
Sejak hari di mana mereka pulang dari rumah Uwa Nining, Edzar jadi jarang menghubunginya. Biasanya, semenjak hubungan mereka membaik Edzar selalu menelpon atau mengirim chat jika waktunya senggang.
Namun sekarang, pria itu hanya akan mengiriminya pesan saat malam hari saja, menjelang tidur. Dan pagi saat Safa bangun. Selebihnya senyap, tidak ada tanda-tanda Edzar telpon maupun Video Call.
Sebenarnya sikap Edzar yang seperti ini sudah dia rasakan ketika dalam perjalanan kembali dari Uwa Nining. Pria itu jadi lebih pendiam dari biasanya. Pikirnya mungkin Edzar terlibat cekcok dengan ibunya. Safa tak berani bertanya karena takut terkesan terlalu ikut campur. Meski sebetulnya dia sangat penasaran.
Safa hanya ingin memberi ruang bagi pria itu. Tapi, bukankah ini sudah terlalu berlebihan? Ini bahkan sudah lewat dari 3 hari. Ingin rasanya dia pulang ke Jakarta untuk mencari tahu apa yang terjadi. Setidaknya mereka harus bicara.
Namun Safa tidak bisa pergi dikarenakan terapinya. Kak Rey sudah memulai prosedurnya sejak beberapa hari lalu. Dan dia tidak diizinkan bepergian ke luar Bandung.
Safa merasa terpenjara. Meski dia masih boleh sekedar jalan-jalan ke mal dan tempat lainnya asalkan bersama Pak Iwan atau Nyonya Halim.
Bundanya juga sudah mulai menetap sementara di sini, menemani Safa ketika ayahnya harus terbang dinas ke berbagai daerah.
Safa rindu Edzar. Kenapa pria itu tidak ada kabar. Apa yang sebenarnya Edzar lakukan. Apa dia mulai sadar bahwa Safa memang tak pantas bersanding dengannya? Mungkinkah Edzar menyadari kekurangannya?
Safa menunduk, tersenyum sumir menertawakan dirinya sendiri. Memangnya siapa yang mau dengan pecandu obat sepertinya?
"Hahaha...." Safa tertawa lirih. Lama kelamaan memelan berubah menjadi dengusan. Kemudian dia menghela nafas menarik kembali air mata yang hendak keluar.
Dia tidak boleh menangis. Ini hanya hal sepele. Bisa jadi Edzar sedang tak enak badan. Ya, Safa mengangguk yakin. Sebisa mungkin dia menghindari pikiran buruk. Itu yang dikatakan Kak Rey padanya tempo hari.
Tangannya terangkat menyentuh kalung pemberian Edzar. Senyumnya terbit kala mengingat momen romantis mereka di Kiara Artha. Entah sejak kapan Edzar mempersiapkan hadiah ini. Dilihat dari desainnya yang tak biasa, pasti ini dipesan dari jauh-jauh hari.
Safa mengerling kala ponselnya berkedip di atas nakas, lengkap dengan bunyi singkat khas notifikasi pesan. Tubuh Safa sedikit condong meraih benda pipih itu, lalu kembali duduk tegap di atas ranjang, membaca pesan yang ternyata dari Rizkia.
Safa mengerut karena sepupunya itu tak hanya mengirim deretan kalimat, namun juga dua foto yang terlihat buram. Safa mengunduh gambar itu guna melihat apa yang sebenarnya Rizkia kirimkan. Dia sangat penasaran karena wanita itu membawa nama Edzar dalam chat-nya.
Hati Safa berharap-harap cemas. Semoga pikirannya tidak benar. Sekilas dia bisa melihat siluet dua orang yang tengah berdiri.
Jujur jantungnya berdetak tak karuan. Safa takut, semoga bukan kekecewaan yang ia dapat. Namun sepertinya Tuhan ingin menguji perasaan Safa, kala yang dia lihat berikutnya justru membuat rongga dadanya terasa sesak.
Sesaat Safa terdiam. Meneliti lebih cermat, hingga memperbesar ukuran gambar. Sesuatu dalam dirinya mulai berdenyut. Percaya tidak percaya, yang dia lihat di foto itu memang benar adalah Edzar.
Parahnya lagi dia bersama seorang wanita. Tapi bukan itu yang menjadi fokus Safa, melainkan tangan Edzar yang hinggap di atas kepala wanita berhijab itu.
__ADS_1
Foto itu diambil dari belakang, namun posisi Edzar yang menyamping membuat Safa bisa langsung mengenalinya.
Safa termenung. Edzar mengabaikannya, tapi dia masih bisa jalan dengan seorang wanita. Safa kira Edzar sangat sibuk hingga tidak ada waktu menghubunginya selain pagi dan malam.
Tapi apa yang pria itu lakukan sekarang? Terlebih ini jam makan siang, bisa 'kan dia meluangkan sedetik saja untuk mengirim pesan? Tak apa meski sekedar satu huruf berupa 'P'. Setidaknya itu menunjukkan eksistensi bahwa dia masih peduli.
"Kamu menyuruhku percaya, tapi sikapmu yang seperti ini mulai membuatku ragu," gumam Safa. Matanya terlihat kosong menatap beranda kamar yang bersinar oleh teriknya matahari.
Safa beralih melihat obat di atas nakas, tepat di samping lampu tidur. Tangannya terulur hendak mengambil, namun urung kala teringat perkataan Rey yang menyuruhnya mengurangi konsumsi secara perlahan.
"Kamu hanya boleh minum ini sekali dalam tiga hari. Mengerti? Aku sudah kasih keringanan, lho. Perlahan saja. Kamu pasti bisa melepas obat penenang ini."
Safa menarik kembali tangannya. Diraupnya botol itu dan melemparnya ke dalam laci. Laci itu ia kunci, lalu Safa tolak kunci itu ke kolong kasur.
Nafas Safa terhela panjang. Berusaha mengenyahkan prasangka yang berkeliaran di otaknya. Dia harus bersikap lebih dewasa. Safa akan tanya langsung ketimbang berasumsi yang tidak-tidak.
Tapi, bagaimana ia bertanya sementara Edzar saja tak pernah mengangkat telponnya.
Tok tok tok.
Safa bangkit menghampiri cermin, memeriksa wajahnya, takut-takut ada yang salah hingga menimbulkan kecurigaan bundanya.
Aman. Safa tinggal mengatur ekspresi untuk terlihat baik-baik saja. Lekas dia membuka pintu. Dan tampaklah sang bunda berdiri di hadapannya, dengan tangan mengambang hendak mengetuk.
"Kenapa, Bunda?"
Kening Nyonya Halim berkerut. "Kamu ngapain aja dalam kamar?" tanyanya penasaran.
Safa nyengir menunjukkan giginya yang putih dan rapi. "Tenang. Yang pasti bukan bunuh diri, hehe."
"Hush! Jaga mulut kamu, ya."
"Bunda mau masuk, boleh?"
Safa melebarkan pintu, "Tentu saja boleh. Kenapa harus gak boleh?"
__ADS_1
Nyonya Halim tak menghiraukan pertanyaan tak bermutu itu. Kakinya melangkah melewati Safa, berjalan ke tengah ruangan lalu duduk di atas ranjang.
Wanita itu menepuk tempat di sampingnya, meminta Safa agar segera mendekat dan melesakkan tubuh di sana.
Safa menurut, perlahan bokongnya menyentuh permukaan kasur yang empuk dan nyaman. Jelas karena semuanya produk kualitas tinggi.
"Kamu serius menyukai Edzar?"
Safa menoleh, sejenak terdiam berusaha mencerna pertanyaan tiba-tiba sang bunda. Lantas sudut bibirnya melebar, "Bukankah dari dulu Bunda sudah tahu?"
Nyonya Halim menghela nafas. "Maksud Bunda bukan suka seperti itu. Bunda tahu kamu menyukai semua pria tampan di muka bumi ini."
"Yang Bunda maksud, rasa suka yang melibatkan hati dan rasa ingin memiliki."
"Apa kamu merasakan semua itu pada Edzar?"
Hening. Safa terdiam menatap bundanya. Keduanya saling beradu pandang.
"Kenapa Bunda bertanya seperti itu?"
"Jawab saja."
Safa menghela nafas memalingkan muka. Menunduk menatap kakinya yang terbenam di atas karpet bulu yang lembut dan flowy.
Jemari lentiknya memainkan bulu-bulu soft pink itu. Hari ini dia memakai kutek berwarna pink pucat, hampir menyamai karpet yang ia injak.
"Iya. Tapi Safa tidak mau berharap lebih. Safa hanya akan mengikuti alur," gumamnya setengah berbisik.
Setelahnya dia merasakan sentuhan lembut mampir di bahu, Safa masih betah menatap karpet bulu ketika bundanya bersuara. "Bunda hanya ingin mengingatkan. Dalam sebuah hubungan pasti ada ujian. Dalam bentuk apapun, kecil ataupun besar. Kepercayaan dan komunikasi juga sangat penting. Jangan sampai kamu termakan berita sesaat tanpa memastikannya terlebih dulu."
"Satu lagi, jika kamu terlampau takut, jangan terlalu menggantungkan perasaan terhadap seseorang. Cintailah dia sewajarnya, jangan sampai kamu mencintainya lebih dalam ketimbang rasa cintanya padamu."
"Ini untuk antisipasi bila sesuatu terlanjur harus kita alami."
"Setidaknya, rasa sakitnya tidak lebih besar dibanding kamu menjatuhkan hati sepenuhnya."
__ADS_1