
Mata Safa terpejam merasakan hidung Galuh menyentuh pipinya. Dia benar-benar takut, pria itu persis psikopat yang akan membunuh orang.
Safa lupa, Galuh memang psikopat. Buktinya Pak Anjas terkapar tak berdaya di ruangannya. Dan mungkin sebentar lagi giliran Safa. Ini tangga, mudah saja bagi Galuh untuk melemparnya.
Safa sungguh tak menyangka Galuh bisa berbuat seperti ini. Entah apa sebenarnya tujuan Galuh. Semuanya masih abu-abu. Satu hal yang bisa Safa simpulkan, Galuh berkaitan erat dengan kesialan yang menimpa Dava.
Dan bisa-bisanya Safa malah mencurigai Pak Anjas. Entah bagaimana nasib pria itu sekarang. Semoga seseorang segera menyadari dan menolong mereka.
Tapi siapa? Di bawah hanya ada satpam. Itu pun jaraknya sangat jauh untuk memungkinkannya mendengar. Safa perkirakan dirinya ada di lantai 15 saat ini. Hanya ada dua pilihan yang bisa dia ambil, bertahan atau pasrah.
Safa tidak mungkin menelpon seseorang. Tasnya bahkan terlempar beberapa meter di bawah kakinya. Benar-benar situasi yang statis. Safa tidak bisa melakukan apapun selain berjuang mencari nafas yang kian menipis.
Sampai beberapa menit lalu Safa masih percaya bahwa Galuh orang baik, meski ayahnya jauh dari kata itu. Tidak pernah sekalipun Safa menyangka pria ini akan menjadi malaikat maut yang mencabut nyawanya.
"Kamu pasti terkejut," bisik Galuh membuat Safa meremang.
Tubuhnya bergetar dalam cengkraman Galuh. Saat ini Safa tak berharap lebih, Safa hanya ingin Galuh bisa melonggarkan sedikit saja cekikannya.
"Ga-Galuh. Haak...!"
Safa memukuli lengan Galuh, memohon agar pria itu segera melepaskan lehernya. Kepala Safa terasa berdenyut, aliran darahnya seolah berhenti mengalir. Tubuhnya semakin lemas kehilangan tenaga. Sungguh, Safa benar-benar merasa dirinya akan mati sekarang juga.
Namun Galuh nampak tak peduli sama sekali. Dengan santai pria itu memperhatikan raut tak berdaya Safa. Wajah putihnya yang memucat seolah tanpa darah. Bibirnya yang terpoles lipstik kini terbuka berusaha meraup udara. Terkesan sia-sia. Galuh terkekeh melihat itu.
"Kamu tahu, Safana Halim?"
"Tidak, nama belakangmu membuatku muak. Bagaimana kalau aku memanggilmu.... Ana? Terdengar lebih manis bukan?" Galuh tertawa pelan seolah puas dengan nama baru yang ia sematkan pada Safa.
Safa terus meronta berusaha melepaskan diri. Walau tindakannya hanya buang-buang tenaga. Tapi Safa sedang berupaya mempercayai sebuah kalimat yang mengatakan 'usaha tak pernah menghianati hasil'.
Siapa tahu dengan Safa terus berusaha, Tuhan akan memberi sedikit empati untuk menolong dirinya.
"Padahal aku mulai menyukaimu. Aku berniat menyingkirkanmu dari daftar tujuanku."
"Tapi kamu malah melihat semua ini. Kamu pikir apa yang harus kulakukan selain benar-benar menyingkirkanmu dari dunia ini?"
Safa memberi tatapan memohon pada Galuh. Dia betul-betul sudah tidak kuat. Kalau ingin membunuh, bunuh saja dengan cepat. Kenapa harus membuatnya tersiksa dengan kehilangan nafas satu persatu.
"Oh, Sayang, wajahmu membiru. Apa kamu kesulitan bernafas?" tanya Galuh bermain-main. Matanya mengerling pada Safa yang sudah tak berdaya. Gadis itu hanya bisa bisa mencengkram lemah tangannya.
"Harusnya aku melakukan ini pada Abang sialanmu itu!" ucap Galuh penuh penekanan.
"Tapi berhubung aku sudah lebih dulu menjebloskannya ke penjara, tidak ada salahnya kamu menggantikan dia merasakan ini, bukan?"
"Bagaimana reaksinya saat mendengar berita tentang kematianmu, ya? Aku jadi penasaran. Sebaiknya aku melenyapkanmu dengan cara apa?"
Galuh melirik ke bawah. Permukaan tanah sangat jauh, sepertinya cukup untuk membuat tubuh seseorang tercerai-berai saat menyentuhnya.
Mata Galuh kembali melihat Safa sambil menyeringai. "Kenapa? Kamu terkejut? Takut?"
"Tidak menyangka bahwa aku yang membuat abangmu di penjara?" tanya Galuh beruntun mendapati Safa yang membisu. Hanya nafasnya yang tersendat-sendat mendominasi indera pendengaran. Ditambah suasana tangga darurat yang sepi. Situasi ini sangat cocok untuk melakukan pembunuhan.
__ADS_1
"Memang benar, akulah yang menjebloskannya ke penjara," aku Galuh. "Karena dia memang pantas mendapatkannya."
Perlahan Galuh melonggarkan cengkraman dan melepaskan Safa. Tangannya berpindah mengurung gadis itu di antara tembok dan pembatas tangga.
"Uhuk uhuk!" Safa terbatuk memegangi lehernya. Meraup udara dengan rakus seolah baru keluar dari air.
Tenggorokannya perih dengan mata agak berkunang. Kepalanya berdenyut dengan jantung yang berdegup menyakitkan. Seluruh sendinya terasa lemas, nafas Safa memburu, dadanya pun sangat sesak.
Safa bersandar lemah mencengkram pegangan tangga. Rasa pening kembali menggeroti dirinya. Safa haus, tapi tak ada pilihan selain menelan ludah.
Mungkin air yang ia teguk beberapa jam lalu di rumahnya menjadi yang terakhir Safa rasakan. Safa tak yakin dirinya akan selamat dari cengkaman Galuh.
Pria itu monster.
"Aku ingin dia merasakan apa yang Fahri rasakan dulu," gumam pria itu. "Meregang nyawa di tahanan."
Deg.
Apa maksud Galuh. Dan siapa itu Fahri?
Safa mendongak perlahan, memberanikan diri menatap mata Galuh. Safa bisa melihat kemarahan dalam netra tanpa ekspresinya. Sebenarnya apa yang terjadi.
"Aku, Dava, dan Fahri dulu berteman dekat. Hubungan kita sangat erat seperti saudara."
Apa? Mereka pernah berteman? Fakta apa lagi ini? Kenapa Safa tidak tahu?
Tunggu. Sepertinya Safa mengingat sesuatu. Safa pernah dengar abangnya memiliki dua teman dekat saat SMA. Mungkinkah?
"Beberapa kali aku mencoba menghubungi Dava untuk memberitahu hal ini. Tapi dia sama sekali tak dapat dihubungi!"
"Hari berikutnya pun sama. Dava tidak ada menelpon balik atau mengangkat telponku seperti biasa. Dia seolah menghilang. Tidak, aku yakin dia menghindar karena tidak mau terlibat!"
"Hah! Pengecut," gumam Galuh disertai dengusan.
"Padahal dia hanya perlu mendampingi sahabatnya yang sedang terpuruk! Apa itu sangat sulit?!"
"Dia lari seolah malu memiliki teman seperti kami! Bocah sialan yang hanya bisa sembunyi di ketiak ibunya. Anak manja yang hanya bisa menghabiskan uang."
"Satu-satunya hal yang paling kusesali di dunia ini adalah berteman dengannya."
"Bahkan saat temannya meregang nyawa karena overdosis, dia tetap tak mau datang."
"Apa itu masih bisa disebut sebagai teman?"
Nafas Galuh memburu setelah berhasil meluapkan emosinya . Sementara Safa mematung mendengar fakta yang baru dia ketahui itu.
Pernyataan pria itu mengenai Dava terkesan jahat dan kejam. Di ceritanya, Dava tak ubahnya seorang pecundang yang meninggalkan teman yang kesulitan. Benarkah abangnya seperti itu?
"Selama ini aku berusaha menahan diri walau pekerjaan acap kali mengharuskan kami bertemu. Melihat wajahnya membuatku muak."
"Siapa sangka pria tua itu akan terjerat kasus. Sekalian saja aku manfaatkan untuk menjebaknya."
__ADS_1
"Dan foila! Akhirnya abangmu meringkuk di balik jeruji besi. Hahaha....."
Tawa Galuh menggelegar memecah kesunyian yang mengerikan. Suaranya menggema memantul di udara. Safa berharap hal itu akan terdengar sampai ke bawah. Lalu seseorang mendengarnya dan menolong Safa di sini.
Bisakah dia berharap meski terkesan seperti omong kosong?
"Kamu juga pecundang," gumam Safa.
Sontak Galuh menghentikan tawanya dan menatap Safa. "Apa katamu?"
"Kamu pecundang," ulang Safa. Entah dia mendapat keberanian dari mana mengatakan hal itu.
Rahang Galuh mengetat, "Katakan sekali lagi," titahnya dengan nada rendah.
Safa mendongak membalas tatapan pria itu, "Pe-cun-dang."
Hening. Mereka saling berpandangan dalam sunyi. Meski dilanda ketakutan, Safa tetap mencoba untuk bertahan.
"Kamu marah pada abangku, tapi melampiaskannya pada begitu banyak orang. Tindakan yang kamu lakukan berdampak pada perusahaan ini. Kamu kesal dengan satu orang tapi menyulitkan ribuan karyawan. Apa itu bukan pecundang?" ujar Safa dengan suara serak. Efek cengkraman Galuh masih sangat terasa di lehernya.
"Ternyata kamu lebih kekanakan dari yang ku kira."
Galuh menatap Safa dengan tajam, "Kamu tidak tahu apapun. Jadi berhenti bicara seolah perkataanmu itu benar."
"Apa tindakanmu sudah benar? Kamu juga merasa paling benar, jadi apa bedanya?"
"Jangan membuatku kesal, Safa."
"Kenapa? Kamu mau membunuhku dengan rasa kesalmu itu?" tanya Safa menantang.
"Berhenti atau aku akan mematahkan lehermu."
"Menyerang wanita adalah sikap dari seorang pecundang."
"Safa...."
"Pengecut yang mengandalkan emosi daripada hati."
"Ku bilang berhenti." Galuh menggeram. Namun Safa tetap meneruskan.
"Nyatanya kamu hanya orang yang terpaku dengan masa lalu."
"Dan kamu tidak sadar bahwa dirimu lah yang lebih pecundang—Aaaa....!!!!"
"Kubilang berhenti....!!!"
Bruk bruk bruk.
Tubuh Safa menggelinding setelah sebelumnya menerima pukulan keras dari Galuh yang membuatnya terdorong. Pria itu berdiri dengan nafas memburu menatap ke bawah. Matanya nanar menyaksikan bagaimana gadis itu terjatuh membentur beberapa anak tangga.
Kedua tangannya terangkat gemetar, "Apa yang telah kulakukan?"
__ADS_1