
Setelah tahu siapa pemilik baru dari rumah di sebelahnya, tak jarang Safa jadi sering lihat jendela. Seperti sekarang misalnya. Safa sudah standby di balkon lantai dua karena memang itu tempat paling strategis untuk melihat ke rumah Edzar.
Entah sudah berapa kali Safa bolak-balik melihat ke luar. Dari pagi buta sejak Safa bangun tidur yang dia pikirkan adalah Edzar. Bahkan tak biasanya Safa melewatkan ritual mandi pagi. Biasanya Safa mandi pukul 6 atau paling lambat pukul 7.
Tapi sekarang boro-boro. Safa bahkan masih memakai piyama tidurnya yang bergambar sapi. Itu semua karena satu orang yang bernama Edzar. Safa tak mau melewatkan secuil pun informasi tentang kegiatan lelaki itu.
Namun, sudah hampir dua jam berlalu, Safa belum juga melihat batang hidung Edzar. Ayah dan abangnya bahkan sudah berangkat dari sepuluh menit yang lalu. Apa pria itu tidak bekerja?
Oh, iya. Safa sudah dapat beberapa informasi mengenai Edzar. Betapa senangnya Safa saat mengetahui pekerjaan lelaki itu dari bundanya. Edzar bukan seorang pengangguran. Yeay ...!
Tahu, apa pekerjaannya? Dia seorang jaksa. Catat sekali lagi, jaksa!
Keren, bukan?
Ya ... Meski gak sekaya pengusaha, bisalah dia jadikan list calon suami.
Safa sudah lama ingin punya pacar berseragam. Tapi bukan seragam sekolah, lho, ya. Maksud Safa seragam pilot, seragam polisi, seragam TNI, dan lain-lain. Asal bukan seragam OB sama satpam saja. Safa gak doyan soalnya.
Membayangkan betapa kerennya mereka saat pre-wedding nanti, membuat Safa tersenyum sendiri. Edzar pakai seragam Kejaksaan, sementara Safa pakai kebaya. Gemas, bukan?
Satu lagi informasi penting yang Safa dapat dari bundanya. Pria itu masih single, alias available buat para jomlo seperti Safa.
“Yang Bunda tau sih Edzar single. Dia masih sendiri, katanya. Itu yang dia bilang ke ibu-ibu komplek kemarin.”
Safa mendengus. Baru sehari sudah jadi incaran. Pasti mereka mencari peluang untuk para anak gadisnya. Itu berarti Safa harus bergerak cepat. Bisa-bisa dia kalah start sama para ibu-ibu yang tengah berburu calon mantu.
“Kamu ngapain nanya-nanya soal Edzar? Bukannya kemarin gak peduli?” tanya Nyonya Halim setengah mencibir.
Dia tahu putrinya ini mata keranjang. Makanya gak heran saat Safa tanya-tanya soal pria yang mereka temui di supermarket. “Giliran tau orangnya ganteng aja kamu kepoin.”
Ya, namanya juga dari mata turun ke hati. Safa butuh membuktikan sendiri orang itu beneran ganteng. Bukan hanya selentingan dari orang lain.
Meski Edzar gak seganteng Oppa-oppa haluannya seperti yang Nyonya Halim bilang, tapi Edzar ini punya karisma tersendiri.
Ya iyalah, Safa. Asli lokal gitu mau kamu bandingin sama Lee Minho. Ya gak bisa. Di Korea mana ada kulit gula Jawa. Eh, tapi Edzar gak hitam, kok. Bagaimana Safa menjelaskannya. Pria itu manis dan eksotis. Aduh ... Lagi-lagi liur Safa menetes.
__ADS_1
Intinya Edzar memiliki sesuatu yang membuatnya jadi mempesona. Entah itu pembawaan karakternya, wajahnya, atau bentuk tubuhnya. Intinya Safa suka.
Apalagi matanya yang tajam dan dalam, Safa saja sempat terhipnotis waktu itu. Belum lagi alisnya yang kayak ulat bulu membuat tangan Safa gatal ingin mengelusnya. Bulu matanya lentik. Pasti wanita manapun iri, termasuk Safa sendiri.
Apalah daya dia yang harus menggunakan serum untuk memanjangkan bulu mata, yang hasilnya saja belum kelihatan sampai saat ini. Bolehkah Safa mencabut bulu mata Edzar saja?
Omong-omong, kenapa Bapak Jaksa itu belum juga keluar kandang? Safa ‘kan kangen tahu ...
Apa jangan-jangan pria itu sudah berangkat? Tapi, gak mungkin. Safa sudah jadi satpam selama lebih dari dua jam di sini.
Ya, walaupun sekali-kali Safa masuk kamar. Tapi kan cuman sebentar. Gak lebih dari 5 detik.
Bosan menunggu, Safa merengut dengan bahu meluruh. Dia terduduk lemas di kursinya dengan mata tak lepas dari rumah Edzar. Matahari pagi mulai terasa hangat, Safa melirik jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul setengah 8.
Apa penantiannya sia-sia?
Safa lapar, tapi meninggalkan balkon rasanya tak rela. Akhirnya dia meminta Bik Inem yang kebetulan lewat untuk membawakan makanan.
“Bik ... Ambilin Safa cemilan, dong ...” ujarnya lemas yang segera di iyakan oleh Bik Inem.
Namun, ternyata hal itu memancing kekesalan Nyonya Halim. Wanita itu menghampirinya ke lantai atas. Membawa segala omelan yang membuat Safa kenyang setiap harinya.
Kali ini isinya sebuah larangan untuk Safa menyuruh orang yang lebih tua. Kalau masih bisa dilakukan sendiri, lakukan saja sendiri.
Meskipun Bik Inem itu asisten rumah tangga, Safa tetap harus hormat.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, Nyonya Halim kerap mengingatkannya akan hal itu. Tapi Safa benar-benar malas beranjak. Bukan karena masih ingin melihat Edzar. Dia sudah kehilangan minat untuk saat ini.
Safa lelah, mungkin juga efek belum mandi, jadi bawaannya mager dan gerah.
Akhirnya dengan semangat yang tinggal secuil, Safa beranjak untuk membersihkan diri dan sarapan. Meninggalkan sejenak aktivitasnya sebagai penunggu balkon.
Mungkin pagi ini bukan rezekinya melihat Edzar.
Siang harinya, Safa ada janji dengan Kamila, sahabatnya. Mereka rencana bertemu di cafe ‘Sepuasnyah’ yang berlokasi di Lebak Bulus. Cafe itu sedang viral di kalangan anak muda seperti Safa. Apalagi kalau bukan karena tempatnya yang instagramable.
__ADS_1
Kamila ngotot ingin ke sana karena penasaran. Katanya hampir semua teman kampusnya sudah pernah ke sana. Kamila tak mau kalah.
Safa hanya mengiyakan karena jujur saja Safa juga ingin berfoto ala-ala selebgram.
Jangan salah, followers Safa cukup banyak, lho. Meski gak sebanyak para artis, tapi ada saja yang menawari endorse.
Hanya saja Safa terlalu malas. Padahal tinggal foto-foto doang terus promosiin kalau kata Kamila.
Namun, balik lagi pada rasa malas Safa yang sudah mendarah daging. Safa ‘kan pernah bilang, Safa suka uang tapi gak suka cari uang.
“Dasar anak Sultan. Apa-apa mau enaknya. Gak mau berjuang banget, sih, kamu.”
Itu adalah kalimat yang paling sering keluar dari mulut Kamila. Gadis itu selalu menyayangkan kesempatan yang sering kali Safa abaikan.
Kalau Kamila jadi Safa, dia akan menerima semua tawaran yang datang padanya. Sayang sekali Kamila tak seberuntung Safa.
Safa bahkan pernah ditawari jadi model pakaian toko online. Tapi seperti yang sudah-sudah, gadis itu menolaknya. Benar kata Nyonya Halim, Safa memang selalu bikin elus dada. Kamila sendiri sering merasakannya.
Safa dan Kamila sudah berteman sejak SMP. Berlanjut sekolah menengah di SMA yang sama. Makanya, jangan heran kalau Safa paling lengket dengan Kamila ketimbang temannya yang lain.
Bahkan sampai sekarang hanya nama Kamila yang sering nangkring di pop up teratas WhatsApp-nya.
Meskipun Safa tampak humble dan lucu, sebenarnya banyak yang gak suka sama Safa. Apalagi teman wanita. Safa seringkali dibilang centil dan kegatelan. Padahal itu hanya naluri alami Safa kalau melihat cowok ganteng.
Safa sih bodo amat. Gak semua orang harus suka sama kita ‘kan? Safa hanya perlu jadi diri sendiri. Terserah orang lain menerima atau tidak.
Ting!
Satu pesan muncul.
Kamila : Dimana, sih kamu? Lama banget. Cepeettt ...!
Safa menghela nafas. Awan kelabu seakan masih menggelayuti atas kepalanya. Ini semua gara-gara Edzar.
Haih, sudahlah.
__ADS_1