SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 26


__ADS_3

“Lho? Safa ‘kan sedang berusaha bersikap sopan, Ayah. Bukankah tak baik membiarkan tamu keluar sendiri dari rumah kita?”


Tuan Halim mengangguk. “Benar. Tapi yang tak sopan itu tanganmu. Lepas.”


Dengan wajah polos Safa melihat tangannya yang melingkar di lengan Edzar. Dalam hati dia menjerit kegirangan. Oh ... lihatlah otot-otot ini, begitu keras safa rasakan.


“Ada apa dengan tangan Safa? Mereka bersih, kok.”


“Haish ... anak ini.”


Nyonya Halim segera menarik sang anak ke sisinya. Mau tak mau Safa harus rela melepas pelukannya. Dengan wajah merengut tak senang, Safa mengikuti mereka ke depan pintu. Melepas sang pujaan kembali memasuki sarang.


Walau begitu, Safa sempat memberi kedipan mata pada Edzar, yang seperti biasa dibalas lirikan datar. Tak apa, pelan-pelan saja, biarkan Edzar terbiasa dengan sikapnya hingga nanti sampai di tahap tak bisa dilupakan.


Setelah Edzar pergi, Tuan dan Nyonya Halim kompak melihat Safa. Membuat gadis itu meringis memberikan cengiran khasnya. “Hehe, Safa ke kamar. Mau gosok gigi terus bobo.”


Tanpa membuang waktu Safa ngacir meninggalkan pasangan paruh baya itu di teras depan. Baru sampai setengah tangga ponselnya mengeluarkan bunyi menandakan ada pesan masuk.


Projek Cinta Safa


Liliana : Good! Kamu melakukannya dengan baik.


Renata : Yes. Sekali-kali jadilah agresif. Kalo sama-sama pasif bagaimana mau ada getaran?


Erina : Getaran? Memangnya gempa, Kak Ren?


Liliana : -_-


Renata : -_-


Rizkia : @Erina tolong otakmu kondisikan.


Erina : Otak Erin kenapa, Kak? Eh, kok jadi pengen otak-otak ya?

__ADS_1


Liliana : Beli lah. Atau makan saja otakmu.


Erina : Erin udah terlanjur pesan pentol mercon, Kak.


Safa mengernyit, ada yang janggal. Matanya mengedar melihat sekitar. Tepat saat kepalanya menunduk Safa menemukan Bik Inem berjalan mengendap dari bawah tangga. Jelas asisten kompeten kepercayaan Nyonya Halim itu habis sembunyi.


Safa berkacak pinggang saat Bik Inem mendongak dan tanpa sengaja beradu pandang dengannya. Wanita baya itu meringis menampilkan giginya hingga menimbulkan kerutan di beberapa sisi wajah.


Mata Safa beralih pada ponsel pintar di tangan Bik Inem. Dengan panik si Bibi mengangkat ponsel berlagak sedang nge-vlog. Salahnya dia malah berputar membelakangi Safa, membuat layarnya terlihat jelas di mata gadis itu.


Ah ... Safa mengerti.


Dia menatap tajam layar ponsel Bik Inem dari kejauhan. Terlihat wajah-wajah menyebalkan itu cengengesan karena ketahuan. Raut tak berdosa mereka dibalas delikan mematikan dari Safa.


Meski jatuhnya malah ditertawakan karena jujur saja Safa sulit membuat wajahnya terlihat menyeramkan. Itu kelemahannya, mau melotot sekeras apapun dia tak bisa menampilkan raut galak.


“Halo, sister ... come in, kita rumpi bareng.”


“Hahaha ....”


Pasti mereka bekerjasama dengan Bik Inem, gak salah lagi. Hengpon jadulnya memang berguna, pasti setelah ini dapat asupan besar berupa donasi pulsa.


\=\=\=


“Om ganteng!”


Safa berlari ke arah Edzar yang baru membuka pagar. Seperti biasa di tangannya terdapat rantang berisi makanan. Bedanya kali ini Safa ikut turun tangan sendiri dalam membuatnya. Meski Bik Inem dan bundanya yang berperan besar di dapur, setidaknya Safa ikut andil atas arahan mereka.


Pelan-pelan saja, Safa akan belajar sampai ia mampu memasak sendiri tanpa bantuan orang lain.


“Bekal buat Om.”


“Ini Safa sendiri, lho, yang masak. Diajarin Bunda sama Bik Inem, hehe.”

__ADS_1


Sesaat Edzar terpaku pada senyum Safa yang terlihat polos, matanya menyipit membentuk bulan sabit. Lalu beralih melihat tangan Safa yang terulur di depannya. Menghela nafas pelan, lagi-lagi Edzar tak kuasa menolak pemberian gadis itu, dengan alasan kesopanan tentu saja.


“Lain kali jangan repot-repot. Saya tidak enak dengan keluarga kamu.”


“Ya udah sih Om. Tinggal enakin aja. Lagian ini disuruh Bunda, kok.”


Safa tidak bohong, kali ini dia tidak asal menjual nama sang bunda, Nyonya Halim memang memintanya berbagi makanan pada Edzar. Katanya untuk mengeratkan tali silaturahmi. Siapa yang tahu tetangga baru mereka merupakan calon keluarga.


Di sisi lain Nyonya Halim mewajarkan sikap Safa semalam. Wanita itu berpikir Safa bersikap aleman karena Edzar adalah calon omnya, makanya anak itu bersikap manja. Alasan itu juga yang dia pakai untuk menenangkan Tuan Halim yang berubah jadi singa merajuk.


Tak heran, Safa merupakan putri bungsu kesayangan ayahnya. Bukan hanya pada Edzar, siapapun lawan jenis yang berdekatan dengannya Tuan Halim akan bersikap siaga.


Tidak tahu saja Safa adalah pecinta pria gagah di luar sana. Yang Tuan Halim tahu sang anak ngefans sama aktor Korea. Mungkin kalau tahu Safa ngedipin satpam Bank dan tukang nasgor Tuan Halim akan jantungan.


Tin!


Suara klakson mobil membuat Safa sedikit terperanjat. Reflek mulutnya mencibir melihat Alisia Hartanto lah pelakunya. Ngapain, sih, Mbak Alis pencet-pencet klakson? Mana laju mobilnya pakai dipelanin segala. Yang lebih membuat Safa dongkol itu mukanya, senyum-senyum sok cantik ngelihatin Edzar.


Lelaki itu hanya mengangguk dengan wajah datar. Hal itu membuat Safa sedikit lega karena ternyata bukan hanya dirinya yang mendapat perlakuan seperti itu.


Setelah mobil Mbak Alis hilang di belokan, Safa kembali menoleh pada Edzar. Wajahnya berubah saat menyadari satu hal. Dengan gerak cepat Safa meraih lengan kiri Edzar membuat si empunya terkejut.


Mata Safa melotot melihat jam tangan Edzar menunjukkan pukul 07:29. Astaga, Edzar biasa berangkat pukul 7 pas. Dengan panik Safa mendorong Edzar ke arah mobilnya yang terparkir di halaman, bahkan dengan lancang membuka pintu kemudi dan mendesak lelaki itu memasukinya.


Safa merasa bersalah menahan Edzar terlalu lama, bagaimana kalau dia kesiangan, jalanan pasti macet.


“Om cepetan berangkat, ini udah siang, cepet cepet ...” ujarnya heboh.


Brak!


Edzar terperanjat karena Safa membanting pintunya cukup keras. Ini yang mau kerja Edzar atau Safa? Yang kesiangan siapa, yang panik siapa. Untung Edzar sudah menyimpan tasnya di dalam mobil, jadi tidak perlu membuang waktu lagi untuk berangkat.


Dengan pelan lelaki itu mulai memundurkan mobilnya, diikuti Safa yang berjalan perlahan dan berinisiatif menutup gerbang yang segera dikunci oleh Bik Yah, kebetulan wanita itu keluar hendak menyapu halaman.

__ADS_1


“Hati-hati di jalan, Om ...” seru Safa sambil melambai.


Safa tersenyum menatap mobil Edzar yang menjauh. Hatinya melonjak senang tiap kali berinteraksi dengan pria itu.


__ADS_2