SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 110


__ADS_3

Pak Anjas....


Tok tok tok.


Safa tergemap dari lamunan. Ketukan pintu membuatnya buru-buru membenarkan duduk. "Masuk!" sahutnya sedikit keras.


Orang yang baru Safa pikirkan kini berdiri di hadapannya. Pak Anjas mengangguk santun seperti biasa. "Anda memanggil saya?" tanyanya dengan suara halus.


"Benar. Saya mau tanya soal influencer, apa sudah dapat?"


"Katanya sudah ada beberapa yang dipilih. Tinggal menunggu persetujuan."


Safa mengangguk, "Begitu."


"Baiklah. Besok kita lakukan meeting untuk itu. Kebetulan Ayah-"


"Pak Dirut sudah sampai di Jakarta esok hari," lanjut Safa meralat ucapannya.


"Saya mengerti. Ada lagi yang perlu disampaikan?"


"Tidak. Anda bisa keluar."


Pak Anjas mengangguk, "Baik. Saya permisi." Pria itu berbalik.


"Pak Anjas?"


"Iya, anda perlu sesuatu?"


Safa membuka dan menutup mulutnya seperti hendak bicara. Dia sendiri bingung kenapa memanggil Pak Anjas lagi. Gadis itu meringis, "Emm.... Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum. "Terima kasih atas kerjasamanya selama ini."


Meski bingung mengapa Safa mengucapkan itu, Pak Anjas tetap membalasnya dengan santun. "Sama-sama, Nona." Kemudian dia pergi, menyisakan Safa yang termenung di kursi kerjanya.


Apa mungkin orang beradab seperti itu bisa menipunya?


Safa ingat pertemuannya dengan Bima kemarin. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu mengenai sekretaris abangnya.


Bima bilang jika dia ingin menemukan sesuatu maka mulailah dari Pak Anjas. Safa masih ragu. Bisa saja Bima mengatakan itu untuk melindungi dirinya sendiri dari pihak tertuduh.


Tapi... Safa juga sulit untuk tidak memikirkan ucapan laki-laki itu.


"Siang, Bu."


Safa mengangguk menanggapi sapaan dari salah satu karyawan. "Siang," balasnya dengan senyuman.

__ADS_1


Saat ini Safa sedang melihat pengambilan foto produk untuk banner online. Ada tim khusus sendiri untuk itu. Dia juga memperhatikan cara si fotografer mengambil angle, sepertinya Safa patut mencoba untuk beberapa endorse-nya.


Langkahnya beralih ke tempat lain. Melihat ruangan beberapa divisi lalu berjalan lagi menelusuri space yang belum dia ketahui di perusahaan ini. Salah satunya gudang penyimpanan produk yang terletak di bangunan terpisah.


Jauhkan pikiran kalian dari gudang yang kotor dan bau. Kebersihan di sini sangat terjaga. Bisa dibilang tempat ini paling penting, keadaannya pun selalu steril.


Safa melihat aktifitas para pekerja yang keluar masuk membawa barang. Ada sekitar lima mobil besar terparkir di halaman gudang. Semuanya dikirim dari pabrik yang berlokasi di bagian lain Jakarta.


Beberapa dari mereka terkejut melihat Safa. Tak heran karena keberadaannya begitu mencolok. Safa meringis, padahal dia sudah berusaha untuk tidak menarik perhatian. Mungkin ini nasib orang cantik dengan pesona yang tinggi. Di mana pun dia berada orang-orang akan menatapnya.


"Santai saja. Saya hanya ingin menonton, bukan meninjau atau mengawasi pekerjaan kalian. Silakan dilanjut."


Para pria itu mengangguk canggung. Ini pertama kali mereka melihat penampakan bos baru yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan. Ternyata rumor dia cantik memang benar. Tidak berlebihan menyebutnya seperti artis Korea. Benar-benar segar dipandang mata.


Safa menyaksikan semua kegiatan itu dengan sorot tertarik. Ternyata mengetahui hal-hal baru cukup menyenangkan. Safa jadi ingin melihat lebih ke bagian dalam gudang.


"Nona."


Tapi, suara familiar dari arah belakang menghentikan niatnya.


Safa menoleh. Pak Anjas berdiri dengan wajah hangat dan tenang khasnya. Safa pernah bilang lelaki itu mirip butler kerajaan, kan? Sikapnya yang santun dan hati-hati seringkali membuat Safa malu pada diri sendiri.


Hey, Pak Anjas ini usianya lebih tua, bagaimana mungkin Safa nyaman diperlakukan seperti itu. Pak Iwan saja tidak sebegininya. Jujur dia lebih nyaman dengan yang bersikap santai.


"Ada apa, Pak Anjas?" tanya Safa pada pria itu.


"Ada beberapa investor yang ingin bertemu."


Safa terdiam sebentar. Keningnya sedikit mengerut saat berpikir. "Mendadak begini?"


"Benar. Apa anda keberatan menemui mereka? Kalau iya, saya bisa katakan alasan yang sesuai. Dan mungkin mereka akan kembali besok saat Pak Direktur ada di sini."


"Eh, tidak perlu. Saya akan temui mereka."


Pak Anjas menatapnya ragu. Safa pun tersenyum meyakinkan. "Pak Anjas tenang saja. Saya bisa menghadapi mereka. Saya tidak bisa membiarkan perusahaan terus-menerus kehilangan investor."


Setelah mengatakan itu Safa langsung bergegas kembali ke gedung utama. Diikuti Pak Anjas yang menunjukkan jalan menuju ruangan tempat para investor itu menunggu.


Sepanjang langkahnya Safa gunakan untuk meredam rasa gugup yang tiap detiknya kian menggunung. Safa nervous bukan main. Sebenarnya dia takut, tapi tidak mungkin juga kalau dia diam saja.


"Sebentar, Pak Anjas. Saya mau ke toilet dulu. Bisakah?"


"Tentu, Nona. Mau saya tunggu di dalam atau di luar?" tanya Pak Anjas begitu mereka sampai di depan ruangan yang dituju.

__ADS_1


"Pak Anjas masuk duluan saja, gak papa. Nanti saya nyusul."


"Baik."


Laki-laki itu pun masuk, sementara Safa berbelok arah, sama sekali tidak ke toilet seperti yang dia bilang. Safa memasuki ruang kerjanya dengan terburu-buru. Tangannya segera menggeledah tas mencari-cari sesuatu.


Safa menggenggam botol kecil itu di tangannya. Sesuatu yang dia cari barusan. Haruskah dia meminumnya lagi? Tapi, Safa tidak akan bisa tenang kalau tidak meminumnya.


Baiklah. Satu sampai dua butir saja tidak akan jadi masalah, kan?


................


"Kami tetap ingin menarik diri sebagai investor. Nama perusahaan ini sudah buruk. Apa lagi yang bisa kami dapatkan?"


Safa meremas tangannya di pangkuan, berusaha tetap tenang meski hati sangat ketakutan.


"Begini, Pak. Untuk masalah mantan Wakil Direktur kami, tidak ada kaitannya sama sekali dengan perusahaan. Apa yang dilakukannya tidak berhubungan dengan PT kami. Kegiatan internal di sini juga masih berjalan baik. Anda semua tidak perlu khawatir. Mohon dipikirkan kembali."


"Tidak bisa. Kami sudah memutuskan untuk tidak lagi menjadi investor kalian. Wakil pimpinannya saja seperti itu, bagaimana yang lainnya?"


"Dia seberani itu mengkorupsi uang negara, tidak ada yang tahu dia mungkin memakan uang perusahaan juga."


"Orang tidak bertanggung jawab dan serakah," timpal yang lainnya.


Rasa tak senang muncul ketika orang-orang itu mulai membahas Dava. Bisa-bisanya mereka melupakan kebaikan seseorang karena satu kesalahan, itupun bukan benar-benar kesalahan karena bukan Dava yang salah. Kakaknya dijebak, ingin sekali Safa meneriakkan itu.


"Itu tidak benar. Keuangan perusahaan kami aman. Dan akan tetap begitu sampai kalian tidak menarik dana."


Tapi untuk sekarang Safa harus puas dengan hanya menahan diri. Safa tidak bisa blak-blakan meluapkan perasaan seperti biasa. Ini bukan waktunya bersikap kekanakan.


"Bukankah selama ini tidak pernah ada masalah dengan keuntungan? Target penjualan kami tetap berjalan lancar, permintaan pasar terhadap produk kami juga aman, kami masih menyuplai dengan jumlah besar ke beberapa tempat di dalam maupun luar negeri. Apa ini masih tidak menguntungkan bagi kalian?"


"Jikapun benar Wakil Direktur kami melakukan kecurangan, dia sama sekali tidak menyentuh perusahaan. Kesalahannya murni ditanggung pribadi. Dia bukan tipe yang akan melibatkan orang lain jika bersalah."


"Sampai sini anda semua paham? Kasus korupsi itu sama sekali tidak berhubungan dengan PT. Esensi Natural," tegas Safa.


Sesaat suasana menjadi hening. Para pria berjas itu saling lirik satu sama lain. Safa tidak bisa berharap lebih dengan kemampuan bicara yang seperti itu. Safa tidak memiliki pengalaman sama sekali, jadi dia hanya bisa berdo'a semoga mereka menahan niatnya untuk menarik dana. Setidaknya sampai Tuan Halim kembali, dan Safa berharap ayahnya itu bisa mengatasi semua ini.


Safa melirik Pak Anjas di sampingnya. Pria itu sudah banyak bicara di awal. Safa sangat berterima kasih karena merasa terbantu. Tapi, lagi-lagi perkataan Bima melintas di kepalanya. Si Playboy itu benar-benar berhasil mendoktrin otaknya.


Hah....


"Saya setuju," ucap seseorang tiba-tiba mengalihkan semua atensi.

__ADS_1


Termasuk Safa tentu saja.


__ADS_2