
"Jadi ini bekas jahitan saat kecelakaan itu?" Safa mengusap pelan garis kecil yang melintang di lengan atas Edzar.
Edzar segera menangkap tangan lentik itu dan membawanya untuk dikecup. "Hm," gumamnya menjawab pertanyaan Safa.
Safa tampak menerawang. Menatap dada telanjang suaminya yang dipenuhi bulu. Lantas mendongak saat Edzar menghisap jari telunjuknya.
Mata mereka bertemu. Edzar tersenyum melepas hisapannya. Rautnya meredup sebelum bertanya. "Uda sangat penasaran. Kenapa kamu tidak pernah terlihat lagi setelah itu?"
"Safa pindah. Itu hari terakhir Safa sekolah di sana. Ayah beli rumah baru di komplek ini."
Edzar mengangguk. "Pantas kamu tidak ada di manapun. Padahal tidak jauh, ya. Tapi mungkin memang belum saatnya kita bertemu." Kembali ia kecup jemari Safa.
Wajahnya mendekat, memagut bibir kemerahan sang istri dengan mesra. Safa melenguh, melingkarkan kakinya di pinggang Edzar. Merapatkan tubuh mereka yang polos seusai bercinta.
Ciuman Safa turun ke rahang Edzar. Lelaki itu menggeram mendongakkan kepala, memberi akses untuk sang istri menciuminya lebih dalam.
Suara decapan menggema. Safa mengusap hasil karyanya di leher Edzar. Lantas ia mendongak, melempar cengiran yang membuat Edzar gemas bukan main.
"Safa udah bisa bikin kissmark."
Edzar mendengus geli. Sejak kemarin Safa begitu gencar membuat tanda. Tapi mungkin karena kecupannya kurang keras, jadi hasilnya pudar dan cepat hilang.
"Satu aja bangga. Lihat dong tubuh kamu. Hampir semuanya merah."
Safa manyun. Lalu beralih mengecup dada Edzar dan kembali mencoba membuat mahakarya.
"Emh ...." Edzar memejam menikmati ciuman demi ciuman yang Safa labuhkan di tubuhnya. Tak ayal ia kembali menegang. Yang pasti Safa sadari karena intinya tepat berada di perut bawah wanita itu.
"Lagi?" tanyanya parau.
Safa mengangguk. Mereka pun kembali menyatukan diri dan larut dalam remangnya suasana kamar. Disaksikan rembulan yang bersinar terang di luar sana, keduanya mengerang meraih pelepasan bersama.
Waktu berjalan cepat. Kehamilan Safa kini sudah menginjak 7 bulan. Edzar bahagia bukan main melihat perut istrinya tampak membesar. Safa semakin seksi dengan tubuh berisinya. Kendati wanita itu sulit sekali makan. Malah Edzar yang selalu merasa lapar.
Kabar baiknya, Edzar tak lagi sering mual. Mau itu pagi, siang, sore, atau malam. Tapi ia kerap khawatir karena keseimbangan tubuh Safa mulai terganggu. Mungkin karena perubahan bobot dan bentuk tubuhnya sehingga Safa acap kali sempoyongan ketika berjalan.
__ADS_1
Wanita itu juga mulai sering mengeluhkan punggung dan pinggangnya yang merasa pegal. Kakinya juga akan keram dan bengkak jika kebanyakan berjalan.
Seperti sekarang, Safa tengah bersandar lelah di atas sofa. Nafasnya terengah dan terdengar sedikit berat. Edzar dengan telaten memijat kakinya dari bawah. Safa baru saja selesai melakukan yoga bersama instruktur pilihan bundanya.
Edzar mendongak menatap sang istri dengan iba. Sedikit khawatir melihat Safa yang begitu kepayahan dalam bernafas. Apa mungkin karena sebelumnya Safa tak pernah olah tubuh. Jadi sekalinya gerak badan jadi seperti ini?
"Sudah mendingan, Ai? Mau Uda bikinin jus?"
Safa menggeleng. "Safa mau Boba."
Kini Edzar yang menggeleng. "Tidak, Ai. Dokter bilang janin dalam kandungan kamu agak besar. Kita harus menjaga bobotnya agar tetap normal. Kamu harus mengurangi makanan yang mengandung gula dan protein tinggi."
"Tapi Safa mau Boba ...." Safa mulai merengek, hampir menangis.
Ini yang membuat Edzar bingung. Ketika sang istri ingin memakan sesuatu yang justru dilarang dokter.
"Eskrim saja gimana? Di kafe Uda ada eskrim rendah lemak. Kamu mau?"
Syukurnya Safa mengangguk. "Mauuu ...."
Safa mendongak, menatap jakun Edzar yang berkeringat. Lelaki itu memang selalu menemaninya yoga setiap minggu.
"A Uda, Safa jalan saja. Pasti berat harus gendong Safa naik tangga."
"Enggak berat. Tidak berbeda jauh dengan beban yang sering Uda angkat ketika olahraga. Sudahlah, kamu dan anak kita menjadi tanggung jawab Uda. Jika kaki kamu sakit, maka Uda wajib menggendongmu."
Safa menyerah. Edzar memang keras kepala. Ia tersenyum menyandarkan pipi di dada bidangnya yang entah kenapa masih saja sempurna kendati Edzar banyak makan sejak kehamilannya.
Mungkin karena Edzar senang berolahraga. Kalau dipikir-pikir, mereka sangat berbanding terbalik. Dari mulai fisik hingga kebiasaan, hampir semuanya bertentangan.
Dan saat itulah Safa akan kembali merasa rendah diri dan minder. Apalagi sekarang dia hamil. Bentuk tubuhnya sudah tak sesempurna saat gadis.
"Sepertinya A Uda benar. Kita pindah kamar saja ke bawah. Safa gak tega karena A Uda jadi sering gendong Safa ke atas."
Edzar menunduk melempar senyum. "Uda gak keberatan gendong kamu. Uda menyarankan pindah kamar karena khawatir kamu naik turun saat Uda tidak di rumah."
__ADS_1
"Oh, iya. Tadi Bang Dava telpon. Dia bawa oleh-oleh buat keponakannya."
Safa mendecih. "Lahir aja belum. Itu orang dari kemarin beliin barang-barang bayi. Safa jadi curiga sebenarnya Kak Lalisa hamil."
"Hush. Gak boleh gitu. Suudzon mulu kamu."
"Ya habisnya. Kenapa gak Safa aja yang dibeliin oleh-oleh." Bibir Safa mengerucut kesal.
Edzar tertawa. Mengecup sekilas bibir istrinya yang manyun. "Nanti kita belanja. Keperluan kamu. Bukan bayi," ucapnya menghibur.
Terang saja wajah Safa berubah berbinar. "Beneran, ya, A?"
"Hm," angguk Edzar menahan geli.
Memang sejak hamil Safa sudah jarang belanja. Faktor malas gerak. Pun dia malas mencari secara online. Katanya pusing lihat ponsel lama-lama.
Selesai mandi dan ganti pakaian, mereka lantas pergi ke kafe Edzar untuk makan eskrim yang dijanjikan. Heru yang tadi berdiri di dekat kasir kontan menyambut kedatangannya.
"Waahhh .... Bumil, makin cantik aja, ya. Ck, ck, ck." Ia mendecak seraya menatap Safa dengan kagum. Dalam hati dia memaki Edzar yang begitu beruntung mendapat istri cantik juga memiliki pesona yang luar biasa.
Apalagi dengar-dengar, wanita hamil akan berkali lipat lebih bersinar dari biasanya. Dan sekarang Heru percaya kata-kata itu.
"Dosa lihatin istri orang kayak gitu," celetuk Edzar dengan nada tak senang. Wajahnya masam melihat Heru yang seperti ingin melahap istrinya. Kontan tangannya bergerak mengeratkan pelukan.
Mendadak dia menyesal membiarkan Safa memakai dress putih yang membuatnya nampak seperti Bidadari di mata orang-orang. Tak terkecuali dirinya.
Heru mencibir. "Calon Papa posesif amat, sih. Kurang refreshing, ya? Itu muka perasaan masam mulu setiap ketemu."
"Karena wajah kamu memiliki kemampuan menurunkan mood." Edzar berkata cuek. Lantas ia mengajak Safa untuk segera meninggalkan Heru yang kini bersungut-sungut.
Safa meringis, menoleh dan menatap Heru penuh maaf. Edzar memang kerap begitu pada siapa saja yang melihat Safa terlalu lama.
Pria itu pencemburu akut. Bukan hanya orang yang dicemburui, televisi saja kerap membuat Edzar protes jika Safa terlalu fokus saat nonton drakor di chanel Korea.
Dia sampai bingung, sebenarnya apa yang membuat Edzar selalu iri terhadap apapun yang menarik perhatiannya. Bukankah selama Safa tidak menyukai pria lain, hal itu aman-aman saja?
__ADS_1
Entahlah. Sepertinya dia akan merasa terkekang ke depannya. Terlebih dokter bilang anak mereka laki-laki. Safa hanya bisa berdoa semoga putranya tak menuruni sifat Edzar yang sedikit menyeramkan itu.