SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 35


__ADS_3

Mereka bertiga lah yang berperan penting membawa kendaraan. Pantas, Ola tak berkutik saat Nadine ikutan pergi, karena dia dan Agnes berangkat bersama Nadine.


Semua baik-baik saja sebelum suara riuh terdengar dari dalam. Awalnya mereka tak terlalu ambil pusing, mungkin itu sekelompok muda mudi yang usai menonton sama seperti mereka, dari ruang teater berbeda tentunya, karena te byater tempat Safa nonton filmnya belum berakhir.


Namun saat suara itu semakin dekat dan jelas, barulah Safa dan teman-teman Kamila saling tatap satu sama lain.


“Maling....!”


Mereka sama-sama melotot, “Maling?”


Baru setengah berbalik, sesuatu tak diduga mengejutkan mereka.


“Aaa...!”


“Safa!”


Safa yang luar biasa terkejut spontan mencengkram lengan yang melingkari lehernya. Seseorang mendekapnya dari belakang. Apa yang terjadi? Apa benar ada maling seperti yang didengarnya tadi?


Safa bodoh! Kamu sedang jadi tawanan sekarang!


“Jangan mendekat! Atau gadis ini akan mati!”


Orang-orang yang hendak menolong sontak berhenti. Nadine, Akmal, dan Kamila yang baru kembali bergegas menghampiri. Kamila langsung heboh melihat sahabtanya ada di pelukan orang.


“Safa...!”


Akmal menahan lengannya saat Kamila nekat maju. Terlalu gegabah jika mereka memaksa, terlebih orang itu membawa senjata.


Safa yang gemetar merasakan sesuatu yang dingin menempeli lehernya. Safa tidak bodoh, dia bisa merasakan benda logam itu sangat tajam. Sedikit saja dia bergerak kulitnya akan tergores.


Hwa... Ayah... tolongin Safa... hiks, Abang...


Safa hanya bisa menjerit dalam hati saking takutnya. Mendadak Safa teringat pada bundanya yang selalu dia buat kesal. Setengah mati Safa akan menyesal seandainya dia berakhir tragis sekarang. Sepertinya setelah ini Safa harus meminta maaf, itu pun kalau Safa benaran bisa selamat.


Ini namanya The Real Jomblo Ngenes. Udahlah jomblo, matinya enggak elit pula. Benar-benar gak adil, huhu...


“Safa, kamu tenang dulu, oke? Jangan takut... rileks....” Akmal berusaha menenangkan agar gadis itu tidak panik. Yang mana hal itu malah membuat Safa kesal.

__ADS_1


Rileks, rileks, matamu rileks! Siapa yang bisa tenang saat nyawanya jadi taruhan?


Memang, ya. Dalam keadaan genting pun cowok itu tak henti membuatnya sebal.


“Mila....” cicit Safa takut.


Entah sejak kapan Kamila mulai menangis, melihat tatapan redup Safa membuatnya menjerit pada orang-orang agar segera menolongnya. Demi Tuhan apa yang mereka tunggu? Kenapa tidak segera saja menangkap penjahat itu?


“Pak, tolongin temen saya, Pak... jangan diem aja, dong...” ujar Kamila pada petugas keamanan.


“Sabar, Mbak. Dia bawa senjata, kita harus hati-hati. Kalau enggak, bisa aja teman Mbak digorok saat itu juga.”


“Hwa... Safa...!”


Nadine mengusap bahu Kamila dengan maksud menenangkan. Agnes dan Ola tak kalah tegang, tak pernah menyangka sama sekali salah satu dari mereka akan jadi korban kejahatan.


Posisi si penjahat yang merapat ke tempok menyulitkan mereka untuk menyerang dari belakang. Jika nekat membuatnya terpojok, besar kemungkinan dia akan melukai sanderanya.


“Zan, mereka udah lapor polisi?”


Ozan mengangguk, “Setahuku udah.”


Di tengah ketegangan yang masih memanas, seseorang muncul membelah kerumunan. Berjalan tegas menuju tempat yang menjadi pusat perhatian. Auranya membuat orang-orang bergeser memberinya jalan. Safa terkejut sekaligus senang melihat sosok yang berdiri beberapa meter di hadapannya.


Om Edzar...


Namun perasaan itu tak bertahan lama, perempuan di belakangnya membuat sorot Safa kembali meredup. Safa lupa beberapa saat lalu hatinya sempat terluka.


Haruskah dia semenyedihkan ini? Tidak hanya tragis, sepertinya Tuhan juga berencana membuatnya mati dalam keadaan patah hati.


\=\=\=


“Kamu tidak bisa lari meski melukainya.”


Edzar berdiri tenang dengan dua tangan berada di saku celana. Sekilas matanya melihat Safa yang kini beralih menatap lantai.


“Justru hukumanmu malah akan bertambah karena melakukan pencurian dan kekerasan.”

__ADS_1


“Si-siapa kamu?”


Kening Edzar berkerut, kepalanya sedikit meneleng melihat si pencuri yang semakin bersikap siaga memundurkan tubuhnya meski sia-sia karena terhalang dinding di belakangnya.


“Ini bukan saatnya berkenalan,” ucap Edzar yang tanpa diduga mengundang sedikit tawa, meski terdengar lirih.


“Me-menjauh. Menjauh...!” teriak si pencuri. “Atau aku akan membunuhnya!”


Edzar berdecak, “Sudah kubilang itu akan menambah hukumanmu.”


“Apa peduliku!”


“Tindakan bodoh,” dengus Edzar. “Kamu hanya membuang-buang waktu. Kalau lari sejak tadi mungkin ada kesempatan akan lolos. Tapi kamu malah menyandera seseorang yang membuatmu tertahan lebih lama di sini. Itu salahmu.”


“Ya! Semua orang memang selalu menganggapku salah! Apa pun yang kulakukan selalu salah di mata mereka! Apa gunanya aku membela diri sekarang?” ujar si pencuri lantang.


Hal itu mengundang decakan orang. “Ye... malah curhat si Abang.” Begitulah kira-kira gumaman yang terdengar.


Safa yang lelah berdiri mulai gemetar, tubuhnya semakin lemas, ada kemungkinan karena jantungnya yang sejak tadi berdetak cepat. Kepalanya juga sedikit pusing, dan Safa hanya bisa berdiri mengandalkan tubuh si pencuri untuk bersandar. Baiklah, setidaknya untuk saat ini dia masih bisa bertahan.


“Kamu bisa mengubah pandangan orang dengan bersikap lebih baik. Sekalipun kamu pernah melakukan kejahatan sebelumnya. Asalkan kamu tulus mau mengubah hidupmu, tidak ada yang mustahil. Di dunia ini banyak orang-orang besar yang dulunya seorang narapidana. Tidak menutup kemungkinan kamu juga akan menjadi salah satunya. Dimulai dari menyerahkan diri dan bertanggung jawab atas kesalahanmu sekarang.”


“Pak, jangan bertele-tele. Teman saya udah mau pingsan itu!” teriak Ola yang dianggungi Nadine dan yang lainnya. Kamila sendiri sibuk menangisi sahabatnya. Sementara itu, Akmal mematung dengan pandangan sulit diartikan.


Edzar menghela nafas, tatapannya beralih pada Safa. Mata mereka bertemu beberapa saat, sorot mata sayu itu membuat Edzar terpaku. Wajahnya yang basah karena keringat dan air mata menjelaskan bahwa gadis itu benar-benar ketakutan.


Benar, Edzar harus menyelesaikan ini dengan cepat.


“Polisi sudah di depan. Kamu hanya bisa memilih 2 opsi. Lepaskan dia sebelum mereka datang, dan kamu hanya akan dikenakan satu pasal pencurian. Atau tetap menahannya seperti itu dengan resiko hukuman lebih panjang.”


“Kamu bisa terancam sembilan tahun penjara.”


Tepat setelah itu suara sirine terdengar samar hingga lama kelamaan semakin jelas. Polisi datang. Apa ini sebuah kebetulan Edzar bisa menebaknya?


...............................


“Kamu bisa pulang. Saya yang akan antar dia.”

__ADS_1


“Ta-tapi....”


“Ini sudah malam. Kalian pulanglah. Tidak perlu khawatir, saya mengenal keluarganya.”


__ADS_2