
"Eeuhhh ..."
"Ai!"
Edzar terengah menghampiri Safa yang tengah mengejan dengan posisi berbaring setengah duduk di ruang bersalin.
Setelah sang ibu mengabari, Edzar langsung bergegas kemari. Ia bersyukur jarak supermarket tak begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar kurang lebih sepuluh menit saat jalanan lengang.
"A Uda ..." lirih Safa membalas genggaman Edzar.
"Maaf, Uda terlambat."
Safa menggeleng. "Ini karena anak kita yang gak sabaran," bisiknya.
Edzar mencium kening Safa. Suaranya seakan tersendat saking tegangnya. "Kamu kuat 'kan?"
Safa tersenyum. "Insya Allah. Kan ada A Uda."
Edzar mengusap sudut matanya yang berair. Dia meremas tangan Safa yang berkeringat. Padahal ruangan sangat dingin, tapi Edzar pun tak bisa menahan suhu tubuhnya yang meningkat.
Tak lama Safa kembali mengejan atas instruksi dokter. Dengan sabar Edzar mendampingi. Memberikan tangannya untuk Safa genggam. Berusaha menyalurkan kekuatan pada sang istri yang tengah berjuang.
Sesekali ia cium pelipis Safa saat wanita itu mengambil jeda. Mengelap keringatnya yang bercucuran. Memberi kata-kata penyemangat selagi istrinya terengah mengambil nafas.
"Eeuhhh ..."
"Ayo, Bu. Terus, Bu. Dorong terus."
"Eeuhhh ..."
"Terus, Bu."
"Eeuhhh ... Hah ... Hah ... Hah ..."
"Eeuhhh ..."
Safa merengap. Nafasnya tersengal. Ia menangis, menggelengkan kepala pada Edzar. Hampir setengah jam berlalu dan masih belum ada tanda-tanda bayinya akan keluar.
"Sakiiit ... Hiks."
"Ayo, Sayang. Kamu bisa. Kamu harus bisa." Suara Edzar terdengar gemetar. Ia cemas bukan main.
Dokter memang sudah berkata tentang kemungkinan ini karena bobot bayi mereka yang lumayan besar. Terlebih ini kehamilan pertama Safa.
"Safa ngantuk ..."
"Ibu dimohon jangan tidur, Bu. Ayo dorong lagi, ya?" Dokter dan suster terdengar mengingatkan.
"Ayo, Ai." Edzar memohon.
Dia benar-benar takut melihat Safa yang kelelahan tak berdaya. "Ayo, Sayang."
Safa mengambil nafas dalam-dalam. Lalu kembali melakukan dorongan seraya mencengkram erat lengan suaminya.
"Eeuuhhh .... Hah ... Hah ... Hah ..."
"Ayo terus, Bu. Terus ..."
"Eeuuhhhhhhh ....."
"Terus, terus, Bu. Sedikit lagi. Kepalaya sudah terlihat."
__ADS_1
"Eeuuhhh ..."
"A Uda ...." Tangis Safa pecah. Ia benar-benar tak kuat.
Mungkin tadi ia masih bisa percaya diri menolak tawaran operasi. Ternyata rasanya memang sesakit ini.
"Ai ... Ayo, Sayang. Kamu bisa. Uda mohon. Kamu bertahan, ya?" Edzar turut menangis menciumi punggung tangan Safa. "Kamu harus bertahan, Sayang ..."
"Uda mohon ..."
"Tarik nafas dalam-dalam, ya, Bu."
"Ayo. Tari nafas ... Buang. Tarik nafas ... Buang."
Safa mengikuti instruksi dokter yang berusaha mengembalikan kesadarannya.
Setelah itu Safa diminta mengedan lagi.
"Sekali lagi, ya, Bu. Siap?"
"Satu, dua, tiga. Dorong, Bu."
"Eeuuhhh ...."
"Lagi, Bu. Ayo lagi, lagi. Sedikit lagi."
"Eeeuuhhhhhhhh ......"
"Oeek ... Oeek ... Oeek ..."
"Alhamdulillah ..." Semuanya berseru mengucap syukur.
Pun Edzar yang tak bisa menahan tangisnya melihat dan mendengar suara putranya. Ia ciumi Safa bertubi-tubi dengan rasa bahagia tak terkira.
Akhirnya, putra mereka berhasil menapak dunia dengan selamat.
"Terima kasih, Ai. Terima kasih, Sayang. Kamu wanita hebat ..." Edzar tergugu mengelap keringat Safa yang bercucuran.
Safa mengangguk tersenyum. Tak lama seorang perawat menghampiri mereka. Menawarkan pada Edzar untuk segera meng-adzani bayi laki-laki itu.
Dengan gugup dan kaku, Edzar menerima tubuh mungil putranya yang masih merah. Berat. Pantas prosesnya lama. Ia tersenyum mengusapkan jari telunjuknya. Merasakan betapa halus dan lembutnya kulit itu.
"Allahu akbar, Allahu akbar ..."
Edzar mulai melantunkan adzan di samping telinga sang putra. Safa menatap semua itu dengan perasaan damai dan tentram. Terlebih Edzar tak berhenti menangis haru.
Safa mengerti bagaimana bahagianya Edzar saat ini. Ia berharap kehadiran malaikat kecil mereka bisa mengobati rasa kehilangan Edzar terhadap putra pertamanya. Mengisi kekosongan Edzar setelah kepergian Dika.
Safa percaya, Edzar akan menjadi seorang Ayah yang baik, hebat, serta bijaksana. Ia tak menyesal mempercayakan buah hatinya pada pria itu. Malaikat cinta mereka.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaha illallah ..."
Edzar mengecup lembut pucuk kepala putranya. Ia tersenyum, menyeka matanya yang berair akibat terlalu senang.
Namun, semua keharuan itu harus berakhir kala seruan seorang perawat menggema mengejutkan seisi ruangan.
"Dokter! Detak jantung pasien melemah!"
Deg.
Kontan Edzar menoleh pada Safa di sebelahnya. Ia mendekat. "Ai?" panggilnya. Mata Safa sudah terpejam. Edzar tak bisa menahan rasa panik yang kembali menguak ke permukaan.
__ADS_1
"Ai? Sayang?"
"Dok, istri saya kenapa?" tanya Edzar cemas.
"Pak, Anda keluar sebentar, ya? Kami akan berusaha menangani istri Anda. Mohon Anda keluar dulu."
"Tapi, Dokter! Istri saya kenapa!"
"Sus, istri saya kenapa, Sus?" Edzar sedikit memberontak saat beberapa petugas medis mendorongnya keluar. Putranya sudah kembali diambil alih oleh salah satu perawat.
"Anda keluar dulu, ya, Pak."
"Ya, tapi istri saya kenapa!!!" teriak Edzar, merasa kesal karena tak kunjung mendapat jawaban.
"Kami harus memeriksanya. Maka dari itu Anda keluar dulu!"
"Sus! Suster! Dokter! Istri saya kenapa, Dok! Buka pintunya!" Edzar berteriak keras. Memukuli pintu dengan brutal.
Beberapa keluarga yang melihat itu langsung menghampirinya. Berusaha menghentikan aksinya yang menimbulkan kegaduhan.
"Bang, cukup, Bang! Sadar! Ini rumah sakit!" Tirta memeluk Edzar dari belakang. Menyeret tubuhnya menjauh dari ruangan itu.
"Lepasin, Ta! Istri Abang ..."
"Safa! Dokter, istri saya kenapa ...!!"
"Nak Edzar, tenang!" Melihat Tirta yang kewalahan, Tuan Halim dan Dava ikut turun tangan menahan Edzar yang terus memberontak.
"Edzar. Tenang, Nak. Ada apa ini? Safa kenapa? Anak kalian? Mereka baik-baik saja?" Bu Dyah turut menghampiri putranya yang meraung di lantai. Pun Nyonya Halim yang wajahnya sudah tegang.
Ada apa dengan putrinya?
"Edzar?"
Edzar menggeleng. Apa yang harus ia jelaskan? Ia sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tadi Safa tampak baik-baik saja. Istrinya bahkan sempat tersenyum melihat putra mereka yang baru ia adzani.
Entah kenapa dalam beberapa detik matanya sudah terpejam. Dan orang-orang itu berkata detak jantungnya melemah.
Apa yang terjadi. Edzar pun tidak yakin.
"Nak Edzar, Safa ..." Nyonya Halim menyentuh dadanya. Firasatnya sebagai ibu merasakan bahwa sesuatu telah terjadi di dalam sana. "Ayaahh ... Safa-"
"Syuut ..." Tuan Halim menyergah apapun yang hendak keluar dari mulut sang istri. Tangan merangkul, memberi usapan, berusaha menenangkan kendati dirinya sendiri dilanda ketegangan.
Tak lama kemudian dokter yang menangani persalinan tadi keluar. Sontak semuanya berdiri, terutama Edzar yang buru-buru mendekat menanyakan keadaan sang istri.
"Dok, istri saya kenapa? Dia baik-baik saja, kan?"
Semuanya berharap-harap cemas.
Dokter itu menghela nafas. Membuka maskernya sebelum kemudian menjawab. "Sebelumnya saya ingin meminta maaf ...."
Edzar mematung. Jantungnya seolah berhenti menanti perkataan sang dokter.
"Pak Edzar, istri anda ...."
Dan kalimat selanjutnya berhasil membuat dunia Edzar runtuh seketika.
Dia berlutut. Meraung sejadi-jadinya dengan perasaan hancur lebur. Tangisannya menggema di sepanjang lorong. Pun Tuan Halim yang berkaca seketika menahan tubuh istrinya yang limbung.
Dava mematung merangkul omanya. Tirta yang lantas memeluk istrinya yang terisak dan lemas. Bu Dyah yang serta-merta meraup Edzar dalam dekapan.
__ADS_1
Malam itu, takdir seorang Edzar Adhyaksa dipertaruhkan.