SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 108


__ADS_3

Safa menolehkan kepalanya ke arah jendela. Rautnya masam, campuran antara malu dan kesal. Safa menarik-narik tangannya yang sudah basah di genggaman Edzar. Namun seperti yang sudah-sudah ia gagal melakukannya karena Edzar menggenggamnya terlalu erat.


Entah apa yang sedang dilakukan Edzar. Sejak kejadian di lapas itu dia jadi semakin manis. Saking manisnya Safa takut ini hanya mimpi. Edzar yang terlalu sulit dijangkau tiba-tiba mengatakan sayang.


Tuhan, apa ini nyata?


Mungkinkah Safa mulai berhalusinasi?


Safa melirik tautan tangan mereka yang ada di pangkuan Ezdar. Sesekali pria itu mengecup dan menghirupnya hingga membuat Safa merinding.


Edzar tak pernah melepasnya sejak awal perjalanan, hanya ketika tangannya harus menarik tuas, barulah Edzar akan mengurai tautannya. Itu pun seperti enggan, dan setelahnya tangan Safa akan diraih kembali ke atas pangkuan.


Edzar benar-benar tak membiarkan Safa lepas. Dan itu membuat Safa sedikit frustasi. Bagaimana tidak, mau menggaruk yang gatal saja susah. Letaknya tak bisa dijangkau tangan kiri.


"Om nyetir yang bener. Apa gak susah pake satu tangan?" Safa masih saja ketus pada Edzar.


"Enggak."


"Aku belum mau mati."


Senyum Edzar terbit seiring usapan halus Safa rasakan di punggung tangannya. "Kamu tenang saja. Saya cukup ahli berkendara."


"Lagipula, saya tidak berniat untuk kehilangan kamu." Edzar menoleh tepat saat mobilnya berhenti di lampu merah. Netranya menyorot lembut pada Safa.


Ih, apaan, sih? Edzar belajar gombal dari mana, ya?


Sejenak mereka berpandangan, sebelum kemudian ponsel Safa bergetar di dalam tas. Safa memaksa Edzar untuk melepaskan tangannya, yang lantas pria itu kabulkan dengan berat hati.


Nama Bima mengambang di atas layar. Safa langsung menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya. Meski dia tidak suka Bima, namun mereka adalah rekan kerja di perusahaan.


"Halo, Pak Bima?"


Tanpa Safa tahu raut Edzar berubah di sampingnya.


"Oh? Iya. Ini saya lagi di jalan mau ke kantor. Pak Bima simpan saja berkasnya di atas meja saya. Atau bisa juga dikasih ke Pak Anjas, nanti saya periksa."


"Oke, terima kasih."


Safa menurunkan ponselnya dari telinga dan mengotak-atiknya sebentar. Edzar tak tahan untuk tidak bertanya. "Siapa?"


"Manajer," jawab Safa singkat.


"Siapa?"


Kening Safa berkerut, matanya mendelik kesal. "Om gak dengar, ya? Aku bilang manajer!"


"Namanya?"


"Aku yakin Om belum tuli. Gak perlu aku jawab, kan?" ketus Safa kembali fokus pada ponselnya.

__ADS_1


Edzar menghela nafas samar, "Kamu mau balik ke kantor?"


"Iya."


"Oh, oke."


Mobil Edzar berhenti di depan lobi. Padahal Safa sudah minta diturunkan di gerbang saja. Tapi kekeras kepalaan lelaki itu sulit untuk ditentang. Mungkin Edzar memang terbiasa bersikap semaunya.


Safa mengurungkan niat untuk turun kala Edzar menahan tangannya. Alisnya terangkat bertanya.


"Nanti pulang saya jemput," ucap Edzar.


Itu bukan pertanyaan, melainkan sesuatu yang sudah diputuskan.


Raut Safa berubah malas. "Gak usah." Dia kembali berniat membuka pintu namun tanpa diduga Edzar menekan kunci otomatis.


Sialan, apa maunya, sih!


"Buka!"


"Nanti pulang saya jemput."


"Buka, gak!"


"Nanti pulang saya jemput."


Apa dia itu robot? Bisa-bisanya berbicara dengan kalimat yang sama seperti itu.


Senyum Edzar kembali terbit. Meski sudah beberapa kali Safa melihatnya, dia sama sekali belum terbiasa dengan perubahan ini. Safa berpikir Edzar kerasukan jiwa isekai yang romantis, makanya begitu.


"Gadis pintar," ucap Edzar sembari menggasak rambut Safa.


Si empunya hanya diam dengan wajah datar. Dia benar-benar lelah, dan berharap Edzar segera membuka kunci agar Safa bisa secepatnya keluar.


......................


Safa baru saja selesai dengan pekerjaan terakhirnya. Tubuhnya menggeliat meregangkan otot-otot yang kaku. Sepertinya akhir minggu ini Safa harus melakukan spa dan pijat untuk merilekskan badan. Terlalu lama duduk membuat pinggangnya pegal dan sakit.


Safa merapikan sedikit mejanya, lalu mengambil tas mengecek ponsel sebentar. Ada pesan dari sang ayah yang mengatakan bahwa dia sudah sampai di Bandung.


Pagi tadi ada telpon dari kantor cabang. Katanya, Tuan Halim harus meninjau langsung proyek di sana. Makanya hari ini Safa yang menggantikan rapat.


Sungguh hari yang melelahkan.


Dan sekarang muncul gangguan lain yang menambah berat harinya. Bima Laksana berdiri di ambang pintu dengan tangan bersidekap. Wajah playboy-nya menatap Safa dengan bibir tersungging. Safa menggeram dalam hati, melihat bayangannya saja sudah membuatnya kesal.


"Mau pulang?" tanya Bima dengan kepala meneleng.


Safa memutar bola matanya jengah. Kenapa Tuhan seolah tak memberinya waktu luang?

__ADS_1


Mereka turun bersama ke lobi. Beberapa karyawan juga mulai berhamburan pulang. Safa tak banyak menanggapi saat Bima Laksana berbicara ini itu. Menceritakan banyak hal yang sebenarnya kurang Safa mengerti.


"Nanti malam mau, ya, dinner sama saya?"


Safa hendak menjawab saat Bima kembali menyergah. "Jangan bilang ada urusan keluarga. Klise. Saya juga sudah tanya Pak Halim dan kalian tidak ada janji apapun. Lagipula, beliau ada di Bandung, kan?"


Kalau seperti ini, Safa tak bisa melempar alasan. Bima sampai menelusuri seperti itu. Ini menyebalkan. Satu-satunya pilihan Safa harus menolaknya secara langsung.


"Saya tidak bisa. Maaf."


"Ayolah, saya tahu restoran yang bagus di sini. Dan pastinya makanannya juga enak."


"Pak Bima, saya bukan orang baru kalau anda lupa. Saya juga tahu restoran mana saja yang bagus di sini."


"Jadi kamu menolak?"


"Hmm."


"Sayang sekali. Padahal saya mau menunjukkan sesuatu."


Safa melirikkan matanya sekilas. Setengah tak peduli dengan apa yang dikatakan Bima. Sebelum pria itu kembali berkata. "Ini menyangkut Dava."


Sontak Safa menoleh cepat mendengar nama abangnya di sebut. Safa lupa, mereka memang cukup akrab.


"Apa?"


"Kalau kamu penasaran, ayo kita makan malam," ujarnya penuh kemenangan.


Dan Safa tidak bisa menahan diri untuk memaki dalam hati. Dasar kadal buntung! Apa Bima sedang mempermainkannya?


Safa terdiam beberapa saat. Mencoba berpikir apakah dia harus menerima ajakan Bima. Tapi, pria itu sampai membawa-bawa masalah Dava. Mungkin kali ini memang serius.


"Baiklah. Akan saya pertimbangkan."


Bima tersenyum miring, "Oke, saya tunggu kabar baiknya."


"Mau saya antar pulang?" tanyanya kemudian.


"Tid-"


"Tidak perlu. Safa pulang bersama saya."


Safa terlonjak di tempatnya. Edzar tiba-tiba muncul dan berdiri begitu saja di sampingnya. Ternyata dia serius saat mengatakan ingin menjemputnya. Padahal, Safa berencana pulang duluan sebelum pria itu datang.


Bima mengangkat alis menatap keduanya bergantian. Raut menebak tak bisa dia sembunyikan. Ini pertama kali Bima melihat Safa dijemput seseorang selain sopir. Melihat penampilan pria di hadapannya, jelas dia bukan pesuruh yang bertugas antar jemput.


Kepalanya lantas mengangguk, "Baiklah. Kalau begitu saya duluan."


"Oh, iya, Safa. Kalau kamu setuju, nanti saya jemput."

__ADS_1


Apa ini hari jemput sedunia?


Safa ingin membenamkan diri ke dasar bumi. Tolong, jauhkan orang-orang ini dari sekitarnya....


__ADS_2