
“Ancaman?” Edzar mendengus, “Dia mengancam itu berarti saya benar, bukan begitu?”
“Selama ada bukti, apa yang kamu takutkan?” lanjutnya lagi.
“Pak, kenapa Anda begitu berani ... Apa peluru kemarin tidak cukup menakutkan?” tanya Doni greget.
Edzar menghembuskan nafasnya menanggapi Doni, salah satu stafnya di Kejaksaan. Dia melangkah pelan mendekati meja konsol di ruangan, mengetukkan jarinya dengan pelan.
“Dengar, Doni. Kita ini Lembaga Penegak Hukum. Ibaratnya kita memasuki sebuah rumah, lalu menemukan empat pilar yang menjadi penyangga utama. Hal itu bisa dipahami bahwa rumah bisa tegak jika keempat pilarnya tetap berdiri kokoh dan saling menopang satu sama lain. Begitupun sebaliknya rumah akan roboh jika salah satu atau bahkan keempat pilarnya rusak dan rapuh. Di negara kita juga terdapat empat pilar. Keempatnya sama-sama penting. Dan jika salah satu penegak hukum telah ternodai akibat dari tindakan salah satu oknum aparat penegak hukum, maka dipastikan hukum tak akan berjalan dengan baik, dan menghilangkan rasa kepercayaan masyarakat pada penegak hukum itu sendiri.”
“Pertanyaannya, menurutmu apa yang akan terjadi bila hukum di sebuah negara sudah kacau? Apa kamu sanggup menyaksikan negaramu sendiri hancur karena keadilan yang tidak seimbang?”
Hening. Mau tak mau Doni merasa tertampar. Apa yang ia pikirkan sebenarnya? Kepentingan dirinya sendiri? Edzar benar, kalau bukan mereka yang menegakkan keadilan, lalu siapa? Ratusan juta penduduk akan menderita karena keegoisannya.
“Siapa pun orang yang akan kita adili, selama orang itu salah, hukum tetap harus berlaku sebagaimana mestinya. Kita tidak bisa mengabaikan jutaan orang hanya untuk melindungi satu orang yang memang terbukti bersalah.”
Doni mengangguk kaku. Apapun alasannya tidak ada pembenaran dari sebuah tindakan korupsi. Baik itu kecil atau besar. Tapi masalahnya, apa mereka masih akan sanggup berdiri tegak saat satu demi satu ancaman datang memporak-porandakan pertahanan.
Kejadian yang menimpa Edzar belum lama ini cukup memberinya pukulan. Anehnya Edzar sendiri masih bisa setenang itu. Benar-benar mental baja. Padahal peluru hampir bersarang di kepalanya.
“Persidangan sebentar lagi. Tak heran seorang terdakwa kalang kabut mencari solusi. Yang harus kamu lakukan hanya menjaga diri. Tak ada yang tahu kapan kamu akan mati.”
Doni melotot ngeri, “Pak ... apa Anda sedang berpuisi? Kenapa seram sekali? Saya ‘kan jadi gak mau pulang ke rumah. Saya ini bujang, Pak, tinggal sendirian. Mendengar penuturan Bapak saya jadi takut sendiri.”
Edzar menghempaskan tubuhnya di kursi, mengabaikan Doni yang pias, berusaha keras meneguk ludah.
“Kamu bujang lalu saya apa? Saya juga sendiri.”
Tiba-tiba Doni mendapat sebuah pencerahan. Wajahnya menatap melas ke arah Edzar.
“Pak ...” panggilnya pelan.
Edzar menoleh tanpa rasa curiga, bertanya lewat mata.
“Saya sendiri, bapak juga sendiri ...”
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita tinggal bersama?”
Edzar terdiam dengan wajah datar. Lalu tak lama dia melempar sebuah bolpoin hingga mengenai jidat Doni. Pria itu meringis tentu saja.
“Kalimatmu lebih menyeramkan dari kematian.”
***
Kulot jeans dan blouse bunga-bunga ala Korea yang manis sudah melekat di tubuh Safa. Rambutnya digerai dengan sedikit bergelombang. Make up tipis membalut sempurna wajahnya, lengkap dengan ombre lips yang menambah segar warna bibirnya.
Safa merapikan poninya sebagai sentuhan terakhir. Lalu menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Benar-benar seluruh tubuh, dari rambut hingga kaki Safa semprot semua.
Tenang, parfumnya gak bikin enek meski ia tumpahkan sekalipun. Tau lah, parfum mahal gitu lho.
Sombong dikit gak papa ‘kan, ya?
Selesai.
Ckrek! Ckrek!
Tin!
Nah ‘kan.
Buru-buru Safa mencangklong tasnya dan berlari keluar kamar. Heels tahu setinggi 5 cm tak menghalanginya menuruni tangga dengan cepat. Di tengah itu, terdengar teriakan Nyonya Halim yang memperingatkan Safa untuk tidak pulang malam.
Safa sudah izin pada bundanya. Syukurlah sang bunda mengizinkan. Semua itu tak lepas dari bantuan Kamila. Gadis itu membantunya berbicara saat Video Call tadi.
“Jangan malem-malem! Kalau bisa jam sembilan udah pulang!”
“Iya, Bunda!” balas Safa berteriak.
Sesampainya di luar, Safa bergegas membuka gerbang, Kamila melambai dari dalam mobil. Tepat saat ia masuk, sebuah Fortuner yang tidak asing melintas dari arah berlawanan. Tentu Safa tahu siapa pemiliknya.
Safa menatap lama berharap bisa melihat sosok Edzar. Sayang, gerbang dibuka oleh Bik Yah hingga Safa tak memiliki kesempatan karena mobil itu langsung memasuki halaman.
__ADS_1
Suara Kamila membuyarkan perhatian Safa. Sekaligus menyadarkan Safa bahwa mereka sudah keluar dari komplek.
“Ngapa, sih, nengok belakang mulu? Enggak takut patah itu leher?”
Kamila mungkin tidak melihat Edzar karena kaca mobil pria itu yang gelap. Kalau beneran lihat, pasti gadis itu akan lebih dari rela mematahkan leher.
“Enggak, cuman ngetes aja apa kalo ngadep belakang bakalan pusing?”
Kamila berdecak malas, “Coba aja sendiri.”
Alunan merdu suara Raisa menemani perjalanan sore mereka. Kamila menjemputnya lebih awal, dia bilang biar mainnya kenyang karena setelah nonton mereka harus pulang. Itu janjinya pada Nyonya Halim.
“Saf, kalo misal ketemu mantan, apa yang akan kamu lakukan?”
Safa menoleh heran, “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
“Jawab aja, sih.”
Bibir Safa mengerucut kecil, rautnya terlihat sedikit bingung. “Kenapa nanya aku? Kamu kan lebih pengalaman soal itu.”
Kamila menghela nafas dan berdecak, “Yang aku tanya kamu, bukan aku.”
“Kamu lagi ngeledek, ya? Tahu ‘kan aku belum pernah ngalamin?” ketus Safa.
Kamila menyeringai, “Ya makanya itu aku nanya. Semisal kamu benar ngalamin.”
“Mana kutahu. Ketemu aja belum,” jawab Safa tak acuh.
Mereka beralih mendiskusikan tempat yang akan dikunjungi. Yah, meski tak jauh-jauh dari seputaran mall dan cafe, lagian ini sore, perut sudah mulai lapar karena memasuki waktu makan malam.
Pilihan jatuh pada restoran barbeque Korea Pochajjang. Paket all you can eat yang ditawarkan merupakan berkah bagi Kamila yang suka makan besar. Ya iyalah, orang Safa yang bayar. Gimana gak berkah coba.
“Jadi teman-teman kamu janjian jam setengah tujuh?” tanya Safa sebelum memasukkan wagyu yang telah dipanggang ke mulut.
Kamila mengangguk dengan pipi menggembung penuh ssam. Safa mengambil kimchi berikut yang lainnya untuk dimakan.
__ADS_1
“Oh iya, Saf. Teman aku lagi nyari endorsement. Dia minta aku buat nawarin kamu. Kamu mau, gak?”