SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)

SAFAZAR (Mengejar Cinta Pak Jaksa)
SAFAZAR | BAB 90


__ADS_3

Mobil Edzar melaju meninggalkan kawasan. Safa memasuki rumah omanya sambil berseru. "Oma... Safa datang...."


Bertepatan dengan dirinya yang akan menutup pintu, Miranti tiba-tiba muncul di belakangnya. "Tante baru tahu ada pengemudi taksi yang pakai Fortuner?"


Safa berbalik menatap tantenya dengan kening berkerut, "Itu bukan taksi."


"Bukan? Perasaan tadi kamu bilang mau naik taksi online? Terus, yang tadi siapa kalau bukan taksi?" tanya Miranti bingung.


Wanita itu berjalan ke arah sofa dengan mangkuk salad di tangannya. Tak menghiraukan raut Safa yang keheranan di depan pintu. Safa mendekat ikut menghempaskan diri di sana, matanya menatap Miranti bertanya-tanya.


"Itu Om Edzar," kata Safa.


"Oh... Edzar? Pantas platnya kayak gak asing." Miranti lanjut bertanya, "Kok, kamu bisa bareng sama dia?"


Lagi-lagi Safa terdiam. Matanya mengamati sang tante yang tengah makan dengan santai. Mendadak Safa merasa ada yang janggal. Kenapa Tante Miranti seolah tak tahu mengenai dirinya yang berangkat bersama Edzar?


"Bukannya Tante yang suruh Om Edzar nganterin Safa ke sini? Dan lagi...." Safa mengamati penampilan Miranti dari atas ke bawah. "Katanya mau berangkat pagi. Kok, Tante belum mandi?"


Miranti menoleh sebentar, lalu menunduk melihat piyama yang masih melekat di tubuhnya. "Kapan Tante nyuruh Edzar nganterin kamu? Lagian santai aja kali. Pertemuannya juga jam sepuluh. Masih lama. Bukannya semalam Tante udah bilang, ya, sama kamu?"


"Apa?" Safa berkedip pelan. Gadis itu terlihat linglung. Memang benar, semalam Tante Miranti mengatakan mereka akan berangkat sebelum jam 10. Dan sebelum itu Safa berniat ke tempat lain dulu. Tapi karena taksi yang dicancel, ditambah Edzar yang tiba-tiba mendesaknya, Safa tidak jadi jalan-jalan sesuai keinginannya. Ia pikir Tante Miranti benar-benar menyuruhnya cepat datang.


Safa benar-benar merasa dibodohi oleh Edzar. Bisa-bisanya lelaki itu berbohong dengan dalih amanah tantenya. Tapi, dari mana Edzar tahu Safa mau pergi sama Tante Miranti?


"Tante ada ngomong sama Om Edzar soal ini?"


"Huh? Enggak, ngapain? Yang calon suami Tante 'kan Tirta. Ya jelas lah Tante bilangnya sama Tirta," jawabnya sembari menyuap salad.


Safa mengangguk-angguk. Itu berarti Edzar tahunya dari Om Tirta. Masuk akal, sih. Tapi yang tidak Safa habis pikir, kenapa Edzar mesti berbohong?


Sebentar, tadi Edzar sempat bersikap aneh dan bertanya hal-hal absurd padanya. Apa mungkin itu alasan Edzar bersikeras mengantarnya? Riset? Safa baru tahu seorang jaksa memerlukan riset seperti itu. Sepertinya Edzar mau banting setir dan beralih profesi menjadi love coach.


Haih, ada-ada saja. Sudahlah, Safa. Lupakan semua tentang Edzar. Terserah pria itu mau berbuat apa. Toh, bukan urusanmu juga.


Sekitar kurang lebih pukul 10 kurang 15 menit mereka sampai di hotel yang sebelumnya sudah disepakati Om Tirta dan Tante Miranti. Wedding venue-nya juga sudah deal. Tinggal rembukkan bersama Wedding Organizer ke depannya mau gimana. Temanya juga sudah ditentukan. Cuman mungkin ada beberapa tambahan dari Tante Miranti atau WO-nya sendiri. Entahlah, Safa kurang mengerti, tugasnya hanya menemani saja.


Tempatnya ada di lantai empat, bisa tembus ke lantai lima dan tiga yang ada di bawahnya. Bagus banget. Outdoor. Sekelilingnya itu pemandangan SCBD. Ada kolam-kolam kecil juga yang memanjang dari tengah ke ujung. Pokoknya aestetik banget. Apalagi kalau sudah didekor, dijamin tambah ciamik.


Karena tempatnya outdoor, pihak hotel juga menyediakan ruangan indoor untuk antisipasi hujan. Dan pastinya biaya juga nambah. Tapi tak apa, demi kelancaran dan kenyamanan bersama semuanya sanggup mereka lakukan.


"Jadi pelaminan sebelah sana, ya, Mbak? Stage-nya di sini? Oke oke, good. Saya, sih deal aja. Gimana bagusnya kan Mbak dan rekan-rekan yang lebih tahu. Saya dan calon suami serahkan saja semuanya pada yang bertugas."


"Oh iya, untuk rangkaian acaranya sendiri, akadnya dimulai agak siangan, sih. Sekitar jam sembilan tiga puluh, lah. Karena kami mau para tamu undangan itu gak terlalu lama menunggu waktu makan siangnya. Kasian juga 'kan kalo mereka bosan. Meski banyak hidangan ringan yang sediakan sebagai pengganjal perut, tetap aja gak enak."


Selagi Miranti berbicara dengan pihak WO, Safa berkeliling melihat-lihat dan foto-foto. Lumayan buat diunggah. Apalagi view-nya juga bagus. Safa tidak bisa mengabaikannya.


Mereka beralih ke ruangan indoor dan kembali berdiskusi. Jujur Safa sudah lapar dan bosan. Sedari tadi dia mengekori tantenya seperti anak ayam. Hanya lepas sesekali saat Safa mengitari ruangan.


Sekitar pukul sebelas tiga puluh mereka meninggalkan tempat. Safa dan Miranti memasuki lift untuk turun ke lobi. Kebetulan pihak WO masih ada urusan di dalam, mereka punya acara ulang tahun gitu katanya di lantai enam.


"Tante, makan dulu, ya.... laper, hehe."


Miranti tersenyum mengusap sekilas kepala Safa. "Ya, kan, emang udah waktunya makan siang. Tanpa kamu minta pun Tante mau cari tempat makan. Kamu mau makan di mana gitu?"


"Terserah Tante aja. Safa ikut."


"Tante lagi pengen makanan lokal, sih. Ayam geprek gimana?"


"Boleh," angguk Safa.


Sampai di lobi, entah kebetulan atau apa. Matanya menangkap seseorang yang tidak pernah ia duga sebelumnya akan bertemu di sini. Liandra masuk dengan beberapa orang berpakaian rapi. Sepertinya mereka orang kantoran yang mau meeting.


Sejenak Safa mematung di tempat, tatapannya lurus mengarah pada Liandra yang kini balas melihatnya juga. Mereka saling berpandangan sesaat. Liandra mengangguk kecil dan tersenyum dengan ramah. Meski sorotnya sedikit kebingungan. Mereka memang belum saling kenal. Lebih tepatnya hanya Safa yang tahu siapa itu Liandra. Wanita itu yang tengah dekat dengan Edzar.


Sungguh pertemuan perdana yang tak disengaja.


"Kamu kenal dia?" tanya Miranti saat Liandra sudah jauh di belakang sana.


Safa tersentak menoleh, "Eh, enggak," gelengnya sembari mengulas senyum.


Miranti seperti tak percaya begitu saja. Wanita itu memberi Safa tatapan menyelidik. "Terus, kenapa ngeliatinnya gitu banget?"


"Gitu gimana? Ah, udah, ah. Ayo makan. Safa udah laper banget." Safa menyeret Miranti keluar lobi. Sekaligus mengalihkan perhatian tantenya agar tak bertanya lebih banyak soal Liandra. Karena kalau sampai terjadi, Safa akan kebingungan menjawabnya.


......................


"Pak Edzar gak biasanya telat ke kantor?"

__ADS_1


Edzar tak menanggapi pertanyaan atau pernyataan yang Doni lemparkan. Dia sibuk membuka berkas dan bukti perkara yang ada di mejanya. Memang benar Edzar sedikit telat tadi. Dan semua itu karena dia ngotot mengantar Safa.


Biasanya Edzar akan datang tepat waktu karena dia orangnya on time. Makanya Doni heran saat melihat Edzar memasuki kantor pukul delapan lewat. Jiwa penasarannya bangkit tanpa bisa dicegah. Tapi bertanya disaat seperti ini tentu bukan hal yang baik. Edzar tidak suka mengobrol masalah pribadi kalau masih jam kerja.


Meski di luar itu Edzar masih sulit dimintai jawaban. Ya, Doni lupa Edzar memang sebungkam itu mengenai hidupnya.


Ah, sudah lah. Lagipula Edzar tidak suka kalau dirinya sudah kepo. Mending Doni menutup mulutnya rapat-rapat, walau butuh usaha keras karena dia sangat penasaran kenapa Edzar bisa telat hari ini. Apa pria itu bangun kesiangan? Atau ada hal lain? Tuh, kan, penasaran lagi.


"Pak, berarti kita tidak ada urusan lagi dengan kasus Pak Menteri?"


Edzar terdiam sebentar, "Seharusnya tidak. Semua ini urusan KPK, saya hanya diminta membantu sedikit. Dan ini diluar prosedur."


"Jangan-jangan sebentar lagi anda mau dialihkan jadi penyidik KPK." Ada sarat rasa tak senang dalam kalimat Doni.


Edzar mendongak, "Kenapa nada bicaramu seperti itu?"


Doni menghela nafas dan berdecak, "Anda belum lama di sini, masa harus dipindah lagi. Saya belum siap punya atasan baru."


"Kamu yang akan jadi atasannya."


Doni kembali berdecak, "Mana ada, Pak. Dari dulu saya sulit naik posisi. Sepertinya saya memang ditakdirkan untuk jadi kacung."


"Tapi, saya senang bekerja dengan Bapak. Walaupun Bapak suka ketus sama saya, tapi Bapak gak pelit suka traktir saya, hehe."


Edzar menggeleng tak habis pikir. Doni memang sedikit agak konyol, tapi Edzar akui kinerjanya cukup cepat dan bagus. Apalagi dia selalu nurut dan mau melakukan apa saja yang diperintahkan. Mungkin terdengar kejam, tapi Doni benar-benar bawahan yang baik. Dan Edzar lebih percaya Doni ketimbang yang lain.


"Belum rezekinya. Kapan-kapan saya bantu kamu agar dapat rekomendasi."


Mata Doni sontak berbinar. Kalau dalam komik pasti gambarnya bercahaya dan penuh bling-bling. Lalu ada ekornya di belakang. Definisi puppy eyes yang sebenarnya.


"Serius, Pak?"


Edzar tak menjawab. Tapi Doni tahu kalau itu keluar dari mulut Edzar sudah pasti serius.


"Wuhu...!" Doni berseru keras dan berkali-kali mengucap terima kasih. Bahkan dia sampai menghampiri Edzar, meraih tangannya paksa lalu menciuminya dengan berlebihan.


Tentu saja Edzar mengernyit jijik, dia menarik tangannya kasar hingga terlepas dari gengnggaman Doni. "Jangan dulu terima kasih. Saya belum melakukan apa-apa."


"Bisa saja rekomendasimu ditolak atasan," lanjut Edzar.


Tapi kalimat itu tak berpengaruh pada Doni yang kadung senang. Malah jadi pemecut semangat untuk meningkatkan kinerjanya. Baginya, kepedulian Edzar sudah cukup membuatnya merasa diperhatikan. Baru kali ini Doni mendapat atasan semurah hati Edzar. Kalau saja Edzar seorang wanita, Doni sudah menyatakan cinta saat ini juga.


Detik itu juga mata Edzar melotot tajam. Tapi Doni sudah biasa, jadi dia hanya senyum-senyum saja menanggapinya.


Benar-benar konyol. Doni adalah orang paling absurd setelah Safa. Tentu saja Safa lebih menggemaskan.


Mengingat Safa, Edzar jadi memikirkan kembali ucapan terakhir gadis itu sebelum keluar dari mobilnya.


"Don," panggil Edzar.


"Ya, kenapa, Pak?"


"Kamu tahu krim mata dan pelembab bibir?"


"Maaf?" Doni mencondongkan sedikit tubuhnya. "Bapak tanya apa barusan? Sepertinya telinga saya sedikit bermasalah."


Edzar berdecak dan mengulangi kalimatnya, "Krim mata dan pelembab bibir. Kamu tahu itu?"


Punggung Doni kembali menegak, "Kirain mau bilang i love you too. Tahunya nanya pelembab bibir," gumamnya pelan sedikit kecewa. Tapi... sebentar. Apa katanya? Krim mata dan pelembab bibir?


"Untuk apa Bapak tanya dua benda itu?"


"Kalau tahu tinggal jawab kenapa, sih."


"Ya... saya juga kurang mengerti, Pak. Tapi yang saya tahu, itu sering digunakan para wanita untuk merawat kecantikan."


Doni menatap Edzar curiga, "Bapak kenapa tanya hal itu? Mulai tertarik dengan beauty world? Atau ini buat pasangan?" Kalimat terakhir terdengar jail.


"Jangan bicara sembarangan kamu. Saya single." Dan sedang berusaha untuk taken. Lanjutnya dalam hati.


"Ya siapa tahu Bapak diam-diam punya pacar. Istilah kerennya backstreet gitu."


"Untuk apa backstreet kalau pacar saya cantik?"


"Bapak beneran punya pacar? Siapa?" tanya Doni antusias.


Edzar memutar matanya ke samping. Sepertinya, bicara pada Doni bukan hal yang tepat.

__ADS_1


"Lupakan. Kamu silahkan keluar. Saya mau lanjut kerja."


............................


Drrtt... Drrtt...


"Em, Pak. Saya izin keluar sebentar." Liandra berbisik pada atasannya, Galuh Ganindra, di tengah meeting mereka dengan beberapa klien dari sejumlah perusahaan.


Galuh mengangguk mempersilakan. Liandra pun bergegas keluar ruangan dan berjalan sedikit jauh dari sana. Ia segara mengangkat telpon yang sejak tadi tak berhenti bergetar.


"Halo?"


"........."


Liandra terdiam mendengarkan seseorang di seberang sana. Rautnya terlihat serius. Wajahnya berubah datar dengan sorot penuh arti. Selintas aura dingin menguar dari matanya. Berbanding terbalik dengan keramahan yang kerap ia tampilkan di muka umum.


"Baik, saya mengerti."


Setelah itu dia menutup panggilan dan kembali ke ruang meeting. Wajahnya sudah kembali seperti semula. Liandra mengulas senyum segan sebagai permintaan maaf karena harus keluar di tengah pertemuan. Tanpa sepengetahuan Liandra, Galuh memperhatikan dengan lekat wanita itu. Lalu kembali fokus pada materi rapat yang tengah dibahas rekan-rekannya.


.......................


"Cari apa, Mas? Barangkali saya bisa bantu?"


Edzar terlonjak saat suara petugas toko menyapanya dari arah belakang. Dia menoleh sedikit gugup. Jarinya terangkat menggaruk pelipis dengan pelan.


"Itu.... Saya cari...." Edzar menggantung ucapannya. Petugas itu dengan sabar menunggu dengan senyum ramah pada pelanggan. Dia kembali bertanya saat Edzar tak kunjung menyebutkan keperluannya.


"Cari apa, Mas?"


"Saya cari krim mata dan pelembab bibir," ucap Edzar dalam sekali tarikan nafas.


Petugas wanita itu mengulum senyum, merasa lucu dengan sikap malu-malu Edzar. "Untuk pria atau wanita, Mas?"


Edzar berkerut bingung, "Memangnya beda?"


"Beda, Mas. Kalau untuk pria, Mas bisa cari di area Skincare for Man, ya. Ini area ladies, Mas."


"Mari ikut saya, Mas."


Edzar mengikuti pergerakan si petugas ke area yang dimaksud. Ini pertama kali Edzar memasuki toko kosmetik, dan dia sudah dibuat pusing dengan deretan produk yang nampak sama di matanya. Sama-sama membuatnya pening. Kalau bukan karena Doni yang menyarankan, Edzar mana mau pergi ke tempat seperti ini. Doni bilang ia bisa menemukan dua barang itu di sini.


Baiklah, apa boleh buat. Demi terlihat muda di mata Safa apapun akan ia lakukan.


"Di sini, Mas. Mas bisa cari sesuai merek dan kebutuhan yang diinginkan."


"Emm... Mbak, bisa bantu carikan? Saya sedikit malas."


"Boleh. Tadi Mas bilang cari apa?"


Dasar pelupa, batin Edzar kesal. Dia tidak suka mengulang pembicaraan.


"Krim mata dan pelembab bibir," jawab Edzar sedikit malas.


"Baik. Mau produk lokal atau luar, Mas?"


Banyak tanya!


"Apa saja yang paling bagus," ucapnya diplomatis.


Petugas itu mengangguk, lalu berjalan sedikit menyusuri rak dengan tulisan 'Eyes' dan 'Lips' di atasnya. Edzar mengekor dengan langkah kaku. Benar-benar kaku dan hanya fokus pada pergerakan petugas itu. Tanpa menoleh atau melihat-lihat produk lain seperti kebanyakan orang.


Petugas itu berbalik dengan beberapa barang di tangan. "Ini yang paling bagus dan laris, Mas. Produk Korea. Dikenal bisa meremajakan kulit terutama bagian bawah mata. Melembabkan, mencerahkan, menghilangkan kerutan, dan mengencangkan kulit sekitar area mata."


"Lalu ini pelembab bibir dari produk lokal, Mas. Efektifitasnya sudah teruji mampu mencerahkan bibir kehitaman. Melembabkan dan mencegah bibir kering serta melindungi dari sinar UV yang bisa merusak kulit," jelasnya panjang lebar.


"Oh iya, Mas juga bisa lihat ulasan di website atau aplikasi kami yang sudah bisa didownload di Play Store, ya. Jangan lupa juga beri rating dan ceritakan pengalaman Mas belanja di toko kami."


Saat sekolah, Edzar adalah murid terpintar dan berprestasi. Dari masa kanak-kanak hingga lulus kuliah dengan IP tertinggi di Fakultas Hukum. Meraih berbagai penghargaan di bidang akademik maupun olahraga. Orang bilang dia sempurna.


Tapi, entah kenapa sekarang Edzar mendadak bodoh saat mendengar semua penjelasan seorang petugas gerai kosmetik. Edzar dibuat tak berdaya saat diminta untuk memilih lebih dari sepuluh dari masing-masing produk yang entah apa saja kegunannya.


Yang Edzar pikirkan justru hal lain. Berapa lama petugas itu menghafal kandungan dan kegunaan produk hingga bisa bicara selancar itu?


"Jadi mau pilih yang mana, Mas?"


Edzar terdiam sebentar, dia bahkan tidak tahu yang mana yang benar-benar bagus untuk kulitnya. Jadi dia jawab saja,

__ADS_1


"Semua."


__ADS_2