SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
BONUS CHAPTER 2


__ADS_3

Hampir seminggu terasa berat bagi Edzar. Perasaannya diombang-ambing oleh ketakutan. Safa tak kunjung sadar dari koma. Padahal dokter bilang kondisinya sudah jauh lebih normal.


Kabar baiknya Edzar sudah bisa masuk dan melihat langsung keadaan istrinya. Pun ia sering berinteraksi dengan bayi mereka yang ditempatkan di ruang sebelah.


Satu-satunya hal menyenangkan dan bisa membuat hatinya sedikit tenang adalah saat Safa menyusui putra mereka. Ibrahim.


"Edzar, bagaimana dengan acara akikah dan cukuran anak kalian? Tidak mungkin tidak dilaksanakan 'kan?" Ibunya sempat bertanya di lain kesempatan.


Dan Edzar hanya bisa diam tak mampu menjawab. Ia tidak bisa melakukannya tanpa kehadiran Safa.


"Ai, kapan kamu akan bangun? Uda rindu, Sayang. Apa kamu sedang balas dendam karena Uda pernah membohongimu? Apa ini hukuman karena Uda memilikimu dengan cara egois?" Edzar menyentuh tangan Safa. Menggenggam dan mengusap jemarinya secara halus.


"Bangun. Kami butuh kamu," bisiknya lagi.


Terdengar lirihan kecil dari sang putra yang ia gendong. Edzar menunduk. Tersenyum mengecup ringan ujung hidungnya yang mungil.


"Suruh Mami bangun. Bilang, jangan lama-lama tidurnya."


Bayi itu menggeliat kecil. Mulutnya bergerak seolah sedang menyusu. Edzar terkekeh, tapi sudut matanya berair. Ia peluk putranya. Membenamkan wajah pada tubuh bulat yang terbalut bedung itu.


Bahunya bergetar. Edzar menangis tanpa suara. Lagi-lagi pertahanannya runtuh. Ia tak bisa menampik ketakutan yang begitu besar.


Edzar mengangkat kepala. "Maaf, Sayang. Papi cengeng." Ia usap bekas air mata yang syukurnya tak begitu basah di perut putranya.


Ibra menggeliat. Merengek dan mulai menangis. "Kamu mau mimi?" tanyanya menepuk-nepuk bokong Ibrahim.


Ia melirik Safa yang setia terpejam. Diusapnya pipi halus itu dan memberinya sedikit kecupan.


"Ai, Uda tahu kamu mendengar kami. Uda akan terus menunggu kamu sampai kamu bangun, Sayang," ucapnya seraya membuka satu persatu kancing piama Safa.


Lantas mengeluarkan sebelah pa*yu*daranya yang ternyata sudah rembes mengeluarkan ASI.


Glek.


Edzar menelan ludah. Ia menggeleng. Tidak, ini bukan saatnya memikirkan kebutuhan biologis.


Ia baringkan tubuh mungil Ibra di atas dada Safa. Sebelumnya ia sempat mengatur ketinggian punggung ranjang sesuai yang dokter ajarkan. Mungkin karena naluri, mulut Ibra langsung mencari-cari ketika pipinya menyentuh permukaan kulit ibunya.


Edzar terkekeh. Ia arahkan sumber ASI Safa ke mulut putranya yang langsung disambut lahap oleh bayi lelaki yang baru berumur 6 hari itu.

__ADS_1


Matanya berkedip sayu. Hanya sesaat, karena setelahnya ia kembali terpejam.


Edzar menatap semua itu dengan teduh. Hatinya menghangat. Pemandangan ini akan lebih menyenangkan jika Safa sadar.


Ia usap kepala Ibra sembari terus menopang tubuh mungilnya yang terbalut bedung. Persis kepompong, pikirnya. Sesekali telunjuknya mengelus pipi hingga pelipis sang putra. Lembut sekali. Kulitnya yang kemerahan tak jarang membuat Edzar gemas ingin menyentuhnya.


Sepertinya Ibra memang menuruni tone kulit Safa yang putih. Matanya juga sedikit minimalis. Namun senyumnya malah lebih mirip omanya, Bunda Halim.


Edzar hanya kebagian tubuhnya saja. Karena kemungkinan besar Ibra akan memiliki tinggi badan seperti dirinya. Kata Ibu, guratan-guratan yang terdapat pada pergelangan kaki seorang bayi menandakan anak itu akan tumbuh tinggi.


Entahlah. Edzar belum memastikan teori itu pada dokter. Benar tidaknya, kita lihat saja sampai beberapa tahun ke depan. Mau mirip siapapun, yang terpenting bagi Edzar adalah sehat dan normal.


Edzar memindahkan tubuh Ibra ke dalam box bayi di ruangan sebelah. Pria kecilnya sudah selesai menyusu. Lantas ia kembali ke ruangan Safa untuk membenarkan pakaian sang istri.


Akan tetapi pemandangan dada telanjang Safa membuatnya penasaran. Terlebih cairan putih itu sedikit menetes dari pu*tingnya. Mungkin sisa Ibra.


Mulanya Edzar ingin mengelapnya dengan tisu. Namun entah angin apa yang membuatnya memajukan wajah, menatapnya sebentar, lalu menjulurkan lidah, membersihkan sisa ASI itu dengan cara menjilatinya.


Iseng ia sedikit menyesap permukaan puncaknya. Karena takut kebablasan, Edzar pun segera menjauhkan wajah dan gegas mengancingkan baju pasien Safa hingga tertutup sempurna.


Nafasnya terhela panjang. Matanya lekat memandang sang istri yang masih tetap cantik pasca melahirkan. Meski wajahnya sangat pias sekalipun, Safa tidak kehilangan pesonanya.


"Bisa-bisanya kamu terlihat seksi dalam keadaan seperti ini," gumam Edzar tak jelas.


Ia kecup kening Safa lama. Lantas bangkit dan merapikan selimutnya hingga menutupi dada.


"Uda keluar sebentar, ya? Mau shalat duha," lanjutnya membelai rambut sang istri.


Lalu keluar, menutup pelan pintu dan lekas berlalu mencari Mushola.


.............


"Nak Edzar, bagaimana kalau acara cukur rambut Ibra kita tetap laksanakan? Besok tepat tujuh hari setelah kelahirannya. Hal itu sunah dilakukan."


"Tapi Bunda, Safa 'kan masih belum sadar? Bagaimana mungkin kita lakukan tanpa kehadirannya? Ia ibunya. Apa tidak terlalu kejam jika menggelar acara sepenting ini tanpa melibatkannya?"


"Lagipula ini sunah, bukan wajib. Edzar sudah memutuskan hanya akan menggelar akikah saja setelah Safa sadar."


Nyonya Halim menghela nafas, kalau menantunya sudah berkata seperti itu ia bisa apa. Lantas ia mendongak menatap Edzar. "Kalau Safa tidak bangun lagi bagaimana?"

__ADS_1


Edzar terperangah. "Apa maksud Bunda? Kenapa Bunda bicara seperti itu?" Nadanya sedikit meninggi.


Ia betul-betul tidak menyangka mertuanya dapat berkata seperti halnya barusan. Padahal Nyonya Halim adalah Bunda dari Safa.


"Bunda hanya mencoba realistis. Andai kata hal buruk terjadi-"


"Tidak akan terjadi apa-apa dengan Safa," sergah Edzar dengan suara rendah nan tajam.


Tiba-tiba ia kehilangan respek pada sang mertua. Ia berdiri, lantas melenggang tanpa kata. Kendati begitu, sebelumnya ia sempat membungkuk untuk menunjukkan bahwa ia masih memiliki rasa hormat pada wanita itu.


Edzar pikir masalah itu akan selesai sampai di sana. Tapi nyatanya tidak.


Keesokan harinya ia berhasil dibuat kesal sekaligus terkejut oleh perkataan ibunya yang mengatakan akikah dan cukuran Ibra tetap dilaksanakan. Tanpa Safa.


Jelas Edzar berang bukan main. Sebenarnya siapa di sini yang berhak atas putranya? Kenapa mereka bertindak semena-mena?


"Bu! Apa Ibu sudah gila? Sudah Edzar katakan, Edzar tak akan menggelar syukuran apapun tanpa kehadiran Safa!" Kesabarannya sudah habis.


"Apa perkataan Edzar masih belum jelas? Kita tidak akan-"


"Oeek ... Oeek ..."


Seketika ucapannya tertahan di ujung lidah. Nafasnya tercekat. "Bu, itu bayi siapa?" tanya Edzar was-was.


Sang ibu tak menjawab, namun Edzar yakin seratus persen ia mengenali suara tangisan itu.


"Bu, jangan macam-macam. Edzar mohon. Kenapa kalian begitu memaksa? Kembalikan Ibra ke rumah sakit sekarang. Dia masih harus menyusu pada Maminya!"


"Edzar, kita sudah tanggung membeli kambing. Sayang kalau tidak disembelih."


Setelah mengatakan itu, Bu Dyah langsung menutup telpon. Membuat Edzar mengerang frustasi atas kegilaan mereka.


Apa katanya? Jadi semua ini hanya karena kambing?


Sialan.


Edzar tidak bisa tinggal diam. Dia lantas mengambil kunci mobilnya di atas meja. Lalu keluar dengan langkah tergesa.


Doni yang tidak sengaja berpapasan hendak ke ruangannya pun sontak bertanya. "Lho, Pak. Anda mau ke mana?"

__ADS_1


Edzar tak menjawab. Berjalan begitu saja melewati Doni yang tercengang.


"Pak! Anda baru saja selesai cuti! Masa mau absen lagi?"


__ADS_2