
"A Uda~ Tungguin ...." Safa berjalan cepat, setengah berlari menyusul langkah panjang Edzar.
'Gila, itu kaki apa jungkungan? Lebar amat jalannya,' dumel Safa dalam hati. Kaki pendeknya seakan kerja rodi mengejar sang suami.
Edzar ngambek. Safa juga belum tahu alasannya. Tiba-tiba saja pria itu menjadi ketus dan mengajaknya segera kembali ke cottage. Edzar bahkan mengabaikannya yang minta difoto.
"A Uda, ih! Jalannya pelan-pelan bisa gak sih? Kaki Safa sakit tau!" seru Safa yang masih tak dihiraukan. Edzar tetap berjalan beberapa meter di depannya. Sedangkan Safa sudah ngos-ngosan mengejar, tapi entah kenapa jaraknya dan Edzar masih terpaut begitu jauh. Padahal lelaki itu berjalan biasa saja, tidak lari, hanya sedikit agak cepat.
"Ya udah terserah! Sana pergi aja sendiri! Safa gak peduli!" Safa berbalik arah, menjadi berlawanan dengan pria itu. Dia tak lagi mengejar sang suami yang kini kontan berhenti.
Edzar menoleh membalikkan tubuh. Keningnya berkerut dalam, "Kok, jadi kamu yang marah?" sewotnya.
Langkah Safa terjeda, dia sedikit menoleh ke samping, melirik Edzar dari ekor matanya. "Safa yang gak ngerti kenapa tiba-tiba A Uda marah-marah. Sudah lah, gak penting juga. Kalau mau balik, balik aja sana. Safa mau jajan. Masih lapar," ketusnya kembali berjalan.
Mereka memang baru saja selesai makan siang. Tapi Safa tidak puas jika belum mencoba cemilan. Dan Edzar yang merajuk menghambat niatannya untuk menjajal semua itu.
"Kamu gak peka, ya? Uda cemburu lihat kamu ngobrol dengan pria lain!" tukas Edzar berikutnya.
Safa berbalik, dahinya mengerut menatap Edzar. "Pria? Pria siapa? Kapan Safa ngobrol sama pria lain?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi.
Edzar mendengus, berkacak pinggang mengalihkan pandangan. "Baru ditinggal sebentar buat bayar makanan, kamu sudah asik tebar senyum sana sini," gumamnya menggerutu, namun masih bisa didengar Safa.
"Senyum sana sini, apa sih? Safa makin gak ngerti. A Uda makin gak nyambung tau gak."
"Kamu masih mau mengelak? Mau pura-pura lupa? Baiklah. Akan Uda ingatkan kalau begitu." Perlahan Edzar berjalan mendekat. "Saat Uda di kasir, kamu ngapain aja?"
"Ngapain? Ya nunggu A Uda, lah."
"Selain itu."
Bibir Safa mengerucut berpikir. "Safa selfie-selfie."
"Lalu?"
__ADS_1
"Safa buka sosmed."
Edzar menghela nafas, matanya terpejam rapat menahan gemas. "Selain itu, Safa," ucapnya geregetan.
Safa manyun. "Ya terus apa ...." rengeknya mulai kesal, lagi.
"Coba kamu renungkan. Di sini bukan hanya kamu yang ingin dimengerti, tapi Uda juga."
Safa berdecak, bersungut dalam hati betapa menyebalkannya Edzar saat ini.
Kemudian dia mengingat sesuatu. Safa mendongak, matanya berkedip menatap Edzar. "Jangan bilang yang A Uda cemburui itu mas-mas yang tadi?"
Melihat dari raut Edzar yang semakin keruh, Safa yakin tebakannya benar.
Seketika Safa menutup bibirnya yang tertawa. Dia terkikik geli setelah mengetahui alasan Edzar merajuk hingga mengajaknya cepat-cepat kembali ke cottage. Padahal sebelumnya mereka sudah janji mau foto-foto.
"Ya ampun A Uda .... Mas yang tadi itu mau nanya cara pesan makanannya, karena di sana gak ada buku menu. Safa bilang pilih menunya lewat barcode. Safa jelaskan secara rinci."
"Ya terus Safa gak boleh senyum, gitu? Nanti dikiranya sombong."
"Lebih baik begitu. Daripada kamu membuat orang lain tertarik dan terus memikirkanmu."
"Kenapa A Uda bisa berpikir begitu?"
"Karena itu yang Uda alami!"
"Hah?"
"Sejak kamu memberi senyum pada Uda, Uda selalu kepikiran!"
Mungkin orang lain akan mengira kalimat Edzar ini merupakan sebuah gombalan. Tapi, jika mereka melihat langsung ekspresi pria itu yang serius, Edzar sama sekali tidak terlihat seperti tengah merayu ataupun mencari perhatian.
Safa berdehem, salah tingkah dengan pengakuan Edzar barusan. "Ya udah, sih. Mau orang kepikiran, tertarik, atau naksir sekalipun, kan Safa nikahnya sama A Uda."
__ADS_1
Edzar tak menjawab. Pria itu merogoh ponselnya yang berbunyi dalam saku. Safa memperhatikan Edzar yang tengah berbicara entah dengan siapa. Yang Safa tahu mereka membahas soal kafe. Bisa jadi itu Heru atau pegawai Edzar lainnya.
"Nanti saya lihat lagi. Paling lambat besok saya kabari. Oke, thanks." Tut. Edzar memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku. Lalu tanpa kata melangkah meninggalkan Safa yang seketika cengo mendapati sikap Edzar yang dinilainya berlebihan.
Ih, dasar Om-om nyebelin. Malu sama umur. Udah tua masih aja ngambekan. Kemana sikap dewasa Edzar yang erat melekat seperti daging dan tulang. Kenapa sekarang pria itu mirip balita yang tak diberi jajan.
Sampai di cottage Edzar masih saja menolak bicara dengannya. Safa sudah hilang akal membujuk pria itu. Raut Edzar begitu dingin, benar-benar dalam mode senggol bacok. Tadi saja dia membentak salah satu staf di sini karena katanya room service-nya kurang memuaskan. Safa benar-benar malu. Berkali-kali dia minta maaf agar tak dimasukkan ke hati perkataan Edzar yang terbilang pedas layaknya seblak level 5. Namun Safa malah semakin kena cecar karena dianggap membela staf itu.
Safa betul-betul tak habis pikir. Heran saja kenapa Edzar berubah jadi kekanakan seperti ini. Apa karena semalam gagal memerawani Safa?
Benar. Sepertinya itu salah satu yang membuat mood Edzar naik turun. Tapi tadi pagi pria itu masih baik-baik saja. Masih lembut dan manis kayak marsmellow yang meleleh.
Apa karena cemburu jadi segala kekesalan yang dipendamnya ikut keluar?
Agaknya Safa harus berbuat sesuatu. Safa mengangguk. Ya, ia tak bisa diam saja menunggu Edzar menurunkan egonya. Kata ibu mertua, masalah jangan dibiarkan sampai berlarut-larut. Kalau sama-sama tak mau mengalah, nanti yang ada asap perkara semakin menebal.
Safa melirik Edzar yang tengah fokus dengan laptopnya. Dia berdecak. Katanya mau liburan, tapi masih tak bisa lepas dari kerjaan. Liburan apa sampai bawa-bawa laptop segala. Berarti Edzar memang sudah niat nyambi bekerja di sini.
Nyebelin. Lihat saja, Safa tak akan biarkan hal itu berlangsung lama.
Dengan menghentak, Safa berjalan ke arah pintu dan keluar kamar. Tak peduli Edzar yang meliriknya tak senang karena dia pergi tanpa izin. Pokoknya Safa harus cepat, setidaknya dia harus sudah kembali sebelum magrib.
Safa senyum-senyum sendiri membayangkan rencananya. Sambil berjalan dia tak henti menyusun konsep untuk meluluhkan hati Edzar. Safa terkikik dengan pemikirannya. Dia pastikan Edzar tak akan bisa lari setelah ini.
Safa tak tahu, di dalam sana Edzar tengah mengeraskan rahang dengan tangan mengepal. Dia menutup kasar laptop yang sedari tadi menjadi alibinya untuk menghindari Safa. Edzar pura-pura sibuk dengan kerjaan. Padahal dia hanya melihat-lihat rekap tahun lalu yang sebenarnya tak begitu penting saat ini.
Niatnya ingin membuat Safa merajuk, membujuk, dan bermanja lagi padanya. Tapi gadis itu malah pergi begitu saja. Tanpa pamit pula.
Edzar benar-benar kesal. Sudah tidak dapat malam pertama, dia harus menyaksikan kenyataan Safa yang ternyata cukup ramah pada semua pria.
Edzar mengambil nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Begitu terus sampai dirasa kesalnya sedikit mereda.
"Bisa-bisanya Safa mengabaikanku," gumamnya dengan mata terpejam.
__ADS_1