SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 71


__ADS_3

Safa tertidur dengan pulasnya. Dia kelelahan. Setelah makan dan minum air jahe, tubuhnya tak lagi kuat untuk tetap terjaga.


Kamila menyelimutinya dengan pelan, sesekali tangannya mengecek suhu tubuh Safa untuk memastikan. Dia takut Safa tiba-tiba demam, gadis itu sangat rentan terhadap cuaca.


Tapi syukurlah, belum ada tanda-tanda Safa meriang saat ini. Kamila juga menyalakan penghangat ruangan untuk berjaga-jaga. Setelah itu dia keluar dan membawa buku-buku tugasnya ke ruang tengah.


Rumahnya sepi, tidak ada siapapun selain dirinya dan Safa. Orang tuanya tengah pulang ke Jogja, menengok Oma-nya yang katanya sedang sakit. Kamila tidak ikut karena dia tak bisa meninggalkan kuliahnya. Padahal Kamila juga rindu sang Oma dan ingin mengetahui keadaannya secara langsung.


Tapi ya sudah lah. Toh, Mama dan Papanya juga kerap memberi kabar.


Saat sedang fokus mengerjakan tugas, tiba-tiba sebuah getar ponsel menyita perhatiannya. Kamila mencari-cari asal suara, ternyata dari tas Safa yang dia gantung di stand hanger.


Kamila bangkit dari duduknya, merogoh isi tas Safa dan mengambil telpon genggam itu.


Ternyata Abang Safa yang menelpon.


"Halo, Bang Dava?"


"Halo. Lho, kok kamu yang angkat, Mil? Safa mana? Dia sama kamu? Saya khawatir karena Bik Inem bilang dia pergi sejak siang, dan sampai sekarang belum pulang. Mana di luar hujan gak berhenti-berhenti. Takutnya kenapa-napa. Anginnya kenceng banget, banyak pohon tumbang. Jadi, Safa lagi sama kamu?"


Kamila mematung mendengar pernyataan Dava. Safa pergi sejak siang. Kemana dia? Perginya sama siapa? Dan yang paling penting, apa alasan yang membuat Safa pulang dengan keadaan mengenaskan. Aduh... Kamila jadi berpikir yang tidak-tidak.


"Halo, Mil?"


Kamila tersentak, "Eh, iya. Safa di rumah aku, Bang. Kita tadi abis jalan-jalan bareng, hehe. Biasalah cewek. Dan sekarang Safa nya lagi tidur, Bang."


"Tidur?" Dava bertanya heran. "Tumben? Biasanya dia tidur di atas jam sembilan."


Kamila menggaruk tengkuknya sambil meringis, "Hehe, kayaknya kelelahan, Bang."


Aduh, dosa gak sih bohong gini? Dia kan bingung. Mau jujur, takut jadi masalah buat Safa. Gak jujur, malah dia sendiri yang merasa bersalah.


"Gitu? Ya sudah, gak pa-pa. Bilang sama dia, besok saya jemput, ya?"


"Oke, Bang. Nanti Mila sampein."


"Hem, selamat malam."

__ADS_1


"Selamat malam, Bang."


Tut.


"Huuhh...." Kamila menghembuskan nafas lega sembari tangannya mengusap dada.


Bohong itu ternyata berat, ya.


................


Pagi harinya, Kamila dibuat panik oleh suhu tubuh Safa yang meningkat. Ini pasti karena hujan-hujanan kemarin. Duh, gimana, dong? Apa yang harus Kamila bilang sama abangnya Safa?


"Aduh, Safa.... kenapa mesti ujan-ujanan, sih? Udah tau badan gak kuat, malah nekat menerjang badai. Kamu bukan manusia super, imun kamu gak sekuat kuda. Lagian kamu tuh abis dari mana? Orang rumah pada nanyain semalam." Kamila menggerutu kesal sekaligus khawatir.


Badan Safa sangat panas. Gadis itu bahkan gak bisa bangun dari tempat tidur.


Safa menatap Kamila dengan sayu, "Terus kamu bilang apa?" tanyanya lemah.


Sebenarnya dia agak khawatir Kamila membeberkan keadaannya kemarin. Tapi syukurlah, jawaban Kamila selanjutnya membuat dia lega.


"Aku bilang aja kita abis jalan-jalan. Terus, kamu kelelahan dan tidur cepat. Gitu. Syukurlah, kayaknya Bang Dava percaya."


Safa menggigit bibirnya menahan tangis. Dia teringat kembali penolakan Edzar yang menyakitkan. Safa gak mau pulang karena takut bertemu muka dengan pria itu. Safa belum siap. Kata-kata Edzar yang merendahkan membuat Safa tak tahan.


"Sebenarnya aku penasaran apa yang menimpamu kemarin. Tapi, aku ngerti saat ini kamu pasti belum siap. Nanti setelah kamu sembuh, aku akan paksa kamu buat cerita!" tekat Kamila.


Tin tin!


"Ah, itu pasti Bang Dava. Bentar, ya."


Safa berkerut, "Abang aku?"


Kamila memutar matanya malas, "Ya abang siapa lagi, Jamilah ... kita gak ada urusan sama Dava yang lain selain Davandra Halim, abang kamu."


"Maksud aku, ngapain dia ke sini?"


"Ya mau jemput kamu lah, mau apa lagi?"

__ADS_1


"Emang aku minta dijemput?"


"Aduh, banyak tanya ya kamu. Aku gak tau, pokoknya itu abang kamu mau jemput karena dari kemarin dia tuh khawatir banget nyariin kamu yang susah dihubungi."


"Dahlah, Syahrini capek. Mending ke depan liat muka segernya Bang Dava. Yuhuu... Reino Barack, i'm coming....."


Safa berkedip lemah. Sejak kapan abangnya jadi mirip Reino Barack?


...............


"Kita ke rumah sakit dulu, ya?" usul Dava saat memasangkan sabuk pengaman untuk Safa.


"Tapi abang kan harus kerja...." lirih Safa.


"Gak pa-pa. Abang bisa cuti hari ini. Yang penting kamu berobat dulu. Lagian kenapa bisa demam gini, sih? Kamu hujan-hujanan?"


"Sedikit."


"Ck, jangan diulangi. Hari ini abang lagi baik gak marahin kamu."


Safa mengangguk saja. Dava menutup pintu mobilnya dan menghampiri Kamila sebentar. Mungkin berpamitan. Setelah itu mereka meluncur, siap untuk berjibaku dengan kemacetan.


Kamila berbalik hendak memasuki rumah, dia mau mandi, pagi ini ada jadwal kuliah. Tapi, sebelum itu matanya menangkap keberadaan Pak Akbar, tetangga depan rumahnya yang merupakan guru SMA.


"Assalamualaikum... pagi, Pak Akbar. Mau berangkat, Pak?" teriak Kamila.


"Waalaikumussalam... iya, Mil. Kamu gak kuliah?"


"Ini baru mau siap-siap."


"Mobil barunya gak dipake, Pak?"


Pak Akbar yang sedang melap-melap mobilnya mengernyit, "Mobil baru? Mobil baru siapa? Saya gak ada beli mobil baru?"


"Lha, iya ta? Terus kemarin mobil siapa, ya? Saya kira Fortuner itu punya Pak Akbar. Soalnya parkir depan rumah Bapak sih, hehe." Kamila menggaruk lehernya malu.


"Orang lewat kali. Garasi saya mana cukup untuk menampung 2 mobil. Motor aja harus nyempil di ruang tamu."

__ADS_1


"Hehe, gitu, ya? Ya udah deh, Pak. Saya masuk, ya, Pak. Mau siap-siap. Assalamualaikum...."


"Waalaikumussalam...." Pak Akbar menggeleng-geleng kepala. "Mobil baru dari mana? Untuk sekolah anak-anak saja masih keteteran," gumamnya kembali melap mobil yang tengah dipanaskan.


__ADS_2