SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 18


__ADS_3

Setelah dari kemarin hatinya resah, akhirnya Safa bisa lega saat mengetahui alasan sesungguhnya Edzar bertandang ke rumah Pak RT, ternyata untuk mengurus data kependudukan.


Pyuh ... Safa sudah berpikir yang tidak-tidak. Masa dia mengira Edzar mau melamar Alisia, Safa sampai murung beberapa hari memikirkan interaksi Edzar dengan si dokter gigi itu.


Tidak mau larut dalam kegalauan, Safa memberanikan diri bertanya langsung pada yang bersangkutan. Salah, Safa bertanya pada asisten rumah Edzar yang ia baru tahu bernama Bik Yah.


“Oh ... Den Edzar ‘kan orang baru di sini, jadi harus ngisi-ngisi apa gitu, Bibi gak ngerti, pokoknya masalah kependudukan.”


Mendengarnya bagai hujan di tengah kemarau, mengguyur perasaan resah yang Safa rasakan berhari-hari. Kini Safa menemui kembali semangat untuk menyongsong cintanya.


Safa tak peduli Edzar merasa risih atau tidak, yang pasti mulai hari ini Safa akan menaikkan intensitas pertemuan mereka, terlebih komunikasi.


Satu rival sudah muncul secara terang-terangan, itu pun yang Safa lihat dan ketahui. Belum mungkin di tempat kerja dan tempat lain. Lelaki seperti Edzar itu kalau tidak cepat-cepat diikat nanti diembat orang.


Ckrek!


“Ih ... Om ganteng deh kalo lagi nyetir.” Safa senyum-senyum sendiri melihat hasil jepretannya.


Di sampingnya, Edzar menoleh sekilas dengan dahi mengernyit, pria itu harus tetap fokus pada jalanan. Berita laka lantas akhir-akhir ini cukup meresahkan, sebagian besar pemicunya akibat kelalaian, hal ini menjadi pelajaran bagi Edzar untuk lebih berhati-hati dalam berkendara, mau itu sendiri atau membawa orang lain.


Edzar menghentikan mobilnya di lampu merah. Situasi itu dimanfaatkan Safa untuk menunjukkan foto Edzar yang baru diambilnya. Safa sedikit mencondongkan tubuhnya memperlihatkan layar ponsel.


Edzar hanya terdiam melihat potret dirinya di ponsel Safa. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu, Safa juga bingung.


“Bagus, kan? Mau di-sent gak?”


Edzar tak menjawab lantaran lampu berubah hijau. Mobil kembali berjalan menyisakan Safa yang sibuk mengotak-atik hapenya. Gadis itu tersenyum dengan wajah puas.


“Udah Safa kirim fotonya.” Safa memperlihatkan layar ponselnya pada Edzar dengan sedikit digoyangkan.

__ADS_1


Edzar mengernyit, “Kamu punya nomor saya?” tanyanya heran. Seingatnya mereka tak pernah bertukar nomor.


Safa nyengir lebar hingga matanya menyipit. “Hehe ... dikasih Om Tirta barusan. Gak apa-apa ‘kan? Mau minta sama Om, tapi Om lagi nyetir. Takut ganggu.”


Di samping itu hati kecilnya berteriak, modus ....


Minta nomor gebetan dengan dalih kirim foto, huh.


Edzar mengangguk. Dia berpikir Safa termasuk golongan keluarga. Tidak masalah jika berbagi nomor ponsel, apalagi Tirta sendiri yang memberi, Edzar tak bisa menyalahkan adiknya hanya gara-gara nomor ponsel.


Bukannya apa, Edzar termasuk orang yang sangat menjaga privasinya. Dia tak sembarang membagi dan menyimpan kontak orang. Anggaplah dia sok jual mahal, karena itu untuk kenyamanannya sendiri.


“Jangan lupa disave ya, Om ...” Safa dengan senyum manisnya dan Edzar yang mengangguk datar. Jujur saja itu membuat Safa geregetan ingin mengukir ekspresi lain di sana.


Sebagai informasi, saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju Puncak. Weekend ini Tirta dan Miranti, pasangan yang baru saja resmi bertunangan mengajak dua keluarga besar untuk berlibur. Hal itu disambut baik oleh semuanya. Itung-itung melepas penat, katanya.


Dan kenapa bisa Safa dan Edzar duduk satu mobil?


Sebenarnya masih masuk untuk dua orang, tapi Safa itu anti duduk di belakang. Dan Tante Erika tak mau mengalah dengan dalih Safa tak sopan jika menyuruhnya bertukar tempat.


Entah Safa harus kesal atau bersyukur, karena masalah itu membawanya duduk di mobil Edzar. Beruntungnya lagi mobil Edzar kosong, benar-benar melompong karena pria itu tak membawa siapa pun. Masing-masing keluarganya membawa mobil sendiri. Aih ... senangnya.


Oh iya, Tante Erika itu mamanya Erina. Safa sedikit curiga dengan sepupunya itu. Bukan hanya Erina, tapi para cucu Halim. Sejak tahu dirinya menyukai Edzar, grup jadi ramai membahas hal itu.


Bukan grup keluarga, tapi grup yang hanya memuat mereka, yang kini sudah berubah nama menjadi ‘Projek Cinta Safa’.


Jangan tanya kegilaan mereka seperti apa, Safa yang bernasib menjadi bahan julid hanya bisa cemberut. Mentang-mentang senior semua, Safa yang junior ini selalu kena bully, bully dalam artian bercanda, ya.


Walau begitu mereka sangat mendukung perasaan Safa pada Edzar. Menurut mereka, Edzar cukup potensial meski umurnya bisa dibilang sangat jauh di atas Safa.

__ADS_1


Dan Safa curiga kedatangan Tante Erika adalah ulah mereka. Melalui Erina, wanita itu dikirim untuk mempersempit mobil Tuan Halim. Tante Erika juga yang mendorong Safa menumpang Edzar.


Jangan-jangan Tantenya itu sudah tahu? Tidak cukup menghadapi godaan para cucu Halim, sekarang harus dengan anak-anaknya juga? Habislah sudah.


“Tunggu di sini. Saya beli air dulu.”


Mungkin yang dimaksud Edzar air minum. Safa baru sadar mereka berhenti di depan Alfamart. Safa mengangguk mengiyakan. Edzar kembali bertanya. “Kamu mau jajan?”


Mata Safa membulat berbinar. “Boleh, Om?”


Kini giliran Edzar yang mengangguk. Safa mengekor Edzar memasuki Alfamart. Tak tanggung-tanggung gadis itu mengambil banyak jajanan ke dalam keranjang. Mumpung ditraktir ‘kan? Sekaligus menguji apakah Edzar pelit atau tidak.


Tak cukup sampai di sana, Safa menghampiri Edzar yang berdiri di depan lemari pendingin. Lho, tadi kemana saja? Kok, baru ngambil minum?


Abaikan semua itu, mari kita lihat seloyal apa calon imam Safa itu. Huhu ... Safa pede banget. Pede aja dulu, ke depannya biar takdir yang menentukan.


“Sudah?”


Safa mengangguk sambil nyengir lebar, di tangannya terdapat sekeranjang makanan. Safa menunggu reaksi Edzar, tapi lelaki itu nampak biasa saja, tak ada perubahan di wajahnya.


Malahan Edzar mengajak Safa menuju kasir, walau hanya isyarat tanpa banyak bicara. Kayaknya suara Edzar terlalu mahal untuk diumbar.


Tapi tahan, Safa masih belum selesai. Sekonyong-konyong Safa berseru menghentikan Edzar yang hendak melangkah. Pria itu mengernyit menatap Safa bertanya. "Ada apa?"


“Hehe ... Om, Safa mau Cimory. Boleh, ya?” Kedip-kedip.


Safa gak tahu malu!


Dengan polos dia mengamati Edzar yang berbalik membuka kembali lemari pendingin. Tanpa diminta lelaki itu mengambil 2 pack sekaligus, lalu membawanya ke arah kasir. Mengabaikan Safa yang hampir mimisan di tempat.

__ADS_1


Safa menatap punggung Edzar dengan mata berbinar. Fix, Edzar lulus ujian. Safa gak akan lepas pokoknya. Di mana lagi dia bisa menemukan lelaki se-gentle Edzar?


__ADS_2