
Pagi-pagi sekali Safa sudah sibuk berkutat di dapur. Kalian salah jika menyangka Safa sedang memasak, karena yang Safa lakukan hanya memasukkan makanan ke rantang.
Beberapa masakan Bik Inem kini sudah berpindah ke dalam wadah. Orang rumah masih sibuk di dalam kamar, biasanya mereka akan keluar sekitar pukul enam lebih tiga puluh menit untuk sarapan. Alias setengah tujuh Waktu Indonesia Barat.
Safa sendiri sudah cantik dengan dress rumahan ala Korea, rambut tersisir rapi dengan poni persis Lisa Blackpink. Lip tint senada bibir menambah kesan segar di wajahnya. Safa siap menyambut hari dengan semangat dan senyuman.
Siapa yang tidak semangat saat akan bertemu lelaki pujaan?
Selesai!
Senyumnya mengembang tepat setelah rantang terakhir ditutup. Dengan cepat Safa memeluk dan membawanya keluar. Bibirnya tak berhenti tersungging membayangkan wajah tampan Edzar yang sebentar lagi akan ia lihat.
Safa membenahi penampilannya mengusir sedikit rasa gugup. Se-humble apa pun dirinya tetap saja jika berhadapan dengan sang pujaan siapa yang tidak deg-degan.
Safa berdehem sebelum memencet bel, namun belum sempat tangannya menekan, tiba-tiba gerbang bergeser dan nampaklah Edzar yang menjulang tinggi di hadapannya. Safa sampai harus mendongak penuh untuk mencapai matanya.
Ya ampun, Safa jomplang banget sama Mas Edzar.
Ibaratnya Safa ini pohon cikur dan Edzar pohon cabe.
Safa tersenyum menampilkan gigi putihnya yang rapi. Lagaknya sudah mirip iklan Close Up saja. Belum lagi matanya yang berbinar, kalau dalam komik netra Safa sudah digambarkan ada bintangnya.
Edzar sendiri sudah rapi dengan seragam coklat tuanya, membuat Safa semakin terpesona hingga rasanya hati Safa lumer di dalam sana.
Jantung, tolong bertahanlah.
Sadar terlalu lama menatap, Safa mengerjap berusaha meminimalisir perasaan. Safa tak mau ada kejadian memalukan lainnya setelah malam itu. Safa sadar, dia selalu ceroboh saat merasa gugup dan senang. Tidak lucu kalau rantangnya mengenai Edzar kali ini.
Sementara Edzar menatap Safa dengan dahi berkerut, matanya turun beralih pada sesuatu di pelukannya. Ini kali kedua Edzar mendapati anak tetangga yang mungkin sebentar lagi akan naik pangkat menjadi keponakannya di depan rumah.
Bedanya sekarang gadis itu rapi dan wangi, tidak ada wajah sembab bangun tidur seperti yang dilihatnya kemarin.
__ADS_1
Edzar mengangkat alis bertanya, “Ada apa?”
Safa masih bertahan dengan senyumnya, dia mengulurkan tangan menyerahkan rantang pada Edzar. “Ini bekal buat Mas- eh, Om.” Safa memutuskan memanggil Edzar dengan sebutan om.
Dia merubah rencananya, Safa akan mendekati Edzar sebagai keluarga dulu, sebelum nanti jadi keluarga resmi alias istri. Kalau menurut lagu, pelan-pelan saja.
“Anggap saja ini ucapan terimakasih dari Safa karena waktu itu Om mau kasih Safa tumpangan, hehe.”
“Atau kalau Om belum sarapan, bisa kok dimakan sekarang, mumpung masih hangat.”
Edzar tidak langsung menanggapi, sejenak telinganya merasa geli dengan panggilan yang disematkan gadis itu padanya.
Tangan Safa masih menggantung di udara, diam-diam gadis itu meringis karena merasa pegal, hampir dia cemberut karena Edzar tidak juga menerima rantangnya.
Tidak tega melihat Safa, Edzar mengambil tempat makan itu. Nafasnya terhembus pelan. “Kamu tidak perlu melakukan ini.” Edzar menunjuk rumahnya dan rumah Safa, “Rumah kita sebelahan. Kamu pulang, saya pulang. Tidak ada yang merasa direpotkan.”
Safa meringis, “Gitu, ya ....” Bibirnya mengerucut dengan tangan menggaruk kepala.
“Tapi Safa tetap mau kasih, Om,” ucapnya polos.
Dan Edzar hanya bisa mengangguk, bingung harus menanggapi apa.
“Meow ....”
Tiba-tiba sebuah suara menyeruak dalam keheningan. Serentak Safa dan Edzar menunduk bersamaan, dan Safa hampir saja mengumpat jika tidak mengingat ada Edzar.
Molly mendongak dengan wajah tanpa dosa dan ekor yang digerak-gerakkan. Ingin sekali Safa menendang perut gembulnya jika tidak kasihan. Heran, kucing songong itu hobi banget ganggu Safa.
Mau apa sih dia? Mau ikutan caper, gitu? Wah, genit juga ya si Molly. Tahu saja ada orang ganteng di sini.
Lihatlah tingkahnya yang berubah imut. Mendadak telinga runcingnya berubah jadi tanduk setan di mata Safa.
__ADS_1
Lagi-lagi Safa meringis menatap Edzar, dengan cepat Safa membungkuk meraih Molly dalam gendongan. Awas saja, Safa akan jitak kepala mungilnya nanti karena muncul tanpa melihat situasi.
“Aduh ... kamu kenapa keluar, sih? Kotor kan kakinya,” bisik Safa di telinga Molly. Kepalanya beralih pada Edzar, “Om, Safa masuk dulu, ya. Om udah mau berangkat, ya? Tumben lebih pagian?”
Kelihatan banget Safa suka memperhatikan.
“Iya, saya ada urusan sebentar,” jawab Edzar singkat.
Urusan apa?
Ingin sekali Safa bertanya seperti itu, tapi dia cukup tau diri dengan tidak terlalu kepo.
“Oh, gitu. Hati-hati di jalan ya, Om.”
Setelahnya Safa kembali ke rumah dengan menggendong Molly. Bibirnya tak bisa berhenti senyum hingga sampai kamar.
Tapi senyumnya luntur kala pandangannya mengarah ke bawah, tempat terakhir Safa berdiri di depan rumah Edzar. Niat hati ingin melihat Edzar sampai berangkat, eh malah nemu dedemit tak diundang.
Baru juga ditinggal sebentar sudah diserobot orang. Seketika wajah Safa jadi masam, pelukannya pada Molly mengerat membuat kucing itu mengeong. Tapi Safa gak peduli, matanya mengarah tajam pada dua orang yang kini nampak berbincang.
Safa gak tau, ada urusan apa anak Pak RT menemui Edzar. Yang Safa tahu, dia cemburu! Sangat. Sampai dadanya terasa panas, detak jantungnya juga meningkat. Bedanya hal itu disebabkan oleh rasa khawatir. Sepertinya dia benar-benar menyukai Edzar.
Gak bisa dibiarkan. Safa harus lebih gencar mengambil hati Edzar. Tidak menutup kemungkinan pria itu akan tergoda oleh putri Pak RT yang kata bundanya cantik jelita.
Sial, Safa jadi semakin kesal mengingat pernah dibandingkan dengan wanita itu. Kontan Safa menatap cermin yang berdiri di sudut ruang, tepat di sampingnya.
Safa meneliti postur tubuhnya dari atas ke bawah. Putih, mulus, dan lumayan seksi. Hanya saja dia pendek dan sekal. Jadi jatuhnya malah terkesan bantat.
Huaa ... Bukannya tidak bersyukur. Tapi Safa iri, kenapa orang-orang bisa memiliki tubuh semampai bak model papan atas? Padahal, dilihat dari genetik, ayah dan bundanya sama-sama memiliki tinggi di atas 170.
Dava juga sempurna. Kenapa hanya Safa yang pendek? Apa karena dia anak bungsu? Kesannya Safa dibuat dari penyisaan anak pertama.
__ADS_1
Wah, jahat sekali. Safa jadi sedikit insecure kalau begini.