SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 196


__ADS_3

Ini sih bukan merah lagi matanya. Tapi bengkak. Safa membatin sembari terus menatapi Edzar. Tangannya tak berhenti menyuapkan Sop Iga ekstra Sambel ke mulut sang suami yang masih tak mau bicara.


Safa juga tak ingin bertanya. Takutnya Edzar malu karena ketahuan nangis. Lihat saja wajahnya yang sok cool itu.


Muka boleh datar. Tapi mata sama hidung ingusan. Entah itu ingus efek menangis atau karena kepedasan. Yang pasti muka Edzar kayak biasa saja gitu. Padahal dalam hati Safa tak berhenti meringis mengkhawatirkan perut suaminya. Cabai 50 butir. Apa iya gak panas dan langsung diare?


Safa menyimpan mangkuk kosong itu ke atas meja. Sop Iga nya sudah tandas. Ia meraup tisu dan melap sekitaran bibir Edzar. Tak lupa hidungnya yang basah oleh ingus. Safa ingin tertawa sebenarnya. Tapi dia coba menghargai ego Edzar sebagai pria.


Lantas ia mengangsurkan segelas susu yang sebelumnya minta dibuatkan pada Bik Yah. Mulanya Edzar menghindar. Rupanya dia tak menyukai cairan berwarna putih itu. Tapi Safa tetap memaksa untuk Edzar meminumnya.


"Minum. Ini baik buat menetralkan rasa pedas."


Mau tak mau Edzar menerimanya. Meminum hingga tandas meski tenggorokannya seakan hendak berbalik karena mual.


Safa tersenyum puas. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan perut Edzar. Semoga saja tidak terjadi apa-apa.


Mengerti dengan ketidaknyamanan yang Edzar rasakan di lidahnya, Safa langsung memberinya air putih untuk melarutkan rasa manis susu yang tidak disukai sang suami.


Kemudian ia membereskan mangkuk dan gelas kosong itu ke atas baki. Berniat membawanya kembali ke dapur. Namun sebelum itu Safa mencari remot AC. Sepertinya Edzar lupa atau malah sengaja tak menyalakannya. Ruangan ini terasa panas. Safa saja kegerahan sejak tadi. Apalagi Edzar yang habis makan pedas.


Setelah ketemu, segera ia mengatur suhunya hingga dirasa pas. Lantas ia kembali menghampiri meja hendak membawa baki. Namun saat melewati Edzar, tiba-tiba pria itu menahan lengannya.


Safa menoleh. Tatapan Edzar lurus ke depan, tak meliriknya sama sekali.


"Jangan seperti itu lagi," ucapnya yang tentu membuat Safa bingung.


Edzar mendongak. Matanya yang bengkak kini mengarah pada Safa. "Semalam. Jangan bertanya seperti itu lagi."


Safa bungkam. Ia mengerti sekarang.


"Kamu tidak tahu gimana resahnya Uda saat kamu bertanya begitu. Kamu tidak tahu sebesar apa ketakutan Uda setelah kamu berbicara soal kematian."


Edzar menelan ludah. Matanya kembali berair. Dan Safa tahu, ingus tadi bukanlah efek kepedasan, melainkan karena Edzar berusaha menahan tangis.


"A Uda ...."


"Kamu gak tahu 'kan rasanya mencintai seseorang selama belasan tahun? Kamu gak tahu rasanya mendamba satu orang yang sama. Berdiri dalam ketidakpastian harapan dan doa yang mustahil bisa dikabulkan oleh Tuhan."

__ADS_1


"Bertahun-tahun Uda dihantui bayang-bayang kamu. Uda bahkan tidak bisa membuka hati untuk wanita lain. Karena setiap Uda melakukannya, kamu datang lagi dan lagi dalam mimpi."


"Kamu gak akan tahu semenderita apa Uda bila tanpa kamu, Ai."


"Dan kamu dengan mudahnya membicarakan hal-hal buruk seperti itu. Jelas Uda jadi berpikir yang tidak-tidak. Mengenai kamu. Mengenai anak kita."


"Tolong. Jangan bicara aneh-aneh lagi. Ucapan adalah doa. Uda tidak mau mendengar lagi kamu membicarakan hal-hal seperti semalam."


"Mengerti?"


Safa mengangguk pelan. Ia menunduk merasa bersalah. Segitunya Edzar terpengaruh dengan pertanyaannya. Ia tatap mata Edzar yang masih terpaku padanya.


Dengan hati-hati, lelaki itu menarik lengan Safa hingga jatuh ke pangkuan. Sejenak Safa ragu. "A Uda, Safa berat. Apa gak papa seperti ini?"


"Seberat apapun kamu, Uda akan usahakan untuk bisa terus memangkumu seperti ini."


Safa memukul manja dada suaminya yang entah sejak kapan beralih profesi menjadi raja gombal. Kendati Safa tahu Edzar serius dengan perkataannya. Tetap saja apapun yang membuatnya merona Safa anggap itu sebagai rayuan.


Safa memajukan wajah, mencium bibir Edzar yang tebal. Memagutnya sebentar sebelum tersenyum menyatukan hidung mereka.


Edzar balas tersenyum. Mengeratkan pelukan di pinggang istrinya. "Jelas mirip Uda. Dia kan laki-laki. Kalau mirip kamu, nanti takutnya anak kita jadi anggota Boyband."


"Kok gitu?"


"Karena wajahnya akan cenderung cantik ketimbang ganteng."


"Ish." Safa kembali memukul dada suaminya. Meski sedetik kemudian ia langsung merebahkan kepalanya di sana. Merasakan getaran dari Edzar yang kini tengah tertawa ringan.


"Oh iya. Safa penasaran. Saat pertama kita bertemu, kenapa A Uda bersikap secuek itu sama Safa? Katanya udah suka dari dulu?"


Safa berkedip menunggu jawaban Edzar.


Pria itu menghela nafas sebentar. Lantas membuka suara. "Masa Uda harus bersikap sok kenal sok dekat. Sementara kamu saja belum kenal sama Uda."


Ohh ... Begitu, ya? Masuk akal, sih.


"Realistis saja," lanjut Edzar. "Lagipula, Uda ragu mendekat karena ucapan kamu sama bunda di supermarket itu. Yang kamu bilang gak sudi menikahi lelaki bekas orang. Tentu Uda merasa tidak percaya diri."

__ADS_1


"Safa masih gak inget pernah bilang gitu. Tapi ya sudahlah. Yang penting sekarang kita sudah bersama." Safa mendongak, melempar senyum sembari mengusap rahang Edzar yang dipenuhi jambang.


"A Uda belum cukuran, ya?"


"Hmm." Edzar menggumam seraya memejamkan mata. Menikmati sentuhan Safa. "Kamu lebih suka mana? Uda yang sudah cukur atau belum cukur?"


"Yang sudah cukur lah. Lebih rapi dan ganteng."


Edzar mengangguk. "Oke. Nanti Uda cukur." Kemudian ia membuka mata. "Uda mau ayam KFC. Jalan, yuk?"


Safa melotot. "Emangnya semangkok Sop Iga gak bikin kenyang, ya?" Safa melirik mangkok berisi kuah sisa Edzar makan tadi. Ukurannya lumayan bisa buat makan 5 orang.


"Entahlah. Keinginan makan Uda yang besar belum juga hilang, selain tidak lagi mual."


Karena tidak tega Safa pun mengangguk. Akhirnya setelah dzuhur mereka berangkat berburu ayam KFC. Seperti biasa, Edzar meminta baju mereka senada. Entah kenapa pria itu jadi senang beli baju-baju sepasang.


Apalagi sejak Safa hamil. Tahu saja baju-bajunya sebagian tak muat lagi.


Safa pakai midi dress cringkle yang bahannya adem. Warna hitam serasi dengan kaos Edzar. Safa juga melengkapinya dengan jaket jeans agar lebih matching dengan celana sang suami. Untuk sepatu, kemarin Edzar baru beli lagi sepasang.


Ya ampun. Kalau dipikir-pikir, sejak menikah Edzar ketularan hobi belanja. Malah Safa yang sekarang malas sekali shoping. Kok, bisa kebalik begitu, ya?


"Nanti setelah anak kita lahir, kita couple'an bertiga," celetuk Edzar memecah lamunan Safa.


Ia menoleh, lantas baru sadar akan sesuatu. Hidungnya mengendus-endus.


"A Uda pakai parfum Safa lagi, ya?"


Edzar menoleh sebentar, lalu kembali fokus dengan kemudi. "Iya," jawabnya santai.


"Kenapa gak pake punya sendiri, sih? Punya Safa jadi cepet abis."


"Uda suka wangi kamu. Ya sudah, sih. Nanti juga Uda beliin lagi."


Aarrghh ....


Bukan masalah dibeliin lagi enggaknya. Tapi Edzar jadi wangi cewek. Gak ada maskulin-maskulinnya.

__ADS_1


__ADS_2