SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 117


__ADS_3

"O-Om?"


Hal pertama yang Safa lihat saat membuka mata adalah wajah Edzar yang menatap lurus ke depan. Matanya lebih tajam dari yang biasa Safa lihat. Rahangnya pun terlihat mengeras.


Safa meneguk ludah. Badannya terasa sakit semua. Dia kira nyawanya akan melayang begitu Galuh lepas kendali dan memukulnya hingga jatuh.


Nyatanya tubuh Safa berhenti menggelinding saat menemui bagian sudut tangga yang permukaannya lebih luas. Saat itulah dia merasakan sebuah pelukan tepat ketika dirinya menyentuh undakan terakhir. Tangan kekar itu menangkapnya sebelum berguling lebih jauh.


Edzar tak menggubris lirihan Safa. Wajahnya terlihat kaku dan dingin. Air mukanya mengeras dengan bibir mengatup rapat. Sejurus kemudian dia berkata pada seseorang lain yang tidak Safa sadari kehadirannya. "Diko, bawa dia keluar," titahnya tak terbantahkan.


Safa tercenung. Diko?


"Oke," sahut pria yang kini sudah bisa Safa lihat keberadaannya. Dia muncul dari belakang Edzar. Lalu mengambil alih tubuh Safa.


Mereka berdiri dengan Safa yang sudah berpindah tangan di gendongan Diko. Safa masih kebingungan dengan situasi dadakan ini. Kenapa dua orang itu bisa ada di sini. Tidak, kenapa Diko bisa bersama dengan Edzar?


"Aku tahu kamu ingin bertanya. Tapi sekarang kita harus keluar dan mengobati lukamu," ucap Diko bisa menebak pikiran Safa.


Safa bisa merasakan tubuhnya yang melayang dan berayun ketika Diko mulai melangkah. Refleks Safa menghentikan pria itu dan sedikit menoleh ke belakang, pada Edzar yang berdiri tegap menatap ke atas tangga.


Apa Galuh masih di sana?


Pertanyaannya terjawab saat telinganya menangkap derap kaki yang berlari ke lantai atas. Sedetik kemudian Edzar menyusul menaiki anak tangga dengan cepat. Lebih tepatnya Edzar meloncati beberapa undakan sekaligus.


Safa melotot ngeri. Pria itu bisa melakukannya tanpa tersandung?


"Jangan hiraukan dia. Keadaanmu sendiri jauh lebih penting."


"Ta-tapi—"


"Aneh rasanya jika kamu mengkhawatirkan seorang sabuk hitam taekwondo. Selain itu dia juga menguasai kickboxing."


Safa terdiam, dia tahu fisik Edzar sangat kuat hanya dengan sekali lihat. Tapi dia tidak menyangka ternyata Edzar mengusai dua ilmu bela diri itu.


Diko membawanya ke sofa tunggu di lobi. Safa terkejut melihat kedatangan Tuan Halim dan Om Baskoro yang berlari memasuki gedung.


Dua pria itu terlihat cemas saat menghampirinya.


Sebentar, kenapa orang-orang ini bisa tahu Safa ada di sini. Itu yang jadi pertanyaannya sejak tadi.

__ADS_1


"Safa, kamu tidak apa-apa, Nak? Oh, tidak, lehermu merah! Apa yang terjadi sebenarnya!"


Safa meringis ketika sang ayah membolak-balik bahunya meneliti. Baskoro segera menariknya mundur menyadari ketidaknyamanan gadis itu. "Bang, tenang dulu."


"Bagaimana aku bisa tenang melihat putriku penuh memar begini! Wajahnya lebam, lehernya juga. Aku bahkan tidak bisa berpikir jernih!"


"Aku mengerti. Tapi kecemasanmu membuatnya sakit tadi."


Nafas Tuan Halim terdengar berkejaran, Safa mengulas senyum berusaha menenangkan ayahnya. Tangannya terulur meraih telapak sang ayah untuk digenggamnya.


"Ayah, Safa gak papa. Nanti juga membaik," ujarnya lembut.


"Nak, siapa yang melakukan ini? Ayah janji tidak akan melepaskannya." Suara Tuan Halim bergetar, matanya berlinang, pria itu menangis menatap Safa yang seketika membisu.


Jika ayahnya sudah begini, ia pun tak bisa menahan bendungan di matanya sendiri. "Ayah...." rengek Safa memohon.


Tahu-tahu suasana berubah hening seiring Safa merasakan sesuatu keluar dari hidungnya. Lambat-laun rasa pening yang tadi sempat hilang kini hinggap kembali di kepalanya. Nafasnya mulai memberat. Mata dan pendengarannya mulai tak fokus di antara suara-suara dari tiga orang pria yang mendadak gaduh.


"Safa, darah, kamu mimisan!"


Teriakan sang ayah menjadi yang terakhir Safa dengar, sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.


..............


Safa mengerjap membiasakan pupilnya menerima cahaya. Lampu berpendar di seluruh ruangan. Ia tebak hari sudah malam. Berapa jam Safa tak sadarkan diri?


Safa melenguh menyentuh kepala yang terasa berdenyut. Selang infus tertanam di punggung tangannya. Mulutnya terasa kering, dia butuh minum sekarang juga.


Mata Safa mengedar, tidak ada siapa pun di ruangan ini. Kemana orang-orang? Kenapa tidak ada yang menungguinya?


Seketika dia merengut melirik gelas di nakas samping ranjang. Safa malas gerak, tapi kebutuhan mendesaknya untuk mengulurkan tangan.


Jangan membayangkan adegan gelas pecah tersenggol seperti di sinetron. Safa tak selemah itu sampai tidak bisa memegang gelas dengan benar. Kendalanya hanya di kepala yang merenyut membuatnya susah bangun.


Masa iya Safa harus minum sambil tidur?


Tak lama setelah itu seseorang masuk membuka pintu. Safa menoleh, dan langsung disuguhi raut terkejut sang bunda. "Ya ampun, Safa! Kamu sudah bangun?"


Wanita itu setengah berlari menghampirinya. Melihat gelas di tangannya Nyonya Halim mengerti bahwa Safa berniat minum. Lekas dia mengatur ketinggian kepala ranjang dengan remot yang tersedia hingga Safa berbaring setengah duduk.

__ADS_1


Akhirnya Safa bisa minum dengan tenang dibantu sang bunda.


Lagi-lagi pintu terbuka memunculkan Lalisa dan para sepupunya. Seketika Safa berubah malas membayangkan kegaduhan apa yang akan terjadi karena mereka berkumpul.


Belum apa-apa Safa sudah melihat wanita-wanita itu berebut tempat. Mendadak Safa ingin pingsan lagi daripada harus melihat mereka.


"Duduk sofa aja. Lebih luas dan pastinya muat," ujar Safa dengan suaranya yang lemas.


"Enggak. Kita, kan, mau lihat kamu." Renata menyahut cepat. Dia yang berhasil menduduki kursi di samping ranjang pasien.


Sementara Liliana dan Rizkia mendelik, menatap wanita itu dengan wajah merengut karena tak berhasil memenangkan kursi.


Hanya Erina dan calon kakak iparnya yang tak ambil pusing. Sejak awal mereka terlihat santai, tidak serusuh 3 cewek freak di sampingnya ini.


Nyonya Halim menggeleng melihat sekumpulan wanita Halim itu. Kemudian dia keluar, katanya harus mengurus administrasi yang belum selesai.


"Bagaimana keadaanmu?" Lalisa mendekat menyentuh keningnya dengan hati-hati.


Seketika Safa meringis, dia baru sadar ada perban di perbatasan rambut dan dahinya.


"Dasar. Lagian kamu ngapain ke kantor di hari libur? Udah gitu sendirian. Giliran ada penjahat jadi celaka, kan?"


"Kakak ipar jangan marahin Safa. Nanti dia tambah pusing." Erina berujar polos. Namun anehnya bisa membuat mereka diam.


Liliana menghela nafas menatap Safa yang terbaring lemah. "Daripada itu kita harus bersyukur anak ini selamat. Terlebih penjahatnya sudah tertangkap. Kalau begini sepertinya Dava bisa segera bebas."


"He'em," timpal Rizkia.


Sementara Safa merenung mengingat sesuatu. Dia kepikiran Pak Anjas. Bagaimana keadaannya sekarang?


"Gila, ya, Om Edzar gak main-main nangkap Galuh. Kakinya sampai patah begitu. Hiiy... Ngeri liatnya."


Safa menoleh dengan dahi berkerut, "Kaki siapa yang patah?"


"Galuh."


Seketika nafasnya terhela lega, ia pikir Edzar yang mengalami luka. Tapi sepertinya perkataan Diko yang menyebut pria itu menguasai taekwondo dan kickboxing memang benar.


Setelah ini akan ada banyak pertanyaan yang harus Safa pecahkan.

__ADS_1


Mengenai bagaimana orang-orang itu menemukan keberadaannya, sampai Diko yang entah kenapa bisa bersama Edzar.


"Sepertinya, Om Edzar mulai peduli padamu," celetuk Renata membuat semua mata memandang ke arahnya.


__ADS_2