
Selepas magrib, Tuan Halim menghubungi via Video Call. Mau tak mau Safa harus menyiapkan telinga.
"Safa, katanya semalam kamu demam? Kenapa gak kabarin Ayah sama Bunda, Sayang? Ayah malah tau dari Bik Inem tadi. Dava juga, dia gak ada bilang apa-apa soal kamu. Padahal tadi pagi sempat telponan." Tuan Halim menggerutu. Wajahnya nampak kesal saat berbicara.
Safa yang tengah berbaring menyamping pun tersenyum, matanya terlihat sayu membalas tatapan Sang Ayah. "Safa gak pa-pa, kok, Ayah. Mungkin Abang gak mau bikin Ayah khawatir, makanya gak bilang."
"Gak pa-pa gimana? Itu mukamu pucat begitu."
"Dan lagi, Ayah justru akan lebih khawatir kalau gak tau apa-apa soal ini. Sudah ke dokter? Apa katanya?"
"Sudah, Ayah... dan Safa gak apa-apa. Cuman demam biasa. Flu, karena kemaren kena hujan."
Tuan Halim berdecak gemas, belum sempat mulutnya terbuka lagi, lengkingan Nyonya Halim mengejutkan mereka berdua.
"ANAK PINTAR!!! BAGUS! KAPAN, SIH, KAMU GAK BANDEL, HAH?!"
Safa meringis, antara ngeri dan pusing. Kuat banget Tuan Halim menghadapi toa setiap hari. Salahkah jika dia bersyukur Bundanya tidak ada di sini sekarang?
"Ayah... sudah dulu, ya. Safa mau tidur," ucapnya serak setengah akting. Padahal dia mau menghindar dari amukan Gusti Ratu yang mungkin sebentar lagi mengguncang lautan dengan suaranya.
Bisa-bisa Safa telat sembuh kalau begini.
"Ya sudah, iya, kamu memang jangan malam-malam tidurnya. Istirahat banyak-banyak, ya, Nak? Besok Ayah sama Bunda pulang."
Reflek Safa menggeleng heboh. Akibatnya, kepala Safa berdentam hebat saat itu juga.
__ADS_1
"Sshh... enggak perlu, Ayah. Ayah sama Bunda santai aja. Jangan pikirin Safa. Safa gak pa-pa. Besok juga sembuh."
"Sudah, ya Ayah. Safa tidur. Ingat, besok jangan pulang. Assalamu'alaikum... muahh."
Tut.
"Haahh... semoga mereka gak bener-bener mau pulang besok."
................
Langit berangsur cerah. Matahari mengintip malu-malu dari peraduannya. Makhluk bumi beramai-ramai memulai aktivitas. Mungkin, hanya Safa yang masih betah berdiam diri di kamar.
Edzar benar, Safa tak lebih dari seorang pengangguran yang hanya bisa mengganggu orang.
Safa meringkuk di single sofa dekat jendela. Matanya mengarah ke luar. Di bawah sana, Edzar dan Alisia tengah berbincang.
Safa cemburu? Iya.
Walau bagaimanapun dia masih menyimpan rasa untuk Edzar. Dan bodohnya lagi mata ini tak mau beralih meski tahu hatinya sakit.
Safa menggigit bibir menahan tangis. Sekeras apapun dia menegaskan pada hatinya, air matanya selalu tak terbendung. Safa masih cengeng jika menyangkut Edzar. Mungkin ini juga yang tidak pria itu sukai darinya.
Cukup! Sampai kapan kamu mau menangis? Katanya mau berubah?
Miris sekali, Edzar mungkin sedang tersenyum di bawah sana karena dihampiri wanita cantik. Sudah gitu dewasa, tidak seperti Safa yang manja dan ceroboh.
__ADS_1
Benar yang Tante Dyah katakan, Edzar membutuhkan seseorang yang lebih berpengalaman untuk mendampinginya. Sedangkan Safa, baru sekali mengenal cinta saja sudah secengeng ini.
Lalu, pria seperti apa yang cocok untuknya?
Bisakah Tuhan memberinya bocoran?
"Dek, Dek. Hey, kok nangis?"
Dava yang tengah mengguncang pelan bahunya, terkejut mendapati sang adik yang sesenggukan. Dia hendak mengingatkan Safa untuk sarapan dan minum obat, tapi yang dia lihat malah makanan yang masih utuh dan Safa yang melamun sambil nangis.
Lihat apa, sih, sampai segitunya?
Dava melihat keluar, seketika itu juga dia mendecak menyadari apa yang membuat adiknya menangis.
Bibirnya mengatup rapat dengan nafas terhembus keras. Bergegas kakinya melangkah ke lantai bawah.
Dengan tungkainya yang panjang Dava berjalan cepat keluar rumah.
Kemudian, tangannya menggeser gerbang keras-keras, hingga mengejutkan dua manusia yang kini menatapnya dengan wajah berkerut heran.
Dava tak peduli. Dia kesal karena Safa menangis, dan karena itu dia jadi telat makan dan minum obat.
Serta-merta dia menyeletuk, "Heh, pacaran jangan pinggir jalan. Ganggu pemandangan orang aja!" ketusnya.
Lain Alisia yang berwajah cerah karena dikira tengah berpacaran, Edzar menatap Dava dengan pandangan sulit. Dua pria itu saling bertatapan. Berbanding terbalik dengan Edzar yang berwajah datar, Dava tak repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap pria itu.
__ADS_1
Apa, sih, yang membuat Safa begitu tergila-gila? Kalau masalah tampan, Dava juga banyak kolega yang lebih dari sekedar tampan. Sudah gitu berdompet lebih tebal daripada Edzar. Apa perlu Dava kenalkan?