SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 155


__ADS_3

"Ar rahmaan ...."


Safa mematung.


"Allamal-qur’an ...."


Dia masih berusaha mencerna keadaan.


"Khalaqal-insan ...."


Saat suara lantunan indah yang keluar dari mulut seseorang, tak lain adalah Edzar.


"Allamahul-bayan ...."


Pria itu berhasil membuatnya terpaku, terpesona dengan sisi lain yang berkali lipat lebih menggetarkan.


"Asy-syamsu wal-qamaru bi husban ..."


Safa bahkan tidak sadar kala sang bunda menuntunnya duduk, berdampingan dengan ayahnya, berhadapan langsung dengan Edzar yang menjadi pusat perhatian.


"Wan-najmu wasy-syajaru yasjudan ..."


Ia terpana ketika Edzar nampak khusyuk membaca Al-Qur'an, tepatnya surah Ar-Rahman. Suaranya begitu indah didengar. Safa memang sudah menduga Edzar merupakan satu dari sekian lelaki muslim yang mampu membaca kitab suci. Namun dia tak menyangka pria itu akan sefasih ini.


Mulai dari tajwid, makhorijul huruf, hingga nada dan iramanya terdengar sempurna di telinga Safa. Dia bukan santriyah maupun ustadzah, mungkin saja penilaiannya masih rendah. Namun setidaknya Edzar mampu melafalkan pedoman hidup umat Islam tersebut.


Tidak semua bisa melakukannya sefasih dan seindah itu. Dan Edzar termasuk pria langka yang dapat dipastikan mampu menggetarkan hati wanita manapun, bahkan seluruh keluarga yang hadir mendadak hening tak mampu berkata dan bersuara.


Lagi-lagi Edzar membuatnya terpikat dengan kelebihan yang dimilikinya. Safa tak berkutik kala hatinya terasa hangat dan damai, terpaut karisma Edzar yang begitu luar biasa membinasakan.


Selama beberapa menit dia hanya menatap Edzar, objek satu-satunya yang tak mampu membuatnya beralih tatap barang sejenak. Pria itu seolah menawannya dalam lingkaran daya tarik yang begitu kuat. Menjerat Safa dengan personalitasnya yang memikat.


"Fa bi'ayyi ala'i rabbikuma tukazziban ..."


"Tabarakasmu rabbika zil-jalali wal-ikram ...."


Tanpa terasa lantunan ayat terakhir dari surah Ar-Rahman telah selesai Edzar lafalkan.


"Sodaqallahuladzim ...."


Pria itu menutup Al-Qur'an, bergumam sejenak dengan mata terpejam, lalu menciumnya dan menyentuhkannya pada kening, sekilas.


Safa terperanjat, sedikit tersentak kala pria itu mendongak, menatap tepat ke arahnya. Edzar mengulas senyum tipis namun hangat, jangan tanya debaran jantung Safa yang menggila karenanya. Bahkan tangannya sampai berkeringat.


Seseorang menginterupsi.


"Masya Allah .... Alhamdulillah. Indah sekali suara A Edzar ini, ya. Saya sampai terkesima, terharu, terpesona, ter ter ter pokoknya mah. Kalau saja saya masih muda, mungkin sudah tak gondol A Edzar ini ke KUA. Hahaha ...."

__ADS_1


"Baik. Pembacaan ayat suci Al-Qur'an sudah dilakukan oleh tokoh utama kita sendiri, ya. Luar biasa A Edzar. Sudah ganteng, pintar mengaji, dan yang pasti juga mapan, ya, A Edzar, ya ...?"


Edzar tersenyum menanggapi selorohan MC wanita yang ditujukan padanya itu. Entah apa yang saat ini Edzar pikirkan, pria itu nampak sedikit tegang dan gugup sejak tadi, meski kesan tenang tak pernah lekang dari dirinya.


Dibanding itu, Safa masih saja bertanya-tanya mengenai situasi ini. Sebenarnya dia sedang apa? Kenapa banyak sekali orang? Inikah acara yang dimaksud bundanya? Bukankah mereka hendak pergi kondangan? Kenapa malah nyangkut di sini?


Safa benar-benar bingung, apalagi suasananya terkesan formal dan sakral. Terlebih kehadiran Edzar dan keluarganya menambah Safa semakin heran.


Satu lagi, pakaian mereka tampak sama. Kaum perempuan mengenakan kebaya persis seperti Safa, namun beda model. Lalu para pria mengenakan batik dengan corak yang serasi, campuran blush pink dan silver. Selaras tanpa meninggalkan kesan maskulin, karena yang Safa tahu kebanyakan pria membenci warna pink.


Padahal Safa sangat suka warna itu. Bukan pink terang yang mencolok dan membuat sakit mata, tapi lebih pada yang soft dan lembut.


Dan Safa baru sadar, semua dekorasi di sini dibuat sesuai seleranya. Dari mulai kursi-kursi cantik yang mereka duduki saat ini, hingga sebuah stan berukuran sedang lengkap dengan himpunan bunga mawar putih yang menjadi latar penghias dinding.


Semuanya campuran putih gading dan pink soft. Sangat cantik, sederhana , tapi mewah.


"Baik. Sekarang kita masuk ke intinya saja, ya. Silakan, Nak Edzar bisa mulai. Mau bagaimana menyampaikan maksudnya?"


Maksud?


Maksudnya apa?


Di tengah kebingungannya, atensi Safa kembali pada Edzar yang tiba-tiba bangkit berdiri, berjalan naik ke atas stan, panggung kecil dengan ribuan mawar yang Safa maksud tadi, mengambil mik dan mengetesnya sesaat.


Pria itu berdehem sejenak, sebelum kemudian membuka suara.


"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumussalam ... warahmatullahi wabarakatuh ..." Serentak semuanya menjawab, termasuk Safa meski terdengar lirih.


Edzar mendongak, menatap Safa sejenak. Lalu beralih pada Tuan dan Nyonya Halim yang duduk mengapit dirinya.


Safa menelan ludah.


Edzar mau apa?


"Bapak Halim, Ibu Halim," ucapnya pertama-tama.


"Sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit kisah yang terjadi dalam hidup saya."


"Sepenggal kisah mengenai hati dan perasaan yang membeku, namun mencair begitu seseorang datang, mengetuk, memaksa masuk pada ruangnya yang dingin."


Jeda sebentar.


"Perempuan bernyali tinggi yang tidak memikirkan resiko saat mendekati saya. Yang tiada lelah memberi senyum saat kami bersitatap. Bertahan meski respon saya mungkin saja melukai egonya sebagai wanita."


Safa termangu karena tiba-tiba Edzar memakunya dengan tatapan lekat.

__ADS_1


"Dialah wanita yang adiwarna. Bukan tercantik di dunia, namun sosoknya mampu menggetarkan hati saya dengan begitu hebat. Membolak-balikkan perasaan saya dengan sangat dahsyat. Membuat saya jatuh dalam pesonanya yang luar biasa."


"Hadirnya bagai mentari yang datang di musim penghujan. Amat diharapkan dan dinanti kehangatannya."


"Ialah putri Anda. Safana Halim, sosok paling indah yang pernah saya temui."


Deg.


Edzar sedang apa?


Tidak. Mereka lagi ngapain, sih, sebenarnya?


Tidak adakah yang mau memberitahunya?


Jahat sekali orang-orang ini. Safa dibuat kebingungan sendiri. Terutama Edzar. Apa-apaan dia. Kenapa jadi lebay dan puitis begitu? Ingin rasanya Safa tarik dia dari sana. Terlebih saat sorakan-sorakan itu datang dari sepenjuru ruangan. Dan pastinya yang paling berisik itu di belakang Safa, tempat para sepupu, tante, dan uwanya berada. Mereka semua kompak meneriakkan kata 'Uwu' bersama-sama.


Duh, kok jadi malu.


Belum cukup sampai di sana, Edzar kembali meneruskan.


"Keceriaannya mampu membuat saya belajar bahwa dengan seringnya kita tersenyum, perasaan akan menjadi lebih ringan. Saya mulai mengerti bahwa hidup adalah pencarian ketenangan diri dengan cara melepaskan segala hal buruk dalam hati."


"Sejak saya bertemu Safa, dunia saya berubah, kebiasaan saya berubah, yang buruk menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik. Dan saya berharap kedepannya hanya akan terus membaik."


Safa menunduk mengalihkan pandangan. Hatinya bergemuruh tak karuan. Perutnya geli. Dia senang sekaligus heran. Senang karena mendengar pernyataan Edzar, heran karena dia tidak tahu, apa yang sebenarnya tengah pria itu lakukan.


"Bapak Halim, Ibu Halim, dengan kerendahan hati yang terdalam, kesungguhan hati yang bulat dan penuh, saya bersama keluarga saya datang memohon izin dan restu untuk melamar dan mempersunting Safa, dan berlanjut ke jenjang pernikahan di bawah ikatan suci akad nikah."


A-apa?


Kontan Safa menatap kembali Edzar di panggung sana. Ini maksudnya apa, sih? Melamar? Apa dia tidak salah dengar?


Tolong, siapapun kirimkan dia dokter THT sekarang juga!


"Saya siap untuk mencintai, menjaga, dan membimbing Safa selamanya. Memimpin keluarga yang bahagia, tenang, penuh kasih sayang, dan berdarah Islam," tegas Edzar.


Pria itu menghela nafas. "Untuk itu, izinkan saya mencintai dan melindungi Safa sebesar Safa mencintai Bapak dan Ibu. Dan sebesar Bapak dan Ibu mencintai Safa."


"Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Wa'alaikumussalam .... warahmatullahi wabarakatuh ...."


Safa seolah linglung ketika Edzar turun dari panggung, berjalan kembali ke tempat duduknya, tepat di hadapan Safa. Mereka sempat bertukar tatap, sebelum Edzar menunduk menatap tautan tangannya sendiri dengan senyum .... sumringah?


Senang sekali dia. Sementara Safa mati-matian menahan tremor dan spot jantung yang sejak tadi tak mau berhenti beraksi.


Edzar melamarnya? Ini serius?

__ADS_1


"Bagaimana, Pak Halim, Bu Halim? Pinangan Nak Edzar nya diterima?"


__ADS_2