
Pagi hari sesuai janjinya pada Diko, Safa bersiap-siap memakai pakaian olahraga untuk jogging ke taman komplek. Celana traning dan t-shirt menjadi pilihan agar tidak gerah.
T-shirt sangat nyaman karena bisa menyerap keringat dengan baik. Tak lupa sepatu Sport melengkapi penampilannya. Safa juga mengucir rambutnya supaya tidak mengganggu saat berlari. Untuk poni ia biarkan saja karena tidak terlalu menyusahkan.
Oke siap.
Diko sudah menunggu di depan saat Safa keluar dari rumahnya. Safa bersyukur Diko membawa kendaraan, mengingat jarak taman yang lumayan melelahkan jika ditempuh dengan jalan kaki. Tak seperti Dava yang waktu itu menyuruhnya berlari tanpa perasaan. Sepertinya Diko tipe orang yang perhatian pada perempuan.
"Sudah siap?"
Safa mengangguk antusias. Kemudian menduduki bagian belakang motor Diko yang lagi-lagi sejenis moge. Kalau begini ceritanya Safa jadi berasa syuting Anak Jalanan. Akhir-akhir ini dia jadi sering naik motor Ninja.
Ada apa dengan para pria? Apa mereka merasa keren dan gagah saat menggunakan kendaraan yang besar?
Padahal kalau boleh jujur Safa kurang nyaman karena setelahnya kerap menimbulkan rasa pegal.
Itu Safa, gak tahu yang lain.
Keadaan belum terlalu ramai saat mereka sampai di taman. Safa dan Diko berlari di lintasan bersama setelah sebelumnya melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Yang membuat Safa salut, pria itu dengan gentle-nya menyesuaikan ritme berlari Safa yang kecepatannya bisa dibilang seperti siput. Sudah gitu banyak berhentinya pula.
Belum 100 meter Safa sudah mandek duluan. Derita orang yang tidak pernah beraktivitas berat ya begini. Kalau Dava bersamanya, pasti abangnya itu akan ngomel-ngomel sambil mukulin pantat Safa setiap kali Safa berhenti di tengah jalan.
"Tumben aku gak lihat Abang kamu? Biasanya hari Minggu gini suka joging?"
"Bang Dava harus ke Bandara. Jemput Ayah Bunda." Safa menjawab dengan nafas ngos-ngosan. Dia tengah berhenti sejenak karena sumpah demi apapun kakinya tidak kuat.
"Oh...." Diko menatap Safa yang tengah merunduk menumpu tangan di lutut. Gadis itu begitu kelelahan, padahal jaraknya belum terlalu jauh.
"Emang ortu kamu habis dari mana?" tanyanya lagi sembari menyingkir memberi jalan pada orang-orang yang mau mendahului mereka.
"Luar kota, Kak. Urusan bisnis," jawab Safa masih mengatur nafas.
__ADS_1
Diko mengangguk paham. Lelaki itu berkacak pinggang menatap sekitar, menunggu Safa selesai berehat diri.
"Kak Diko, aku gak bisa lari cepet-cepet. Kakak kalau mau duluan, duluan aja gak papa."
"Lha, kok, gitu? Santai aja kali. Namanya juga joging, lari-lari kecil. Kalo cepet namanya sprint." Diko tertawa renyah saat mengatakan itu.
Safa meringis malu. Kelihatan banget dia gak pernah olah tubuh. Mereka kembali berlari setelah dirasa Safa siap untuk meneruskan. Diko dengan sabar mengawani Safa yang lagi-lagi merandek, entah sudah berapa kali. Sebelum kemudian lanjut lagi sampai di jarak 500 meter.
Orang lain sudah dapat 2 putaran, Safa dan Diko boro-boro. Itu karena Safa yang keseringan berhenti. Atlet marathon akan tertawa melihat ini. Safa benar-benar payah dalam berolahraga.
Sekedar informasi, olahraga adalah bidang yang paling Safa benci setelah Matematika dan Fisika di sekolah dulu. Ya, meski semua pelajaran tidak ada yang Safa sukai.
Safa itu sukanya belanja dan dandan. Dia sampai dikatai menor oleh teman-temannya saat SMP karena sudah berani memakai lipstik ke sekolah. Padahal itu lip gloss, gak begitu terlihat di bibir Safa yang memang sudah pink dari sananya.
Bukan hanya itu, sih. Safa juga pakai eyeliner dan maskara, tapi tipis-tipis, jadi natural aja gitu kelihatannya.
Dikatain, tapi diikutin. Itulah Safana Halim. Apapun yang dipakainya pasti jadi tren, terutama di kalangan teman wanita. Nasib orang cantik ya begitu, selalu banyak yang meniru. Namun tentu saja sekeras apapun mereka mengikuti gayanya, tetap Safa juaranya.
"Kak Diko, berhenti dulu...! Hah hah hah. Aku bener-bener udah gak kuat. Huaa... haus...."
Lagi-pagi Diko harus berhenti karena Safa yang mengeluh capek. Gadis itu duduk di pinggir jalan saking tidak tahannya. Kepala Diko mengedar, mereka masih jauh dari finish. Tentu tak ada minimarket di sini. Sedangkan Safa terlihat sangat pucat.
"Safa? Kamu baik-baik aja?" tanya Diko sedikit khawatir. Tubuhnya ikut berjongkok di depan Safa
Baik dari mana? Ya ampun, Safa haus banget, Ya Tuhan...
Tenggorokan Safa sakit saking kering. Safa benar-benar butuh air. Atau dia akan mati dehidrasi di sini. Badannya pun sangat lemas, rasanya Safa mau pingsan saat ini juga.
Sementara itu Diko mulai gelisah. Harusnya dia bawa minum untuk berjaga-jaga. Sekarang dia jadi bingung sendiri. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Safa, dia juga yang kena.
Diko coba bertanya pada pelari lain yang melewati mereka, tapi semuanya tak ada yang membawa air.
Di tengah keresahan itu, tiba-tiba sebuah botol terulur di hadapan mereka. Keduanya sama-sama mendongak, melihat siapa orang yang sepertinya berniat membantu itu.
__ADS_1
Safa terpaku. Perasaannya campur aduk. Dia lupa akan kemungkinan bertemu Edzar di sini. Padahal Safa sendiri tahu Edzar kerap berolahraga di jogging track taman komplek.
Ya, pemilik tangan itu adalah Edzar. Entah kebetulan apa yang menimpa Safa. Kenapa akhir-akhir ini dia kerap bertemu Edzar tanpa disengaja?
Edzar berdiri dengan wajah datar khasnya. Tangannya masih menggantung di udara dengan botol minum di genggaman. Safa yang melihat itu berusaha menelan ludah. Dia benar-benar haus. Tapi, Safa tidak mungkin menerima pemberian Edzar. Gengsi.
Safa mengalihkan pandangan ke tempat lain. Berjuang keras menahan godaan bayang-bayang air yang jernih. Tenggorokannya memang kering, tapi nalurinya merasa tak sudi jika air itu berasal dari Edzar.
Entahlah, hatinya masih marah dan kecewa. Melihat Edzar membuat Safa mengingat kembali perkataan sadis pria itu. Tentu Safa tidak bisa serta-merta melupakannya, bukan?
"Kamu gak mau minum?" tanya Diko heran, apalagi melihat Safa yang seolah enggan menatap Edzar. Diko mengamati keduanya bergantian. Dia merasa ada sesuatu di antara mereka. Bukankah Edzar tetangga baru Safa?
"Itu-"
"Gak perlu. Aku masih kuat, kok. Nanti beli aja di Alfa," ucap Safa menyela. Sekonyong-konyong tubuhnya bangkit, hendak melanjutkan lari yang masih setengah jalan.
Sontak Diko pun berdiri, mengikuti langkah gadis itu yang sedikit gontai. Sudah selelah itu masih bisa menolak? Sebenarnya apa yang Safa pikirkan?
"Kenapa gak terima aja?" tanya Diko setengah berbisik.
Safa hanya menggeleng tanpa sedikit pun menoleh. Dia mencoba untuk sedikit berlari kecil-kecil. Lima langkah, berhenti. Melangkah lagi, lalu berhenti. Ujung-ujungnya malah kayak jalan santai.
Malu-maluin banget, batinnya.
Edzar yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. Safa sangat keras kepala ternyata. Beberapa kali dia menggeleng melihat Safa yang mengerem langkah. Edzar tak habis pikir, apa susahnya menerima bantuan darinya?
Di sisi lain, Diko menatap Safa dari samping. Wajah gadis itu begitu pucat.
"Safa? Serius kamu gak papa?"
"Enggak," ucap Safa singkat. Namun berbanding terbalik dengan kelihatannya. Langkah gadis itu memelan, setengah sempoyongan.
"E-eh. Aw!"
__ADS_1