SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 121


__ADS_3

"Oke, oke, maaf, sakit ya?" tanya Edzar mengusap bekas cubitannya.


Safa tak menjawab. Wajahnya merengut dan berpaling. Edzar menghela nafas, gadis itu merajuk, dia tahu itu. Baiklah, sepertinya Edzar harus berhenti bermain-main.


"Maaf, kamu terlalu lucu jadi saya tidak tahan."


"Aku bukan badut!" ketus Safa dengan bibir manyun.


Edzar mengangguk pelan, "Iya, kamu bukan badut. Mana ada badut yang secantik kamu."


"Om jangan gombal! Gak mempan tau!"


"Saya gak gombal. Saya hanya mengutarakan kenyataan. Siapapun tahu bahwa kamu memang cantik."


Mata Safa mendelik, lalu melengos menatap ke samping. Mencoba sembunyi dari kenyataan bahwa Edzar membuatnya melting.


"Lihat saya."


Safa tak menggubris hingga Edzar kembali bersuara. "Ai, lihat saya. Mau dengar penjelasan saya, kan?"


"Jelasin ya jelasin aja! Kenapa mesti tatap-tatapan!"


"Agar kamu bisa menilai sendiri saya jujur atau tidak."


Dengan ragu Safa menoleh, menatap Edzar dengan wajah setengah malas. "Ya udah. Ngomong," kata Safa dengan singkat. Nada ketusnya terdengar imut dan manja di telinga.


Jantung Edzar kian membara di dalam sana. Sikap Safa yang seperti ini membuatnya bersemangat. Edzar menghela nafas dan tersenyum tenang. Kemudian dia mulai bersuara dengan mata tak lepas dari Safa.


"Santoso mengancam saya untuk berhenti menguak perkara. Dia bilang akan menyakitimu kalau saya tetap keras kepala. Saat itu saya tak begitu menggubris ancamannya. Tapi, siang itu, saat kamu hampir celaka di pinggir jalan karena menunggu saya, saya tahu bahwa dia serius dengan kata-katanya."


"Beberapa kali dia mengirim foto kamu, untuk secara tidak langsung memberitahu bahwa dia mengawasimu."


"Saya kalut. Saya takut dia melakukan sesuatu sama kamu. Dia tidak segan menghilangkan nyawa seseorang demi kekuasaan. Orang serakah seperti itu, tentu tidak bisa saya abaikan."


"Saya tidak bisa membiarkan kecurangannya. Tapi saya juga tidak bisa melihat kamu terluka."


"Saya akan sangat merasa bersalah seumur hidup jika sampai kamu kenapa-napa. Jalan satu-satunya hanya dengan menjauhkanmu."


"Ini juga berat bagi saya. Karena seperti yang saya bilang, saya sayang sama kamu."


Safa tercenung mendengar penjelasan Edzar. Berkali-kali dia berusaha mencari kebohongan di mata pria itu, namun yang Safa temukan justru keterbukaan dari setiap kata yang Edzar tegaskan.


Apa yang harus Safa lakukan sekarang? Percaya pada Edzar begitu saja?


"Tapi apa harus dengan cara seperti itu? Memakiku di depan beberapa orang. Om pikir aku gak malu dan sedih? Aku juga punya harga diri. Dan perkataan Om waktu itu berhasil membuatku kehilangan kepercayaan."


Kini giliran Edzar yang terdiam. Dia juga merasa sangat bersalah karena itu. Mulutnya memang tajam, tapi tak pernah sejahat itu sebelumnya. Edzar memiliki alasan, di mana dia harus bersikap kejam pada Safa walau hatinya ikut terluka.


"Saya minta maaf. Saya terpaksa melakukannya karena anak buah Santoso Ilyas terus mengawasi kita," ucap Edzar sembari menunduk. Mendadak dia kehilangan muka di depan Safa, Edzar benar-benar malu dengan perbuatannya.

__ADS_1


"Maaf jika kamu merasa dipermainkan," lanjutnya pelan.


Suasana menjadi sunyi. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Edzar kembali memijat Safa karena dia tidak tahu harus melakukan apa. Edzar tak bisa memaksa Safa untuk percaya padanya.


Padahal hati mereka sama-sama bergemuruh. Lonjakan perasaan kian menuntut dan berdampung. Hanya saja, keduanya masih terkurung dalam kesalahpahaman yang terjadi beberapa waktu lalu.


Safa kemudian bersuara, "Terus, kemarin kemana aja. Kok gak jenguk?" Safa mengatakan itu sambil melengos dengan wajah memerah menahan panas.


Edzar mendongak. Tak lama kemudian senyumnya tersungging. Lantas dia meraih tangan kiri Safa yang tidak bengkak, menggenggamnya halus sembari terus menatap sang gadis yang kini memalingkan muka.


"Saya melakukan pemulihan."


Mau tak mau Safa menengok, matanya heran menatap Edzar.


"Pemulihan? Om sakit?"


Jangan-jangan Edzar terluka saat berusaha menangkap Galuh. Safa jadi agak khawatir. Bagaimanapun Edzar telah menolongnya.


Namun lelaki itu menggeleng. "Bukan. Saya berusaha memulihkan emosi."


Mata Edzar bergeser pada luka melingkar di leher Safa, lalu pada sisi wajah gadis itu yang membiru. "Saya tidak mau kamu takut. Karena saya sangat marah hanya dengan melihat ini," ucapnya menyentuh lebam di wajah Safa, kemudian beralih membelai leher gadis itu.


"Saya merasa gagal melindungi kamu," bisik Edzar.


Safa terpaku dengan sentuhan itu. Edzar terlihat sangat bersalah menatap lehernya. Safa meraih tangan Edzar dan menurunkannya.


Mata mereka bertemu. Angin berhembus membelai halus permukaan kulit yang terbuka. Meski begitu Safa merasa hangat di tangannya. Genggaman Edzar yang besar menyelimuti jemari mungilnya yang ramping.


"Om...." Safa berbisik lirih.


"Beri saya kesempatan untuk melindungimu. Membalas semua rasa yang pernah saya abaikan. Mengobati luka yang pernah saya berikan."


"Kamu hanya perlu diam, biar saya yang mencurahkan rasa sayang saya sama kamu."


Hening.


Mereka saling memandang dalam lingkup perasaan yang kembali menyala setelah sekian lama ditelan jarak. Edzar mengulas senyum mengangkat jemarinya menyeka setetes air yang meluncur dari sudut mata Safa.


"Saya bilang jangan menangis. Kamu hanya boleh menangis saat merasa senang."


Akan tetapi Safa malah semakin terseguk, bibirnya gemetar menahan isak yang serta-merta minta keluar. "Safa senang," ucapnya parau. "Safa senang karena Om balas perasaan Safa."


"Ini seperti mimpi.... Hiks."


Edzar tersenyum, "Ini memang mimpi. Mimpi yang akan kita bangun sampai akhir setelah kita mengikat janji."


Dan selanjutnya Safa tak bisa menahan tangis. Hatinya mengembang oleh rasa bahagia. Setelah sekian usaha dan penantian, akhirnya cintanya tak lagi bertepuk sebelah tangan.


Edzar membalas perasaannya. Hal ini sudah cukup membuat Safa kelebihan rasa senang. Sentuhan lembut di bibirnya menjadi penanda bahwa ini memang nyata.

__ADS_1


Pria itu menciumnya dengan penuh kehati-hatian. Membius Safa dengan sapuan halusnya yang lagi-lagi membuat terlena. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia membalas ciuman itu dengan buaian yang sama. Hingga Safa bisa mendengar geraman rendah yang keluar dari mulut Edzar. Membangkitkan genderang yang kian bertalu dalam dada.


Dalam sekejap, Edzar bisa membuat Safa kembali jatuh cinta. Sejatinya cinta itu tak pernah hilang, hanya terkubur sementara oleh rasa kecewa yang ternyata bukan apa-apa.


Kini, perahu itu telah bersambut menemukan pelabuhan. Semoga Safa bisa menetap selamanya di dermaga hati Edzar yang penuh badai dan terpaan.


Semoga.


Semoga perasaan ini bisa betahan lama.


Tuhan, jangan biarkan ini berlalu begitu saja. Jika pun Edzar bukan jodohnya, maka temukanlah ia dengan seseorang yang serupa dengannya.


Edzar melepas pagutannya secara perlahan. Matanya terbuka menatap Safa yang juga melihatnya. Dua insan itu larut dalam suasana, hingga mereka lupa waktu terus merangkak mendekati dini hari.


"Sudah malam. Ayo kembali ke kamar. Kamu harus istirahat," bisik Edzar di depan wajah Safa. Hidung mereka saling bersentuhan. Dan Safa tak bisa menahan matanya untuk terpejam kala nafas Edzar menerpa permukaan kulitnya.


"Oke," balasnya sama berbisik.


Mereka pun beranjak meninggalkan tempat itu. Tempat sederhana yang berhasil mengukir cerita dalam lembar kisah mereka.


Edzar menuntun Safa hingga sampai di depan kamar. Saat dia ingin membuka pintu gadis itu menahannya, kepalanya menggeleng menatap Edzar.


Kening pria itu pun berkerut, lantas dia bertanya. "Kenapa?"


Safa menggigit bibir bawahnya pelan. "Ada Bunda di dalam."


"Oh. Ya sudah, selamat malam. Tidur yang nyenyak." Edzar mengangkat jemarinya membelai rambut Safa. Kemudian dia menunduk mengecup dahinya.


"Masuklah."


"Om gak pulang?"


"Saya akan pulang setelah kamu masuk."


Safa mengangguk, lantas dia membuka pintu dan meloloskan tubuhnya ke dalam. Wajah Safa menyembul sebelum menutup kembali pintu tersebut. "Om hati-hati di jalan."


Edzar pun mendekat dengan seulas senyum, "Apa kamu sedang khawatir?"


Dengan polos Safa mengangguk. Dan Edzar dipenuhi oleh rasa gemas karena tingkah imutnya.


Pria itu menggamit hidung Safa dengan jemarinya yang panjang. "Cepatlah masuk. Atau saya tidak bisa menahan diri membawamu pulang dan menguncimu di kamar."


Seketika wajah Safa memerah. Dahinya berkerut dengan bibir sedikit mengerucut. "Dasar Om mesum! Pulang sana!" serunya pelan sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.


Edzar tertawa tanpa suara. Pria itu mengusap wajahnya, lalu menyisir rambutnya ke belakang. Lantas dia menggeleng dengan senyum yang tak kunjung mau pergi.


"Konyol sekali. Saya berasa kembali remaja kalau begini ceritanya. Haha," gumamnya setengah berbisik.


Sementara itu, Safa mencengkram selimutnya hingga menutupi setengah hidung. Menggigitnya gemas dengan wajah merah padam. Dia benar-benar ingin berteriak sekarang juga.

__ADS_1


Sayang sekali ini rumah sakit. Kalau rumahnya sendiri, Safa akan menjerit gila-gilaan di kamarnya.


'Om Edzar, kamu harus tanggung jawab. Perut Safa geli....' jerit Safa dalam hati.


__ADS_2