SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 153


__ADS_3

Edzar berkedip, lalu terkekeh menggeleng kepala. "Bukan begitu, Ai. Uda hanya terkejut. Tumben sekali kamu bersikap seperti ini."


Safa menunduk, terlihat sedikit murung. "Memangnya salah Safa melakukan ini? Bukannya kita pacaran?"


Lama tak ada jawaban, sampai Safa mengira perbuatannya memang membuat Edzar terganggu. Sedetik kemudian dia merasa Edzar meraih dagunya, mengangkatnya perlahan sampai mata mereka bertemu. Keduanya saling pandang cukup dalam.


"Tidak salah, asal kamu tidak melakukannya pada pria selain Uda," ucap Edzar dengan suara halus.


Safa memukul pelan dada Edzar, "Memangnya Safa wanita apa yang mau menyentuh pria sembarangan," rengutnya tersinggung.


Edzar tersenyum manis, mengecup singkat hidung Safa. "Kalau kamu berani melakukannya, bersiaplah Uda akan kurung kamu seumur hidup."


"Dan saat itu Safa harus mengubah warna rambut menjadi emas."


"Kenapa begitu?"


"Biar seperti Rapunzel yang dikurung Nenek Sihir."


Seketika tawa Edzar pecah. Bahunya bergetar dengan mata menyipit hangat. Dia menumpukan kepalanya di atas dada Safa, sontak tubuh Safa menegang. Tiba-tiba ucapan sang bunda berlarian di kepala. Tuh, kan, otak Safa jadi kemana-mana.


"Uda jadi merasa pacaran sama anak TK." Edzar mendongak, "Uda memang merindukan masa remaja. Dan hadirmu mampu mengembalikan keceriaan. Terima kasih, Sayang." Senyum hangat tak hentinya terbit di bibir Edzar.


Terlebih saat Safa mendekatkan wajah, menyatukan kening dan hidung mereka. Tangannya langsung merangkul pinggang dan punggung gadis itu untuk merapat.


"A Uda...."


"Hm?"


"Safa kok mau cium A Uda lagi, ya?"


Edzar kembali terkekeh. "Please. I'm yours, Honey."


Dengan senang hati Edzar menerima bibir Safa, membalas pagutannya pelan tapi menggebu. Sesekali mereka tersenyum di sela-sela ciuman. Safa memeluk leher Edzar, jari-jari kakinya menekuk merasakan gelenyar yang kian menggelora merambati hatinya.


Tangan Edzar naik turun mengusap punggung Safa, membelai rambutnya pelan, mendorong kepalanya untuk memperdalam ciuman hingga Safa melenguh samar mengeratkan dekapan.


Dalam remangnya sinar rembulan, keduanya bertukar ludah, saling mencecap satu sama lain. Safa semakin terbuai, dia merapatkan tubuhnya pada Edzar, menunduk membalas belitan lidah pria itu.


"Emh..." Tanpa sadar Safa mendesah. Tubuhnya bergerak tanpa diminta.


Edzar mulai mengernyit saat Safa mengambil kedua tangannya, melepas rangkulannya dan beralih memindahkannya ke depan tubuh gadis itu.


Sontak Edzar berjengit menjauhkan wajah. Nafasnya semakin terengah ketika menyadari apa yang ia pegang. Benda bulat nan sekal yang besarnya melebihi genggaman. Edzar menelan ludah. Matanya terpaku seiring Safa menuntunnya untuk meremas kedua bukit itu.

__ADS_1


"Ah," desah Safa kecil. Pertama kali merasakan sensasi baru yang ternyata cukup menyenangkan.


"Ai?" panggil Edzar serak. Dia mendongak hanya untuk mendapati tatapan Safa yang sama sayunya seperti dirinya.


Edzar menggeleng, meminta Safa untuk berhenti.


"Ai, cukup. Ini sudah berlebihan." Sekeras mungkin Edzar menahan diri untuk tidak terbuai, meski kelembutan Safa sudah berhasil membuatnya menegang.


Bukannya menurut, Safa malah kembali mencium Edzar. Kali ini lebih tergesa hingga membuat Edzar sedikit kewalahan. Sebenarnya Edzar tengah berusaha meredam suhu tubuhnya yang kian meningkat. Edzar benar-benar dibuat tergagap, ditambah Safa yang tak juga melepas tangannya dari payu-daranya yang besar dan sekal.


Sial, dia tak menyangka ukuran Safa bisa melebihi lebar tangannya sendiri. Meski jujur Edzar kerap kali menerka-nerka penasaran, tapi dia tak berani bahkan untuk sekedar menatap lebih, apalagi menyentuh seperti sekarang.


Sedikit kasar Edzar melepas ciuman mereka. Pun tangannya ia tarik paksa dari sana. Nafas keduanya berkejaran. Edzar menatap Safa tajam, namun perlahan melembut seolah tak kuasa melakukannya.


"Sadar, Ai. Ada apa denganmu? Tidak biasanya kamu seperti ini?" tanyanya dengan nada halus.


Safa mengerucutkan bibir, berkedip polos. "Bunda bilang, pria akan suka jika wanitanya agresif."


"Lalu?"


"Katanya kita akan semakin dirindukan pasangan jika memberi apa yang mereka suka."


"Memang kamu tahu apa yang Uda suka?" tanya Edzar. Matanya menghunus Safa ke relung terdalam.


Edzar melirik sekilas, lalu kembali menatap Safa. "Memang," jawabnya datar.


Tanpa diduga tangan Safa bergerak membuka kancing piyama pasien yang dikenakannya. Edzar melihat semua itu tanpa ekspresi. Hingga saat di mana Safa hendak menyibak bajunya, barulah Edzar menahan gadis itu.


"Cukup. Sebenarnya apa yang tengah kamu lakukan?"


Safa tergagap, "K-kenapa? Bukannya A Uda bilang suka?"


Edzar menurunkan tangan Safa, kembali mengancing pakaiannya hingga rapi seperti semula. Kemudian mendongak meneliti Safa yang tengah gugup. "Katakan. Kenapa kamu mendadak bersikap seperti ini?"


"Apanya? Safa gak papa, kok. Memangnya gak boleh? A Uda gak suka? Katanya suka?" Suaranya semakin melirih di ujung kalimat.


"Uda suka. Sangat suka. Tapi, yang Uda tanya sekarang adalah apa yang mendasari kamu bersikap seperti ini?"


"Uda tahu kamu centil. Tapi tidak pernah nekat begini."


"Katakan ada apa?"


Safa merengut menundukkan kepala, sesaat tak ada jawaban hingga suasana terkesan hening.

__ADS_1


Edzar menghela nafas, sebenarnya dia sudah mengerti niatan Safa. "Kamu berniat merayu Uda supaya Uda selalu merindukanmu, begitu?"


Safa mengangguk lugu, tak berani menatap Edzar.


"Ai, asal kamu tahu, tanpa kamu melakukan semua ini pun, Uda selalu rindu kamu setiap saat."


"Kamu tidak perlu sebegininya. Kamu tahu? Apa yang kamu lakukan ini berbahaya. Bisa saja Uda lepas kendali dan menodaimu saat ini juga."


Safa diam tak bersuara. Edzar meraih jemarinya yang bertautan di atas paha, mengusapnya perlahan sambil terus menatap gadis di pangkuannya.


"Jika saja Uda egois, Uda sudah memaksakan kehendak sejak dulu. Ai, hubungan bukan hanya soal memuaskan, tapi juga saling mengerti perasaan."


"Uda mungkin masih bisa menciummu meski sebenarnya hal ini juga tidak dibenarkan. Kita belum menjadi pasangan yang halal. Tapi, setidaknya Uda berusaha menjaga kehormatanmu sebagai wanita."


"Sikapmu yang seperti ini hampir membuat Uda mengkhianati diri sendiri. Uda sudah berjanji menjagamu dari apapun, termasuk nafsu lelaki Uda yang kerap muncul saat kita berdekatan seperti sekarang."


"Jangan lakukan ini lagi, pada Uda atau siapapun. Mengerti?"


Safa mengangguk pelan, kepalanya setia menunduk menghindari tatapan Edzar.


"Tapi semua ini salah A Uda. Kenapa akhir-akhir ini sulit dihubungi? Safa kan jadi berpikir yang tidak-tidak," cicit Safa.


Edzar terdiam mendengarkan.


"Katanya cuti seminggu buat temenin Safa. Mana? A Uda bahkan seharian gak nengokin Safa sama sekali." Suara Safa terdengar serak. Matanya mulai berkaca siap menangis.


Cengeng, ejeknya dalam hati. Tapi Safa tak peduli, dia tetap ingin melepaskan unek-unek yang menyesaki dadanya sejak tadi, juga karin-kemarin saat Edzar menghilang.


"Apa A Uda lupa sama Safa? Safa tahu Safa suka nolak ciuman A Uda ... hiks. Safa kira mungkin A Uda muak karena Safa pasif dan tak berpengalaman. Makanya, Safa mau coba sesuatu yang baru supaya A Uda tidak bosan.... Hiks."


"Kata Bunda, sekali-kali kita harus agresif agar tidak dilupakan. Karena laki-laki suka dengan wanita dewasa dan menggoda, bukan seperti Safa yang kekanakan."


"Hiks." Safa melepas genggaman Edzar, menyusut air matanya yang berhamburan.


Edzar segera mencegahnya, dia mengeluarkan saputangan dari saku jaket kulit yang dikenakannya. Mengusap hati-hati pipi Safa yang basah. Sudut bibirnya terangkat mengulas senyum, "Teruskan. Keluarkan semua yang mengganjal di hatimu, Ai. Uda akan dengarkan semua. Jangan selalu menyimpannya sendiri. Hal inilah yang kerap membuatmu berpikiran buruk terhadap segala hal. Kamu larut dalam asumsi yang sebenarnya belum tentu benar."


"Cobalah untuk mengeluarkan keluh kesahmu pada orang terdekat. Seperti Bunda, Ayah, Dava, atau siapapun yang menurut kamu bisa dipercaya. Uda juga siap menampung ceritamu. Kamu harus tahu, di dunia ini kamu tidak hidup sendiri."


"Jika ada masalah, dibicarakan. Selesaikan dengan kedua belah pihak. Jangan hanya diam dan menunggu orang mengerti. Tidak semua bisa tahu perasaan kita."


"Seperti yang tengah kita lakukan sekarang. Kamu yang terbuka seperti ini membuat Uda mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan."


"Kamu tidak sendiri, Ai. Banyak orang yang menyayangimu termasuk Uda."

__ADS_1


"Dan untuk masalah Uda yang sulit dihubungi, Uda sedang menyiapkan sesuatu yang penting buat kita. Percayalah, kamu hanya perlu menunggu sebentar lagi."


__ADS_2