SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 147


__ADS_3

Prang!


"Aaarggh...."


Seseorang memecahkan kaca, sejurus kemudian tubuh si pengemudi taksi terhempas ke belakang, membentur pintu saat orang itu menariknya hingga kepalanya melewati jendela dengan pinggiran tajam sisa pecahan.


"Aaargh!!" Lagi-lagi pria itu menjerit ketika tubuhnya ditarik paksa keluar.


Serpihan rancung kaca mobil menggores kulitnya dengan kejam, terhempas di atas aspal kala orang itu membanting tubuhnya tanpa perasaan.


Tidak ada sedetik wajahnya langsung menerima pukulan bertubi-tubi. Tenaga yang tidak main-main, hantaman pertama rahangnya sudah terasa bergeser.


Buk!


Buk!


Buk!


Tidak hanya wajah, dadanya juga turut kena tinju menyakitkan.


Buk!


"Uhuk!"


"Berani sekali kau menyentuhnya." Geraman rendah terdengar seiring pukulan yang tak berhenti, sesekali tangan itu membentur-benturkan kepala si pengemudi ke atas aspal.


Ia tampak kalap, amarahnya tak tertahankan. Sampai saat kemudian gemuruh langkah kaki terdengar mendekat. Seseorang berseru keras dari belakang.


"Edzar! Sadar, Nak!" Seorang pria paruh baya merangkul dada bidangnya dari balik pungkur, berusaha memisahkan pergumulan sepihak itu.


Tubuh Edzar ditarik paksa oleh beberapa orang. Pria itu memberontak tak terima. Terutama saat melihat si korban masih sadarkan diri meski keadaannya tak berdaya.


Seketika Edzar meraung marah. Nafasnya terengah dengan mata menghunus tajam. Amarah besar menyala dalam netranya yang kelam. Edzar menghempas rangkulan orang-orang itu dengan mudah, lantas dia kembali melesat meraup onggokan tubuh tak berdaya dan hendak memukulinya lagi.


"Edzar cukup! Jangan membuat masalah lagi! Cukup kaki Galuh yang kamu patahkan. Kamu jangan bunuh orang! Ini akan mencoreng instansi hukum kejaksaan!"


Namun Edzar seolah tuli.

__ADS_1


"Kekasihmu jauh lebih membutuhkanmu!"


Seketika gerakannya terhenti. Tangannya yang mengepal menggantung di udara. Kesadaran seolah menghantam kuat pikirannya. Nafas Edzar terdengar berkejaran. Giginya bergemeretak begitu rahangnya mengatup kuat.


"Paman tahu kamu marah. Tapi jangan sampai kemarahan membuatmu celaka. Setidaknya pikirkan Safa. Bukankah kamu ingin bersamanya?"


Tubuh Edzar melemas. Dia terduduk di aspal dengan nafas tak karuan. Pria itu mengusap wajahnya kasar, berusaha mengembalikan kerasionalan yang sempat menghilang.


"Pergilah, biar paman dan yang lain urus pria ini. Gadismu tidak mau didekati siapapun."


Edzar mendongak, kemudian melarikan tatapan pada mobil tak jauh dari mereka. Beberapa orang berkerumun di sana, termasuk Tuan Halim yang berusaha keras mencari cara mendekati putrinya.


Edzar bangkit, berjalan pelan menghampiri mobil itu yang lantas membuat mereka menyingkir. Sesaat dia mematung menatap ke dalam. Safa meringkuk memeluk lututnya dengan wajah terbenam. Penampilannya acak-acakan. Yang Edzar syukuri, pakaian gadis itu masih utuh meski tampak kusut dan hampir robek di beberapa bagian.


Dengan hati-hati dia memanjat naik. Bisa Edzar lihat respon Safa yang waspada. Pemandangan ini sungguh menyakitkan baginya. Rasanya Edzar ingin memukul dirinya sendiri. Karena sepertinya dia ikut andil dalam masalah ini.


"Ai?" panggilnya pelan, setengah berbisik.


"Ini Uda."


"Ini Uda, Sayang."


Safa masih tak bergeming. Edzar tak menyerah. Perlahan dan penuh kehati-hatian, Edzar meraih jemari Safa yang tengah memeluk lutut. Sejenak gadis itu tampak menegang. Namun lambat-laun melemas saat Edzar mengelusnya penuh perasaan.


"Sayang? Ini Uda."


"Jangan takut."


"Jangan takut. Uda gak akan apa-apain kamu."


Tanpa diduga, kepala Safa mendongak, sedikit mengintip dari balik lututnya yang menjadi sandaran. Lalu sedetik kemudian gadis itu menghambur memeluk Edzar. Meraung dengan tubuh gemetar di pangkuan lelaki itu.


Beberapa orang di luar sana menghela nafas lega. Setidaknya reaksi Safa tak semengkhawatirkan bayangan mereka, meski mungkin gadis itu akan sedikit mengalami trauma. Tapi sepertinya tidak terlalu parah, buktinya Safa masih mau memeluk Edzar yang notabene merupakan lawan jenis.


Edzar membalas pelukan Safa tak kalah erat. Dikecupnya berkali-kali rambut gadisnya yang berantakan. Jantungnya seolah dihantam godam merasakan tubuh Safa yang menggigil.


Tangannya terangkat mengusap-usap punggung Safa. Tangisan keras gadis itu terdengar memilukan. Edzar menelan ludah saat matanya sedikit membayang dan buram. Lantas dia membenamkan wajahnya di bahu Safa.

__ADS_1


Sementara di luar sana orang tampak sibuk mengurus si pengemudi yang sepertinya tengah sekarat. Edzar tak peduli, meski polisi akan memintainya keterangan nanti. Setidaknya dia tidak menyesal membuat pria itu babak belur. Bahkan, Edzar belum merasa puas karena menurutnya sebuah pukulan terlalu ringan untuk ukuran laki-laki berengsek sepertinya.


Diam-diam dia memikirkan cara agar pria itu mendapat hukuman paling berat. Edzar pastikan lelaki itu tidak akan bisa melihat dunia dengan tenang.


Dikecupnya kembali kepala Safa dari samping. Tubuhnya memberat, sepertinya gadis itu tertidur karena bahunya pun sudah berhenti bergetar. Hanya sesekali terseguk efek dari menangis panjang.


Dengan hati-hati Edzar bergeser ke arah pintu. Perlahan dia turun dari mobil dengan Safa di gendongannya. Edzar memangkunya di depan seperti anak kecil.


Hal itu membuat beberapa orang yang sejak tadi menunggu sontak mendekat. Edzar memberi isyarat untuk semuanya diam.


Tuan Halim mengusap matanya yang basah dan merah. Terlihat sekali pria itu habis menangis.


"Putriku...."


"Lebih baik kita segera bawa ke rumah sakit untuk divisum. Kemungkinan besar ini bisa menjadi bukti yang akan memberatkan si pelaku."


Edzar menyetujui usulan pamannya. Pun yang lainnya ikut mengangguk, terutama Tuan Halim yang sepertinya masih belum pulih dari syok-nya.


Edzar menghampiri pria itu setelah meletakkan Safa di mobilnya dan memastikan gadis itu merasa nyaman dalam tidurnya. Dia peluk ayah dari gadisnya untuk menguatkan, "Semuanya akan baik-baik saja. Saya janji bajingan itu mendapat hukuman yang setimpal."


Tuan Halim malah semakin tergugu. Dia mengangguk-angguk dalam rangkulan Edzar. "Saya percayakan semua ini sama kamu. Tolong jangan kecewakan saya."


"Tentu."


Selepas itu Safa dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, juga pemeriksaan secara menyeluruh. Edzar tak bisa menahan geram melihat beberapa ruam biru menghiasi tubuhnya. Dia menghela nafas kala emosi itu mulai kembali ke permukaan.


Kepalanya menggeleng. Ini bukan waktunya dia marah. Edzar harus memastikan Safa baik-baik saja, secara fisik maupun mental. Setidaknya ia harap kejadian ini tak memperburuk keadaan gadis itu.


Ya, Edzar sudah tahu. Mengenai Safa yang punya trauma dan ketergantungan obat penenang. Alasan gadis itu minim kepercayaan bahkan terhadap dirinya sendiri. Selalu berasumsi dan tidak mempercayai siapapun.


Sekilas memang Safa terlihat normal seperti gadis biasanya. Tapi satu hal yang membuat Edzar menyadari keganjilan dalam diri gadis itu. Safa selalu bereaksi terhadap beberapa kata yang didengarnya. Terutama kata bodoh, tak berguna, atau kalimat-kalimat berupa ejekan yang sebenarnya bukan ditujukan untuknya.


Dari sanalah Edzar mulai menelusuri, dan tahu bahwa Safa dulu pernah dibully. Parahnya gadis itu mendapat perundungan saat masa kanak-kanak.


Edzar tidak menyangka, gadis yang dia kira sempurna ternyata menyimpan luka menganga. Hebatnya lagi Safa bisa menyembunyikan semua itu dengan topeng riangnya. Mengetahui ini entah kenapa hati Edzar terasa sakit. Membayangkan sulitnya gadis itu beradaptasi, berbaur dengan teman-teman sekolahnya meski kemungkinan menyimpan rasa takut dan tak percaya diri.


Dan Edzar berharap, kejadian ini tidak memperparah kondisi mentalnya. Edzar semakin yakin dengan rencananya untuk bisa melindungi gadis itu seutuhnya.

__ADS_1


Semoga setelah ini tidak akan ada lagi yang menghalangi niatku. Batin Edzar.


__ADS_2