
"Safa?"
Safa menoleh dari jendela besar yang memperlihatkan hamparan rumput luas belakang villa. "Iya, Bunda?"
Nyonya Halim mendekat, menghempaskan diri di samping Safa yang tengah duduk di sofa. "Bunda boleh minta tolong?"
"Tolong apa?"
"Bunda ada pesanan di salah satu toko kue. Katanya sekarang sudah bisa diambil. Kamu ambilin, ya?"
"Kenapa gak Bunda aja?" Dia sedang malas pergi-pergi, mager, malas gerak.
"Bunda ada janji sama pemilik butik."
Safa mengernyit, "Bunda bikin baju?"
Nyonya Halim mengangguk. Safa tak bertanya lagi, dia bersedia pergi ke toko kue sesuai permintaan sang bunda. Safa beranjak ke kamar untuk ganti baju.
"Habis ambil kue langsung pulang, ya. Jangan melipir ke tempat lain!"
Safa tak menjawab seruan bundanya, dia hanya mengangkat tangan, melentingkan jemari membentuk huruf O.
Dia pergi bersama Pak Iwan, seperti biasa. Matanya menatap ke luar jendela dengan senyap. Pak Iwan yang mengerti suasana hati majikannya sedang tidak baik pun ikut bungkam.
Cukup lama mereka berada dalam perjalanan, hingga akhirnya kendaraan yang mereka tumpangi mendarat di depan sebuah toko yang Nyonya Halim maksud.
"Perlu saya antar, Non?"
Safa menggeleng, mengulas senyum. "Gak perlu, Pak. Biar Safa sendiri saja."
Pak Iwan tak punya kuasa selain mengangguk. Dia memutuskan pergi ke warung seberang jalan untuk membeli rokok. Sementara Safa memasuki toko kue itu.
Kling.
Sesuatu berbunyi saat Safa membuka pintu. Kaki yang terbalut celana jeans itu melangkah menghampiri meja kasir. Safa bertanya pada seorang wanita yang bertugas di sana, mengenai pesanan atas nama Nyonya Halim. Wanita itu langsung cepat tanggap dan menginformasikannya pada bagian dalam.
__ADS_1
Tak berapa lama sejumlah orang dengan seragam sama keluar dari sebuah ruangan yang Safa kira adalah dapur. Yah, mungkin semacam tempat produksi.
Mulanya Safa mengira kue-kue itu bercampur dengan pesanan orang juga. Namun kemudian dia dibuat terperangah saat mereka bilang semuanya pesanan Nyonya Halim.
Semuanya?
Safa berkedip, menghitung dalam hati. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan....
Sepuluh. Kening Safa berkerut dalam, benarkah semua ini Nyonya Halim yang memesan? Sebanyak ini? Untuk apa? Apa di rumah mau ada acara? Kenapa Safa tidak tahu?
"Maaf, Mas, Mbak, ini tidak salah?" ringisnya masih tak percaya.
"Tidak, Mbak. Semua sudah benar. Pesanan atas nama Nyonya Sofiana Halim. Ini nota pembeliannya." Mbak kasir menyerahkan secarik kertas yang lantas Safa terima meski dengan raut bingung.
Benar, ini pesanan bundanya. Di sana juga tercatat jenis-jenis kue dan harganya.
Sebenarnya untuk apa kue-kue ini. Masa iya untuk dimakan pribadi. Rasanya lima bulan saja tidak akan habis, mengingat keluarga mereka tak begitu suka makanan manis, apalagi yang berupa pastri.
"Ya sudah, Mbak, terima kasih." Safa merogoh dompet, mengambil kartu yang diberikan bundanya sebelum pergi tadi.
Dia membiarkan saat mas-mas pegawai toko itu mengambil kue-kue pesanan Nyonya Halim, membantunya untuk dibawakan ke mobil. Safa mengekor di belakang, lalu menunjuk sebuah Alphard putih saat salah satu dari mereka bertanya.
"Makasih, ya, Mas," ucap Safa pada mas-mas pegawai toko.
"Sama-sama, Mbak. Kalau begitu kami permisi."
Safa mengangguk mempersilakan. Setelah itu dia masuk ke mobil, disusul Pak Iwan yang lantas duduk di kursi kemudi, melajukan kendaraan roda empat itu meninggalkan pekarangan toko.
Safa merogoh ponsel di tas, membuka layar kunci hanya untuk mendapati satu pesan dari Edzar. Sesaat dia terpaku, matanya melirik jam di bagian atas layar. Pukul 16:22. Tumben sekali. Bukankah kemarin-kemarin pria itu selalu melakukannya di pagi dan malam hari? Ini masih sore.
Safa menghela nafas menyimpan kembali ponselnya, tanpa membalas pesan Edzar. Kemudian dia menoleh pada Pak Iwan. "Pak, Safa mau mie tek-tek."
Pak Iwan menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada kemudi. Keningnya berkerut ragu. "Bukankah Nyonya melarang kita untuk mampir?"
"Sebentar aja gak papa, kan? Safa lapar banget."
__ADS_1
Pak Iwan terlihat bimbang. Hampir lima menit tak menjawab. Safa juga sudah menyerah dengan permintaannya begitu Pak Iwan menghela nafas, membelokkan mobilnya ke sebuah kedai pinggir jalan yang hendak mereka lewati.
Spontan sudut bibir Safa terangkat, mengulas senyum terima kasih pada sopir yang sudah lama mengabdi pada keluarganya itu.
Safa keluar, berjalan ke arah kedai mie tek-tek diikuti Pak Iwan yang sudah seperti bodyguard akhir-akhir ini. Sebenarnya Safa sedikit risih, pasalnya ia tahu Pak Iwan kerap melaporkan aktivitasnya pada Tuan Halim. Seolah-olah Safa akan pergi jauh dan lari ke luar kota.
Padahal ayahnya tahu, Safa tidak berani bepergian jauh sendiri. Memangnya apa yang bisa dilakukan anak bermental kandang sepertinya. Meski kadang dia ingin menghilang sebentar, menjauh dari orang-orang yang dia kenal. Seperti saat ini. Hati Safa masih tak karuan. Walau berapa kalipun ia coba melupakan, bayang-bayang Edzar bersama wanita lain terus saja menghantui pikirannya.
Safa tak berbuat apapun, dia hanya diam sejak kemarin. Mungkin jika perempuan lain, mereka akan marah-marah dan langsung menghubungi si pria bagaimanapun caranya. Namun tidak dengan Safa. Dia bukan tipe yang seperti itu.
Safa tidak akan memaksakan kehendak pada perasaan seseorang. Jika orang itu ingin pergi, silakan, Safa tak akan melarangnya. Pun sebaliknya Safa tak akan membuka hati lagi untuk pria yang sama.
Baginya masa lalu bukan untuk diulang, melainkan kajian untuk antisipasi agar dia bisa lebih menjaga diri dari kejadian serupa.
Cukup di awal dia mengejar dan mendapat penolakan. Dan ketika Edzar mengajaknya menjalin hubungan, sebenarnya dia ingin melihat sejauh apa kemungkinan mereka untuk bersama. Meski tak bisa dipungkiri dia pun senang, perasaannya terbalas.
Tapi jujur saja keraguan masih mendominasi hatinya. Sekarang dia tahu apa yang membuatnya ragu, Safa mendapati kenyataan bahwa sebenarnya dia tak mengetahui apapun mengenai Edzar. Selain nama dan profesi pria itu sebagai jaksa. Safa bahkan tidak tahu makanan kesukaan Edzar. Memang hal itu bisa diketahui seiring hubungan mereka berjalan.
Tapi, jika seperti ini apa masih bisa dipertahankan? Di saat kepercayaan itu mulai hilang, Safa bahkan tak berani mendengar suara Edzar.
Menghela nafas berat, Safa berbalik menatap Pak Iwan. Sebelum itu dia mengotak-atik ponsel sebentar. Lalu kembali mendongak dan tersenyum tipis. "Pak, Safa sudah bilang sama Bunda kita mampir di sini."
"Bunda bilang, Pak Iwan pulang duluan saja, karena kuenya sudah sangat ditunggu."
Sesaat Pak Iwan nampak berkerut, matanya sedikit memicing mendengar perkataan Safa. "Masa, sih, Non, Nyonya bilang begitu?" tanyanya tak percaya.
Safa mengangguk, lalu menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan ruang obrolan dengan nama tertera 'Bunda'. Barulah Pak Iwan nampak percaya meski sebenarnya sedikit tak yakin.
Beberapa saat Pak Iwan hanya diam dan berpikir. Sebelum kemudian pria itu menghela nafas, menganggukkan kepala pertanda ia setuju pulang duluan.
"Ya sudah, Pak Iwan akan pulang. Tapi, jika ada apa-apa tolong Non segera hubungi Pak Iwan atau Nyonya," pintanya yang langsung diangguki Safa.
Pak Iwan nampak keberatan meninggalkan Safa. Wajar, dia sudah diamanatkan untuk menjaga anak bungsu Tuan dan Nyonya Halim itu.
Safa melambai saat Pak Iwan hendak memasuki mobil. Pria paruh baya itu membalasnya dengan senyum dan anggukan. Safa menghela nafas kala Alphard putih itu mulai menjauh. Senyumnya lurut perlahan, lalu menunduk menatap ponsel yang sedari tadi ia pegang.
__ADS_1
"Maaf, Pak Iwan. Safa hanya ingin sendiri," gumamnya setengah berbisik.
Sebenarnya, dia mengubah salah satu kontak dengan nama sang bunda. Nomor itu miliknya sendiri, dari ponsel berbeda yang kebetulan ia bawa.