
Waktu berlalu begitu cepat, kini tepat saatnya Audi memasuki Sekolah Dasar untuk pertama kalinya. Gadis 7 tahun itu sudah rapi dengan seragam sekolah dan tas ransel ungu yang imut dengan gantungan kelinci.
Rambut panjang Audi tergerai dengan dua kucir kecil di sisi kanan kiri.
"Sudah siap?"
Audi mengangguk cepat begitu sang ayah bertanya.
"Oke, kita pasang sepatunya dulu, ya?"
"Ma! Bekal Audi udah siap?"
Terdengar sahutan sang mama dari dapur. "Udah, Pa! Bentar, siapin minumnya dulu."
Tak lama Mama Audi pun muncul dengan satu kotak makan berukuran kecil dan botol minum yang sama kecil. Biar tidak berat, katanya. Isinya pun hanya roti sandwich dua potong.
"Nanti kalau ada apa-apa, kamu bilang aja sama Mas Ibra, ya?"
Audi mengangguk. Ia memang bersekolah di sekolah yang sama dengan Ibra. Alhasil Audi tak diantar mama maupun papanya karena mereka menitipkan Audi pada Ibra.
Selesai memasang sepatu dan memasukkan bekal di tasnya, Dava menuntun sang putri untuk keluar rumah. Diikuti Lalisa yang juga turut mengantar Audi sampai depan.
__ADS_1
Di sana sudah ada mobil Edzar yang menunggu. Ibra yang melihat Audi sudah siap kontan turun dari mobil dan menjemput gadis kecil itu untuk naik di kursi penumpang belakang. "Ayo, Cla."
Audi berbalik menghadap orang tuanya, mencium tangan mereka sebelum berangkat. Ibra pun melakukan hal yang sama, berpamitan pada orang tua Audi.
Keduanya menaiki mobil dengan Audi yang naik terlebih dahulu. Ibra membantu mendorong tubuhnya dari belakang, lalu setelahnya ia sendiri masuk dan duduk di samping Audi.
Tin!
"Assalamualaikum ..." seru Ibra dan Audi serentak.
Mereka berangkat dan melambaikan tangan pada Dava serta Lalisa yang setia berdiri hingga mobil menghilang ditelan jarak.
Sesampainya di sekolah, Ibra mengantarkan Audi ke kelas satu. Mulanya Audi takut dan ragu untuk masuk. Gadis itu maju mundur melihat keramaian dalam kelas.
Audi sedikit murung. "Audi malu ..." ujarnya sambil memilin tangan.
"Kok malu?"
"Gak kenal."
"Kan nanti kenalan. Mas juga dulu gitu, kok. Awalnya malu, tapi lama-lama seru, lho, banyak teman main."
__ADS_1
"Yang bener?" Audi masih ragu.
"Huum." Ibra mengangguk meyakinkan. "Kita masuk, ya? Mas udah pilihin kursi buat kamu, kok."
"Ya udah, tapi Mas Ibra jangan pergi dulu."
"Iya, Mas tungguin kamu sampai bel masuk. Ayo?"
Audi pun menurut ketika Ibra menuntunnya memasuki kelas.
Ibra benar, meski awalnya malu lama-lama jadi seru. Audi mendapat banyak teman baru, sama persis ketika pertama masuk Taman Kanak-kanak.
Audi senang karena teman-temannya baik dan ceria. Mereka juga senang berbagi dan tidak pelit, meski seringkali saling merajuk dan marahan, ujung-ujungnya juga suka baikan.
Berhari-hari Audi melewati masa sekolahnya dengan baik, hingga ada saat di mana salah satu temannya menjaili Audi dengan memasukkan bangkai katak ke dalam tasnya.
Audi langsung trauma dan tak mau masuk sekolah lagi, bahkan sakit berhari-hari karena tak mau makan akibat jijik terbayang bangkai katak itu.
Dava yang tidak tahan akhirnya melaporkan hal tersebut ke pihak sekolah. Mereka meminta maaf dan langsung memanggil orang tua siswa yang terkait, namun tebak kenyataan apa yang mereka katakan?
Katanya, dalam beberapa hari terakhir kamar anak itu dipenuhi puluhan katak hidup. Bahkan toilet dipenuhi oleh berudu yang tidak tahu asalnya dari mana. Sampai hari ini mereka belum selesai membasmi katak dan bayi-bayinya itu.
__ADS_1
Tentu saja Dava terkejut, tidak mungkin Audi balas dendam karena beberapa hari ini dia seperti enggan keluar rumah. Memangnya siapa yang tahu alamat rumah anak itu?
Karena si anak sudah mendapat balasan dari kenakalannya, Dava pun memutuskan menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan. Dan setelah segala macam bujukan Audi pun akhirnya mau bersekolah lagi.