
Safa baru saja pulang dari terapinya bersama Rey. Diantar Pak Iwan seperti biasa. Keningnya berkerut saat pertama kali menginjak beranda rumah. Ia berjalan menghampiri Nyonya Halim yang berdiri di ambang pintu. Tangannya memegang sebuah kotak berukuran lumayan besar. Dari tampilannya sepertinya itu paket yang diantar kurir.
"Bunda belanja apa?" Ia berpikir mungkin sang bunda membeli sesuatu secara online.
"Enggak. Bunda gak belanja apa-apa. Justru ini dari suami kamu. Nih." Kotak itu disodorkan padanya. Safa menerimanya dengan raut bingung.
Dengan kepala menerka-nerka ia pun masuk diikuti Nyonya Halim yang lekas menutup pintu.
"Ayah mana, Bunda?" Safa menghempaskan tubuh di atas sofa. Bersandar memejamkan mata dengan tangan bersidekap.
"Diajakin mancing sama tetangga yang tinggal di bawah."
"Paketnya gak dibuka?" lanjut sang bunda bertanya.
Safa melirik kotak yang ia letakkan di atas meja di depannya. "Nanti saja," ucapnya kembali terpejam.
Nyonya Halim mengangkat bahu, dia berlalu ke dapur untuk melanjutkan aktivitas olah makanan yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Mas Kurir.
Safa termenung di ruang tamu. Matanya terpaku pada paket yang ia ketahui dari Edzar. Entah apa yang pria itu kirimkan. Safa penasaran, tapi perasaannya yang belum memaafkan Edzar membuatnya enggan.
Menghela nafas, Safa bangkit mengambil paket itu dan membawanya ke kamar. Kemudian ia berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit berwarna putih di atasnya.
Selepas terapi perasaannya lumayan sedikit tenang. Meski dadanya masih sesekali merenyut, merespon ingatan permasalahan yang tengah ia alami. Kendati sang bunda menyuruhnya untuk segera berbicara dengan Edzar, tapi Safa belum siap.
Denyutan rasa sakit itu sering kali datang walau hanya mendengar namanya. Safa kembali menghela nafas. Rey bilang ia harus mengurangi berpikir buruk. Ia tak boleh larut dalam keterpurukan.
Ting. Safa meraba-raba permukaan kasur mencari ponselnya. Setelah ketemu dia langsung membuka layar kunci, yang lantas ia sesali ketika tahu notifikasi itu adalah pesan dari Edzar.
Mau Safa abaikan, tapi terlanjur kebaca.
"Ai, Uda ada kirim paket kemarin. Harusnya hari ini sampai. Apa sudah kamu terima?" tulis Edzar dalam chat-nya.
__ADS_1
Safa tak membalas, hingga kemudian satu pesan kembali muncul.
"Dua hari lalu Uda dikasih kain sama ibu-ibu IAD. Buat seragaman kamu nanti kalau ada acara resmi. Nanti tanya Bunda tailor yang bagus di sana, ya? Atau kamu punya langganan di Jakarta? Mau Uda antar? Sekali-kali gak papa ke sini, kan? Modelnya nanti Uda kirim. Harus sama karena sudah ada aturannya."
"Oh, iya. Terapi kamu bagaimana?" Edzar kembali bertanya.
Safa muak. Pria itu mengetik pesan seolah-olah tak ada masalah di antara mereka.
Karena Safa yang tak kunjung membalas, Edzar beralih melakukan panggilan telpon, masih lewat WhatsApp.
Ia termangu, menatap layar yang berkedip menampilkan foto profil Edzar yang berupa jepretan tangan mereka yang sedang berpegangan.
Safa ingat, foto itu diambil saat mereka mengunjungi rumah baru dan Edzar memberinya cincin di ruang tamu. Momen itu sempat diabadikan oleh Edzar. Termasuk tangan mereka yang saling bertautan.
Dadanya kembali sesak. Matanya buram oleh bayang-bayang air mata yang memaksa keluar. Safa mengangkat tangannya ke udara. Mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya.
Apa dia sudah keterlaluan mengabaikan suami lebih dari seminggu? Tapi, Edzar lebih keterlaluan karena membohonginya.
Ting. Edzar kembali mengirim pesan. Safa terlalu larut dalam lamunan hingga tidak sadar panggilan tadi sudah berakhir.
"Angkat telponnya, ya?" pinta Edzar.
Pertahanannya hancur. Air mata Safa kembali bergulir, mengalir membasahi pelipis hingga telinga. Safa tergugu, menggigit lengan untuk meredam suara tangisnya yang mungkin saja terdengar hingga keluar kamar.
Safa tidak bisa. Dia melempar ponselnya ke samping tubuh, membiarkannya terus berkedip dengan nada panggilan menggema mengisi kesunyian.
Sekeras apapun dia berusaha, Safa tetap belum merasa siap mendengar suara Edzar, apalagi melihat wajahnya. Hanya dengan membaca pesannya saja Safa harus menguatkan mental setebal baja. Karena pada saat itu hatinya akan kembali memanas dengan gejolak menyakitkan.
..........
Waktu terus bergulir. Hingga sebulan berlalu hubungan mereka tetap sama. Masih tak ada kemajuan. Safa yang bersikeras menolak kedatangan Edzar yang berkali-kali menjenguknya ke Bandung.
__ADS_1
Kendati begitu Edzar tak masalah meski yang ia temui hanya Tuan atau Nyonya Halim. Walau dalam hati merasa kecewa. Ia tetap rutin berkunjung setiap Sabtu dan Minggu. Mengirimi Safa nafkah seminggu sekali. Sesuai yang pernah ia janjikan. Menulis pesan yang tak pernah mendapat balasan. Melakukan panggilan yang berkali-kali terhubung ke pesan suara.
Jengah?
Sama sekali tidak. Di sini ia yang bersalah. Wajar Safa kecewa padanya. Ia telah bersikap seperti penipu ulung yang membohongi seorang gadis untuk dinikahinya tanpa memberitahu status sebenarnya.
Edzar akui itu. Tapi semuanya dia lakukan demi bisa bersama Safa. Edzar sudah siap akan resikonya.
"Apa kubilang. Kebenaran itu jangan disimpan berlarut-larut. Akhirnya begini, kan? Bukannya nemu waktu yang tepat, Safa malah tau semuanya dari mulut mertuanya sendiri."
"Mamam tuh LDR'an. Emangnya enak?"
"Mau dulu atau sekarang. Memberitahunya sejak awal juga tak menjamin hubungan kita tetap aman. Setidaknya jika Safa tahu setelah menikah, ia tak akan bisa dengan mudahnya lari meski berkali-kali melempar penolakan. Aku hanya perlu meredam kemarahannya. Membuatnya terbiasa dan menerimaku kembali."
"Entah aku harus kasihan atau memakimu." Heru bergumam datar.
Edzar menghela nafas. "Sudahlah. Lebih baik kamu belikan aku es duren yang ada di pertigaan," ucapnya kembali membalik berkas di atas meja.
Saat ini ia tengah mengunjungi kafe. Heru bilang ada sesuatu yang perlu ditinjau langsung olehnya.
"Apa?" Heru berkedip dengan mulut setengah terbuka.
Edzar mendongak. "Kenapa? Tidak mau? Kalau begitu aku mengurungkan niat untuk membantumu mendapat lahan perumahan yang kamu incar sejak tiga tahun lalu itu."
"No no no!" Spontan Heru berseru. "Jangan gitu, dong! Aku hanya heran. Bukannya kamu gak suka bau duren?"
"Lalu? Apa salah aku menginginkannya sekarang?" sengit Edzar. "Sudah, sana pergi," lanjutnya mengibas tangan.
"Ingat. Yang ada di pertigaan," ucap Edzar kembali mengingatkan.
"Lah, bukannya di seberang juga ada? Kenapa harus ambil yang jauh?" tanya Heru heran. Ia pikir Edzar bercanda saat menyuruhnya ke pertigaan yang jaraknya hampir 5 kilometer.
__ADS_1
"Ya mana kutahu. Aku maunya es duren yang di sana. Satu lagi. Tidak boleh mencair sedikitpun. Sampai sini harus tetap utuh. Kepadatan dan kekentalannya tidak boleh berubah. Mengerti?"
Heru meringis. Memangnya Edzar pikir jarak 5 kilo tidak jauh? Mana mungkin Heru membawa es tanpa mencair sedikitpun.