SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 166


__ADS_3

"Sakit?"


"Engh, sedikit," bisik Safa di sela erangannya. Matanya berkedip sayu seiring gerakan Edzar di bawah sana.


Pria itu bergerak lembut dan hati-hati. Sebisa mungkin Edzar mengutamakan kenyamanan meski hasrat sudah menggelora.


"Emh." Edzar menyesap leher Safa. Terpejam menikmati denyutan yang mencengkram erat miliknya. Memijat batangnya dalam kengahatan yang lembab.


Pinggul Edzar naik turun dengan pelan. Tangannya mengawai pinggang Safa, menuntunnya untuk ikut bergerak seirama.


Safa melenguh, miliknya terasa penuh oleh Edzar. Sesekali dia merintih saat gesekan demi gesekan membuatnya ngilu.


"Awh ... sshh ... engh ... A Uda ..."


Lenguhan keduanya saling bersahutan di alam terbuka. Safa merapatkan tubuh kala angin malam membelai punggungnya. Edzar yang peka lantas mengusapkan tangannya di sana. Sesekali turun ke bokong, menampar dan meremas lembut pinggul sekal dan padat itu.


Safa benar-benar seksi. Dan Edzar senang menjadi pria pertamanya. Dia sengaja menempatkan Safa di atas agar perempuan itu bisa menyesuaikan kenyamanannya. Dalam artian Safa yang memimpin percintaan mereka.


Edzar menunduk menatap penyatuannya dengan Safa. Miliknya keluar masuk di lubang sempit itu. Warna kulit yang kontras membuat suhu tubuh Edzar memanas. Dia mendesis melihat celah Safa yang sedikit kemerahan, efek dari bergeselan dengan batangnya yang Safa bilang terlalu besar.


"A-ah, A Uda ..." Safa mengikuti nalurinya mempercepat gerakan. Dengan senang hati Edzar membantunya dari bawah sana. Menambah kecepatan pinggulnya sesuai keinginan Safa.


Bibir mereka kembali bertemu, saling menyesap satu sama lain. Safa menuntun tangan Edzar untuk meremas bukit kembarnya. Lelaki itu menggeram, melepaskan ciuman dan beralih menghisap pucuk kemerahan yang mencuat menantang untuk dimakan.


"Oh ..." Edzar mengerang dengan mata terpejam. Bunyi kecipak air mengiringi rintihan dan lenguhan mereka berdua.


Lelaki itu memacu dirinya semakin cepat. Hingga Safa kewalahan dan menyerah dengan gerakan Edzar yang brutal. Dia memeluk leher Edzar, membenamkan wajah di bahu kekarnya yang keras dan lapang.


"Ahh ... ahh ... A Uda ..." jerit Safa.


Tak lama tubuhnya bergetar hebat, hingga kemudian dia merasa sesuatu mengalir keluar dari celahnya yang masih dipenuhi milik Edzar.


"Ahh ..." Safa melemas. Pria itu belum berhenti bergerak, menghentak keras tubuh Safa seraya tangannya mengeratkan pelukan. Mulutnya menggeram, menggigit gemas bahu putih itu hingga meninggalkan bekas.


Edzar semakin tak terkendali, pinggulnya mendorong kencang miliknya yang terasa kian membesar. Lalu tak berapa lama dia menyusul Safa mencapai puncaknya, diiringi erangan keras yang melonglong membelah suasana malam di hutan itu.


"Arrgh ..." Edzar membenamkan wajah di ceruk Safa. Nafasnya memburu, keringat mengucur deras, tak peduli udara dingin yang menusuk kulit dan membekukan.


Tubuh mereka hangat. Impresi dari air di hot tube juga percintaan panas yang menggelora.


"Emh," lenguh Edzar merasakan cairan benihnya menyembur deras memenuhi dinding faraj Safa. Sebagian mengalir keluar, menyatu dengan air yang menyelimuti mereka.

__ADS_1


"Ayo ke kamar. Kulit kita sudah mengkerut kelamaan berendam."


"Hmm." Safa menjawab dengan gumaman.


Edzar menjauhkan kepala melihat wajah Safa. Kemudian terkekeh mendapati mata sang istri tengah terpejam.


"Ngantuk?" tanya Edzar seraya merapikan rambut Safa yang basah. Gadis itu, ralat, wanita itu mengangguk lemah di bahunya.


Edzar tersenyum mengusap kening Safa, lalu menciumnya lama dengan mata terpejam. "Terima kasih. Uda bahagia sekali malam ini."


Kemudian dia menatap ke atas, pada langit yang bertabur bintang seolah mendukung proses penyatuan mereka.


Matanya melirik ponsel yang ia letakkan di pinggiran jacuzzi. Tangannya terulur meraih benda pipih itu. Membuka ikon kamera dan mulai memotret langit di atas, sedikit mengambil birai bambu ke dalam bingkainya.


Edzar mengunggah foto itu, dengan satu kata dan emoticon sebagai caption-nya.


Night + love.


Tulis Edzar.


Sudut bibirnya kontan terangkat melihat Doni yang langsung berkomentar.


Doni_Lu Inikah alasan Bapak mengambil cuti panjang? Untuk liburan? Wah, bisa-bisanya anda melanggar prosedur hak perizinan.


Kemudian ada Heru yang juga berkomentar.


Heruj95 Cie yang lagi berbunga-bunga. Ayang nya mana?


"A Uda punya Ig? Sejak kapan?"


Edzar menoleh, mengecup sekilas bibir Safa yang ternyata sudah membuka mata. "Punya. Sejak Uda penasaran sama kamu," jawabnya jujur. Memang mulanya dia membuat akun untuk memantau wanita itu diam-diam.


Kening Safa berkerut. "Maksudnya, A Uda bikin Ig buat stalking Safa?"


"Hm," angguk Edzar. Matanya lekat menatap wajah sang istri yang luar biasa glowing dan sehat.


Edzar mendekat, menggigit halus pipi kenyal itu. Lalu dia kecup bekasnya disertai usapan pelan.


"Mau foto?"


"Hem?"

__ADS_1


"Biasanya kamu senang selfie. Dalam posisi dan kondisi apapun."


Safa melirik ragu ponsel Edzar. "Apa gak papa? Safa gak pakai baju. Berantakan lagi."


"Gak papa. Ini hanya untuk konsumsi pribadi. Sebagai kenang-kenangan juga bahwa kita menghabiskan malam pertama di sini."


Safa manyun, memukul bahu Edzar dengan manja. Pria itu terkekeh geli mendapati raut Safa yang malu.


Edzar mulai mengarahkan ponsel ke hadapan mereka. Mengeratkan rangkulan pada punggung Safa yang terbuka. "Ayo dong, Sayang. Noleh sebentar," ucapnya ketika Safa malah menyurukan wajah di cekungan lehernya.


"Gak mau. Jelek."


"Kata siapa? Kamu seksi, tahu. Buktinya yang di bawah udah bangun lagi."


Safa bergeming, matanya berkedip. Dia baru sadar milik Edzar masih ada di dalamnya. Safa menggigit bibir berusaha tak bergerak, takut memperparah rangsangan yang akan membuat Edzar meminta lagi.


Namun apa daya, Safa tak bisa mencegah otot bawahnya untuk tidak berdenyut memijat batang Edzar, yang mana malah menimbulkan erangan lirih dari pria itu.


Edzar berbisik, "Satu ronde lagi kuat, kan?"


Safa meringis saat Edzar meremas bokongnya di bawah air. Matanya terpejam erat. Edzar betul-betul menginginkannya, lagi.


"A Uda, katanya mau balik kamar. Ayo, Safa ngantuk," kata Safa mencari alibi.


Edzar tersenyum, mengecup cuping Safa yang memerah. "Benar. Lebih baik kita lanjut di kamar. Kulit kita bisa mengkerut jika kelamaan berendam," bisiknya seraya menaikkan tangan mengelus punggung Safa yang sehalus sutera.


Safa mengerang frustasi. Bukan itu maksudnya.


"Hoaam ..." Safa pura-pura menguap, berusaha meloloskan aktingnya di hadapan Edzar yang kini sibuk membuat tanda, menambah bekas kemerahan di tubuh Safa.


"A Uda ... Safa ngantuk~" rengeknya.


"Ya sudah tidur," jawab Edzar enteng.


Safa berdecak gemas, "Gimana mau tidur kalau kita masih di sini? Lepasin itunya ..." cicit Safa. Bukan ia tak bisa melepas sendiri, tapi tangan Edzar mendekap kuat tubuhnya.


Edzar menghela nafas. Terlepas dari Safa yang enggan menambah sesi bercinta, mereka memang sudah harus keluar dari kolam. Setengah hati dia keluarkan miliknya dari kehangatan lembah sang istri yang baru saja memberinya kepuasan. Membuat Safa maupun dirinya melenguh merasakan kekosongan yang seketika menerpa.


"Padahal Uda masih mau nyusu," celetuknya tak terkira. Matanya lekat mengarah pada bukit kembar Safa dengan pucuk mencuat dan memikat.


Safa memutar bola mata, menutup buah dadanya dari pandangan Edzar yang kembali menggelap penuh hasrat.

__ADS_1


Tuh, kan. Belum juga sembuh ngilunya udah mau digempur lagi.


__ADS_2