocos panik tanpa memberi kesempatan bagi Pak Anjas yang sepertinya ingin bicara.
"Kenapa?"
"Pak Anjas mau ngomong apa?"
"Tidak, tidak, ngomongnya nanti aja. Kita harus segera ke rumah sakit!"
"No-nona."
"La-lari...." ucapnya tiba-tiba.
"Apa?" tanya Safa memastikan. Kenapa pria itu malah menyuruhnya lari?
"Pak—"
"Lari."
"Lari, Nona," tegas pria itu dengan suara lirih.
"Lariii....!"
Teriakan lemah itu membuat Safa terlonjak. Tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Refleks Safa menoleh dan langsung terbelalak saat ayunan pisau hampir mengenai dirinya.
Beruntung Safa langsung berkelit dan menahan tangan orang itu. Namun, tenaga Safa tidak ada apa-apanya bila dibandingkan lelaki itu.
"Si-siapa kau?" bisik Safa gemetar.
Orang itu tak menjawab, namun tangannya semakin menekankan pisau ke arah Safa.
Tidak bisa. Safa harus lari, kalau tidak dia tidak akan selamat. Sekuat mungkin Safa berusaha menyingkirkan tangan pria itu dari hadapannya. Mata pisau tepat di depan matanya, dan jika Safa coba bertahan lebih lama, maka dia tidak akan bisa lagi melihat dunia.
Trang!
Safa berhasil menyingkirkan pisau itu. Dia segera membuka pintu dan lari tunggang langgang keluar.
"Aaaa.....! Tolong....!"
Safa berteriak melihat orang itu mengejarnya. Dia kerahkan semua tenaga untuk bisa lari sekencang mungkin. Dua orang itu berkejaran di lorong. Safa tidak ada waktu untuk sekedar menekan tombol lift. Hanya tangga pilihan terakhirnya.
Nafas Safa ngos-ngosan, tenggorokannya mulai sakit dengan nafas luar biasa sesak. Mendadak dia menyesal tidak pernah membiasakan diri mengolah tubuh. Alhasil saat ini kakinya sudah gemetar, dan Safa hanya bertaruh pada keberuntungan berharap dirinya tidak jatuh.
"Aaaa....!!!"
__ADS_1
Pada akhirnya orang itu berhasil menangkapnya. Rambut Safa ditarik ke belakang membuatnya terentak membentur tubuh lelaki itu.
Tubuh Safa didesak ke pembatas tangga. Mulut Safa terbuka merasakan cekikan di lehernya. Tenaga sebesar itu, Safa merasa tenggorokannya akan pecah.
Safa meronta berusaha melepaskan diri. Tangannya mencengkram pergelangan pria itu berusaha menahan cekikan yang kian detik kian mengencang. Walau semua itu percuma karen sekali lagi tenaga Safa tak sebanding bahkan dengan pria kemayu sekalipun.
"Apa maumu?" Safa bertanya dengan suara terputus-putus. Nafasnya sudah hampir habis. Apa dia akan segera mati?
Pria yang menutup setengah wajahnya dengan masker itu lagi-lagi tak bersuara. Hanya matanya yang menyorot tajam mengerikan. Benar, Safa rasa dirinya akan segera mati, dan yang berdiri di hadapannya adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawanya.
Hatinya meringis pedih memikirkan dirinya yang tidak bisa lagi bertemu ayah dan bunda. Lalu Dava yang ada di penjara. Edzar yang masih sangat ia suka. Dan masih banyak lagi orang yang Safa sayang. Terlebih Safa belum bisa menjalankan amanat Dava untuk mencarikannya bukti bahwa pria itu tak bersalah.
Air matanya luruh.
Abang, maafin Safa.
"Le-lepas. S-siapa kamu! Haak...." Safa semakin membuka mulut, nafasnya tersendat menatap sayu pria tak dikenal itu.
"Yakin kamu tak mengenal saya?"
Suara ini.
Safa mencoba berpikir di tengah perjuangan hidup dan mati. Suara serak yang rendah dan kadang terdengar lembut. Safa ingat, kemarin dia mendengarnya.
"Sepertinya kamu sudah tahu."
"Bagus. Dengan begitu saya tidak perlu merasa kesusahan dengan benda sialan ini lagi." Pria itu melepas bandana bafin yang menutup leher hingga setengah hidungnya.
Dan meski Safa sudah bisa menebaknya, Safa tetap merasa terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bibirnya bergetar dengan air mata yang semakin deras. Safa menangis menatap pria yang kini tersenyum miring mengusap pipinya yang basah.
Safa merasa dibodohi.
Baru kemarin dia hampir mempercayai orang ini. Tapi sekarang, Safa malah berada di ujung kematian.
Susah payah dia menelan ludah. Meski pria itu membelai halus wajahnya, cekikannya tidak lepas sama sekali. Raut menyeramkan itu sama sekali berbeda dengan yang dia lihat kemarin.
Dan Safa sama sekali tidak bisa menebak apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Safa hanya bisa berbisik lirih. "Ga-Galuh...."
"Ganindra."
Seringai di bibirnya semakin lebar kala Safa berhasil menyebut namanya.
"Aku tidak menyangka suaramu akan semerdu ini saat memanggil namaku," bisiknya halus di telinga Safa.
Safa semakin bergetar ketakutan kala pria itu mendekatkan wajah, mengenduskan hidungnya dengan ekspresi yang tidak bisa Safa artikan.
Tuhan, apa yang sebenarnya kau rencanakan?
__ADS_1