
Safa terpaku mengamati Edzar yang tengah menunduk memijat kakinya. Dia tak bisa menahan rasa terkejut karena Edzar tiba-tiba saja bersimpuh, meraih tangannya yang diam-diam mengusap lutut.
Safa melakukan itu karena pegal. Rasanya badan Safa tak enak jika dibawa diam. Tak disangka Edzar sepeka itu dengan gestur tubuhnya. Padahal Safa sudah berusaha untuk tidak kentara menunjukkannya.
"Om belum jawab pertanyaan aku."
"Hm?" Edzar mendongak sekilas lalu kembali merunduk. "Soal itu?"
"Seseorang tiba-tiba mengirim shareloc. Nomor tak dikenal. Pas saya lihat profil, namanya Anjas."
"Pak Anjas?"
"Hm." Edzar mengangguk.
Safa tak menyangka Pak Anjas masih bisa melakukannya dalam keadaan seperti itu. Dia semakin merasa bersalah karena pernah mencurigainya. Padahal kalau bukan karena Pak Anjas, mungkin Safa akan ditemukan keesokan harinya setelah menjadi mayat.
"Saya tidak tahu dia mendapat nomor saya dari mana. Awalnya saya tidak mengerti. Saya pikir mungkin orang iseng atau salah kirim. Tapi setelah melihat lokasinya yang tidak asing, dan ternyata itu kantor Ayah kamu, saya tidak punya alasan untuk diam saja."
"Terus? Masa Om bisa langsung tahu aku ada di tangga darurat?" tanya Safa penasaran.
Bukannya menjawab, Edzar malah tersenyum melihat Safa. Tangannya berhenti sejenak saat melakukan itu. "Kamu percaya feeling?" tanyanya tiba-tiba.
"Kok nanya balik sih?" rengut Safa dalam hati.
"Perasaan yang membawa saya ke sana."
Hening.
"Intinya, saya hanya mengikuti kata hati." Edzar kembali mendunduk memijat kaki Safa.
Apaan, sih, gak jelas banget.
Safa memalingkan muka yang tiba-tiba terasa panas. Edzar ngomong apa? Safa gak ngerti.
Diam-diam Edzar tersenyum. Dia tahu Safa tengah gugup. Pipi gadis itu memerah, dan Edzar mati-matian menahan diri untuk tidak menggigitnya.
"Kenapa Om bisa sama Kak Diko?" Ini yang sedari awal ingin Safa tanyakan.
"Diko teman saya, sekaligus orang kepercayaan saya."
"Ya?" Safa menatap Edzar tak percaya. "Teman? Orang kepercayaan?"
"Hm."
"Bukankah sebelumnya kalian tidak akur?" tanya Safa sangsi, lebih pada dirinya sendiri.
Edzar terkekeh pelan, "Itu karena dia menyebalkan," ucapnya tak jelas.
Dahi Safa semakin mengkerut tak mengerti. Sepertinya bicara dengan Edzar memang butuh IQ tinggi.
"Saya menyuruhnya membuntutimu, bukan mendekatimu."
"Maksud Om?"
Edzar mendongak, tangannya bertumpu di lutut Safa, matanya menyorot gadis itu dengan hangat. "Maaf, mungkin kamu tidak nyaman bila mendengar ini. Tapi, saya meminta Diko mengikutimu."
__ADS_1
Safa tercenung, "Apa?"
"Mungkin beberapa kali kamu merasa diawasi? Itu Diko." Jelas Edzar.
Safa masih berusaha mencerna fakta yang baru didengarnya itu. Dipikir sekeras apapun, Safa tetap belum mengerti. Diko menguntitnya?
"Tapi, untuk apa?"
Edzar tak langsung menjawab. Netra mereka saling terpaku satu sama lain. Safa baru sadar tatanan rambut Edzar tak seperti biasanya. Malam ini nampak agak berantakan, dan itu sangat seksi.
Aih, jantungnya mulai berdegup lagi. Tidak, sejak tadi dia memang deg-degan, hanya saja tak separah sekarang.
"Untuk melindungimu," ucap Edzar tiba-tiba, membuat Safa mengerjap menyadarkan diri.
"Melindungi?"
"Hm."
"Melindungi dari apa?"
Edzar menghela nafas panjang, mungkin ini saatnya Safa mengetahui semuanya, Edzar juga ingin kesalahpahaman ini berakhir.
"Santoso Ilyas."
"Kenapa dengan Pak Menteri?"
"Waktu itu saya sempat diberi tugas menangani kasusnya. Tidak mudah. Dia terus berupaya untuk lepas. Berbagai trik licik dilakukannya tanpa segan, termasuk dengan mengancam saya."
Safa terdiam menatap Edzar, kemudian dia kembali bertanya. "Lalu apa hubungannya denganku?"
Edzar mengusap lembut punggung tangan Safa yang entah sejak kapan ada di genggamannya. Refleks Safa meringis menjauhkan tangan kanannya yang bengkak.
Safa hanya mengangguk sebagai jawaban. "Jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat jawab, apa hubungannya denganku?" ketus Safa.
Edzar tersenyum mengambil tangan Safa yang bengkak. Mengelusnya hati-hati, lalu mengecupnya seringan kapas.
Jujur ini membuat Safa salah tingkah. Perlakuan Edzar berpotensi membuatnya salah paham. Bisakah pria itu berhenti? Safa takut baper. Tidak, sepertinya dia memang sudah baper.
"Karena kamu dekat dengan saya."
Kening Safa berkerut, "Maksudnya?" Lagi-lagi ia tak mengerti.
"Santoso Ilyas terus mengawasi saya. Dan kebersamaan kita membuatnya berpikir bahwa dia bisa menjadikan kamu sebagai ancaman."
"A-aku gak ngerti." Tatapan Edzar membuatnya gugup.
"Intinya dia ingin menyakitimu. Makanya saya minta Diko untuk mengawasi kamu karena mata-mata Santoso Ilyas terus berkeliaran di sekitar kamu."
"Kenapa aku?"
"Karena kamu salah satu orang yang berharga bagi saya."
Hening.
Mendadak lidah Safa terasa kelu. Apa yang Edzar katakan itu benar? Atau Safa hanya salah dengar?
__ADS_1
"Aku.... Berharga?"
"Bukankah Om benci sama aku?"
Mendengar itu mata Edzar sontak meredup. Ternyata ini yang Safa pikirkan tentangnya.
"Saya tidak benci kamu."
"Tapi Om marahin aku."
"Om suruh aku menjauh."
"Om bilang aku pengganggu," lirih Safa kemudian menunduk. Matanya tiba-tiba saja memburam.
Sejurus kemudian sebuah tangan menggamit dagunya. Mengangkatnya pelan hingga ia mendongak menemukan mata sekelam malam.
Edzar menatapnya dengan sorot yang rumit. Bibir Safa melengkung ke bawah, hidungnya mencerup ingus yang perlahan mulai keluar. Safa malu, tapi Edzar tak membiarkan wajahnya berpaling.
"Maaf, Safa cengeng," ucap Safa dengan suara parau.
Sejenak Edzar terpaku, lantas sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman. Safa-nya sudah kembali.
Edzar sangat suka jika Safa sudah memanggil dirinya dengan nama sendiri, bukan 'aku' yang terasa asing. Kepalanya menggeleng, tangannya beralih mengusap rambut gadisnya. "Ini bukan kesalahan, kenapa harus minta maaf?"
"Safa malu. Ingus.... Sluurrpp."
Edzar menguar tawa yang terdengar renyah. Safa semakin kesal karena merasa dipermalukan. Pria itu merogoh saku mengeluarkan saputangan miliknya.
Dengan santai tanpa rasa jijik Edzar menyeka hidung Safa yang berair. Safa tak berkutik, sementara pria itu terus tersenyum seolah dunia tengah bahagia. Safa tidak tahu bahwa hati Edzar tengah berbunga-bunga.
"Jangan ketawa...." rengek Safa dengan bibir mengerucut. "Om belum jelasin!"
Edzar mengulum senyum. "Iya, Sayang. Kamu tenang saja saya bakal jelasin semuanya. Bahkan malam ini kamu diperbolehkan untuk bertanya. Apapun, nanti pasti saya jawab."
"Tapi sekarang bersihin ini dulu, ya?" ucap Edzar terus menyeka hidung Safa. Dia bahkan menggunakan pergelangan tangan bajunya untuk mengusap pipi Safa yang basah oleh air mata. "Berhenti menangis, saya tidak suka. Kamu hanya boleh menangis saat merasa senang."
"Kenapa Om mendadak manis....Hiks, Safa kan jadi baper...."
"Apa itu baper?" tanya Edzar polos.
"Bawa perasaan!" seru Safa kesal. Gitu aja gak tau. Dasar Om-om tua.
Cup.
Deg.
Edzar mencium pipinya sekilas.
"Kalau begitu teruslah baper."
"Om jangan cium-cium! Om belum jelasin kenapa maki-maki Safa kalau gak benci!" jerit Safa sembari menggasak kaki.
"Syuut... Jangan keras-keras, nanti ada yang dengar, terus kita digerebek, lalu dinikahin, mau?"
"Kalau saya sih mau."
__ADS_1
"Om ih!"
Edzar tersenyum lebar dengan mata menyipit. Dia tak bisa menahan tangannya untuk mencubit pipi sekenyal moci di hadapannya. Alhasil si empunya kembali menjerit, dan anehnya Edzar merasa senang dengan itu.