
Klotak!
Safa melempar sesuatu ke atas meja. Lagi-lagi dia mendapati cokelat di balkon. Sudah tiga hari berturut-turut setiap ia bangun tidur pasti benda itu sudah ada di beranda kamarnya. Sebenarnya siapa yang kurang kerjaan membelikannya cokelat setiap hari? Yang pasti orang itu berniat membuat Safa gendut! Demi keamanan berat badannya Safa berikan itu semua pada Bik Inem atau Pak Iwan. Mereka punya cucu yang masih balita, jelas mereka menerimanya dengan senang hati.
Apalagi itu cokelat mahal. Safa pernah mencicip satu butir. Dari rasanya saja dia sudah tahu itu cokelat Belgia.
Sebenarnya Safa sedikit tak rela mensedekahkannya. Safa salah satu pecinta cokelat yang akut. Tapi kemarin Kamila ngamuk karena berat badannya naik, jadi mau tak mau Safa harus mengurangi konsumsi makanan yang berkalori tinggi.
Safa mencabut secarik note di atas kotak tersebut. Kembali dia dibuat menghela nafas saat membacanya. Lagi-lagi hanya dua kata. Yang ngasih pasti punya kepribadian irit ngomong.
'Semoga suka'
Safa mencibirkan bibirnya melempar kertas tersebut ke dalam laci. Terhitung sudah ada tiga yang Safa kumpulkan. Dan jika dijumlah semuanya ada enam kata.
'Selamat malam'
'Selamat menikmati'
'Semoga suka'
Cih, kata-kata yang kaku banget. Sudah jelas si pemberi gak pandai bicara. Sebenarnya Safa curiga sama satu orang, tapi jika dipikir-pikir tidak mungkin. Bukankah pria itu membencinya?
Krieet...
"Non, Tuan sudah menunggu di bawah."
"Ah, iya, Bik. Safa segera ke sana."
Bik Inem mengangguk kembali menutup pintu. Safa bergegas menyelesaikan riasannya dan berkaca sekali lagi. Sempurna. Ternyata dia memang secantik ini. Apalagi baju rancangan Faye Woo sangat nyaman dipakai. Ai, Safa jadi berasa mirip IU di drama Hotel del Luna.
Tahu, 'kan? Itu, lho, horor yang kebanyakan bikin ketawa. Tapi setting-nya keren banget. Top pokoknya.
Oke, sudah selesai. Sekarang, mari kita jalankan misi. Hoho, detektif Safa siap beraksi.
"Daddy... I'm coming...."
Safa menuruni tangga dengan percaya diri. Lantas dia memasuki ruang makan di mana ayah dan bundanya menunggu.
"Lama banget. Itu kamu dandan begitu apa gak terlalu berlebihan? Kamu mau ke kantor atau kencan? Kenapa riasan matamu cetar begitu?"
"Ke kantor, lah, Bunda. Bunda gak liat setelan formal ini? Bagus, gak? Ini rancangan desainer Korea yang terkenal itu, lho."
__ADS_1
"Hah... mau rancangan Korea, mau lokal, apa bedanya kalau otak tak digunakan? Perusahaan bukan butuh penampilanmu, tapi keterampilanmu!"
"Ai, Bunda.... Safa itu lagi menerapkan fashion psikologi. Di mana penampilan itu penting untuk dihormati. Saat orang-orang memandang kita berpakaian bagus dan bernilai tinggi, otomatis mereka akan merasa segan tanpa diminta."
"Gagasan dari mana itu?" gerutu Nyonya Halim sembari menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Tuan Halim tersenyum dan menggeleng. Perdebatan yang ia rindukan. Meski kurang satu orang yang biasanya menambah keramaian. Mengingat Dava wajahnya sedikit meredup. Kira-kira putra sulungnya itu makan apa di penjara?
Tuan Halim segera merubah ekspresinya. Ia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, tidak baik untuk suasana rumah dan keluarga. Jika satu anggota keluarga sedang tidak baik-baik saja, maka yang lain akan merasakannya. Begitulah yang biasa terjadi di rumahnya, jadi sebisa mungkin Tuan Halim harus selalu membangun energi positif sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab.
"Anak Ayah cantik sekali hari ini," ucap Tuan Halim melempar pujian. Jangan lupakan juga senyumnya yang hangat dan menenangkan.
Jujur saja Safa merasa gugup hari ini. Karena untuk pertama kali dia akan ikut ke perusahaan dengan tujuan tak biasa. Jika biasanya Safa hanya akan bermain-main menunggu Dava atau Sang Ayah, sekarang beda lagi, Safa punya tujuan lain yang mau tak mau harus berani ia lakukan.
"Tuh, Bunda, Ayah bilang Safa cantik, kok. Lagian gak usah serius-serius amat. Safa di sana, 'kan mau belajar, bukan benar-benar kerja."
Nyonya Halim hampir terjengkang dari kursinya, "Apa kamu bilang?"
"Coba, katakan sekali lagi."
"Hem? Apa?" tanya Safa polos.
"Belajar yang bener! Kalo bisa lanjut kuliah! Sudah cuman lulusan SMA, kemampuan pun di bawah rata-rata."
"Ayah gak salah narik Safa buat gantiin Dava? Bukannya menyelesaikan masalah malah akan menambah kesulitan. Anak ini terbiasa ongkang-ongkang."
"Bunda ngeremehin Safa, ya?" tanya Safa merengut.
Nyonya Halim menatap putrinya seksama, "Kamu harus bisa membedakan apa itu meremehkan dan yang berucap sesuai kenyataan."
Jleb.
Safa mencebik dengan pipi menggembung. Dibanding itu, Safa justru sulit membedakan yang mana ibu tiri dan ibu kandung. Kapan Nyonya Halim bisa bertutur halus? Oh, iya, lupa. Saat Safa sakit wanita itu berubah selembut peri. Haih, apa Safa harus terluka dulu baru bisa bermanja dengan bundanya?
.................
Safa disambut baik di perusahaan. Tuan Halim mengenalkannya pada Pak Anjas, seseorang yang akan membimbingnya selama observasi. Walau sementara, menjalani peran sebagai Wakil Direktur sebenarnya terlalu berlebihan bagi Safa yang bahkan tidak kuliah.
Aduh, bagaimana ini.
Safa ingat kata-kata Dava kemarin.
__ADS_1
"Tegakkan kepalamu, luruskan matamu, jangan sekali-kali meluruhkan bahu di hadapan orang lain. Hal itu akan menguatkan opini mereka bahwa kamu memang lemah."
Ya Tuhan, apa Safa bisa?
Kembali Safa tidak percaya diri dengan kemampuannya. Pegawai di sini sebagian lulusan luar negeri. Apa kata dunia bos mereka hanya lulusan SMA? Ya Tuhan, Safa merasa sebentar lagi dia akan mati karena gemetar.
"Silakan, Bu, ini ruangan Pak Dava."
Safa mengulum senyum kaku. Sama sekali tak terbiasa dengan panggilan 'Bu' yang barusan ia dengar.
"Jika ada sesuatu yang membuat anda tidak nyaman, tolong segera beritahu saya. Pak Dava juga bilang anda bisa merubah desain ruangan sesuka hati anda."
Safa menjerit dalam hati. Ketimbang desain yang tidak penting karena Safa hanya akan sementara di sini, ia jauh lebih gugup saat harus berhadapan dengan karyawan-karyawan Dava yang sepertinya sedikit tak menyukai kehadirannya.
Oh, jelas. Bisa dibilang Safa masuk ke sini lewat jalan belakang. Ini sangat tidak adil jika dibandingkan dengan mereka orang-orang yang bersusah-payah meniti jabatan.
Jika bukan karena sebuah misi yang Dava rencanakan, Safa benar-benar ogah berada di sini. Lingkungan di mana orang-orang serius dan munafik berkumpul dan berkerumun dengan topeng rekan kerja.
Awas saja, setelah ini Safa akan minta kompensasi pada abangnya karena telah menjerumuskannya ke lubang kesengsaraan.
Tok tok tok.
"Selamat pagi, Pak Anjas. Saya ke sini untuk menyapa Wakil Direktur baru perusahaan kita."
Seseorang tiba-tiba masuk ke ruangan Dava. Salah, untuk sementara jadi ruangan Safa. Pria necis dengan rambut klimis yang menurut Safa berlebihan. Umurnya kira-kira mendekati angka tiga puluh. Pria itu menebar senyum kelewat lebar yang sekali lihat saja Safa tahu itu dibuat-buat.
"Selamat pagi, selamat datang dan bergabung di PT. Esensi Natural, Mbak Safana Halim," ucapnya tiba-tiba sudah di depan mata.
Safa membalas uluran tangan pria itu sebagai bentuk kesopanan. Bagaimana pun, setidak suka apapun, Safa harus menjaga tata krama sebagai putri keluarga Halim.
"Ternyata anda memang secantik yang dirumorkan."
Cup.
Safa melotot saat dengan kurang ajar pria itu mencium punggung tangannya. Bukankah itu tidak sopan?
Refleks Safa menarik tangannya sedikit kasar. Benar-benar menjijikan. Kesan pertama saja sudah buruk.
Melihat wajahnya yang keruh, Pak Anjas mendekat dan berbisik di samping telinganya.
"Bima Laksana, dia Manajer Keuangan perusahaan."
__ADS_1