SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 179


__ADS_3

"Zar, bercanda, ya?" Heru berucap datar.


"Enggak," jawab Edzar santai. Pria itu memakai jaketnya tanpa menoleh pada Heru.


"Kamu nyuruh aku jauh-jauh ke pertigaan semata-mata buat bawa termos es batu segede gaban yang isinya cuma satu cup es duren?" Heru masih tak percaya. "Terus sampe sini kamu cuma makan satu sendok? Gila, ya?"


"Kamu kan tau aku gak suka duren."


"Ya terus kenapa minta!" serunya tak terima. Heru merasa dipermainkan oleh Edzar.


Lucunya, Edzar merespon dengan raut seolah-olah tak punya salah. "Hanya ingin."


Singkat, padat, dan jelas. Tapi mampu membuat Heru pusing serasa mengelilingi Borobudur. "Bener-bener. Kamu sengaja, ya, ngerjain?" dengusnya.


"Enggak. Lagi pula, siapa yang suruh kamu bawa termos es batu?"


Heru tertawa hambar seperti orang gila. "Zar. Jakarta itu panas. Kamu suruh aku beli es yang jauhnya gak bisa ditempuh kaki. Kamu pikir gimana supaya esnya gak mencair? Pilihannya hanya dua. Pake wadah anti panas kayak Mamang-mamang Kang Eskrim yang suka keliling. Sama termos es batu yang beratnya Masya Allah bikin pusing."


"Berhubung wadah anti panas gak ada, ya aku gak ada pilihan lain. Udah gitu termosnya cuma ada yang gede. Kebayang gak gimana repotnya?"


"Enggak. Yang mengalami 'kan kamu."


Ya Salaaammm ....


Ingin rasanya Heru menceburkan diri ke Pantai Selatan, biar sekalian saja kawin sama Nyai Roro Kidul. Daripada dia harus menghadapi ketidakpekaan Edzar yang selalu meremehkan penderitaan orang.


Heru menyesal. Kenapa tadi mau-mau saja menuruti permintaan Edzar. Sudah tahu temannya itu gak suka duren.


Sore itu Edzar pulang menjelang magrib seperti biasa. Dia memarkir mobilnya di garasi setelah Bik Yah membukakan gerbang dan menutupnya kembali. Lalu memasuki rumah, mengambil air di dapur dan meminumnya hingga tandas.


"Den Edzar mau langsung ke Bandung malam ini?"


Bik Yah sudah tahu kegiatan baru Edzar yang akan pulang ke Bandung saat hari Jumat menjelang weekend. Dia juga sudah mengetahui pernikahan majikannya dengan anak tetangga sebelah.


Setengah tak menyangka akhirnya mereka berjodoh juga. Karena waktu itu Edzar terlihat cuek dan biasa saja. Eh, tahunya kesemsem juga. Gimana enggak, orang yang ngejar-ngejar cewek cantik. Siapa, sih, yang bisa nolak?


"Iya, Bik. Kangen banget sama istri. Mau peluk juga."


Bik Yah tak bisa menahan dirinya untuk senyum-senyum. Ucapan Edzar terdengar biasa bernada datar, namun sangat mengena di hati.

__ADS_1


Pria itu melenggang menaiki tangga. Sesekali mengusap leher yang terasa lengket dan pegal. Dia benar-benar butuh pelukan Safa. Semoga malam ini dia sudah bisa melakukannya.


"Ai, malam ini Uda ke sana. Kangen kamu, Sayang." Edzar menulis pesan lengkap dengan emot menyedihkan. Entah kenapa dia jadi sentimen hari ini.


"Uda pengen peluk kamu. Boleh, ya? Please?"


Rautnya meluruh ketika lagi-lagi tak mendapat balasan. Padahal ia tahu Safa sudah membacanya. Istrinya itu sedang online. Menghela nafas, Edzar kembali melangkah menuju kamar. Membersihkan diri dan melaksanakan ibadah setelah adzan berkumandang.


Tak lepas ia mendoakan rumah tangganya yang kini mengalami kerenggangan. Memohon kesehatan juga keselamatan istrinya yang jauh dari pandangan.


Selepas shalat, Edzar duduk di pinggir ranjang menatapi ponselnya. Berharap ada keajaiban berupa chat dari Safa meski satu huruf saja.


Ini sudah satu bulan. Haruskah seperti ini terus? Edzar tak bisa diam saja. Dia harus segera menyelesaikan masalah di antara mereka.


Jemarinya beralih pada aplikasi Instagram. Lantas membuka profil satu-satunya yang dia ikuti. Percaya tidak percaya Edzar hanya mengikuti akun Safa untuk menghiasi beranda. Sehingga setiap postingan baru wanita itu pasti muncul di timeline-nya.


Postingan terakhir Safa 3 jam lalu. Itu berarti hari ini. Edzar faham, sebagai selebgram, akun media sosial Safa tidak boleh mati. Kendati permasalahan mereka menguras emosi.


Ternyata Safa orang yang profesional, dia tetap menjalankan aktivitasnya sebagai endorsement. Seperti yang ia lihat sekarang, sang istri tampak mempromosikan sebuah produk makanan instant yang sedang tenar-tenarnya.


Makanan pedas berkuah yang tengah santer-santernya digandrungi anak muda Nusantara.


Edzar tersenyum. Melihat Safa makan dia jadi merasa lapar. Berkali-kali ia menelan ludah ketika Safa menyuapkan bakso aci ke mulutnya. Edzar menontonnya di Reels wanita itu.


Kruukkk ...


Seketika perutnya berbunyi. Edzar benar-benar lapar. Padahal sebelum pulang ia sempat makan di cafe. Biasanya akan lapar lagi sekitar pukul sepuluhan. Kenapa sekarang cepat sekali?


Masalahnya, dia mau makanan yang persis Safa makan. Edzar meng-klik tagar di postingan Safa itu, mengunjungi akun resmi penjual bakso aci yang ternyata milik Dava. Edzar tahu karena dia pun pebisnis. Sedikit banyak mengikuti perkembangan sesama teman pengusaha.


Alih-alih memesan lewat web dan DM, Edzar malah bangkit, berjalan keluar kamar dan menuruni tangga. Bik Yah yang kebetulan melihat pun bertanya. "Mau ke mana, Den?"


"Mau main ke rumah kakak ipar," sahutnya sambil lalu.


Lantas ia berlalu meninggalkan Bik Yah yang sedikit terbengong. "Perasaanku saja atau bukan, ya? Den Edzar agak sedikit aneh."


Sementara itu, Edzar yang sudah sampai di luar berdiri memencet bel rumah keluarga Halim. Yang ia tahu hanya diisi Dava seorang. Karena kedua mertuanya serta Safa tinggal di Bandung.


Ting tong!

__ADS_1


Belum ada sahutan. Apa Dava masih di kantor? Setahunya Dava tidak sedang di luar kota.


Sekali lagi Edzar menekan bel. Kali ini terdengar suara derap langkah yang mendekat. Tak lama gerbang dibuka, munculah wajah Dava yang diliputi keheranan.


"Kenapa?" ketus lelaki itu.


"Mau minta bakso aci." Sekonyong-konyong Edzar berucap.


"Apa?" tanya Dava dengan dahi berkerut.


Dengan sabar Edzar mengulang permintaannya. "Saya minta bakso aci."


Sejenak Dava terdiam. Mungkin dia berpikir Edzar sudah gila. "Beli, lah. Napa minta sini. Penjual juga bukan," sungut Dava.


"Abang punya pabriknya."


Mata Dava membeliak hampir menggelinding. Apa lagi ini?


"Apaan, sih. Geli banget Abang, Abang. Memangnya saya Abang situ?" sewot Dava.


Dengan datar Edzar mengangguk. "Kan saya memang adik ipar kamu."


Dava bergidik. Kepalanya menoleh kanan kiri, melihat suasana komplek yang sepi. Lalu kembali pada Edzar.


"Kerasukan kali, ya?" gumamnya pelan. "Pulang sana! Saya gak punya bakso aci. Noh." Dava menunjuk ke samping kanan. "Kalo mau, lurus ... Nanti ada gerbang keluar. Tinggal jalan ke kiri dikit, ada dah tuh tukang bakso aci gerobakan."


"Sono, ah, gangguin orang aja, dasar setan," lanjut Dava menggerutu. Hendak berbalik.


"Saya bukan setan."


"Bang, saya serius mau bakso acinya Abang. Persis yang Safa makan di Ig-nya. Kasih seporsi, lah, Bang. Please?" Edzar mengucapkan itu masih dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Alasan mengapa Dava mengiranya kerasukan.


"Sial. Kok, kesannya jadi kayak abang-abang tukang bakso, ya?" lirih Dava kesal.


'Dek, suamimu kenapa, sih? Gak dapat jatah berapa minggu?' batinnya dongkol.


Berkali-kali Dava menolak, berkali-kali juga Edzar meminta. Bukan, lebih tepatnya memaksa. Parahnya pria itu sampai mengekorinya ke dalam rumah. Tentu saja Dava risih.


Demi untuk mengusir Edzar, akhirnya dengan setengah tak ikhlas dia menelpon salah satu pegawainya yang bertugas di bidang produksi untuk dikirimi satu paket bakso aci ke rumah. Karena meski dia yang punya pabriknya seperti kata Edzar, Dava sama sekali tidak punya stok.

__ADS_1


Barulah, setelah itu Edzar bersedia pulang ke rumahnya sendiri.


Dan Dava, dia langsung mengirim pesan pada adiknya. Memberitahukan perihal keanehan suaminya.


__ADS_2