
[Flashback]
"Pak Edzar, istri anda mengalami komplikasi persalinan. Rahim istri anda tampak rileks dan tidak berkontraksi pasca melahirkan."
"Normalnya, otot-otot rahim akan berkontraksi setelah melahirkan. Hal ini bertujuan untuk membantu mengeluarkan plasenta atau ari-ari yang masih berada di dalam rahim."
"Kontraksi rahim juga berguna untuk menekan pembuluh darah yang menempel pada plasenta. Penekanan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya pendarahan."
"Jika kontraksi uterus tidak cukup kuat, otomatis pembuluh darah akan mengeluarkan darah yang sangat banyak."
"Alhasil, ibu bisa mengalami pendarahan dalam jumlah yang lebih besar."
"Itulah yang terjadi pada istri anda, Pak. Pendarahan yang tidak terkontrol membuat tekanan darahnya menurun. Hal ini disebabkan oleh waktu melahirkan yang panjang dan terlalu lama. Bobot bayi yang sedikit lebih besar daripada umumnya juga menjadi penyebab rahimnya meregang terlalu lebar."
"Istri anda mengalami anemia dan kelelahan. Juga syok akibat pendarahan hebat. Saat ini ia kritis. Kondisinya masih koma. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan istri anda. Untuk ke depannya tergantung takdir. Kami tidak tahu kapan tepatnya ia akan bangun."
Edzar syok. Jantungnya seakan mencelos meninggalkan tempatnya. Ia hancur. Hatinya lebur. Safa-nya koma? Tidak. Ia salah dengar 'kan? Dokter pasti salah. Safa tidak mungkin koma, apalagi kritis.
"Bu ..." Edzar tergugu di pelukan ibunya.
Pun Dyah ikut menangis menyaksikan putranya yang seolah kehilangan rotasi. "Tenang, Edzar. Masih ada kemungkinan untuk Safa selamat. Kita hanya perlu berdo'a banyak-banyak pada Tuhan. Semoga istri kamu bisa bangun lagi."
Edzar meraung setelah kepergian dokter. Sementara itu, mertuanya yang pingsan langsung dibawa oleh Dava. Ditemani Oma Halim juga Miranti yang butuh istirahat karena kondisinya yang tengah hamil.
Tersisa Edzar dan ibunya, serta Tirta dan Ayah Safa yang kini tampak berusaha tenang meski putrinya berada di ambang kematian.
Edzar bergegas bangkit saat rombongan paramedis keluar mendorong ranjang pasien Safa untuk dipindahkan ke ruang ICU. Kondisinya yang kritis membuat Edzar tak bisa menemani langsung sampai ke dalam. Ia hanya bisa melihat dari pembatas kaca. Dan itu betul-betul membuatnya menderita.
"Ai ..." Edzar kembali tergugu melihat dokter dan para perawat itu memasangkan berbagai alat ke tubuh istrinya.
Terlebih detak jantungnya yang tidak teratur di monitor. Edzar benar-benar sakit. Dia tidak sanggup menyaksikannya. Selang yang dimasukkan ke hidung itu, pasti sangat menyakitkan.
Edzar sangat tahu tabiat Safa yang tidak tahan dengan luka sekecil apapun. Bahkan tusukan jarum pun bisa membuatnya menangis.
Lalu sekarang, entah sebesar apa kesakitannya mengalami ini semua.
__ADS_1
"Edzar, yang sabar, Nak." Bu Dyah mengusap penuh pengertian bahu Edzar.
Putranya tak kunjung berhenti menangis. Tiba-tiba saja ia berlutut, memeluk kaki Tuan Halim dengan sedu-sedan memilukan.
"Saya minta maaf. Seharusnya saya yang mengalami semua ini. Bukan Safa. Andai bisa, saya sangat ingin menggantikan posisinya berjuang hidup dan mati melahirkan bayi kami. Saya benar-benar minta maaf karena lagi-lagi gagal menjaganya. Saya minta maaf ..."
"Saya minta maaf ..."
"Maaf ..."
"Edzar ..."
"Bang."
Tirta dan ibunya tak bisa berkata-kata. Pun Tuan Halim yang lantas merangkul menantunya untuk segera berdiri.
"Ini bukan salah kamu. Orang gila mana yang akan menyalahkan suami saat istrinya kritis? Memangnya siapa yang mau ini terjadi? Saya maupun kamu, tentu tidak menginginkan semua kejadian ini."
"Ini takdir juga ujian untuk kita semua."
"Jangan terlalu larut dalam kesedihan yang membuatmu putus asa. Berdo'alah. Andai kata Tuhan berkata lain, kamu juga harus siap berdiri tegak. Ada satu nyawa yang menjadi tanggung jawabmu sekarang."
Ai, Uda mohon bertahanlah. Anak kita butuh kamu. Uda juga, Sayang. Uda tidak akan sanggup jika harus kehilangan kamu.
Bangunlah. Jika kamu lelah, istirahatlah. Uda mengerti sebesar apa perjuanganmu. Tapi, jangan pernah berpikir untuk pergi. Demi apapun Uda tidak akan ikhlas jika kamu melakukannya.
...............
"Putra Anda sudah bisa dibawa pulang, Pak. Tapi, karena ia masih harus menyusu, maka kami sarankan untuk tetap tinggal bersama ibunya," kata dokter yang saat itu baru selesai menyusukan anaknya pada Safa.
Edzar masih dilarang masuk dan melihat mereka secara langsung.
Sudah lima hari berlalu, Safa belum juga memberi tanda-tanda akan bangun. Kondisinya masih belum stabil, dan ini sangat menyiksa bagi Edzar.
Setiap detik dilaluinya dengan perasaan tak tenang. Ketakutan besar akan kehilangan Safa terus menghantui setiap nafas yang ia hembuskan.
__ADS_1
Tuhan, haruskah seberat ini ujian kami? Kami baru sesaat bersama, sementara aku sudah mengharapkannya sejak lama. Apa yang sebenarnya Kau rencanakan?
Mata Edzar kembali berlinang. Ia menatap Safa dan anaknya dalam box bayi dari kaca pembatas. Keinginan memeluk keduanya sangat besar. Tapi Edzar tidak bisa berbuat apa-apa karena nyawa sang istri sedang terancam.
Sepanjang hari Edzar tak pernah beranjak sedikit pun dari rumah sakit. Ia masih makan dan minum walau tak enak. Mandi, shalat dan berdo'a meski tak khusyu. Ini bukan sinetron dramatis di mana ia harus 24 jam menanti kepastian. Edzar tidak mungkin membiarkan dirinya mati konyol sementara dua tanggung jawabnya butuh pegangan.
Untuk bisa tetap menjaga mereka, Edzar harus kuat. Kendati kewarasannya hampir hilang direnggut kegelisahan.
Selepas makan siang dan shalat dzuhur, ia kembali ke depan ICU menengok keduanya. Namun, tepat beberapa meter sebelum sampai, rombongan paramedis berlarian dari arah berlawanan. Raut mereka terlihat panik. Edzar jauh lebih panik ketika tahu ruangan sang istri lah yang dituju.
Kontan kakinya berlari melihat apa yang terjadi. Dan seketika darahnya seakan dihisap habis. Wajahnya berubah pias, tangannya bergetar hebat.
Mata Edzar memburam. Ia menelan gumpalan ludah seiring ketakutannya yang membesar.
Di dalam sana, kegaduhan terjadi saat dokter tiba-tiba naik ke atas tubuh Safa. Di tangannya ada alat kejut jantung. Piama pasien sang istri dibuka paksa. Lantas, tubuhnya terentak ke atas saat alat itu menempel di dadanya.
Melihat itu jantung Edzar seolah ikut terenggut. Ia remas dadanya sendiri saat rasa sesak itu datang. Sakit. Edzar terengah, berusaha menopang tubuhnya pada dinding kaca.
Apa yang terjadi?
Ia lirik monitor di samping ranjang pasien. Dan seketika terhenyak melihat gelombang tak beraturan yang semakin memendek setiap detiknya.
"A-ai ...?" Suara Edzar bergetar.
"Apa yang terjadi sama kamu? Kamu kenapa, Sayang?" lirihnya entah pada siapa.
Tuhan, apalagi yang Kau rencanakan? Kalau Kau ingin mengambil Safa, maka ambil kami juga.
Edzar tergugu.
Entah berapa lama ia larut dalam tangisan, hingga tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya.
Edzar mendongak melihat wanita paruh baya yang adalah dokter Safa. Ia sudah tak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu, terlalu takut untuk bertanya.
"Istri anda sudah stabil. Tapi kami belum bisa memindahkannya ke ruang perawatan untuk mencegah hal tak terduga terjadi lagi."
__ADS_1
Bolehkah Edzar sedikit merasa lega? Karena hari ini Tuhan tak jadi mengambil istrinya.
Safa, kamu harus bertahan. Atau kamu akan membunuh Uda secara perlahan.