SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 75


__ADS_3

"Apa yang kudengar ini, Roy? Kamu yakin gadis itu kekasihnya?"


Pria bernama Roy itu terdiam dengan kening berkerut. Rautnya terlihat tengah berpikir keras. Mereka baru saja mendengarkan percakapan Edzar dengan seorang wanita di ruangannya.


"Bagaimana bisa kamu menyampaikan informasi yang salah seperti ini?" Wajah sang atasan masam ketika bertanya.


"Pak, saya melihat sendiri mereka berciuman-"


"Bukan kamu yang melihat, tapi orangmu!"


"Dan lagi, berciuman bukan berarti mereka menjalin hubungan. Apa kamu pria desa yang naif dengan pergaulan jaman sekarang? Orang yang baru bertemu saja bisa melakukan lebih dari itu."


Roy menunduk tak mampu berucap. Namun, otaknya berputar mencari pembenaran atas informasi yang disampaikan. Dia yakin tidak ada yang salah.


"Bisa saja saat ini mereka sedang bertengkar 'kan, Pak?"


"Ya, mereka bertengkar karena gadis itu mengganggu Edzar. Jelas-jelas ini sebuah disinformasi mengenai cinta sepihak. Kamu masih mau mengelak?"


Roy menundukkan pandangan tak berani menatap sang atasan. Namun, egonya tak serta-merta menerima kesalahan. Roy masih yakin jika dirinya benar.


"Lupakan gadis selebgram itu. Dia hanya pion yang digunakan Edzar untuk melindungi dirinya dari kejaran kita. Edzar pasti tahu kita mengawasinya. Makanya, saat di hotel dia bertingkah seolah-olah bertemu pasangan."


"Aku yakin, di sana Edzar menemui seseorang. Tapi siapa? Apa jangan-jangan pria itu menemui Bernadin?"


Kekehan pelan mengalun dari bibirnya. Dia menyadari satu hal, bahwa ternyata Edzar sudah selangkah di depannya.


"Kurang ajar. Sudah kuduga Bajingan itu memang tidak bisa diremehkan. Dia sangat pintar berkamuflase. Dan kamu sukses tertipu olehnya, Roy!"


"Sialan! Kita hanya membuang-buang waktu mengejar gadis itu."


"Sekarang juga, kamu hubungi orang kepercayaanmu itu untuk mencari keberadaan Bernadin. Ingat, aku tidak akan mentolerir kesalahan lagi setelah ini."


"Baik, Pak." Roy mengangguk sebelum kemudian keluar dari ruangan.


Segera setelahnya dia langsung melaksanakan titah sang atasan. Menghubungi seseorang untuk mencari keberadaan Bernadin.


Namun bukan hanya itu, Roy juga menelpon satu orang lagi tanpa sepengetahuan atasannya.

__ADS_1


"Kita beralih ke rencana B," ucapnya langsung menutup telpon kembali.


Kepalanya menoleh kanan kiri, memastikan situasi koridor aman dan tidak ada siapapun yang mendengar.


Namun, tanpa ia sadari sepasang telinga merekam jelas semuanya. Sosok itu keluar seiring langkah Roy yang menjauh, lalu melangkah ke arah berlawanan dan menghilang di sebuah ruangan.


.................


Doni terperangah melihat sesuatu yang ditunjukan Edzar. Sesaat setelah pria itu mengirim pesan, Doni langsung melesat ke ruangan sang atasan.


Alat penyadap itu benar-benar ada, tertanam di sebuah lukisan. Sangat kecil dan tidak terlihat. Butuh pengamatan jeli untuk bisa menyadarinya.


Pertanyaannya, bagaimana Edzar bisa tahu ada benda sekecil ini di ruangannya? Lalu, siapa yang memasang?


Dengan panik Doni menyeret Edzar menjauhi lukisan itu. Dia mengetik sesuatu di layar ponsel yang kemudian diberikannya pada Edzar untuk dibaca.


"Sejak kapan?"


Edzar mengetik cepat menjawab pertanyaan Doni. "Baru hari ini. Kemarin tidak ada."


"Yakin?" tulis Doni lagi.


Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel Doni. Lewat pop up, mereka bisa membaca nama si pengirim.


Gadis itu sudah aman. Tapi, mereka beralih mengincar Bernadin yang saat ini belum diketahui keberadaannya. —W—


.................


Safa baru saja turun dari taksi online yang ditumpanginya. Gadis itu baru pulang dari rumah Kamila. Bersamaan dengan Edzar yang juga keluar dari mobil hendak membuka pagar.


Mereka sempat beradu pandang tanpa disengaja. Sebelum kemudian Safa melengos dan memasuki rumahnya.


Edzar menatap itu dalam diam. Sejenak dia mematung melihat punggung Safa yang tertelan gerbang.


Lalu, deritan suara pagar membuatnya tersadar, menoleh untuk mendapati Bik Yah yang tengah menggeser benda berat itu.


"Silahkan masuk, Den."

__ADS_1


Edzar mengulas senyum sebagai tanda terima kasih. Pria itu kembali memasuki mobilnya dan melajukannya hingga terparkir di halaman rumah. Menekan remot kontrol untuk menguncinya, lalu melangkah menuju pintu utama. Bik Yah mengikuti di belakangnya.


"Den, katanya Ibu mau ke sini."


Sontak langkah Edzar berhenti, pria itu berbalik menatap Bik Yah. "Sekarang, Bik?" tanyanya.


Bik Yah mengangguk, "Iya. Tapi, Den Edzar gak perlu jemput. Katanya Ibu sama seseorang."


Kening Edzar berkerut, "Seseorang? Siapa?"


"Kalau itu Bibi gak tahu, Den. Ibu gak bilang lebih."


"Oh, gitu?"


Edzar merasa sedikit aneh. Dengan siapa Ibunya pergi sampai tidak mau dijemput? Tirta? Atau Reno? Tapi tidak mungkin sampai main rahasia-rahasiaan.


"Ya sudah, saya mau mandi dulu, ya, Bik." Pria itu lantas berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Di tempat lain, Safa duduk termenung di pinggir ranjang. Dia tampak menelan ludah beberapa kali, berusaha menenangkan hatinya yang kembali bergemuruh saat melihat Edzar. Tahu-tahu rasa rindu itu datang. Namun, apa yang bisa Safa lakukan di saat seperti ini?


Safa hanya bisa menahan diri, menggigit bibir lalu melupakan.


Ia menyimpan tas dan melepas sepatunya untuk kemudian melangkah ke kamar mandi. Safa butuh menyegarkan pikiran. Untuk pertama kali setelah kejadian itu mereka kembali bertatap muka.


Safa melilitkan handuk di atas kepalanya saat keluar dari kamar mandi. Kimono masih melekat di tubuhnya. Kakinya berjalan hendak mengambil ponsel di dalam tas. Namun, matanya malah menangkap sebuah pemandangan di bawah sana.


Dari jendela kamar Safa melihat kedatangan Tante Dyah, ibunya Edzar. Dia bersama seorang wanita yang Safa taksir usianya sekitar tiga puluhan. Lalu, Edzar yang datang membukakan gerbang.


Safa melihat mereka berbincang sebentar, sebelum Edzar memboyong keduanya memasuki rumah.


Safa mematung. Siapa gerangan wanita itu? Apa dia wanita yang mau dikenalkan Tante Dyah pada Edzar?


Wanita itu cantik, walau Safa tahu dirinya jauh lebih cantik. Tapi, wanita itu terlihat dewasa. Berbeda dengan Safa yang mungkin masih kekanakan di mata Ibu Edzar.


Safa menghela nafas dan berbalik menuju ruang pakaian. Sudah cukup, itu bukan urusannya. Meski Edzar mau menikah sekalipun, tetap bukan urusan Safa.


Benar kata Kamila, ini bukan tentang Edzar, tapi ini tentang bagaimana Safa menghormati dirinya sendiri.

__ADS_1


Sudah cukup dia membuang-buang waktu untuk hal yang tidak pasti. Mulai sekarang, Safa akan fokus pada hal yang lebih bermanfaat saja. Menyenangkan diri dan brusaha move on dari Edzar.


Semangat, Safa! Fighting!


__ADS_2