SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 170


__ADS_3

"Akh ...." Safa meringis, menyentuh lengan Edzar yang memeluknya dari belakang.


Pria itu menghentak pinggulnya keras. Satu tangannya menyangga tungkai Safa untuk melebar. Edzar mendesis, menambah tempo gerakan. Membuat Safa mendesah terbata, memejamkan mata, meresapi gesekan mendebarkan di bawah sana.


"A-ah ... Aakhh ...." Safa mengerang panjang saat pelepasan itu datang. Disusul Edzar yang menggeram menyemburkan seluruh benihnya, tepat mengenai mulut rahim hingga menghadirkan sensasi geli.


Nafas keduanya terengah. Pria itu menurunkan kaki Safa, mengeratkan dekapan tanpa melepas tautan di bawahnya. Edzar meraih dagu sang istri, menolehkannya ke belakang, menyatukan bibir, membelit lidah, menimbulkan decapan lirih yang mengisi kesunyian kamar.


Pagutan itu diakhiri kecupan singkat di ujung bibir. "Ngantuk?" bisik Edzar bertanya. Safa mengangguk. Edzar tersenyum mengusap peluh yang membasahi kening Safa. "Tidurlah."


"Keluarin dulu itunya."


"Enakan begini. Hangat."


Safa mendecak, memukul lemah lengan suaminya yang melingkar di perut. "Nanti bangun lagi."


Edzar terkekeh. Dengan pelan dia menarik dirinya dari dalam Safa. Mendesah melihat permukaan batangnya yang mengkilap basah. Edzar meraih tisu di nakas, melebarkan kaki Safa, mengelap cairan yang merembes keluar dari sela celah sempit itu.


Safa mengerang protes.


"Bersihin dulu, Sayang. Atau kamu mau ke kamar mandi?" tanya Edzar yang dijawab gelengan oleh Safa.


Setelah itu dia membersihkan miliknya sendiri. Lalu membenarkan gaun tidur Safa yang kusut, mengumpul di area perut. "Sudah. Ayo tidur," ucapnya seraya menarik tubuh mungil itu ke pelukan.


Safa merangsek di dada Edzar, membuat pria itu tersenyum, menatap teduh istrinya yang kelelahan. Tangannya terangkat menyisir surai pirang Safa yang berantakan. Mengecup dan menghirup aroma yang membuatnya tenang.


Edzar ikut terpejam mengusul Safa. Setelah sebelumnya dia menaikkan selimut menutupi tubuh mereka berdua.


Pagi harinya, Safa dibuat menggeleng oleh Edzar yang tengkurap di atas ranjang. Pria itu masih lelap, mungkin kecapekan karena semalam memaksa pulang. Edzar hanya sempat bangun untuk mandi dan sholat subuh. Setelah itu dia kembali tidur, bahkan tanpa melepas sarung dan kokonya.


Safa beranjak ke dapur, menghampiri Nyonya Halim yang sibuk menyiapkan sarapan. Sejak menikah Safa mulai belajar membantu sang bunda. Meski hanya sekedar menata piring di meja, karena bundanya melarang keras menyentuh masakan. Padahal, Safa ingin coba memasak seperti kebanyakan istri pada umumnya. Tapi mau bagaimana lagi, sepertinya Nyonya Halim masih trauma dengan tragedi dapur hangusnya tahun lalu.


"Bunda dengar, suami kamu pulang, ya, semalam?"


"Tiap hari juga pulang, Bunda. Masa di kantor terus."


"Ck, maksud Bunda pulang ke sini."


"Heem." Safa mengangguk. "Emang yang bukain pintu bukan Bunda?"

__ADS_1


"Bukan. Bunda juga tahu dari Pak Iwan. Mungkin beliau yang bukain."


"Ayah kapan pulang, Bun?"


Kebetulan Tuan Halim sedang tidak ada di Bandung. Pria itu harus terbang ke Bali untuk urusan bisnis.


"Antara Senin dan Selasa."


Safa tak bertanya lagi, takut mengganggu fokus bundanya yang tengah memasak. Tak sampai lima belas menit semuanya selesai dan siap dihidangkan.


"Bangunin suami kamu, gih. Suruh makan dulu."


"Lho, Bunda gak makan?" tanya Safa heran ketika Nyonya Halim terlihat buru-buru meninggalkan ruang makan.


"Enggak. Kemarin Miranti telpon minta ditemenin nyari souvenir, belum Bunda setujui, sih. Karena takut kamu sendirian di rumah. Tapi sekarang kan ada Edzar, jadi Bunda bisa pergi. Udah dikontek juga Miranti nya. Dia setuju."


Safa mendengus, "Gak diundur lagi, nih, nikahannya?" tanyanya lebih ke mencibir. Pasalnya pernikahan Tante Miranti dan Om Tirta memang sempat beberapa kali delay. Ya kali pesawat.


"Diundur juga ada alasannya. Miranti ada pelatihan kerja ke luar kota. Tapi sekarang udah clear. Alhamdulillah bisa lanjut lagi."


Pagi itu Safa ditinggal berdua di villa. Bunda dan Pak Iwan sudah berangkat beberapa menit lalu. Baru dia hendak naik ke kamar buat bangunin Edzar, pria itu sudah terlihat menuruni tangga. Wajahnya sedikit lembab, mungkin habis cuci muka.


"Hem." Edzar bergumam, menghampiri Safa yang berdiri di ambang pintu dapur. Memeluk, dan menggasakkan wajahnya di bahu sang istri.


"Ih~ basah ...." rengek Safa menjauhkan kepala Edzar.


Edzar terkekeh mencium kilat pipi Safa. "Bunda mana?"


"Baru aja pergi sama Pak Iwan. Katanya mau nyari souvenir sama Tante Miranti."


Edzar mengangguk mengerti. Dia beralih menatap meja makan. "Masak apa pagi ini?"


"Bukan Safa yang masak, tapi Bunda." Suara Safa sedikit memelan.


Edzar menoleh pada istrinya. Senyum teduh seketika terbit, peka terhadap apa yang Safa rasakan. "Memang kenapa? Uda 'kan gak tanya kamu yang masak."


Safa memilin jemarinya di depan tubuh. "Tapi, harusnya kan Safa yang masak buat A Uda."


"Karena?"

__ADS_1


"Karena Safa istri A Uda."


Edzar menepuk puncak kepala Safa. "Betul. Istri. Tugasnya melayani suami. Kalimat itu memiliki arti yang luas. Tapi, asal kamu tahu, sebenarnya masalah memasak, cuci piring, menyapu, dan segala pekerjaan rumah tangga adalah tugas suami. Tidak ada yang mewajibkan istri untuk memasak. Pada dasarnya semua itu kewajiban suami."


Safa berkedip, "Kok, gitu? Terus, istrinya ngapain?"


"Hamil."


"Apa?"


"Tugas istri hanya hamil." Edzar tertawa melihat ekspresi Safa yang melongo.


Lantas dia angkat tubuh itu, menggendongnya ke arah meja makan. Safa terpekik ketika Edzar mendudukkannya di sana.


"Dengar, Ai. Ketika dua orang menikah, maka nafkah dan semua pekerjaan rumah tangga menjadi kewajiban suaminya. Nafkah adalah segala yang dibutuhkan oleh seorang manusia, baik bersifat materi maupun rohani. Dari segi materi, umumnya nafkah itu terdiri dari makanan, pakaian dan tempat tinggal. Maka seorang isteri berhak untuk mendapatkan nafkah itu dengan tanpa harus ada kewajiban untuk mengolah, mengelola atau mengurusnya."


"Jadi sederhananya, posisi isteri hanya tinggal buka mulut dan suami yang berkewajiban menyuapi makanan ke mulut isteri. Tidak ada kewajiban isteri untuk belanja bahan mentah, memasak dan mengolah hingga menghidangkannya. Semua itu pada dasarnya kewajiban asasi seorang suami."


"Jika suami tidak mampu melakukannya sendiri, tetap tidak ada kewajiban bagi isteri untuk melaksanakannya. Bahkan kalau pun suami harus menyewa pembantu atau pelayan untuk mengurus makanan dan dapur."


"Tapi, bukannya tugas isteri melayani suami? Hal itu umum diketahui," tanya Safa bingung.


Edzar tersenyum. Pria itu mengangguk. "Yang kita bahas di atas adalah tentang hak dan kewajiban antara suami isteri secara hitam dan putih. Tanpa melihat sisi-sisi lain seperti pertimbangan moral, etika dan hubungan sosial."


"Hubungan suami isteri tidak mungkin selamanya hanya didasarkan pada hubungan hukum hitam putih yang kaku. Tentu ada sisi-sisi lain sepeti aspek rasa cinta, saling memiliki, saling tolong, saling merelakan hak dan saling punya keinginan untuk membahagiakan pasangannya."


"Hingga seorang isteri yang pada dasarnya tidak punya kewajiban atas semua hal itu, dengan rela dan ikhlas melayani suaminya, belanja untuk suami, masak untuk suami, menghidangkan makan di meja makan untuk suami, bahkan menyuapi makan untuk suami kalau perlu. Semua dilakukannnya semata-mata karena cinta dan sayangnya kepada suami."


"Sampai sini mengerti, Cinta?"


Safa menggaruk kepalanya, terlihat bingung mencerna perkataan Edzar. "Terus, Safa yang malas ini, berarti belum totalitas mencintai A Uda?"


"Sudah, kok."


"Hng?"


"Kamu totalitas di ranjang." Edzar tertawa, membiarkan Safa memukuli bahunya dengan brutal.


Brutal menurut Safa, bagi Edzar jatuhnya malah manja.

__ADS_1


__ADS_2