
"Mas Edzar?"
Edzar yang baru saja keluar dari toko kosmetik menoleh saat namanya dipanggil. Keningnya berkerut samar melihat Liandra berjalan menghampirinya. Wanita itu tersenyum lebar dengan mata berbinar.
"Gak nyangka kita ketemu di sini," katanya.
Edzar tak menanggapi apapun. Dia hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai bentuk kesopanan.
Liandra menunduk melihat paper bag di tangan Edzar. Kini giliran keningnya yang berkerut dengan raut heran sekaligus penasaran. "Mas habis dari Sephora?" tanya Liandra sedikit ragu. Setengah tak percaya seorang Edzar bisa mengunjungi gerai kecantikan seperti ini.
Edzar tak dapat mengelak karena bukti sudah di depan mata. "Ya," jawabnya singkat.
Liandra mengangkat tangan menutupi mulutnya yang menahan senyum, "Pasti disuruh Ibu, ya?" tebaknya.
Ketimbang malu, Edzar memilih mengangguk saja. Biarkan Liandra larut dalam sangkaannya. Toh, tidak ada alasan yang mengharuskan Edzar menjelaskan.
"Memangnya Ibu titip apa? Tahu begitu biar saya saja yang beliin."
"Terima kasih. Tapi tidak perlu repot-repot. Toh, saya tidak masalah dengan ini." Karena ini untuk kebutuhan saya sendiri, lanjutnya dalam hati.
"Begitu?" angguk Liandra pelan. "Mas Edzar anak yang sangat berbakti. Saya suka." Matanya menatap Edzar dengan senyuman.
Mereka saling berpandangan beberapa saat. Liandra tak repot-repot menyembunyikan ketertarikannya pada Edzar. Wajah ayunya memerah dengan raut malu-malu pertanda orang jatuh cinta. Liandra cantik, tapi tak cukup membuat Edzar tertarik.
Satu lagi, sikapnya terkesan terlalu dibuat-buat. Tidak alami seperti Safa yang polos dan murni. Sedikit banyak Edzar tahu ilmu psikologi, dia sering menggunakan ini saat melakukan introgasi pada seseorang.
Kepalanya menggeleng saat lagi-lagi dia membandingkan wanita lain dengan Safa. Edzar tahu ini tidak baik. Hanya saja refleks otaknya tak mampu ia cegah begitu saja.
Edzar menghela nafas mengalihkan pandangan. Melihat jam tangan sudah merujuk pada angka lima lima puluh menit. Sebentar lagi adzan magrib. Edzar harus bergegas mencari tempat ibadah karena sepertinya tidak akan sempat jika memburu waktu pulang ke rumah.
__ADS_1
"Saya duluan."
"Mas mau pulang?"
"Hm."
"Emm.... Saya boleh ikut gak, Mas? Saya gak bawa mobil soalnya."
Edzar terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. Kakinya mulai melangkah meninggalkan mall, berjalan menuju parkiran diikuti Liandra di belakang. Edzar melajukan mobilnya seiring suara adzan yang mulai berkumandang di beberapa tempat. Kemudian dia berhenti di salah satu mesjid terdekat yang ia lewati.
Edzar melepas sabuk pengamannya dan menoleh pada Liandra sebentar. "Saya shalat dulu. Kamu mau menunggu atau ikut?"
"Emm... Saya di sini aja, deh, Mas."
"Gak shalat?"
"Itu, saya lagi halangan. Hehe."
Perempuan itu bergumam, "Tidak hanya tampan, kamu juga taat pada Tuhan."
Liandra menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan mata menatap lurus ke depan. Tiba-tiba penglihatannya menangkap sesuatu yang tak asing.
Bukankah itu gadis yang tadi sempat ia lihat di hotel? Ternyata dunia sempit sekali, pikir Liandra.
Di sisi lain, Safa mengikuti tantenya memasuki mesjid. Bersyukur kali ini pakaiannya sedikit tertutup. Meski tanpa hijab, blouse dan celana kulot sepertinya sudah cukup.
Safa melepas heels tali yang mengikat pergelangan kakinya. Bersama-sama memasuki tempat wudu wanita yang kebetulan bersebelahan dengan tempat wudu pria. Namun sebelum itu, tantenya bilang ingin ke toilet. Wanita itu menitipkan tasnya pada Safa, membuat Safa sedikit merengut menerimanya. Kenapa gak dibawa saja?
Safa menaikkan lengan panjang blouse-nya hingga di atas siku. Modelnya yang membentuk puff dengan karet di pergelangan tangan memudahkannya agar tidak merosot yang akan membuatnya repot saat berwudu. Safa memutar keran air dan mulai bersuci hingga selesai.
__ADS_1
Miranti belum juga keluar dari toilet, jadi Safa duluan saja. Saat keluar dari tempat wudu, ia terlonjak karena tepat dari arah samping seorang pria juga baru keluar dan hendak melintas di depannya.
Untung gak tabrakan, jadi tidak batal.
"Maaf, Mas...." Safa menggantung ucapannya saat mendongak.
Sejenak tatapan mereka terpaku. Tanpa bisa dicegah, debaran merasuki hati keduanya. Meletup-letup dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Sesuatu seolah tengah bermekaran dalam dada. Mengembang hingga kemudian pecah menyisakan rasa geli menggelitik di area perut.
Tiba-tiba Safa mulas, ternyata overdosis perasaan bisa membuat lambung melilit. Kenapa juga dia harus bertemu Edzar di sini? Mendadak Safa merasa takut. Dia sedikit trauma karena mesjid dan Edzar pernah mengukir kenangan pahit tersendiri di hidupnya.
Akankah kali ini juga sama?
Safa menunduk menggeser sedikit tubuhnya. Tanpa kata dia berlalu meninggalkan Edzar. Memasuki mesjid dengan pikiran campur aduk.
Kakinya melangkah mendekati lemari yang terletak di sudut ruang. membuka dan mengambil mukena yang menjadi fasilitas di sana.
Mukena putih bunga-bunga berhasil melekat dan mengurung tubuhnya. Saat berbalik hendak mengambil tempat dengan sajadah di tangan, lagi-lagi tanpa sengaja matanya bertemu dengan Edzar. Pria itu seolah sengaja memperhatikannya dari balik hijab yang menjadi pemisah tempat pria dan wanita.
Mudah saja, karena tubuh Edzar yang menjulang hampir dua meter membuat pria itu leluasa melakukan apa saja. Termasuk mengintip seperti yang dilakukannya saat ini.
Mau tak mau Safa merasa gugup. Apalagi tatapan Edzar tak seperti biasanya. Apa Safa terlihat jelek memakai mukena? Perlahan rasa insecure itu kembali muncul.
Sebenarnya apa yang Edzar mau darinya?
Kedatangan Miranti memecah perhatian Safa, dan mungkin juga Edzar. Karena saat mendongak kembali pria itu sudah tidak ada di tempat. Safa menghela nafas lega, sejak tadi ia berasa dikejar penagih hutang saking gugupnya diperhatikan.
Seseorang menyuarakan iqamat pertanda berjamaah akan segera dimulai. Safa mengambil barisan depan bergabung dengan beberapa perempuan yang sepertinya sebagian besar penduduk setempat. Pun Miranti yang berdiri di sebelahnya.
Sekeras mungkin Safa berusaha khusu dengan ibadahnya, melupakan sejenak bayang-bayang Edzar yang tidak mau berhenti membuat hatinya bergetar.
__ADS_1
Tuhan, bila memang dia bukan untukku, tolong mudahkan hati ini untuk rela melepasnya.