SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 119


__ADS_3

"Kau tidak mau menemuinya?"


Edzar diam tak menjawab, lelaki itu menanggak habis minuman di kalengnya, lalu melemparnya ke tong sampah dekat pintu tanpa meleset.


Mata tajamnya menerawang ke depan, pada langit malam tanpa bintang dari balik kaca besar sebuah apartemen.


Tangannya beralih merogoh rokok di saku celana. Mengambil satu, menyelipkannya ke mulut, lalu mematiknya hingga menyala dan mengepulkan asap ketika Edzar menghisap dan menghembuskannya.


Seseorang berdecak di belakang. "Sudah kubilang jangan merokok di sini. Kalian benar-benar," dumelnya sembari mengibas-ngibas bau tembakau yang mulai tercium.


Heru sangat benci asap rokok. Dan sialnya dua temannya adalah perokok akut. Diko dan Edzar, keduanya tak peduli meski ia sesak nafas. Menyebalkan.


"Padahal dia menyuruhku mengikutinya setiap hari. Sampai aku hampir ketahuan beberapa kali."


Heru mendengus, "Kalau gadis itu tahu kalian hobi menguntitnya, kira-kira apa yang akan dia lakukan?"


Diko mendelik, "Hey, aku mengikutinya karena perintah, beda cerita dengan dia." Matanya menunjuk Edzar yang berdiri tak acuh di depan sana. Sementara ia dan Heru duduk di sofa panjang tak jauh dari jendela.


Edzar setia bungkam menatap ke luar. Tangannya bersidekap di depan dada, tak menghiraukan kicauan Heru dan Diko di belakangnya.


"Bukankah kau sempat berniat ingin mendekatinya?" tanya Heru sekonyong-konyong.


Sontak Diko melotot dengan mata sesekali melirik Edzar. Diam-diam menghela nafas lega melihat pria itu larut dalam ketenangan. Serta-merta dia mendecih pada Heru yang memasang wajah sok polos. Sialan.


Tidak bisakah dia menjaga mulutnya? Akhir-akhir ini Edzar sangat sensitif, dia tidak mau kena getahnya kalau pria itu marah.


Melihatnya saat menghajar Galuh kemarin membuat Diko bergidik ngeri sekaligus takjub. Dia jadi berasa menonton film aksi ketika Edzar melompati satu lantai demi mengejar Galuh yang kabur lewat lift.


Dan yang paling mengerikan pria itu membekuk Galuh dengan cara mematahkan satu kakinya. Saat polisi bertanya kenapa dia melakukan itu, dengan santai dia menjawab, "Tak ada pistol." Sudah, gitu saja.


Entah bagaimana Edzar bisa berkelit dari hukuman. Jangan tanya hal itu pada Diko atau Heru yang buta undang-undang, karena Edzar sendiri tak menceritakannya. Padahal dia sangat penasaran. Tapi, ya sudah lah, Edzar terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Diko pun tak ada hak untuk bertanya lebih.


Edzar berbalik setelah menghabiskan rokoknya. Pria itu menekan puntung di sebuah piring bekas makan di meja konsol yang ada di sampingnya. Lantas dia melangkah mengambil jaketnya yang tergantung di stand hanger dekat pintu masuk.


"Mau kemana?" tanya Heru ketika melihat pria itu memasang sepatu.


"Pulang," jawab Edzar singkat.


"Yakin? Kayaknya bentar lagi hujan?"


Benar saja, tepat setelah Heru berkata seperti itu, kilat disertai guntur menggelegar memecah cakrawala.


Namun Edzar tak peduli dan tetap melanjutkan niatnya. Pria itu membuka pintu lalu keluar begitu saja.


"Cih, lihatlah sikap arogannya itu. Siapa yang menyangka dia seorang penegak hukum? Tidak ada sopan santunnya sama sekali." Heru mendumel seraya melempar kacang ke mulutnya.

__ADS_1


Perhatiannya beralih pada Diko yang entah sejak kapan berbenah dengan jaketnya. "Kau juga akan pulang?"


Diko mengangguk, "Ya. Aku tidak mau dibilang homo karena berduaan denganmu."


"Apa? Siapa juga yang akan berpikir seperti itu?"


Diko mengangkat bahu, "Tetanggamu, maybe. Aku khawatir dia tak jadi menyukaimu kalau aku tetap di sini."


"Apa? Kau tau hal itu dari mana?"


"Hm? Hal apa? Fakta bahwa kau sedang mendekati tetangga seksimu itu?"


"Semua penghuni di lantai ini juga tahu jika melihat ekspresi 'inginmu' ketika melihatnya."


"Dasar sialan. Pulang saja sana. Kau sama saja dengan Edzar."


"Aku memang bawahannya jika kau lupa," ujar Diko mengedipkan mata.


"Cih, jadi kacung aja bangga."


"Dan itu dikatakan oleh orang yang menghandle Cafenya."


"Hahaha....."


Heru tak bisa menyangkal karena memang dirinya mengawai Cafe Edzar. Sial, dasar menyebalkan.


Dan sialnya kata-kata Diko membuat Heru menelan ludah.


Menghangatkan ranjang?


Itulah yang dia mau!


.....................


Safa menoleh pada bundanya yang tertidur di ranjang lain ruangan itu. Jarum jam sudah menunjuk pada angka sepuluh malam, namun Safa tak kunjung bisa menutup matanya.


Penglihatannya malah semakin segar seiring detik berlalu. Ini membuatnya frustasi. Safa ingin tidur, tapi tubuhnya tak bisa diam. Beberapa kali dia mengubah posisi karena tak nyaman. Akhirnya dia duduk dengan perasaan kesal.


Apa mungkin karena kelamaan berbaring yang menjadikan badannya pegal-pegal?


Safa menghela nafas. Sungguh, rasanya dia perlu berjalan-jalan sebentar untuk meregangkan otot.


Ya, sepertinya bukan ide buruk. Lagipula bundanya sudah tidur, Safa kan jadi bosan karena bangun sendiri.


Perlahan Safa menurunkan kakinya dari ranjang. Hal pertama yang dia persiapkan adalah tiang infus. Safa coba menggesernya pelan-pelan untuk meminimalisir suara. Safa takut bundanya terganggu lalu bangun, ujung-ujungnya Safa gagal keluar dari sini.

__ADS_1


Safa berhasil melewati pintu tanpa kendala. Dengan langkah ringan Safa berjalan di sepanjang lorong, melewati deretan kamar dengan fasilitas yang sama.


Benar dugaannya. Sepertinya Safa memang kurang gerak jadi badannya pegal-pegal. Safa bersyukur kakinya tidak terkilir saat kejadian itu, hanya tangan kanannya yang bengkak karena salah urat.


Selebihnya ada lebam di beberapa bagian tubuh akibat terbentur saat jatuh dan pukulan Galuh. Setidaknya Safa masih bisa berjalan dengan aman tanpa alat bantu apapun.


Larut dalam pikiran membuat Safa tidak sadar ada seseorang di depannya. Tahu-tahu bahunya disentuh lembut, membuat Safa berhenti dan mendongak pada sosok yang ternyata adalah Edzar.


Pria itu mengulas senyum. Safa terpaku tak tahu harus berkata apa. Haruskah dia berterima kasih karena pria itu sudah menolongnya?


"O-Om, kenapa di sini?" tanya Safa sedikit terbata.


"Tentu karena ingin menemuimu."


Safa mengerjap, "Untuk apa?"


"Tidak untuk apa-apa. Saya hanya ingin melihatmu."


Tiba-tiba Safa berdecih, tanpa sadar dia bergumam. "Kemarin saja gak nongol-nongol, tuh."


Namun ternyata kalimat itu didengar Edzar. Lelaki itu tersenyum gemas melihat sosok di depannya. Sungguh Edzar sangat rindu. Ternyata satu hari tak bertemu efeknya bisa sedahsyat ini.


"Jadi kamu kangen sama saya?" tanya Edzar dengan muka mesem.


Safa terlonjak, kaget sekaligus malu karena ternyata Edzar mendengar ucapan pelannya.


Hah, sudah lah.


Safa bergeser berniat melewati Edzar.


"Mau ke mana?"


"Gak tau."


"Kok gak tau?" Edzar mengekor langkah Safa, tangannya mengambil alih tiang infus dan mendorongnya searah jalan gadis itu.


"Ini sudah malam. Lebih baik kembali ke kamar."


"Gak bisa tidur," sahut Safa masih dengan nadanya yang ketus.


Edzar tak bicara lagi dan memilih mengikuti kemana Safa pergi. Safa yang tidak punya tujuan akhirnya berhenti di salah satu bangku di koridor samping yang menghadap langsung ke taman rumah sakit.


Safa duduk di sana, pun Edzar yang menghempaskan bokongnya di samping Safa. Mereka terdiam satu sama lain. Suasana begitu sepi karena malam yang semakin larut.


Pendar lampu kekuningan menyorot keduanya yang sama-sama bungkam. Safa melirik Edzar yang bersidekap tenang di sampingnya. Dilihat dari manapun, dalam keadaan apapun Edzar tetap memesona di mata Safa.

__ADS_1


Bagaimana Safa harus menghindari pria dengan karisma setinggi ini?


"Kemarin...." Safa memulai pembicaraan. "Dari mana Om tahu aku ada di sana?"


__ADS_2