
"Sombong amat nikah gak undang-undang," cibir Heru saat Edzar memasuki ruangannya di Morinaza. Heru mengekorinya di belakang. Pria itu langsung menghempaskan diri di sofa, sementara Edzar mulai berjibaku di meja kerja.
"Gak capek kamu, Zar?" Pasalnya Edzar baru pulang dari Kejari dan langsung ke Cafe.
"Aku harus selesaikan semuanya sebelum ke Bandung."
"Serius malam ini langsung jalan?" tanya Heru tak habis pikir.
Besok Sabtu. Hari yang Edzar tunggu-tunggu.
"Gak besok aja? Bukannya apa. Khawatir kamu ngantuk aja di jalan."
"Enggak," jawab Edzar singkat. Dia akan tetap pulang malam ini.
Heru tak bicara lagi. Percuma dia ngomong sampai berbusa pun Edzar tak akan goyah dari pendiriannya. Pria itu keras kepala. Apalagi menyangkut istrinya.
"Zar,"
"Hm."
"Kamu udah jujur sama Safa?"
Edzar menghentikan sejenak aktivitasnya, lalu lanjut melihat laptop di hadapannya. Tanpa menjawab pertanyaan Heru.
Heru berdecak menyandarkan punggungnya. Pria itu memejamkan mata seraya menghela nafas. "Jangan sampai sifat pengecutmu menjadi boomerang di kemudian hari."
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat."
"Waktu yang tepat? Kapan?"
Edzar mengangkat bahu tak acuh. Sementara Heru mendengus tak percaya. "Gila kamu, ya. Egois. Gak mikirin perasaan Safa."
"Saranku, kamu segera beritahu dia. Jangan menunda-nunda. Tidak ada itu waktu yang tepat. Kita yang harus menciptakan waktu itu."
"Justru aku seperti ini karena memikirkan perasaan dia."
"Benarkah? Kenapa yang aku lihat justru kamu yang sedang memikirkan diri sendiri?"
"Her, aku sedang malas berdebat. Tolong keluar." Suara Edzar menajam.
Namun itu tak berpengaruh bagi Heru yang kini sudah berdiri, berpindah ke kursi di hadapan Edzar.
"Ini semua rencana kamu 'kan? Pernikahan kalian?"
Edzar tak menjawab. Matanya memperhatikan awas pergerakan Heru.
"Edzar, aku tahu kamu bagaimana. Kamu gak pernah sampai bela-belain menciptakan drama hanya untuk menikahi seorang wanita. Aku tahu, sebenarnya Tante Dyah sudah merestui hubungan kalian sejak jauh-jauh hari 'kan? Tapi kamu buat seolah-olah beliau adalah wanita kejam yang tidak sudi menghadiri acara lamaran anaknya sendiri."
__ADS_1
"Sebenarnya, apa tujuanmu?" tanya Edzar dengan suara rendah.
"Bukan Tante Dyah yang tidak mau datang. Tapi kamulah yang membuat beliau datang di detik-detik terakhir, tepat saat kamu menerima penolakan dari ayahnya Safa. Melihatmu yang seperti menderita waktu itu, jelas Tante Dyah tak bisa menahan rasa keibuannya, yang pada akhirnya mendorong beliau memutuskan pernikahan kalian untuk disegerakan malam itu."
"Kenyataannya semua ini skenario kamu. Apa aku benar? Edzar, hanya aku yang tahu bagaimana liciknya kamu saat menginginkan sesuatu."
Hening. Dua pasang mata itu saling menghunus tajam. Heru yang tak gentar, pun Edzar yang mulai geram.
"Lalu, apa urusannya denganmu? Ini hidupku. Kamu tidak berhak berkomentar."
"Memang. Tapi naluriku sebagai lelaki mendadak tersentil melihat Safa yang mau saja dibodohi. Salah, kamu bukan hanya membodohi Safa, tapi kamu juga menjebak keluarga Halim agar mau memberikan putrinya untuk kamu nikahi."
"Safa mencintaiku."
Heru bersidekap, "Lalu, apa kamu juga mencintainya?"
Edzar terdiam.
"Apa kamu mencintai Safa, Edzar?"
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?"
"Apa kamu mencintainya?"
"Ya, aku mencintainya! Lalu apa masalahmu? Keluar sekarang juga." Suara Edzar meninggi.
"Her, please. Apa maumu sebenarnya?"
"Mauku? Aku bukan mau apa-apa. Aku hanya sedang mengkhawatirkan temanku."
"Andai kata hubungan kalian retak, katakan saja kalian berpisah. Bukan Safa yang terpuruk, tapi kamu."
"Cukup, ya. Kami tidak akan berpisah. Safa milikku. Dan akan selamanya begitu."
"Yakin?"
"Keluar." Untuk yang kesekian kali Edzar menyuruh Heru keluar. Kali ini berhasil membuat Heru beranjak. Namun sebelum itu Heru berkata.
"Aku tahu tipe seperti apa istrimu itu. Dia wanita yang menuntut kesempurnaan. Yakin Safa akan mempertahankanmu andai dia tahu masa lalumu?"
Edzar tak menjawab. Heru mengangkat bahu lalu keluar. Meninggalkan Edzar yang terpaku dalam keheningan. Pria itu terduduk di kursi kerjanya. Memijat pelipis, berusaha meredakan pening yang tiba-tiba melanda.
Ting!
Satu pesan muncul. Edzar meraih ponsel dan menggeser layarnya hingga menampilkan sebuah laman percakapan. Kontan sudut bibirnya terangkat mengetahui Safa lah yang menghubunginya.
Wanita itu mengirimkan foto dirinya yang tengah berpose manja, mengedipkan satu mata. Jangan lupakan gaya rambutnya yang baru. Sesuai request Edzar kemarin. Edzar semakin tak sabar menemui istrinya itu.
__ADS_1
Dia pun membalas pesan Safa. "Jangan terlalu sering berpakaian seksi, kecuali di depan Uda."
Safa membalas, "Siap Aa." Lengkap dengan emoticon jempol.
...............
Cup.
"Engh ...." Safa melenguh dalam tidurnya.
Wanita itu sedikit mengubah posisi, merasa terusik. Edzar mengu*lum senyum, membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Menghirup wangi yang sangat ia rindukan.
Safa mulai menggelinjang kegelian. Mau tak mau dia mengerjap, membuka mata dengan lamat. Lalu, hal yang pertama ia lihat adalah wajah Edzar yang tengah terkekeh menertawakannya.
"A Uda?" ucapnya parau. Matanya masih lengket dan sulit terbuka.
"Hmm," gumam Edzar seraya memberi kecupan di atas bibir. Hanya sekilas.
"Kok, udah di sini?" Safa menggeleng, mencoba fokus dengan penglihatannya. "Ini bukan mimpi, ya?"
"Bukan." Ciuman Edzar turun ke leher. Jemarinya mengait tali gaun tidur yang Safa kenakan. Menurunkannya perlahan seraya mengecupi bahu mulus itu.
"Kenapa gak bilang mau pulang?" tanya Safa setengah mengantuk. "Safa kira besok."
"Kejutan." Edzar berhasil meloloskan tali itu dari lengan Safa. Melorotkan sedikit bagian atasnya. Kemudian tersenyum, "Kamu memang terbiasa tidak pakai bra saat tidur, ya?"
Ia melabuhkan ciuman di atas salah satu gundukan yang terekspos. Safa melenguh. Edzar menggigit daging kenyal itu, menghisap, lalu menji*latnya. Menambah bekas kemerahan yang belum sepenuhnya hilang.
"Ahh ...." Safa mengerjap kala Edzar mengu*lum puncak dadanya.
Berusaha menyegarkan mata yang terkantuk-kantuk. Safa pun menunduk, melihat kepala Edzar yang singgah di bawah dagunya. Pria itu asik memainkan lidah serta tangannya di sana.
Hal itu membuat kantuk Safa sedikit menghilang. Tangannya terangkat meremas rambut Edzar, membuat pria itu sejenak menghentikan aktifitasnya, mendongak menatap Safa.
Edzar tersenyum, mengelus pipi Safa dengan ibu jarinya. "Maaf bangunin kamu," bisiknya.
Safa menggeleng, "Gak papa. Safa senang A Uda pulang malam ini."
"Uda kangen, ingin segera bertemu kamu."
Safa mencebik sedikit salah tingkah. Edzar terkekeh, menaikkan kepala dan mengecup gemas bibir sang istri. Menyatukan hidung keduanya hingga saling menatap satu sama lain.
Cukup lama mereka bertahan dalam posisi itu. Sesekali Safa maupun Edzar tersenyum. Entahlah, rasanya damai saja meski hanya diam.
"I love you," bisik Safa.
"Love you more," balas Edzar kemudian meraup bibir Safa. Menciumnya intens disertai gigitan-gigitan kecil, serta hisapan penuh perasaan.
__ADS_1