SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 190


__ADS_3

Safa memeluk erat pinggang Edzar dari belakang. Sore harinya pria itu mengajak Safa jalan-jalan menaiki motor sesuai permintaan Safa seusai mereka bercinta kedua kalinya di garasi.


Maunya sih pakai Ducati, tapi Edzar menolak karena katanya lebih nyaman NMax. Ya sudah, deh. Safa nurut saja sama calon Papa posesif itu.


Entah Edzar mau membawanya ke mana. Safa ikut saja asal tidak membosankan. Tak lama Edzar meminggirkan motornya, tepat di samping halte bus sepi yang tidak ada seorang pun di sana.


Safa mengernyit. "Kita ngapain ke sini?"


Edzar tak menjawab. Dia menyuruh Safa turun yang lantas dituruti wanita itu. Edzar membantu melepas helm yang Safa kenakan. Lalu mengajaknya duduk di halte, menikmati suasana sore berdua.


Safa pikir Edzar akan mengajaknya ke mana. Eh, tahunya halte. Dasar aneh.


Tapi, kok Safa merasa dejavu, ya?


Sebentar. Ini 'kan halte dekat SMP tempat Safa belajar dulu. Beberapa meter dari sini ada tikungan. Di sanalah sekolahnya.


Safa menoleh pada Edzar, menatap wajah tampan itu dari samping. "A Uda?"


Edzar terdiam. Matanya menatap lurus jalanan di depan.


"Dua belas tahun lalu halte ini pernah menjadi tempat favorit Uda." Tatapan Edzar tampak menerawang, seakan tengah mengenang sesuatu. "Karena di sinilah Uda pertama kali melihatnya," lanjutnya lirih. Edzar menoleh. "Gadis itu. Cinta pertama Uda."


Deg.


Safa tercekat. Apa Edzar mengajaknya ke sini untuk menceritakan masa lalunya? Cinta pertama?


Safa menelan ludah. Entah kenapa hatinya mulai resah. Siapkah ia mendengar penuturan Edzar? Bukankah ini yang dia harapkan? Edzar terbuka padanya. Tapi, apa Safa sanggup menahan cemburunya nanti?


Jujur, ia tidak siap mendengar andai kata Edzar masih menyimpan rasa pada gadis masa lalunya itu.


Kalau tidak salah, Bu Sinta pernah bilang Edzar menyukai seseorang. Tapi orang tuanya tak merestui. Itulah sebabnya mereka dijodohkan.


"Gadis tercantik yang pernah Uda lihat."


Nafas Safa mulai sesak. Sekarang Edzar memuji wanita lain. Bagaimana mungkin Safa tetap baik-baik saja.


"Senyum manisnya mampu memutarbalikkan dunia Uda dalam sekejap."


"Saat itu kami sama-sama terjebak hujan. Uda pikir mungkin dia sedang menunggu jemputan. Kebetulan saat itu halte cukup ramai. Namun gadis itu mampu menarik atensi Uda sepenuhnya. Yang Uda lihat hanya dia."

__ADS_1


Edzar kembali menatap ke depan.


"Hari itu menjadi hari pertama Uda merasakan getaran yang sering orang-orang katakan. Uda deg-degan. Jantung Uda berdebar saat melihatnya."


"Gadis itu menoleh. Dan seketika nafas Uda seolah berhenti. Dia melempar senyum. Namun karena Uda terlalu gugup dan bingung Uda tak membalasnya, dan lebih memilih mengalihkan pandangan."


"Yang semakin membuat kagum adalah saat dia merelakan tasnya terguyur hujan hanya demi melindungi seekor kucing jalanan yang tak kebagian tempat berteduh. Halte terlalu penuh. Sementara kucing itu tampaknya sedikit takut pada manusia."


"Tapi, mungkin karena ia bisa merasakan kelembutan dari dalam diri gadis itu, si kucing tampak nyaman saat didekati. Bahkan meringkuk di bawah naungan tasnya yang basah."


"Di antara banyaknya manusia saat itu, hanya dia yang memiliki empati besar hingga rela kehujanan untuk seekor binatang."


"Uda melirik satu persatu orang, berharap ada yang mau berbaik hati meminjamkan payungnya. Setidaknya sampai bis datang."


"Tapi sampai hujan sedikit mereda pun, masih tidak ada dari mereka yang melakukannya."


"Gadis itu mulai menggigil. Ingin sekali Uda memakinya karena tak juga beranjak dari pinggir jalan."


"Karena tidak tahan melihatnya, akhirnya Uda melepas jaket yang saat itu Uda pakai. Lalu memberikannya pada gadis itu. Uda rasa dia menoleh, namun karena malu dan bingung Uda pun segera pergi dari halte ini."


"Singkat cerita jemputan gadis itu datang. Sangat terlambat karena halte pun sudah sangat sepi. Entahlah, itu pertama kalinya Uda merasa peduli terhadap seseorang hingga rela mengamatinya dari jauh demi untuk memastikan keamanannya."


"Gadis itu pergi. Dan seharusnya Uda pun pulang. Tapi entah apa yang membuat Uda malah melangkah mendekati halte. Dan Uda tahu jawabannya. Kalung gadis itu tertinggal. Tidak tahu bagaimana bisa terlepas. Yang pasti Uda mengambilnya untuk disimpan sementara."


"Besoknya, sepulang kuliah Uda ke sini lagi. Berharap bisa kembali bertemu dengannya. Sekaligus ingin memberikan kalung yang kemarin sempat Uda simpan. Tapi, sampai sore menjelang dia tak juga terlihat."


"Bukan hanya hari itu." Edzar menoleh menatap istrinya. "Uda sampai dua minggu bolak-balik ke sini. Menunggu gadis itu datang."


Edzar mengangkat tangannya menyentuh wajah Safa. Ibu jarinya mengusap sudut mata wanita itu yang berair. Edzar tahu apa yang Safa rasakan. Tapi dia sudah memutuskan untuk terbuka. Maka dia akan ceritakan semua yang mengganjal di hatinya pada Safa.


"Uda menyerah. Mungkin Tuhan memang tidak menakdirkan kami untuk kembali bertemu."


"Meski begitu, setiap hari Uda selalu berdoa agar dipertemukan lagi dengannya. Sekali pun tak apa-apa."


"Dua tahun berlalu. Ayah dan Ibu sudah menuntut Uda untuk segera menikah. Uda gamang tentu saja. Di sisi lain Uda belum juga bisa melupakannya. Tapi di sisi lain Uda tetap harus melanjutkan hidup. Uda tidak bisa terus-menerus menggantungkan harapan pada takdir yang tidak pasti. Meski takdir Uda dan Sinta pun tak bertahan lama."


"A Uda ...." Suara Safa terdengar serak. Safa menggeleng. Sudah cukup. Hatinya terlalu rapuh untuk mendengar kisah sedalam itu dari Edzar.


Dari ceritanya saja Safa sudah tahu pria itu sangat mencintai gadis masa lalunya.

__ADS_1


Edzar tersenyum, mengusap pipi Safa dengan pelan. "Tapi, sepertinya Tuhan bukan tidak mendengar doa-doa Uda. Tuhan hanya sedang menyiapkan waktu yang tepat untuk mengabulkannya."


"Tujuh tahun hidup di Surabaya, Uda kembali dimutasi ke Jakarta. Lalu memutuskan membeli rumah sendiri ketimbang harus tinggal di rumah dinas. Uda pikir, sudah waktunya Uda menata masa depan dengan mengumpulkan satu persatu aset."


"Ibu setuju. Karena tempat yang Uda pilih pun cukup strategis. Bisa dijangkau dari manapun. Selain dekat dengan Kejari, jalur itu melewati Morinaza, kafe yang Uda bangun bersama Heru tepat setelah perceraian. Hanya saja karena Uda hidup tak menentu dalam artian berpindah-pindah, maka Uda serahkan semuanya pada Heru. Syukurlah dia bisa dipercaya. Uda jadi tak risau memantaunya dari jauh."


"Singkat cerita Uda mulai menempati rumah baru. Sebuah komplek yang terbilang asri di Jakarta."


"Di sanalah Tuhan mengabulkan doa Uda."


"Gadis yang selama 12 tahun Uda nantikan, muncul di hadapan Uda dengan senyumnya yang masih sama, namun dengan raut yang lebih dewasa."


"Dialah pemilik kalung ini." Edzar mengangkat satu tangannya yang entah sejak kapan menggenggam sebuah kalung.


Safa terperangah. Jantungnya bertalu lebih cepat. Kalung itu?


"Safana. Sesuai nama yang terukir dalam untaian platinum ini. Kamulah istri Uda. Cinta pertama Uda. Safana Halim."


Nafas Safa tercekat. Apa ini? Kenapa kalung itu bisa ada pada Edzar? Kalungnya yang hilang saat hari sebelum ia pindah dari sekolah itu. Ternyata selama ini ada pada Edzar?


Padahal, dulu Safa sempat menangis berhari-hari karena kalung itu hadiah dari ayahnya. Benda kesayangan yang selalu Safa pakai kemana pun.


Kendati banyak berlian yang ia punya, tetap kalung itu yang paling istimewa. Karena kalung itu dibeli ayahnya tepat saat kebangkitan kembali perusahaan yang sempat ditimpa pailit.


"A-A Uda ...." Safa mendongak menatap mata Edzar yang juga tengah memakunya. Pria itu tersenyum penuh cinta. Tangannya kembali mengusap pipi yang basah oleh air mata.


Pertahanan Safa runtuh. Ia tak bisa lagi menahan tangisnya di hadapan Edzar. Safa tak bisa berkata-kata. Ia menghambur memeluk suaminya. Tersedu dalam dekapan Edzar yang hangat dan terasa melindungi.


Edzar tersenyum. Membalas pelukan Safa sama eratnya. Hatinya lega. Ia sudah mengungkapkan apa yang ingin dia katakan.


Sore itu, disaksikan lembayung yang mulai menguning, kedua insan larut dalam perasaannya masing-masing.


Romantisme yang terukir, kembali dipertemukan oleh takdir.


Safazar.


Safa dan Edzar.


Dua hati yang dulu sempat terpisahkan, kini Tuhan satukan dalam ikatan sebuah pernikahan.

__ADS_1


__ADS_2