SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 13


__ADS_3

Safa tak bisa menahan senyum yang terbit malu-malu di bibirnya. Matanya sesekali melirik ke samping kanan, tepat pada seseorang yang duduk di kursi kemudi.


Edzar yang fokus menatap jalanan berkali lipat lebih bersinar ketimbang Han Ji Pyeong di drama Start-Up. Siluetnya yang tersorot lampu kendaraan lain terlihat lebih estetik ketimbang bayangan senja. Jantung Safa sampai jumpalitan tak karuan.


Ingin sekali Safa mengusap rahang tegas Edzar dan merasakan bulu-bulu kasar di sana. Alisnya yang tebal seperti ulat bulu tak kalah menarik perhatian. Bulu matanya yang panjang dan lentik membuat Safa betah berlama-lama menghitungnya.


Pejuang maskara dan bulu mata palsu pasti iri, termasuk Safa. Tuh, kan. Lagi-lagi Safa terpesona. Karena memang bulu mata Edzar tuh sepanjang dan selentik itu.


Berbeda dengan Safa yang lebih mirip bulu mata bayi. Tipis dan pendek. Mungkin bulu mata Safa ini tipe yang pemalu, makanya enggan menampakkan diri.


Safa berharap Tuhan mau bersikap adil untuk memasangkan dirinya dan Edzar. Lelaki itu sangat masuk kriteria Safa dalam hal memperbaiki keturunan, terutama masalah tinggi badan.


Semoga badan Safa yang mirip toge ini gak nurun ke anaknya. Makanya Safa mau cari pendamping yang tinggi, cakep, dan kaya.


Kalau tinggi doang tapi gak kaya apa gunanya? Memangnya hidup cuma makan angin? Pertumbuhan saja membutuhkan gizi yang seimbang, dan itu memerlukan uang.


Kalau masalah cakep sebenarnya itu bonus. Yang penting dan paling utama itu pulus. Kalau banyak pulus, kan bisa tuh operasi plastik ke Korea Selatan, siapa tau jadi mirip Seo Kang Joon.


Tapi sebisa mungkin Safa nyari yang ganteng alami, biar gen-nya juga jelas. Masa nanti ortunya cakep anaknya mirip pant*at panci, kan gak lucu dipertanyakan orang.


Dan Edzar adalah salah satu calon potensial yang gak boleh dilewatkan. Saat ini pria itu menempati barisan teratas list calon suami Safa. Hal yang seharusnya Edzar syukuri. Kapan lagi ditaksir cewek secantik dan seimut Safa?


Kembali melirik Edzar, Safa mendapati pria itu bergeming menatap lampu merah. Berapa lama dia melamun sampai tak sadar mobil tengah berhenti?


Edzar menyandarkan satu tangannya di jendela, tangan lainnya ia taruh di atas paha sembari menunggu lampu kembali hijau. Gerakan kecil itu tak luput dari pengamatan Safa. Apa pun yang dilakukan Edzar entah kenapa terlihat menarik di matanya. Mungkinkah ini pertanda jatuh cinta?


Safa berdehem, “Ehm. Mas Edzar, boleh Safa minum airnya?” tanya Safa sambil melirik botol di sampingnya.


Edzar menoleh menatap Safa sejenak, kemudian mengangguk, “Silakan.”


Safa langsung membuka botol minum itu lalu meneguknya. Matanya melirik Edzar yang masih setia diam. Tidakkah lelaki itu merasa haus? Safa saja sudah merasa dehidrasi saking lamanya menutup mulut. 20 menit termasuk lama ‘kan?


“Mas Edzar mau minum juga?” Safa inisiatif menyodorkan botol yang masih terbuka pada Edzar.


Siapa tau Edzar hilaf. Bukankah minum dari tempat yang sama termasuk ciuman tak langsung?

__ADS_1


Naasnya, Safa gagal antisipasi saat mobil mengalami lonjakan karena menginjak polisi tidur. Alhasil isi dalam botol itu tumpah mengenai Edzar.


Safa terbengong. Sementara Edzar langsung menginjak rem karena terkejut. Safa yang tak kalah terkejut malah diam, saat sadar dia langsung meraup tisu dan tanpa pikir panjang mengusapkannya di area yang basah.


“Aduh ... maaf. Maaf Mas Edzar, Safa beneran gak sengaja ... Safa gak tau airnya bakalan tumpah. Maaf, ya ...”


Saking paniknya Safa gak sadar perubahan raut Edzar, dia terus mengusap area basah itu tanpa berpikir apapun.


Safa merutuki sifat cerobohnya yang satu itu. Bagaimana kalau Edzar masuk angin? Bagaimana kalau Edzar berubah ilfil padanya dan tak mau ia dekati? Belum juga maju sudah disentil jadi remahan pop corn, kan gak etis.


Pria itu mematung dengan wajah tegang. Tatapannya lurus menatap jalan, tapi tidak dengan pikirannya. Edzar tak berani menatap ke bawah, dia hanya bisa merasakan pergerakan Safa yang entah sadar atau tidak dengan apa yang disentuhnya.


Dengan cepat Edzar menangkap pergelangan Safa. Safa yang terkejut langsung mendongak, Edzar masih menatap lurus pada jalan. Tapi ada yang aneh, kenapa wajahnya sangat merah? Edzar yang kaku sekarang terlihat jauh lebih kaku lagi.


Apa yang salah? Apa pria itu marah?


Safa menunduk menatap tangannya yang dipegang Edzar. Tapi saat itulah Safa sadar akan sesuatu. Safa menatap celana basah Edzar yang sempat ia usap, perlahan wajahnya ikut memerah saat tau apa yang membuat suasana begitu awkward.


Safa kembali mendongak dan mendapati Edzar tengah menunduk menatapnya. Rahangnya mengatup rapat, jakunnya naik turun berusaha keras menelan ludah, mata pria itu nampak berkabut seperti menahan sesuatu.


Safa bukan gadis perawan yang polos dan tak tahu apapun. Setidaknya dia tau apa yang terjadi pada Edzar sekarang. Safa menggigit bibirnya gugup, tak sadar bahwa itu menarik perhatian Edzar.


Tiiin ...!


Suara klakson menyadarkan keduanya. Edzar baru sadar tengah berhenti di tengah jalan, beruntung tidak memicu kecelakaan.


Dengan cepat lelaki itu kembali menjalankan mobilnya. Safa sudah kembali duduk di tempatnya dengan perasaan luar biasa gugup. Rona merah belum surut meninggalkan wajahnya.


Tak lama mobil Edzar berbelok memasuki komplek. Keduanya masih diam tak bersuara saat roda berhenti tepat di depan rumah Safa. Safa mengulum bibirnya sebelum bicara, sungguh dia tak berani menoleh saking malunya.


Safa bersumpah tangannya merasakan sesuatu yang menonjol tadi. Mengingatnya kembali membuat Safa memerah.


“Ma-makasih, Mas Edzar. K-kalo gitu Safa masuk dulu.”


Bergegas Safa meraih handle pintu di samping kirinya. Belum sempat pintu terbuka, tangan Edzar lagi-lagi hinggap di pergelangannya.

__ADS_1


Safa menoleh, ternyata Edzar juga tengah menatapnya. Hal itu membuat Safa menelan ludah kasar. Jangan-jangan Edzar mau memarahinya? Hwa ... Bunda, tolong Safa ...! Batinnya menjerit.


“Tidakkah kamu perlu bertanggung jawab atas sesuatu?”


Eh?


Klik! Edzar membuka sabuk pengamannya.


Safa melotot karena selanjutnya lelaki itu mencondongkan tubuh ke arahnya. Otomatis Safa mundur.


Tapi hal itu tidak terjadi karena Edzar segera menarik tangan yang Safa baru sadari masih dalam genggaman Edzar.


Safa menahan nafas. Apa yang mau Edzar lakukan?


“M-mas Ed-“


Cup.


Mata Safa seakan mau loncat dari tempatnya. Tubuhnya menegang dalam rasa kaget. Bisa Safa rasakan benda lembut dan kenyal itu menyentuh bibirnya.


Benarkah ini Edzar? Pria kaku dan pendiam yang ia kenal?


“Saya tau kamu tertarik pada saya.” Edzar berbisik di sela ciumannya.


Safa berkedip, “Apa?” Dia masih linglung.


“Matamu tak bisa berbohong.”


Cup.


“Satu lagi. Kamu panggil Tirta Om, tapi saya kamu panggil Mas. Masih mau mengelak?”


Edzar tersenyum tipis melihat Safa yang mematung. Meskipun tipis tapi damage-nya berhasil meluluhlantakkan perasaan Safa.


Safa baru tau Edzar punya sisi liar juga. Pria itu penggoda ulung! Sial, Safa terjebak.

__ADS_1


Masih dalam perasaan tak karuan, Edzar kembali meraup bibirnya. Pria itu menghisap satu persatu bibir Safa membuat gadis itu terbuai. Gagal ciuman tak langsung, Edzar malah mengejutkannya dengan ciuman yang nyata.


Haruskah Safa berterimakasih pada insiden botol minum tadi?


__ADS_2