
Kamila mengernyit. Dia mulai bertanya-tanya, siapa gerangan Om-om yang sudah menolong sahabatnya? Apa tidak apa-apa jika Kamila membiarkan Safa dibawa olehnya? Apa orang ini bisa dipercaya?
Kamila menunduk menatap Safa di pelukannya. Saat ini mereka tengah duduk gepor di lantai depan mall. Gadis itu masih lemas, sejak tadi hanya menunduk tak mengizinkan siapa pun melihatnya.
Lalu tiba-tiba Akmal bersuara, “Biar aku aja yang antar Safa.”
“Enggak,” sanggah Kamila. Dia tidak akan setuju kalau Safa diantar pulang Akmal.
Safa gak suka Akmal, Kamila tidak mau Safa tambah stress nantinya.
“Kenapa? Aku juga kenal keluarganya.”
“Sekali enggak tetap enggak. Om jaga baik-baik sahabat saya. Awas aja kalau sampai kenapa-napa, Om orang pertama yang akan saya cari.”
“Eh, emang Om tau rumahnya?” lanjut Kamila bertanya.
Edzar mengangguk, “Tau. Rumahnya tepat di sebelah rumah saya.”
“Eh?”
“Mil, udah kamu pulang aja, ayo. Kalau dia orang jahat ngapain dia nolongin Safa tadi?” ujar Nadine.
“Kamu pulang sama Angga, dia yang akan nyetir mobil kamu.”
Mau tidak mau Kamila menurut, tangannya yang tiba-tiba kehilangan tenaga tidak memungkinkan untuk dipakai nyetir.
“Ya udah, oke,” ujar Kamila lemas.
“Safa, aku pulang, ya. Besok aku ke rumah kamu. Kamu baik-baik sama Om itu. Jangan mentang-mentang dia ganteng kamu mau aja diapa-apain.”
Jika dalam keadaan normal Safa akan memaki Kamila karena ucapannya. Tapi sayangnya saat ini tenaganya seolah terkuras habis, capek deg-degan kayaknya.
Kamila dan teman-temannya mulai memasuki mobil. Untuk beberapa saat Akmal menatap Edzar sedikit lama, sebelum kemudian berbalik mengikuti yang lain.
Kini tersisa Safa, Edzar, dan petugas keamanan. Jangan lupakan juga teman wanita Edzar. Lalu ada lagi seorang pria yang entah sedang apa ikut-ikutan diam di sini. Mall sudah tutup beberapa menit lalu. Penjahat sudah dibekuk oleh polisi. Dan Safa masih saja merasa lemas tak bertenaga.
“Doni.”
Pria yang ternyata bernama Doni itu mendekat. Mungkin teman Edzar, pikir Safa.
“Kamu antar Dian. Saya akan pulang bawa dia.”
__ADS_1
“Ya?”
Edzar tak berbicara lagi, serta-merta dia menggendong Safa tanpa persetujuan. Safa hampir memekik saking kagetnya. Bukan hanya Safa, Doni selaku bawahan pun merasakan hal yang sama. Sejak kapan bos kaku itu mau dengan sukarela menyentuh wanita? Biasanya kalau keadaan darurat pun, dia akan menyuruh orang lain melakukannya, termasuk dirinya.
Selain Safa dan Doni, ada sosok lain yang jauh lebih terkejut. Dian, wanita yang Safa anggap memiliki hubungan spesial dengan Edzar, hanya bisa terpaku melihat tindakan tak biasa pria itu.
“Tapi, Pak. Nego-“ Doni tak melanjutkan ucapannya kala mendapat tatapan menusuk dari Edzar. Dia beralih menggaruk tengkuknya yang tak gatal, “Oke,” angguknya patuh.
...............................
Perjalanan terasa sepi membuat Safa yang kelelahan sedikit mengantuk. Terlebih jam di dashboard menampilkan angka 22:25. Selama itukah sampai Safa tidak sadar malam sudah begitu larut.
Safa menunduk pada tubuhnya sendiri. Lebih tepatnya pada jaket Edzar yang menyelimuti bahunya. Wangi parfumnya lumayan membuat Safa tenang. Tanpa sadar matanya terpejam, tidur sejenak sebelum disadarkan kembali oleh suara pintu mobil yang dibuka.
Safa menoleh dan mendapati Edzar sudah berdiri di sampingnya. Mengerjap sebentar, Safa melihat pada jam yang ternyata sudah berlalu 20 menit sejak terakhir ia melihatnya tadi. Safa merasa baru sedetik ia tidur.
Belum sepenuhnya sadar dari rasa kantuk, Safa kembali dikejutkan dengan Edzar yang tiba-tiba menunduk melengkungkan punggungnya. Sontak Safa mundur merapatkan tubuhnya pada kursi. Dengan jarak sedekat ini, bagaimana jantung Safa tidak kelonjatan?
\=\=\=
Klik.
Ternyata pria itu membuka sabuk pengaman. Safa menghembuskan nafas yang tanpa sadar ia tahan.
“Hah?” Safa masih gagal faham.
“Duduk menyamping,” ulang Edzar.
Safa yang tidak mengerti menurut saja. Setelahnya pria itu menyimpan sebuah kresek ke pangkuannya. Safa mengernyit, kepalanya mengedar menatap sekitar, dan Safa baru sadar ternyata mereka ada di depan sebuah apotek 24 jam.
“Ahss...” Safa tersadar saat rasa perih menimpa lehernya.
Ia menoleh, saat itulah Safa tahu bahwa Edzar sedang mengobatinya. Sebentar, obat? Apa dia terluka? Kenapa dia tidak tahu?
“Ada sedikit luka gores. Mungkin kamu tidak menyadarinya karena terlalu syok.”
“Oh?” hanya itu yang bisa dia ucapkan.
Selesai mengoleskan antiseptik, Edzar langsung menempelkan plester kecil di lehernya.
Safa kira sudah selesai, tapi dia kembali dibuat terkaget-kaget saat tiba-tiba saja lelaki itu berjongkok dan mengambil kakinya. Bentar, bentar, ini kenapa lagi? Dia sedikit terbuai saat Edzar mengusapkan jarinya di sana. Demi Park Hyung Sik yang gantengnya gak ada obat, please... hati Safa bisa meleleh kalau lama-lama berada di posisi ini.
__ADS_1
“Aw!”
Safa menjerit, tanpa aba-aba Edzar memelintir kakinya sampai terdengar bunyi ‘krek’. Nafas Safa ngos-ngosan dibuatnya. Tak tahan, Safa menangis antara sakit dan terkejut.
“Hiks, sakit...” rengeknya tanpa sadar.
Edzar kembali berdiri setelah yakin kakinya terpijak nyaman.
“Kakimu terkilir. Coba gerakin. Apa masih sakit?”
Aku bahkan tidak tahu kakiku sakit sebelumnya.... jerit Safa dalam hati.
“Hwa....”
“Safa?”
Safa menghentikan tangisnya menatap Edzar.
“Gerakin,” titah lelaki itu.
Safa menurut, dia menggerak-gerakkan kakinya sesuai instruksi Edzar.
“Masih sakit?”
Safa menggeleng, lalu menjawab pelan hampir menyerupai bisikan. “Enggak.”
Edzar mengangguk puas.
“Di sana ada roti dan air. Makanlah.” Edzar menunjuk kantong kresek di pangkuan Safa.
“Kita diam dulu. Saya yakin kamu butuh udara segar.”
Segar, katanya. Jakarta mana ada segarnya. Angin malam iya. Yang namanya segar itu udara dari pepohonan, baru itu segar.
Walau begitu, Safa tetap menuruti kamauan Edzar. Tanpa kata dia membuka bungkus roti itu dan memakannya. Rasa coklat, sesuai seleranya.
Entah karena merasa lapar atau memang ia rasa roti itu sangat enak sampai-sampai Safa menghabiskannya dalam sekejap. Padahal ukurannya jumbo.
Safa malu, dia bahkan lupa menawari Edzar. Pelan-pelan Safa mengangkat kepalanya, Safa dibuat mematung saat ternyata pria itu tengah menatapnya.
Timing yang enggak banget, Safa tidak yakin penampilannya sehancur apa saat ini. Tapi dia bisa merasakan rambutnya berantakan dan wajahnya agak kusam. Rasanya dia ingin menangis lagi sekarang.
__ADS_1
“Rotinya enak. Maaf Safa abisin...” cicitnya pelan.
Edzar hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. Apa maksudnya, sih? Safa ‘kan jadi gugup.