SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 195


__ADS_3

"A Uda mau ke mana? Katanya masih cuti?"


Bukannya menjawab, Edzar malah melengos melewatinya. Wajahnya masih masam seperti semalam. Safa mengikuti pria itu sampai ke pintu depan. Ternyata Edzar menemui keluarga mereka yang pamit hendak pulang.


Mau tak mau Safa menahan mulutnya untuk kembali bertanya. Ia turut menyalami satu persatu keluarga dan mengamini mereka yang mendoakan sang anak di dalam perut.


Tak jarang Safa melirik Edzar yang masih tak menghiraukannya. Sesuatu seolah tercubit. Safa sedih. Safa tak suka Edzar mendiamkannya seperti ini.


Setelah semuanya pulang, harusnya itu menjadi kesempatan Safa untuk mengajak Edzar bicara. Tapi pria itu malah mengunci diri di ruang kerja. Ia semakin kehabisan akal membujuk suaminya. Apa yang harus Safa lakukan?


Karena dongkol, Safa pulang saja ke rumah orang tuanya. Enaknya nikah sama tetangga ya begini. Kalau malas di rumah suami, Safa bisa pulang ke rumah sendiri.


Tubuhnya seketika terhempas saat menemukan sofa. Ia raup toples keripik di meja dan membawanya ke pelukan. Sesaat kemudian Dava datang dari arah dapur dengan segelas jus di tangannya.


Lelaki itu mengernyit heran melihat sang adik yang tengah melahap keripik kentang miliknya. Sepertinya Dava memang salah memilih tempat untuk bekerja.


Niatnya ingin menyelesaikan pekerjaan di ruang tamu karena bosan di ruang kerja terus. Eh, tahunya malah ada gangguan dari manusia jadi-jadian.


"Ngapain kamu, Dek? Punya suami bukannya kelonan malah nyasar di sini. Udah gitu main lahap makanan orang. Gak sopan." Dava menggerutu. Berusaha merebut toplesnya dari Safa.


Tentu Safa tak mau mengalah. "Apaan sih, Bang. Pelit banget sama adek sendiri. Gak kakak gak suami semuanya nyebelin."


Kening Dava berkerut. "Berantem?"


Safa tak menjawab. Dia hanya manyun sembari terus mempertahankan keripiknya. Dava yang takut menyakiti keponakannya pun menyerah. Dia biarkan toples itu tetap berada di pelukan sang adik.


Kemudian melesakkan bokongnya di sana. Mengangkat kaki ke atas meja dan mulai menyalakan laptop. Ia memanggil Bik Inem untuk membawakannya cemilan baru, yang lantas diangguki si Bibi. Tak lama wanita baya itu kembali dengan setoples keripik singkong rasa balado.


"Kenapa, sih? Baru juga pengajian udah berantem aja kalian?" tanya Dava setelah Bik Inem berlalu.


"Tau tuh. Dari kemaren-kemaren sentimen banget," ketus Safa sebelum ia melahap keripik dan mengunyahnya dengan bar-bar. "Udah gitu Safa dicuekin semaleman."


"Pasti kamu yang cari gara-gara." Dava sudah tahu tabiat adiknya.


Edzar pun tak mungkin mendiamkan orang tanpa alasan.


"Gak kamu kasih jatah, ya?" tebak Dava lagi.


"Jatah apanya? Orang dia langsung tidur setelah Safa ngomong."


Dava menatap adiknya curiga. "Kamu ngomong apa?"


"Apa?"

__ADS_1


"Kamu ngomong apa sama Edzar sampe suami kamu itu mengkal kayak gitu?"


Safa berpikir sejenak. Lalu menjawab dengan ringan. "Safa cuman tanya, seandainya Safa meninggal gimana?"


Hening.


Dava terdiam sejenak. Rautnya seketika datar menatap sang adik yang seolah tak punya salah. Ia pun mendecak. "Be*go."


"What?"


"Gak usah sok inggris!"


"Ya udah Abang gak usah sok pinter ngatain Safa be*go!"


"Ya kamu emang be*go, sih. Gimana Edzar gak diemin kamu. Yang kamu bahas kematian."


Safa mengernyit. Memangnya apa yang salah? Safa kan cuma tanya.


"Denger, ya, Dek. Di mana-mana orang bahas ajal gak ada yang bakal biasa-biasa aja. Topik kayak gitu tuh sensitif. Apalagi kamu bahasnya sama pasangan. Ya jelas salah satu dari kalian pasti akan terganggu. Kepikiran. Bukan main resahnya. Abang yakin Edzar sebenarnya gak tidur semalaman."


"Taruhan mata dia item atau gak merah. Sono lihat. Kalo Abang bener, kasih Abang Mercedes Benz."


Bibir Safa mengerucut. Masa iya?


Mata Safa turun pada baki yang dibawanya. Lantas Safa menghentikan langkah wanita baya itu.


"Itu buat siapa, Bik?"


Bik Yah menunduk. "Oh ... Ini? Tadi Den Edzar minta dimasakin sop iga."


Sop iga? Apa Edzar ngidam lagi?


"Sama sambel?" tanya Safa seraya menatap ulekan rawit yang dipisah di mangkuk berbeda.


"Iya. Mana katanya cabenya harus 50 buah."


Kontan Safa terheran. "Bibi itungin?"


"Iyalah."


"Lha, kenapa mesti dihitung sih, Bik. Kan A Edzar gak bakalan tau juga?"


"Siapa bilang? Neng Safa gak tau sih Bibi udah bolak-balik berapa kali cuman karena masalah sambel. Entah gimana ceritanya tebakan Den Edzar bisa akurat begitu. Bibi jadi merasa diawasi pas lagi di dapur. Makanya yang ini bener-bener Bibi itungin cabenya."

__ADS_1


"Gitu? Kok, aneh, ya?"


"Iya 'kan? Memang kadang suka nyeremin Den Edzar tuh."


Safa mengangguk. Pikirannya masih bercabang.


"Ya sudah, Bik. Biar Safa saja yang bawain, ya?"


"Lho? Memangnya bisa? Takutnya perut Neng Safa kenapa-kenapa. Naik tangga, lho, Neng." Bik Yah nampak ragu dan khawatir.


"Gak papa, Bik. Safa pelan-pelan jalannya. Lagian ini keinginan si Dedek yang mau ketemu sama Papinya."


Maaf, ya, Utun. Mami jual nama kamu sebentar. Habisnya Papi kamu bikin Mami gemas.


"Begitu, ya? Calon Papi Mami sama-sama ngidam? Ya sudah, deh. Ini. Tapi hati-hati ya, Neng? Kalau Neng Safa sampai kenapa-napa, Bibi bisa kena amuk Beruang."


Safa tergelak mendengar analogi Bik Yah terhadap Edzar. Ia pun menerima baki berisi Sop Iga dan Sambel itu dari tangan Bik Yah. Lantas menaiki tangga dengan pelan. Tentu diawasi si Bibi dari bawah. Asisten rumah Edzar itu baru bisa lega setelah Safa sampai di lantai atas.


Safa mengetuk pintu ruang kerja Edzar. Tak ada jawaban. Iseng ia menekan kenopnya yang ternyata sudah tak terkunci. Hati-hati dia membuka benda kayu itu dengan sebelah bahunya karena kedua tangannya sibuk menahan baki.


Safa berhasil masuk. Ia mengedarkan mata mencari Edzar. Ia mengernyit ketika Edzar tak ada di kursi kerjanya. Lantas, di mana suaminya itu?


Samar-samar telinganya mendengar suara. Safa coba mengikuti dari mana asal suara itu. Dan sepertinya berasal dari sofa dekat jendela. Letaknya yang membelakangi pintu membuat Safa tidak bisa melihatnya secara langsung.


Perlahan Safa mendekat. Hingga lirihan itu terdengar semakin jelas.


Sesaat kemudian Safa terpaku dengan apa yang dilihatnya. Edzar tengkurap di atas sofa. Apa pria itu tidur? Tapi, Safa jelas mendengar suaranya.


Sebentar. Bahu Edzar juga nampak bergetar. Sebenarnya apa yang terjadi?


Cepat-cepat Safa menyimpan bakinya ke atas meja. Lantas ia mendekati sang suami yang belum juga menyadari kehadirannya.


Sedikit susah Safa mendudukkan dirinya di lantai, tepat di samping kepala Edzar yang terbenam di atas sofa.


Mulanya ia ragu. Tapi Safa ingin memastikan tebakan konyolnya mengenai sang suami.


Ia usap rambut hitam berantakan itu dengan pelan. "A Uda?" panggilnya.


Bahu Edzar semakin bergetar. Dan Safa semakin yakin dengan apa yang ia pikirkan.


"A Uda?"


"A Uda nangis, ya?"

__ADS_1


__ADS_2