
Safa yang oleng dan hendak jatuh ke pelukan Diko, mendadak beralih tangan pada Edzar. Pria itu sigap menariknya ke belakang. Sesaat mereka berpandangan. Sebelum Safa tersadar dan melepas belitan tangan Edzar dengan kesal.
Jangan tanya wajahnya sudah semerah apa. Dia malu, tapi juga sebal. Apalagi jantungnya yang lagi-lagi berdebar tak karuan.
Safa lanjut berlari, dan kalau bisa dia ingin menjauh dari Edzar yang entah kenapa pria itu seolah sengaja membuntutinya. Padahal Edzar bisa saja duluan. Kakinya kan panjang, satu langkahnya merupakan dua langkah bagi Safa.
Niatnya mau menunjukkan kekuatan, lari sampai finish. Tapi, apa mau dikata, fisiknya tak mau diajak kerja sama. Lagi-lagi Safa menyerah dan berhenti. Badannya membungkuk dengan tangan bertumpu di lutut.
Nafasnya terdengar pendek-pendek. Rasa haus semakin parah ia rasakan. Tenggorokannya sakit bukan main. Safa ambruk di jalanan, kakinya ia luruskan ke depan guna meredakan rasa lemas dan pegal.
Bukan hanya itu, matanya terasa berkunang. Pusing menyerang kepala yang kian diterpa panas. Matahari tidak lagi terasa hangat. Safa benar-benar kewalahan. Perasaan waktu lari sama Dava gak begini amat. Dia masih bisa mencapai finish walau sering berhenti juga. Tapi, kenapa sekarang tubuhnya tak mau berkompromi?
"Kak Diko...." Safa melirih pelan.
Diko yang melihat Safa tumbang ikut berhenti. Lelaki itu berjongkok di sampingnya. "Safa, wajah kamu pucat banget. Yakin baik-baik aja?"
Kali ini Safa tak mengelak lagi, kepalanya menggeleng dengan kening berkerut menahan sesuatu. "Aku pusing...."
"Pusing?"
Safa mengangguk, matanya sudah mulai sayu. Tangannya bergetar tremor. Tubuhnya benar-benar lunglai. Safa tak sanggup lagi untuk sekedar berjalan. Ditambah nafasnya yang memberat. Pandangannya sedikit berputar.
Diko terdiam sesaat, lelaki itu tampak kebingungan. Apa dia gendong saja?
"Mau aku gendong?"
Edzar yang melihat itupun tak tinggal diam. Cepat-cepat dia menghampiri Safa dan merangkum kepalanya yang merunduk. Persetan dengan gadis itu yang membencinya.
"Safa?" panggilnya pelan. Tangannya berusaha mengusap keringat di sekitaran wajah Safa. "Hey, tenang dulu. Jangan nangis."
"Hiks, pusing... kepala Safa sakit...."
"Ssstt... Iya saya tahu. Kamu masih kuat gerak 'kan? Naik ke punggung saya, ya?"
Safa tak punya pilihan. Dia sudah tidak ada tenaga untuk menolak. Safa menerima saja saat Edzar menyodorkan Aqua padanya. Dahaga yang sejak tadi ia tahan kini sedikit terpuaskan. Hanya saja, Safa benar-benar kehilangan energi saat ini.
"Masih pusing?" tanya Diko yang sejak tadi memperhatikan.
Safa mengangguk lemah. Tangannya terangkat memegang kepala yang lagi-lagi terasa berputar. Edzar mengusap kepalanya, merapikan poni yang menempeli dahinya karena keringat. Safa malas untuk berkomentar, fokusnya bukan lagi Edzar, tapi perasaan tak nyaman yang kian menyerang tubuhnya.
"Kamu naik sini, saya gendong." Sekonyong-konyong Edzar membalikkan tubuhnya memunggungi Safa.
Safa terdiam mematung. Apa harus? Tapi, Safa sudah tidak kuat untuk berjalan. Akhirnya, mau tak mau Safa beranjak naik ke gendongan Edzar. Tangannya melingkari leher pria itu.
"Pegangan," ucap Edzar mulai berdiri. Safa menurut saja. Karena tidak mampu menahan pusing, Safa menyandarkan kepalanya di bahu Edzar.
Edzar melangkah tanpa kesulitan, sebenarnya Safa sedikit tak percaya diri karena kemarin Kamila bilang dia agak gendut. Takut Edzar keberatan menggendongnya. Tapi melihat Edzar yang nampak biasa saja, Safa jadi bertanya-tanya. Apakah dirinya berat, atau Edzar yang terlalu kuat? Kenapa ekspresinya seolah tak ada beban?
Mungkin ini hanya perasaan Safa saja, mereka sampai di finish dengan cepat.
Memang beda kalau orang yang bertenaga. Safa untuk mencapai setengah lintasan saja sudah kepayahan, apa kabar Edzar yang menggendongnya sampai finish?
__ADS_1
Edzar mendudukkan Safa di sebuah bangku di bawah pohon yang teduh. Pria itu kembali mengusap kepalanya. Dengan lembut, Edzar memberi pijatan pelan di keningnya. Seorang ibu-ibu yang kebetulan lewat bertanya, "Mbaknya kenapa, Mas?"
Edzar menoleh sebentar untuk menjawab, "Pusing, Bu. Kayaknya dehidrasi."
"Astaga... pantas mukanya pucat sekali. Butuh minyak kayu putih, gak? Kebetulan saya ada."
"Boleh?" tanya Edzar.
"Ya boleh lah, Mas. Nih." Si ibu menyodorkan botol kayu putih berukuran sedang.
"Tunggu sebentar, ya?" Edzar berlari kecil meninggalkan Safa, ternyata pria itu mau cuci tangan di keran air terdekat. Lalu kembali menghampirinya sambil mengibas-ngibas tangannya yang basah.
Pria itu menerima uluran tisu dari ibu-ibu tadi. Edzar menuangkan beberapa tetes kayu putih ke telapak tangannya, lalu digosok-gosok sebelum kemudian diusapkan ke kening Safa sembari memijatnya pelan.
Mata Safa terpejam menikmati sentuhan itu. Harum segar dari kayu putih juga sedikit membantu. Safa bersandar nyaman pada tubuh Edzar di belakang. Untuk saat ini Safa kesampingkan dulu egonya. Biarkan Edzar berbuat semaunya. Mungkin pria itu kasihan melihat Safa yang tak berdaya.
Hampir setengah jam berlalu, keadaan Safa sudah lebih baik. Meski kepala belum sepenuhnya pulih, setidaknya Safa sudah tak selemas tadi.
Safa menerima roti dan air mineral yang dibawakan Diko. Dia baru sadar ternyata pria itu masih di sini. Tapi syukurlah, dengan begitu Safa tak berduaan saja dengan Edzar.
"Mau pulang sekarang?" tanya Diko.
Safa mengangguk, "Maaf, ya. Kak Diko jadi nungguin Safa," ucapnya tak enak.
"Gak masalah. Tadi kan aku yang bawa kamu. Otomatis aku juga harus pulang sama kamu."
"Kamu sendiri gimana? Gak masalah kalo naik motor?"
"Gitu. Ya udah. Kita pulang sekarang?"
"Ayo."
Belum sempat Safa beranjak, sesuatu menahan pergelangan tangannya. Safa menoleh dan mendapati Edzar yang masih duduk di sampingnya. Pria itu menatap Safa dan Diko bergantian.
"Safa pulang sama saya. Rumah kita lebih dekat."
Mendengar penuturan Edzar, Diko pun mengangkat alis. "Saya gak masalah, kok. Lagipula rumah saya juga dekat dari persimpangan."
"Tetap lebih dekat saya."
"Safa berangkat sama saya." Diko tak mau kalah.
"Lalu?"
"Itu berarti Safa juga harus pulang sama saya."
Edzar mendengus, "Apa ada aturan yang mengharuskan seperti itu?"
Hening. Safa menatap kedua lelaki itu bergantian. Kenapa suasana jadi tegang begini?
Edzar dengan wajah tanpa ekspresi andalannya, sementara Diko juga tak kalah tajam menatap pria itu. Mereka yang bersitegang, Safa yang malah pusing.
__ADS_1
"Mas tadi udah gendong dia, pasti capek. Sekarang giliran saya yang bawa Safa pulang."
"Kamu mengatakan itu seolah-olah meragukan kekuatan saya."
"Bukan seperti itu. Maaf kalau Masnya merasa tersinggung."
"Tersinggung hanya untuk orang yang lemah."
Diko menghela nafas pelan, lalu dia menoleh pada Safa dan bertanya, "Kamu mau pulang sama siapa?"
"Safa tetap pulang bersama saya. Lagipula motor kamu kurang nyaman. Akan lebih baik jika Safa naik motor matic bersama saya."
"Pemahaman dari mana itu? Biarkan Safa memilih. Anda tidak boleh egois."
Safa memijat keningnya merasa pening.
"Kamu yang egois tidak memikirkan kenyamanan dia."
"Apa? Maksud-"
"Cukup!!!" Safa berteriak menutup kedua telinga.
"Kalian kenapa, sih? Kalau begini terus aku pulang sama orang lain aja. Pusing dengernya," ketus Safa kesal.
"Gak boleh!" seru Edzar dan Diko bersamaan. Keduanya saling menatap tajam.
Safa menghela nafas berusaha sabar. Ya Tuhan, ini lebih membuatnya pusing ketimbang panas-panasan di bawah matahari.
"Safa, kamu harus pulang sama saya. Kepalamu sedang pusing. Akan sangat rawan jika kamu naik motor Ninja yang tinggi. Lebih nyaman pakai motor matic."
"Safa, aku akan jalan pelan-pelan, kok."
"Dia butuh istirahat dengan cepat. Dan kamu mau memperlambat waktu dengan melaju pelan?"
"Stoopp...!!"
"Aku bilang cukup! Bukan motor yang membuatku pusing tapi kalian!"
"Sudahlah. Aku mau pulang sendiri aja."
"Mas Toni!"
Pria yang Safa panggil Mas Toni itu menoleh. "Eh, Dek Safa? Kenapa?"
"Motornya kosong 'kan?"
Lelaki itu mengangguk setengah bingung. Hal itu cukup membuat Safa puas.
"Safa ikut pulang sama Mas Toni, ya?"
"Boleh. Tapi... itu pacar-pacarnya gimana?"
__ADS_1
"Bodo amat!"