SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 139


__ADS_3

"Ke-kenapa lihat Safa kayak gitu? Jelek, ya?" Safa menunduk menatap baju yang ia pakai. Midi dress motif printing dengan warna dasar silver, modelnya sedikit mirip kaftan, tapi lebih elegan.


Entah Edzar menjahitnya di mana, yang pasti sudah sepasang dengan kemeja yang pria itu kenakan.


Edzar tersenyum, "Cantik. Kamu selalu cantik di mata Uda."


Safa manyun, "Bisa gak sih ngomongnya jangan gombal mulu. Sekali-kali jawab yang jujur, kek. Kalau bagus ya bagus, kalau jelek ya jelek."


"Apa selama ini Uda terlihat seperti pria penggombal? Padahal Uda hanya berusaha jujur dan memuji kamu. Uda gak tahu kalau kamu menganggapnya seperti itu."


Safa memilin tangannya, wajahnya masih setia merengut. Edzar pun menghela nafas. Dasar wanita, dipuji salah, gak dipuji marah. Sebenarnya mau mereka itu apa?


"Ai?" panggil Edzar. "Uda gak gombal, Uda berucap kenyataan. Kalau kamu masih tidak percaya, Uda bersedia bertanya pada setiap orang yang kita temui nanti. Atau kalau perlu Uda akan undang Ivan Gunawan untuk mengevaluasi penampilanmu."


Safa mencebik, "Itu terlalu berlebihan."


Ya salam.... Rasanya Edzar ingin berdecak, namun ia tak kuasa membuat gadis itu semakin kesal. Bisa-bisa mereka gagal pergi ke acara khitanan sepupu Edzar.


"Ya sudah, kamu maunya Uda bagaimana? Uda akan coba bersikap sesuai kenyamanan kamu."


"A Uda gak perlu lakuin apa-apa, kok. Cukup jadi diri sendiri aja," ucap Safa polos.


Kening Edzar berkerut, rautnya terlihat gemas, setengah bersabar dengan sifat labil Safa.


Tidak mau memperpanjang masalah, dia pun segera meraih jemari mungil itu, menyeretnya lembut menghampiri Tuan dan Nyonya Halim yang berdiri di atas teras, memperhatikan keduanya yang tak kunjung berangkat karena berdebat.


Sebagai informasi mereka sudah tahu mengenai hubungannya dengan Safa. Dan Edzar bersyukur mereka menerimanya dengan tangan terbuka. Awalnya dia sempat sedikit was-was karena mungkin saja dia ditolak lantaran umurnya yang terpaut cukup jauh dengan putri mereka.


Tapi syukurlah, keluarga Halim memang terkenal dengan sifat demokratisnya, termasuk Tuan Halim yang kini menerima uluran tangan Edzar, menyalaminya dengan sopan dan hormat.


"Hati-hati, jangan ngebut. Saya percayakan Safa padamu hari ini," ujar Tuan Halim seraya menepuk tegas bahu tegap Edzar.

__ADS_1


Edzar mengangguk dengan seulas senyum. Kemudian dia beralih pada Nyonya Halim dan melakukan hal yang sama. Pun Safa yang turut menyalami keduanya dilengkapi dengan pelukan singkat.


"Jangan lama-lama. Kalau bisa sore ini sudah pulang, ya?"


"Baik, Tante. Kalau begitu kami pamit, Om, Tante. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam...."


Edzar menggandeng Safa memasuki mobil yang beberapa saat lalu ia parkir di halaman villa. Sejurus kemudian Fortuner itu melaju meninggalkan pelataran, berangsur perlahan menuruni jalan turunan yang menjadi penghubung dataran tinggi villa dan jalan raya.


.........


"Apa gak papa kita gak bawa buah tangan? Safa cuma bawa hadiah buat anak yang dikhitan."


"Enggak perlu, itu saja sudah cukup." Edzar menunjuk kotak berukuran sedikit besar yang Safa pegang.


Mereka sudah sampai di rumah yang punya hajat, berjalan beriringan menuju pintu masuk. Edzar merangkul bahu Safa, berusaha menyalurkan ketenangan untuk gadis yang Edzar tahu belum berhenti merasa resah.


Diremasnya lembut bahu mungil itu. Safa mendongak, menatapnya dengan raut sedikit cemas. Edzar mengerti mungkin Safa gugup karena akan bertemu keluarganya. Di sinilah peran Edzar diperlukan untuk membuat gadis itu merasa nyaman.


Edzar mengirim senyum. Tangannya terangkat mengusap hati-hati rambut Safa yang sudah ditata rapi, sebisa mungkin tidak merusaknya. Surai coklat itu digerai indah dan mengikal di ujung.


Sepertinya Edzar lupa bilang, kalau dia suka gaya rambut Safa yang baru. Model poni samping membuat gadis itu terkesan lebih dewasa. Walau Edzar juga suka dengan poni lurus dan rata yang ia lihat di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Safa sangat imut dan manis, itulah kesan pertama Edzar saat melihatnya dulu.


"A Uda~ Safa deg-degan," keluh gadis itu dengan suara lirih. Terdengar keramaian dari dalam rumah cukup besar itu.


Edzar mengecup singkat pucuk kepala Safa, telunjuknya mengangkat dagu lancip itu hingga mata mereka bertemu. "Percaya sama Uda, semuanya akan baik-baik saja. Keluarga Uda itu baik semua. Mereka welcome pada siapapun. Jangan khawatir. Di dalam ada Dona, atau mungkin saja Tante kamu juga datang?"


Dona adalah adik iparnya—istri Reno. Yang dia lihat Safa cukup akrab dengannya.


"Yuk?" ajaknya pada Safa.

__ADS_1


Safa masih terlihat ragu untuk masuk. Berkali-kali dia mengamati penampilannya, jantungnya bertalu oleh rasa gugup.


Edzar tidak tahu apa yang membuat Safa kerap tidak percaya diri. Dia cantik, sangat. Bahkan mengalahkan cantiknya beberapa selebriti terkenal. Edzar tak menampik dia tertarik oleh fisik. Namun tentu hatinya lebih mendominasi. Edzar menyayangi Safa apa adanya. Buktinya, Edzar yang tidak suka kebisingan mampu menerima keceriwisan gadis itu dengan baik. Malah menjadi kesenangan tersendiri mendengar Safa bicara.


"Ai, kamu percaya tidak, kamu lebih cantik dari Prilly Latuconsina?"


"A Uda jangan gombal lagi...." rengek Safa.


Namun Edzar menggeleng tegas, "Saya tidak gombal. Saya tidak pernah melakukannya karena apa yang keluar dari mulut saya berasal dari hati. Lagipula ini bukan waktu untuk rayu-merayu seperti itu."


Safa terdiam.


"Kalau saya bilang kamu cantik, berarti kamu cantik. Kalau saya bilang kamu jelek, berarti kamu jelek. Mengerti, Ai?" Keduanya saling bertatapan. Edzar berusaha meyakinkan Safa untuk tidak merasa rendah diri. Gadis itu punya segalanya, apalagi yang masih kurang?


"Tapi, pendidikan Safa tak setinggi A Uda," bisik Safa hampir tak terdengar. Keluhan utama yang sudah lama dia pendam akhirnya keluar.


Edzar terpaku. Apa gadis ini kerap menghindarinya karena ini? Di mana Safa yang Edzar kenal memiliki tingkat kepercayaan diri setinggi langit? Kenapa rasanya makin ke sini energi Safa semakin meredup. Gadis itu jadi lebih sering mengeluhkan hal-hal yang tidak perlu.


"Ai, apa Uda pernah mempermasalahkan hal itu?"


"Tidak, kan? Jadi untuk apa kamu risau?"


"A Uda gak ngerti, Safa sering dipandang sebelah mata."


Edzar terdiam. Dia menyelipkan anak rambut Safa ke belakang telinga. "Jangankan kamu, orang sehebat ** Habibie saja kerap mengalaminya. Abaikan mereka yang tidak menyukaimu. Sebenarnya, dalam perasaan itu terselip rasa iri karena mereka tidak bisa menyamaimu. Baik secara fisik maupun materi."


"Saya tidak masalah kamu hanya lulusan SMA. Saya mencari calon istri, bukan karyawan maupun pengajar."


"Pendidikan memang penting. Meski bukan untuk konsumsi publik, setidaknya kita bisa mengajari anak-anak kita di rumah."


"Tapi, Ai, hal itu bisa kita lakukan bersama-sama. Gunanya pasangan adalah saling melengkapi, memahami, melindungi. Kamu tidak perlu menjadi pintar untuk mengajari anak kita, karena aku yang terlebih dulu mengayomimu sebelum nanti kamu memandu mereka menjadi anak-anak yang hebat."

__ADS_1


"Jadi tolong, jika kamu mempercayaiku, cukup kamu genggam tanganku. Biar aku yang menghadapi semuanya."


__ADS_2