SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 41


__ADS_3

“Omong-omong Om Edzar seksi banget,” bisiknya di telinga Edzar. “Ternyata ototnya lebih keras dari yang Safa duga.”


Safa terkikik tanpa suara melihat telinga Edzar yang memerah. Jangan bilang lelaki itu sedang merona? Ihh... penasaran, deh. Sayang banget Safa gak bisa lihat lebih jauh dari telinga.


Sepanjang jalan Safa tak bisa menahan senyum. Hatinya berdesir hebat bisa memeluk Edzar, mencium aromanya, merasakan kehangatannya. Hari ini boleh saja hanya punggung, siapa tahu kedepannya dia bisa bersandar di dada bidangnya. Lagi.


Namun harapan hanya tinggal harapan. Kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Senyum Safa surut seketika sesampainya mereka di depan rumah. Kenyataan menamparnya dengan keras. Apa yang baru saja kamu angankan, Safa?


“Dian?”


Hati Safa serasa teriris saat nama itu meluncur dari mulut Edzar. Apalagi saat lelaki itu melepas paksa lengan Safa di perutnya. Dengan rasa tak karuan Safa turun dari motor, diikuti Edzar yang langsung menghampiri wanita itu.


“Kenapa tidak bilang kamu mau ke sini?”


Wanita bernama Dian itu tersenyum tipis, sejenak matanya melirik Safa yang berada di belakang Edzar. Lalu kembali pada lelaki itu. “Ibu kamu yang nyuruh aku ke sini.”


Ibu? Dia bahkan sudah sedekat itu dengan Tante Dyah. Apalah Safa yang baru pertama kali ketemu sudah dimusuhi. Dijauhi seperti virus menular. Nama mereka memang hampir sama. Sangat cocok. Dyah dan Dian.


“Masuklah. Tunggu di dalam. Ada Bik Yah di rumah.”


“Saya mau kembalikan motor dulu.”


Setelah itu Edzar menaiki lagi motornya dan berlalu meninggalkan mereka. Tadi Safa sempat mau bertanya kenapa Edzar tidak menyuruh salah satu pemuda itu mengikutinya agar tidak capek bolak-balik.


Tapi saat ini Safa merasa bodo amat. Hatinya jauh lebih penting dari apapun saat ini.


Tanpa sengaja pandangan Safa dan Dian bertemu. Wanita itu tersenyum pada Safa. Safa membalasnya dengan segan. Seketika hatinya merasa bersalah karena sempat menggoda Edzar. Kira-kira apa yang Dian pikirkan tentang dirinya? Apalagi Safa yakin seratus persen wanita itu melihatnya memeluk Edzar tadi.


Suasana mendadak canggung. Safa bingung harus melakukan apa. Apa dia perlu berbasa-basi atau tidak sebelum masuk rumah?


“Habis jogging, ya?”

__ADS_1


“Eh? I-iya.”


Safa mengulum bibirnya setengah tersenyum. Sikap ramah Dian membuatnya merasa malu. Wanita itu terlihat dewasa, dan sangat cantik tentu saja. Sesuai kriteria Ibunya Edzar. Seketika Safa merasa insecure. Dari segi kualitas tentu Safa kalah jauh. Wanita itu pasti berpendidikan tinggi, tidak seperti Safa yang kuliah saja merasa malas.


“Mbak ... pacarnya Om Edzar?”


Entah kenapa Safa bertanya seperti itu. Yang Safa tahu dia sedang menyiapkan pemanggangan untuk dirinya sendiri. Safa yakin setelah ini akan tercium aroma terbakar yang berasal dari hatinya.


\=\=\=


“Bagaimana? Dia menerima uangnya?”


Seorang pria menunduk lalu menggeleng. “Tidak, Pak. Orang itu benar-benar solid. Sangat sulit untuk melakukan negosiasi.”


Terdengar dengusan yang disertai decihan samar. “Pemuda yang bersih, anti korupsi, tidak pernah menerima suap. Menarik.”


“Kamu bilang dia tinggal di perumahan mewah di Jakarta Selatan?”


“Benar.”


“Orang suruhan saya bilang dia punya beberapa bisnis di luar hal itu. Dan lagi, dia putra seorang pengusaha, Pak.”


Hening. Sebuah ketukan jari yang menimpa elemen kayu pada sofa terdengar lirih, beriringan dengan detak jarum jam di ruangan itu. Aksen klasik dan pencahayaan temaram memberi kesan elegan yang mewah. Pun dengan interior dan perabotnya yang high quality class, menunjukkan bahwa si pemilik bukanlah orang biasa.


“Haruskah kita hancurkan ladang usahanya, Pak?”


“Itu suatu tindakan yang bodoh. Melihat dari karakternya dia tidak akan goyah meski kehilangan kekayaan.”


“Lalu apa yang ingin anda lakukan?”


Sudut bibir itu terangkat tipis, “Terus awasi dia. Cari tahu kelemahannya.”

__ADS_1


\=\=\=


Edzar menatap Dian meminta penjelasan. Sedang yang ditatap hanya mengangkat alis pura-pura tak mengerti. Beberapa menit sepulang dari mengantar motor, Edzar langsung membersihkan diri di kamar mandi. Namun apa yang dilihatnya di ruang tamu setelah itu sukses membuat Edzar menghentikan langkah, melihat pada Dian yang melintas membawa minuman di atas nampan.


Apa ini?


“Diminum dulu jusnya, Safa. Maaf, ya, kayaknya di sini gak begitu banyak makanan. Maklum yang tinggal hanya lelaki lajang. Pasti seringnya makan di luar.”


Safa mengulum senyum mengerti. Tatapannya jatuh pada Edzar yang berdiri di antara ruang tamu dan dapur. Wajahnya tersirat kebingungan.


“Tapi aneh. Akhir-akhir ini dia sering sekali bawa bekal ke kantor. Apa Bik Yah yang nyiapin?” tanya Dian menoleh pada Edzar. “Kamu jadi jarang ke kantin sejak itu.”


Edzar yang ditatap sedikit gelagapan. Tangannya menggaruk belakang leher, terlihat kelabakan untuk menjawab. Dan tingkahnya itu agak lucu untuk seukuran Edzar yang kaku.


Jadi Edzar selalu makan makanannya?


Pikiran itu membuat Safa tersenyum. Ternyata selama ini dia salah faham dengan Dian. Dian itu kakak sepupu Edzar yang juga bekerja di kejaksaan. Meski umurnya di bawah Edzar, Edzar memanggilnya Mbak karena Dian anak dari Uwa nya. Satu lagi, wanita itu sudah menikah. Kebetulan suaminya sedang meninjau proyek di komplek ini. Jadi sekalian saja ibunya Edzar menitip sesuatu untuk anaknya. Untuk itulah Dian di sini.


Safa jadi malu sendiri mengingat kejadian di depan gerbang tadi. Dian bilang ekspresi Safa udah kayak kalah perang. Pasrah gitu melihat gebetannya punya pacar.


Dan sekarang Safa lega, satu beban pikirannya telah terangkat. Jawaban atas rasa penasarannya sudah terbukti. Edzar dan Dian hanya keluarga.


Itu artinya Safa masih punya kesempatan ‘kan?


“Mbak Dian, ini Safa bawa bahan-bahan untuk puding. Kita buat sekarang?”


“Oh, iya. Ayo, sekarang aja. Mumpung suami aku masih lama.”


Edzar menatap dua wanita itu tak mengerti. Ini maksudnya apa? Sebagai pemilik rumah dia merasa tak tahu apapun.


“Eh, lupa bilang, deh. Aku yang minta Safa ke sini. Katanya dia mau belajar bikin puding.”

__ADS_1


Kening Edzar berkerut. Matanya menatap Dian seolah bertanya ‘Harus banget di sini?’


Tapi sepupunya itu malah melengos mengajak Safa ke dapur. Edzar hanya bisa mematung setengah tak percaya. Apa dia baru saja diabaikan di rumahnya sendiri?


__ADS_2