SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 65


__ADS_3

Saat Safa dan security itu jatuh di pinggir jalan, kebetulan Dian habis dari parkiran dan tak sengaja melihat kejadian itu. Makanya sekarang Safa bisa ada di ruangannya karena dia sendiri yang mengurus izin.


Edzar tetap menolak untuk percaya, matanya masih lekat menatap Safa. Kedua tangannya naik meraih pipi gadis itu yang sedikit berminyak, efek berpanasan di bawah terik matahari. Rasa bersalah kembali melingkupi hati Edzar, karena dengan sengaja membuat gadis itu menunggu.


Suara dering ponsel milik Dian memecah kesunyian. Dengan cepat wanita itu mengangkat panggilan dan sedikit menjauh, takut mengganggu dua sejoli yang tengah asik bertatapan.


“Om....” Safa berujar gugup. Dilihat sedemikian rupa oleh Edzar memang membuatnya berbunga, tapi Safa juga merasa malu. Mendadak kepercayaan dirinya menurun, terlebih Safa merasa wajahnya berantakan.


Edzar menghela nafas menjauhkan tangannya.


“Kamu hampir membuat saya mati karena panik,” bisik Edzar mengusap kasar wajahnya.


Pria itu menghempaskan tubuh di atas sofa, menyugar rambutnya dengan kepala menunduk.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu, kepalanya kembali menengadah menatap Safa. Memindai dari atas ke bawah. Semuanya nampak baik, hanya bajunya yang sedikit kotor. Selebihnya tidak ada luka serius, kecuali luka bekas pecahan beling yang sudah mengering.


Lalu, darah itu milik siapa?


“Untung Safa menyimpan kresek ini di trotoar, jadi makanannya baik-baik saja saat Safa jatuh,” ucap gadis itu dengan santainya.


Tangannya mengeluarkan satu persatu kotak sterofom berisi ayam penyet, menyusunnya di atas meja bersama nasi dan lalapan yang sudah sepaket dari sananya.


“Hanya saja, lipstik sama liptint Safa semuanya pecah kelindas motor,” lanjutnya lagi. Kini bibirnya terlihat manyun.


“Padahal Safa borong itu habis 5 juta....”


“Belum lagi warna bloody itu cepat sold out-nya. Safa selalu... saja kehabisan.”


Gadis itu tak berhenti mengeluarkan keluh kesahnya tentang lipstik, liptint, lip— apalah itu Edzar tak paham. Dia terlalu fokus pada satu kata ‘bloody’ yang Safa sebut.

__ADS_1


“Lipstik kamu warna merah?”


“He’em. Safa beli buat Bunda juga,” sahut Safa sambil lalu. Dia fokus menata makanan yang dibelinya.


“Om Edzar makan dulu. Katanya siang ini ada sidang, ya?”


“Mbak Dian mau? Safa belinya banyak, nih.”


Dian yang baru saja selesai menelpon tersenyum mendekat.


“Wah... mantap. Jadi lapar lagi. Padahal sudah makan tadi di kantin.”


“Ya sudah, makan lagi aja, Mbak. Oh iya, Mas Doni mana tadi, ya?”


“I am here, Cantik.” Doni melambai memasuki ruangan.


“Pecahan bekas lipstik kamu sudah diberesin. Takutnya kelindas kendaraan lain, kan bahaya. Cuman warnanya masih nempel, susah ilang. Waterproof, ya?”


“Oh, enggak, santai aja. Kalo bayarannya ayam penyet gini mah saya ikhlas, hahaha....”


Semuanya terlihat sibuk dengan makanan, tak memedulikan Edzar yang sejak tadi terdiam. Dia masih berusaha mencerna kalimat-kalimat Safa yang dipertegas oleh perkataan Doni.


Jadi memang bukan darah?


Seketika Edzar merasa konyol dengan ketakutannya yang berlebihan. Tapi dia bersyukur Safa baik-baik saja. Dia luar biasa lega mengetahui gadis itu tidak kenapa-napa.


“Aaa... buka mulutnya, Om.”


Edzar yang larut menatap Safa tanpa sadar menurut, membuka mulutnya menerima suapan gadis itu. Namun kemudian tersentak saat tiba-tiba Safa meringis.

__ADS_1


Sontak Edzar meraih tangan mungil itu yang belum sepenuhnya sembuh. Dia melotot menatap Safa, “Kenapa kamu suapin saya? Udah gitu pegang sambal lagi,” cecar Edzar.


Safa menunjukkan giginya tersenyum kering, “Abisnya Om bengong mulu. Padahal Mbak Dian dari tadi ingetin buat cepat-cepat. Kan Om mau sidang.”


Safa menunduk menggigit bibir, ekspresinya persis anak yang baru dimarahi orang tuanya.


“Ngelamun apa, sih, kamu? Sampai gak dengar kita ngomong.”


Diam-diam Doni melirik Edzar, di tengah kunyahannya dia tersenyum. Fakta ada di depan mata, Edzar memang sedang jatuh cinta. Buktinya, dari tadi matanya tak lepas menatap Safa.


Edzar menghela nafas lelah. “Cepat cuci tangan,” titahnya pelan pada Safa.


Safa menurut. Dia mengangguk lalu berdiri. Tapi langkahnya terhenti dan kembali menoleh, “Kamar mandinya di mana?”


Kali ini Dian yang menjawab, “Gak usah ke kamar mandi, ada wastafel dekat sini. Kamu lurus saja, ya. Terus belok kanan, di sana kamu bisa cuci tangan.”


Safa mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.


Edzar terdiam sepeninggal Safa. Dia kembali merenung tentang kejadian tadi. Kecerobohan gadis itu benar-benar meresahkan. Dia hampir menghilangkan nyawanya sendiri karena itu.


“Ini bukan salahnya,” ucap Dian tiba-tiba, membuat Edzar menoleh dengan kening berkerut.


“Security bilang Safa berdiri di pinggir jalan, masih satu senti dari trotoar. Harusnya sih aman.”


“Tapi entah kenapa pemotor itu melaju seolah tak ada jalan lain. Padahal jalanan luas dan lengang.”


Dian berbicara sambil sesekali mengusap keringat, dia kepedasan.


“Kayak sengaja mau nabrak gitu, katanya,” lanjut Dian tanpa memperhatikan raut Edzar yang terpaku.

__ADS_1


Edzar menelan ludah, tatapannya beralih pada Doni yang juga menatapnya dengan ekspresi sama. Dan sepertinya pikiran mereka juga serupa.


Jika benar ini ada kaitannya dengan Edzar, apa yang harus dia lakukan?


__ADS_2