SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 14


__ADS_3

Suasana yang sunyi membuat bunyi cecapan itu terdengar nyaring. Safa tersenyum menyambut gempuran Edzar di bibirnya. Aroma mint dari mulut Edzar membawa rasa segar untuk Safa yang tengah kehausan. Safa baru tahu ternyata ciuman seenak ini.


Tapi tunggu. Ada yang aneh. Kenapa kaki Safa terasa geli? Ada sesuatu yang menggelitiknya di bawah sana. Merasa terganggu, Safa menendang benda apapun itu yang menggeleser betisnya.


Baru sedetik bulu lembut itu kembali menempeli kaki Safa. Kesal, Safa membuka mata menghentikan ciuman Edzar.


Namun apa yang terjadi? Kenapa lampunya terang? Bukankah dia berada di mobil Edzar? Apa pula ranjang empuk yang didudukinya sekarang?


Tolong jelaskan. Di mana Edzar?


Safa celingukan menatap sekitar. Campuran warna biru muda dan putih, sudah jelas ini adalah kamarnya. Safa menggaruk tengkuknya bingung. Apa yang tadi itu mimpi?


Tangannya terangkat menyentuh bibir. Biasa saja, enggak ada sensasi apa pun yang tertinggal. Sial, berarti benar hanya bunga tidur.


Safa merengut membanting punggungnya ke kasur. Namun kemudian dia kembali bangkit saat mengingat sesuatu. Safa menyibak selimut tebal biru muda yang membungkus kakinya. Tubuhnya mematung, matanya berkedip pelan memastikan apa yang dilihatnya.


Bahkan safa sampai mengucek mata takut-takut dia belum keluar dari alam mimpi. Namun makhluk berwarna putih itu masih bertahan dalam penglihatannya.


Hewan kecil itu mendongak, matanya berkedip menatap Safa yang terdiam berusaha mencerna keadaan. Belum habis rasa terkejutnya hewan berbulu itu bersuara pelan, “Meow ...”


Saat itulah Safa tersadar dan berteriak, “Bik Inem ...! Ini meong siapa ...?”


\=\=\=


Pagi itu, Safa tak berhenti merengut dan merajuk. Dia sudah mendapat jawaban mengenai asal muasal kucing putih itu. Tadi pagi Safa mendapat chat dari Dava, sepertinya itu dikirim semalam.


Dava mengatakan kucing itu milik temannya, dan dititip sementara di rumah mereka.


Belum selesai rasa kesalnya pada mimpi tadi, kini bertambah satu lagi seekor makhluk yang jadi sumber masalah. Mood Safa benar-benar hancur. Ingin sekali dia mencolok mata biru kucing itu. Mending kalau lucu, lah ini kebalikannya. Safa jadi bertanya-tanya kenapa teman abangnya memelihara hewan jutek dan sombong yang wajahnya selalu merengut galak.


Kenapa tidak beli kucing yang imut, lucu, menggemaskan? Kenapa harus kucing gondrong berwajah datar itu. Safa menoleh pada sofa di sampingnya. Bibirnya mencebik bermaksud mencibir si kucing yang duduk tegak menonton TV.

__ADS_1


Ya, kalian tidak salah dengar. Kucing sombong itu memang tengah memandang layar datar di hadapannya. Kayak ngerti aja, pikir Safa.


Mereka saat ini berada di ruang tengah. Jangan pikir Safa yang mengajaknya ke sini. Kucing itu berjalan sendiri mengikutinya bahkan kemanapun Safa bergerak. Safa yang lelah membiarkan saja.


Dasar kucing gak ada akhlak. Sudah dimandiin, dikasih makan, tetap saja rautnya judes minta ditabok. Memang bukan Safa yang memandikan, tapi Bik Inem. Namun tetap saja, gara-gara si meong Safa gagal bertemu Edzar pagi ini.


Ngomong-ngomong Edzar, Safa teringat kejadian sebenarnya tadi malam. Dan hal itu yang paling membuat Safa kesal setengah mati, karena setelah melambung tinggi dia dijatuhkan dari alam mimpi.


Flashback


“Mas Edzar mau minum juga?” Safa inisiatif menyodorkan botol yang masih terbuka pada Edzar.


Siapa tau Edzar hilaf. Bukankah minum dari tempat yang sama termasuk ciuman tak langsung?


Naasnya, Safa gagal antisipasi saat mobil mengalami lonjakan karena menginjak polisi tidur, alhasil isi dalam botol itu tumpah mengenai Edzar.


Safa yang kaget langsung terbengong, begitu pula Edzar yang sedikit tersentak, tapi beruntung reflek pria itu bagus, mobilnya tetap berjalan tanpa hambatan. Malah Safa yang panik mengambil tisu berniat mengusap celana Edzar yang basah karena ulahnya. Tapi Edzar segera mencegah,


Safa masih bertahan dengan wajah bersalahnya. Bisa-bisanya dia ceroboh di saat yang tidak tepat, padahal ini adalah kesempatan untuk membangun citra baik di hadapan Edzar.


Bunda ... Safa mau nangis, hua ...


Kira-kira apa yang dipikirkan Pak Jaksa ganteng itu setelah ini. Apa dia akan mem-blacklist Safa dari daftar perempuan yang mendekatinya?


Oh, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Pokoknya Safa harus mengunci kecerobohannya jika ada Edzar. Bagaimana pun caranya.


Seperti kata Edzar, sekitar lima menit kemudian mereka sampai di depan rumah Safa. Karena ini hampir tengah malam juga jadi jalanan sudah lengang.


Safa menggigit bibirnya gugup, dia masih kepikiran kejadian tadi yang membuatnya malu setengah mati. Safa bukannya tak tahu, area basah itu tepat di sekitar daerah sensitif Edzar. Makanya lelaki itu mencegah tangan Safa tadi.


Dasar bodoh, kalau Safa sampai menyentuh Edzar saat itu, tamatlah riwayatnya.

__ADS_1


Safa tidak tahu apa yang ada di balik wajah datar dan tenang itu. Bukankah pepatah mengatakan air yang tenang lebih membahayakan?


Siapa tahu dalam hati Edzar memendam kekesalan yang besar padanya ‘kan?


Ting!


Satu pesan masuk menarik perhatian Safa. Memecahnya dari lamunan semalam. Safa membuka pop up dari Dava yang muncul di notifikasi.


Davandra Halim : Dek, jagain tuh kucing. Kasih makan. Awas kalo sampe dia kelaperan, Abang gak akan kasih kamu uang jajan selama setahun!


“Dava nyebelin ...!”


“Meow?” Kucing putih itu menatap Safa aneh.


“Apa kamu? Mau dicemplungin ke kolam, iya? Oh, boleh. Lagian di sana banyak ikannya, kamu akan kenyang kalo berenang di sana. Sembari menyelam makan ikan. Bukankah ide bagus?”


Safa beranjak sambil menghentak kaki. Dava sialan. Abangnya itu selalu saja bikin masalah. Membuat Safa kesal dan mengganggu ketenangannya.


Pria itu pasti sengaja. Dia tahu Safa tak suka hewan. Menurut Safa mereka itu sangat mengganggu. Ditambah Safa memang malas merawatnya. Bisa-bisanya Dava menitipkan kucing di rumah mereka. Memangnya ini tempat penitipan?


Safa berjalan ke lantai atas. Biar saja si Meong sama Bik Inem. Atau malah sendirian juga bodo amat. Idih, enak saja seharian Safa harus jagain itu kucing. Sudah gitu kucingnya arogan. Mending Safa nonton saja di kamar.


Kebetulan laptop-nya sudah selesai diservis. Safa sudah bisa kembali beraktivitas normal. Aktivitas normal Safa ya drakoran.


Bisalah sekalian ngintipin rumah Pak Jaksa dari jendela. Jujur saja, Safa masih malu dengan kejadian semalam. Tapi, diam juga tidak dibenarkan. Bisa-bisa Pak Jaksa langsung digaet orang.


"Meow ...."


Safa memutar mata. Ia menunduk menatap tubuh gempal si Meong yang berjalan begitu saja melewatinya.


Wah, benar-benar ini kucing. Lihat wajahnya yang seolah tanpa dosa itu.

__ADS_1


"Meng, kamu pilih ditabok atau dilelepin?"


__ADS_2