
“Iya, Bunda. Ini Safa beliin, kok,” ucap Safa sambil memilah-milah lipstik di rak. Tangannya menahan ponsel di telinga.
“Warna mauve ‘kan?”
“Brown kayaknya kece, deh, Bun.”
“Maroon juga bagus. Nanti Bunda jadi kelihatan badass. Uhh... keren pokoknya.”
Saat ini Safa tengah berada di gerai kosmetik salah satu mall. Berburu make up, lipstik, skincare maupun bodycare yang menarik perhatian. Sekalian Nyonya Halim juga minta dibelikan.
Enggak Safa, enggak Bundanya. Keduanya sama-sama gila perawatan. Selain di rumah, setidaknya dua kali dalam sebulan wajib mendatangi klinik.
Ngomong-ngomong perawatan, luka-luka Safa sudah lumayan membaik. Goresannya tidak terlalu dalam, jadi cepat kering. Tapi perihnya masih kerap terasa. Apalagi yang di telapak tangan, membuat Safa tak berhenti merengek saat di rumah. Sampai-sampai Dava memprotesnya karena berisik.
Ya habisnya sakit banget. Enggak sengaja ketusuk jarum saja, Safa sudah tak tahan mau nangis. Apalagi ini jatuh di atas pecahan beling. Beruntung Edzar memberinya salep yang manjur, pemulihannya cukup cepat.
“Bun, sudah, ya. Ini Safa mau bayar dulu. Bunda jangan lama-lama di luar kota. Boleh lama, tapi jangan bawa oleh-oleh selain baju, makanan, skincare, atau apalah itu terserah. Pokoknya jangan yang di dalam perut.” Tut.
__ADS_1
Safa menutup telpon dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Lagi-lagi dia menegaskan soal tak mau memiliki adik.
Safa sedikit meringis menatap telapak tangannya. Sudah tidak diperban, hanya plester yang menutupi beberapa goresan.
Sebenarnya hal ini membuatnya sedikit tak percaya diri. Makanya hari ini Safa pakai kemeja panjang oversize dan celana jeans kulot untuk menutupi kecacatan di kakinya. Malu, dong, seorang Safana Halim kulitnya gak mulus lagi. Semoga saja bekasnya cepat hilang.
Safa berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Tiba-tiba mata Safa jatuh pada deretan parfum pria yang dilewatinya. Safa teringat Edzar. Dia jadi terpikir untuk membelikannya satu.
Ngomong-ngomong, Safa belum tahu ulang tahun pria itu kapan. Mungkin nanti bisa ditanyakan. Kalau pun Edzar tak mau memberitahu, Safa bisa tanya Om Tirta atau Om Reno. Gampang.
Safa mencium beberapa varian mencari yang cocok. Kira-kira Edzar suka yang mana, ya? Safa nampak berpikir mengingat-ingat aroma yang biasa ia cium dari Edzar. Sekali endus saja Safa tahu Edzar pakai parfum mahal. Yah... semurah-murahnya paling lima ratus ribu. Cuek-cuek gitu seleranya cukup tinggi.
Bruk.
Pria tinggi dengan t-shirt hitam pas badan dan celana slim fit yang juga senada. Kontras dengan kulitnya yang lumayan putih. Pria itu berjalan melewatinya begitu saja. Ck, gak ada sopan-sopannya sama wanita. Untung Safa gak jatuh. Kenapa, sih, orang hobi banget menabraknya?
Sambil bersungut-sungut Safa melanjutkan langkahnya menuju kasir. Tanpa diminta otaknya berkelana pada pria tadi.
__ADS_1
Dilihat dari style-nya pria itu masih muda. Tiba-tiba kening Safa berkerut, ada sedikit rasa familiar yang menghinggapinya. Terutama topi hitam yang dipakai pria itu. Dimana Safa pernah melihatnya, ya?
Safa menepis pikiran anehnya yang tak masuk akal. Apaan, sih. Di dunia ini banyak kali yang punya topi baseball hitam.
“Semuanya lima juta lima ratus lima puluh ribu, kak.” Suara kasir wanita memecahkan lamunannya.
“Oh, iya. Tunggu sebentar, Mbak.” Safa merogoh tasnya mengambil dompet, mengeluarkan kartu kredit hasil memalak Dava pagi tadi.
Selesai dengan pembayaran, Safa keluar dari toko kosmetik itu dengan menenteng beberapa paper bag. Tujuannya kali ini adalah restoran. Safa mau take away buat Edzar. Pria itu berangkat terlalu pagi sampai Safa tidak sempat membekalinya makan siang.
Safa membuka riwayat percakapannya dengan Edzar. Sambil senyum-senyum Safa mengetik pesan untuk pria itu.
“Om mau makan apa siang ini? Safa beliin, ya?”
Tak lama Edzar membalas. “Tidak perlu.”
Safa mencebik, “Udah terlanjur. Safa lagi di resto dan udah bayar. Jadi Om gak boleh nolak.”
__ADS_1
“Safa ke sana sekarang, ya?” tambahnya lagi.
Hatinya tertawa saat Edzar tak membalas lagi. Pria itu pasti tak punya alasan untuk menolak.